Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
episode dua puluh delapan


__ADS_3

Suara Zahra membuat orang yang ada di dalam rumah menyadari keberadaan mereka. Gegas Hilal dan Randi menghampiri Zahra dan memintanya sembunyi dengan suara yang sangat pelan.


"Kalian sudah pulang?" suara orang yang tdi di dalam rumah membuat ketiganya berbalik badan. Ternyata yang ada di dalam rumah adalah Fatih.


Hilal langsung menghampiri pria yang menjadi kakak iparanya. Mencengkram kemeja dan menyudutkannya ke dinding.


"Kenapa kau memasuki kamar kakakku?"


"Hilal!" Zahra menghampiri adiknya meminta melepaskan tangan dari pakaian Fatih.


"Aku hanya membayangkan bahwa aku dan kakakmu adalah satu kaluarga yang harmonis dan saling mencintai."


Bugh.


Kepalan tangan Hilal menghantam wajah Fatih.


"Hilal!" pekik Zahra, entahlah hatinya tidak tega melihat pria yang menjadi suaminya terluka.


"Dia masuk ke kamar kakak, dia menatap tempat tidur. Jangan bilang kalau dia tengah membayangkan hal mesum bersama-mu."


Hilal masuk ke dalam rumah meninggalkan Zahra dan Fatih yang saling menatap. Randi tadi hendak membantu saat Hilal memberikan bogem mentah pada majikannya. Namun melalui gestur tangan Fatih menolaknya.


Zahra memutus tatapan, "masuklah! biar aku mengobati lukamu," kata Zahra yang masuk lebih dulu. Mengambil kotak obat dan duduk di sofa.


Lumayan kan berkat Hilal dia bisa menatap wajah sang istri dari jarak dekat. Harusnya sih sering-sering Hilal menghajar wajahnya.


"Terima kasih," kata Fatih mengenggang tangan sang istri yang tengah menempelkan kapas basah ke luka lebam di wajahnya. Dia bawa tangan itu ke bibir dan mengecupnya lama. "Aku sangat mencintaimu, Zahra."


Tentu saja hal itu membuat darah di tubuh Zahra bergerak lebih cepat karena di pompa detak jantung yang begitu cepat. Zahra menarik tangannya, lalu menoleh jajanan yang tadi dia inginkan di atas meja.


"Jajanan kesukaan kamu kan?" Fatih tersenyum bangga, dia kira Zahra akan berpikir kalau dia sangat pengertian karena bisa memahami keinginan istrinya. Namun Zahra tidak bereaksi apa pun. Bahkan mengabaikan jajanan yang begitu banyak itu. Rupanya Fatih telah memborongnya.


"Hei, kenapa tidak menyentuhnya?" tanya Fatih saat Zahra malah memasuki kamar.


Di dalam kamar Zahra memeluk boneka besar dan menenggelamkan wajahnya di sana. Gundah menyerangnya, otaknya bergelut antara dendam dan cinta. Dia juga ingin mencicipi jajanan yang dibeli Fatih, namun gengsi.

__ADS_1


Di luar kamar, Fatih menatap jajanan yang tidak disentuh sama sekali oleh Zahra. Kemudian mamatikam lampu dan merebahakan tubuh di sofa.


Zahra tidak bisa tidur karena otaknya terus memutar bayangan betapa menggiurkannya jajanan di atas meja. Dia menunggu sampai tiga puluh menit setelah Fatih mematikan lampu.


Setelah iti dia mengendap-endap mengambil jajanan tersebut. Fatih yang dikira sudah tidur ternyata sedang tersenyum menyaksikan tingkah istri keduanya. Dia hanya menikmati pandangan di bawah remangnya lampu ruangan tersebut. Sesekali Zahra melirik, takut pria itu memergokinya saat ia tengah menikmati jajanan.


***


Zahra tengah menyiapkan bekal saat Fatih bangun. Pemandangan yang dia lihat adalah sang istri yang memakai kaos lengan pendek dan rambut yang dicepol memperhatikan leher jenjang yang menggoda. Dia bersandar di dinding menatap sang istri yang tidak menyadari keberadaannya.


Zahra sendiri tetap menyiapkan bekal untuknya yang mudah lapar sejak dinyatakan hamil. Sekaligus menyiapkan sarapan untuk Hilal juga suaminya. Saat Zahra berabalik, Fatih lebih dulu masuk ke kamar mandi. Jadi tidak terlalubkentara kalau sejak tadi dia memandangi sang istri. Selesai mandi dia menikmati sarapan yang dibuat oleh Zahra. Ah rasanya begitu nikmat kalau momen seperti inoi bisa dia nikmati setiap hari.


