Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
Episode tiga puluh empat


__ADS_3

Zahra terharu ketika dokter kandungan menunjukan hasil USG kehamilan. Ternyata dia tidak keguguran seperti dugaannya. Janinnya masih bertahan sampai saat ini.


"Tetap dijaga pola makannya ya. Hindari juga aktifitas yang menimbulkan guncangan. Kandungan anda sangat rentan ketika sudah mengalami perdarahan tapi bukan berarti anda juga harus leyeh-leyeh tanpa aktifitas. Intinya disesuaikan dengan kebutuhan ya. Saya sudah buatkan resep tinggal diambil di bagian farmasi ya," kata dokter Sintia.


Setelah menebus obat mereka pun kembali ke rumah. Sampai di rumah Zahra langsung menanyakan kenapa kandungan masih ada.


"Memangnya dokter kemarin mengatakan kakak keguguran?" Hilal balik bertanya.


Zahra menggelengkan kepala, "tapi kan dokter itu mengatakan sabar ya. Kalimat itu seperti menyiratkan bahwa kakak kehilangan janin ini."


"Itu karena aku yang meminta agar dokter tidak memberi tahu Fatih tentang kandungan kakak yang sebenarnya. Hanya cara ini yang terpikirkan olehku agar kakak bisa lepas dari Fatih. Aku ya mana tega melihat kakak berlama-lama dalam belenggu pernikahan itu. Aku menyadari kakak mulai jatuh cinta sama dia. Aku yakin akan sangat menyakitkan saat terjadi perpisahan ketika cinta sudah benar-benar mengakar. Maafkan aku, Kak telah menjadi jalan yang memisahkan kalian."


Hilal menunduk menunjukan rasa bersalah.


"Hey, kakak tidak marah. Terima kasih ya sudah memikirkan perasaan kakak. Tapi sepertinya kehamilan ini akan merepotkan kamu Hilal, kakak sudah tidak bekerja lagi sekarang."


"Kita akan membesarkannya bersama-sama, Kak."


Hilal tidak keberatan ketika dia harus bekerja sambil kuliah. Zahra sendiri membuka usaha kecil-kecilan dari sisa tabungan yang dia punya. Berawal dari membaut kue, makanan ringan kemudian dibantu pemasarannya oleh teman-teman Hilal yang memilki banyak followers.


Semakin hari semakin banyak pesanan yang masuk sehingga Zahra harus menghadirkan dua orang untuk membantu pekerjaannya.


Hasil penjualan cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sebagiannya bisa ditabung untuk masa depan anaknya nanti. Tidak perlu lagi mengharapakan bantuan dari orang yang sesungguhnya telah menghancurkan hidupnya.


"Tolong nanti buat yang ukuran ini sama yang ini. Adonan pesanan 300 sudah?"


"Sedang dipanggang, Bu."


"Terima kasih. Nadia, sudah selesai?" Zahra menghampiri Nadia yang tengah mengemas pesanan yang akan diantar sebentar lagi.


"Siap, Bu."


"Terima kasih, tolong pesankan taksi online sekalian! Aku akan mengganti pakaianku sebentar," ujar Zahra yang berjalan sambil mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ke-enam. Artinya sudah tiga bulan mereka berpisah dan belum pernah bertemu lagi.

__ADS_1


Fatih sendiri tengah sibuk dengan proyek baru dan berusaha memperbaiki pernikahan dengan Sarah. Dia juga selalu menunjukan sikap perhatian karena yang dia tahu kalau Sarah tengah hamil. Namun ada yang aneh dengan kehamilan istrinya. Di mana dia menyadari belum ada perubahan signifikan yang terjadi pada tubuh sang istri terutama bagian perut. Istrinya juga tidak menunjukan gejala kehamilan seperti ngidam atau menginginkan yang aneh-aneh seperti kehamilan pada umumnya. Dia menepis prasangka itu karena gejala kehamilan setiap orang memang tidak sama.


Di awal Sarah mengakui bahwa dirinya hamil, Fatih sempat ragu. Akan tetapi waktu itu Sarah meyakinkan bahwa dia benar-benar hamil dan mengatakan bahwa IUD-nya sudah lepas sendiri dan keluar bersama darah saat ia haid. Entah benar atau tidak namun Fatih berusaha mempercaianya.


Lagi pula apa yang akan dia kejar sekarang. Toh Zahra sudah dia jatuhkan talak.


***


Menggunakan taksi online Zahra mengantarkan pesanan pelanggan.


"Wah spesial ini diantar langsung oleh ownernya," kata si pembeli dengan sumringah menyambut Zahra yang baru turun dari taksi. Meminta pekerjanya agar membantu Zhara menurunkan boks-boks di bagasi. "Repot-repot loh, Bu Zahra, padahal bisa dijemput oleh pekerja saya."


"Seperti kata ibu, ini spesial karena sudah lima kali repeat order," kekeh Zahra menyerahkan nota pembayaran.


"Owalah, tapi makasih loh. Cake-nya enak. Anak-anak bahkan minta restok. Ayo masuk dulu, acaranya belum di mulai."


"Waduh sepertinya saya tidak bisa, Bu. Kasian yang di rumah repot masih banyak pesanan," tolak Zahra dengan halus.


Pembeli itu mengusap perut Zahra sambil mendoakan kebaikan itu ibu yang mengandung.


Usai mengantar pesanan, Zahra langsung pulang. Namun berhubung jalan yang dia lalui melewati sebuah super market dia pun menyempatkan waktu untuk berbelanja kebutuhan.


Saat sudah turun dari mobil dan memasuki area super market, seorang anak kecil berlari ke raha Zahra dan terjatuh.


"Eh, eh maaf. Tante minta maaf ya," kata Zahra seraya membangunkan si anak kecil.


"Kan om sudah bilang, Nasya jangan lari-lari." Terdengar suara seorang pria menghampiri mereka.


"Zahra?"


"Mathias?"


Rupanya anak bernama Nasya itu keponakan Mathias.

__ADS_1


"Syukurlah kita bertemu lagi, Ra. Kamu apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat, Mat. Kamu lagi liburan atau ...."


"Lagi ada kepengingan keluarga jadi aku ambil cuti tiga hari dan ini hari terkahir aku di sini. Eh mau belanja ya. Bareng ya, sekalian ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Tunggu di sini aku nganter ini anak ke ibunya dulu ya. Tunggu di sini," pesan Mathias.


Bukan tidak sopan karena tidak menunggu Mathias, lebih karena dia tidak terbiasa jadi memilih langsung menuju tempat kebutuhan yang akan dia beli.


Melihat sepasang suami istri tengah berdiskusi tentang kebutuhan yang akan mereka beli, refleks Zahra langsung menyentuh perutnya. Seperti mereka merupakan salah impian terbesar bagi Fatih, itu katanya. Duh kenapa jadi mengingat pria itu lagi.


Setelah troli yang dia dorong penuh dengan bahan kebutuhan, dia menuju ke tempat buah-buah dan sayuran. Dia tersenyum saat melihat buah yang dia inginkan sejak beberapa hari yang lalu akhirnya dapat di sini. Saat dia akan mengambilnya ternyata ada tangan lain yang kebetulan menginginkan buah yang sama.


Zahra menoleh dan ternyata itu Fatih. Tatapan mereka bertemu kembali setelah sekian purnama tidak bertemu. Ada rasa hangat sekaligus rindu yang terpnacar dari tatapan masing-masing.


Tidak ingin mengulang kembali cerita yang sama, gegas Zahra melepaskan tangan dari buah tersebut dan berbalik badan. Tidak lagi menoleh pada Fatih yang masih menatapnya.


"Hey, cari apa?" tanya Mathias yang menghampiri Zahra.


Fatih melihat itu dan memalingkan wajah.


"Sudah ketemu buahnya," terdengar suara Sarah menghampiri Fatih.


"Ada, tinggal satu lagi," jawab Fatih.


Di saat yang sama dia juga mendengarkan Zara dan Mathias menanyakan stok buah tersebut kepada salah seorang karyawan.


"Maaf sekali, Bu. Stok buah yang ibu cari memang sedang kosong," kata si pelayan.


"Mau banget buahnya, Ra?" tanya Mathias.


Zahra hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala lalu mengajak Mathias langsung ke kasir. Perilaku mereka tak luput dari perhatian Fatih yang tengah menemani Sarah memilih beberapa buah. Yang lebih menarik perhatian Fatih adalah perut Zahra yang sudah terlihat membukit.


Hatinya terasa tercubit ketika perempuan itu tak lagi tersenyum ke arahnya. Aneh, kemarin dia masih merasakan benci pada perempuan yang tengah berdiri di kasir bersama pria lain, namun sekarang malah merasakan sakit sekaligus rindu.

__ADS_1


__ADS_2