Zahra sendiri segera berangkat setelah merapihkan diri. Tidak menyapa Fatih yang tengah menikmati sarapan juga Hilal yang baru ke luar dari kamar. Adiknya masih memalingkan wajah setelah kejadian kemarin.


Kembali bekerja, kembali berkutat pada angka. Mengerjakan beberapa laporan membuat waktu terasa begitu cepat bagi Zahra. Dia menatap Alin yang tengah membereskan perkakasnya dan bersiap pulang.


"Alin!"


Yang dipanggil hanya menoleh sekilas namun tidak berniat menjawabnya.


Saat dirasa sudah berkurang baru dia ikut turun untuk pulang. Hari ini dia tidak bertemu sang suami selain di rumah tadi pagi.


Fatih sendiri masih sibuk dengan pekerjaan. Rencananya dia sengaja mengulur waktu karena mengira Zahra lembur. Namun Sam memberi tahu bahwa Zahra sudah pulang sejak tiga puluh menit yang lalu. Fatih berdecak dan segera menyusul, meminta Sam membereskan ruangannya lebih dulu.


Dia turun menggunakan lift dan bergegas hendak menyusul Zahra. Namun saat lift tiba di lobby, Sarah ada di sana tengah menunggunya.


"Sayang?" Fatih menghampiri istri pertamanya. Ah lagi-lagi dia melupakan Sarah ketika Pesona Nona Zahra tengah membayangi.


"Kamu lupa punya istri?" Seperti biasa Sarah akan merajuk ketika diabaikan. Apalagi dia tahu kalau semalam suaminya tidur di rumah perempuan itu.


"Bukan lupa, tapi pekerjaanku sedang banyak. Sam saja baru turun."


Tepat saat itu Sam baru keluar dari lift dan mengangguk menyapa atasannya.


"Aku punya kejutan untuk kamu, tapi tidak di sini," kata Sarah mengamit tang sang suami dan bergelayut manja.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Fatih melanjutkan langkah menuju mobil.


Beberapa pegawai yang hendak pulang mengangguk ketika Sarah dan Fatih lewat.


"Sesuatu yang sangat kamu inginkan," jawab Sarah, membawa tangan suaminya ke perut. "Kita akan punya anak."


Fatih masih mencerna ucapan istrinya. Ada rasa tidak percaya mengingat beberapa minggu lalu istrinya bilang belum melepaskan IUD tapi kok sekarang bilang sudah hamil.


"Kamu tidak bahagia aku hamil?" Sarah menuntut jawaban dari suaminya yang mengerutkan kening.


Gegas Fatih memeluk istrinya dan memberikan kecupan di seluruh wajah sang istri. Namun hatinya masih ragu, apa memang bisa secepat itu istrinya hamil setelah melepaskan IUD.


***


Sepanjang perjalanan pulang Zahra menikmati pemamdnagan jalanan yang dia lalui. Seketika dia menyadari mobil bergerak cepat.


"Ada apa?" Dia bertanya pada Randi.


"Ada mobil di belakang seperti mengikuti kita," kata Randi tetap fokus pada jalanan. Sesekali matanya melirik cepat ke arah spion samping juga spion tengah.


Zahra menoleh ke belakang. Benar, mobil di belakang adalah mobil yang pernah ia lihat beberapa hari yang lalu.


"Kencangkan sabuk pengaman, Nyonya," kata Randi menginjak pedal gas.


Namun mobil di belakang pun melakukan hal yang sama. Beberapa kali menabrak mobil yang ditumpangi Zahra.


"Astagfirullah," pekik Zahra ketika terjadi guncanagan. Tanganmu gemetar menyentuh perut. Sekarang dia tidak bisa tenang menikmati perjalanan pulang. "Hati-hati, Ran!"


Mobil di depan terlihat seperti menghalangi jalan. Dia tidak memberi jalan untuk Randi melintas lebih dulu.


"Sial, sepertinya mereka komplotan," desis Randi membuat Zahra semakin tidak tenang.


Bruk, mobil belakang kembali menghantam. Randi mulai menunjukan keahliannya dalam mengemudikn mobil. Dia berhasil lolos dari dia mobil tadi Namun mobil di depan menghalangi jalannya. Kecepatan yang tinggi tak mampu Randi hentikan dengan cepat.


Bruk, mobil Randi menghantam mobil di depan dan kecelakaan pun terjadi.

__ADS_1


__ADS_2