
"Alin!" pekik Zahra saat melihat tubuh yang tergeletak di atas lantai ada beberapa obat-obat yang entah untuk apa. Padahal kemarin Alin masih terlihat sehat. Namun saat matanya melihat beberapa alat tes kehamilan dia yakin Alin sedang mencoba untuk mengakhiri hidup.
Iya setelah semalam Alin tidak bisa tidur memikirkan jalan keluar, akhirnya mengakhiri hidup menjadi pilihan untuk keluar dari masalahnya.
Gegas Zahra mencari bantuan tetangga karena dia tidak sanggup membawa tubuh Alin yang bobotnya hampir sama dengan diri sendiri. Tak lupa dia menyimpan lebih dulu alat tes kehamilan agar tidak mengundang pertanian lebih dari warga.
"Terima kasih, Pak," ujar Zahra saat Alin sudah berada di dalam mobil.
"Sama-sama, Neng Zar, nanti kabari perkembangannya ya " kata salah satu warga yang membantu sebelum Zahra mengemudikan mobil milik Alin.
Zahra membawa Alin ke rumah sakit terdekat, tidak peduli dia akan terlambat masuk kerja, yang penting harus memastikan bahwa Alin selamat dari maut.
Saat Alin sudah mendapatkan pertolongan pertama barulah Zahra menyempatkan untuk menghubungi atasnya dan memberi tahu bahwa dia terlambat karena harus ke rumah sakit lebih dulu.
"Kamu kecelakaan, Zahra?" tanya Pak Adam supervisornya. Posisi pak Adam baru saja keluar dari mobil dan beriringan dengan Fatih yang juga baru datang.
Mendengar nama Zahra, Fatih langsung menoleh dan menghentikan langkah membuat Pak Adam pun ikut berhenti.
"Oh ya sudah kalau begitu, tapi tetap ya itu kamu masuknya terlambat dan akan memepengaruhi gaji."
"Siapa yang kecelakaan?" tanya Fatih ketika melihat Pak Adam sudah mematikan sambungan telepon.
"Zahra bilang dia lagi di rumah sakit, katanya darurat tapi dia akan tetap masuk kerja," kata Pak Adam.
Fatih mennagguk, "Kalau dia sudah datang suruh ke ruangan saya!"
Pak Adam garuk kepala, gawat ini kalau sampai bos besar yang menangani. Bisa-bisa kena peringatan ini Zahra begitu pikir Pak Adam. Sangat disayangkan, padahal Zahra adalah salah satu pegawai yang paling loyal pada perusahaan.
Zahra merasa lega ketika sudah menghubungi atasannya. Sekarang dia tinggal menunggu kabar dari dokter. Baru setelah mendengar kabar baik dia berangkat ke kantor.
"Aku izin pakai mobil kamu ya Alin," kata Zahra sebelum meninggalkan sahabatnya yang masih memejamkan mata.
Tiba di kantor, Pak Adam langsung memberi tahu Zahra bahwa dia harus ke ruangan Mr. Fatih. Zahra menghela nafas setelah meletakan tas kemudian menuju ruangan kerja Fatih.
Baiklah mungkin ini berkaitan dengan kedatanganku yang terlambat, begitu pikir Zahra. Kebetulan sekali dia berpapasan dengan Bram yang saat itu baru keluar dari ruangan Fatih.
"Pak Bram," panggil Zahra menghentikan langkah Bram.
"Ya?" Bram berbalik badan.
"Rs. Rindu Sehat, lantai dua kamar melati," ujar Zahra memberi tahu Bram. Biar bagaimana pun Bram tidak boleh hanya merasakan enaknya tanpa memikirkan akibatnya.
"Maksud anda?"
"Datang saja ke sana untuk mengetahui jawabannya." Zahra langsung mengetuk pintu ruang kerja Fatih dan dipersilahkan masuk.
__ADS_1
Bram mengerutkan kening tapi seketika dia teringat kalau Zahra adalah temannya Alin. Gegas dia kembali ke mobil dan meninggalkan pekerjaan menuju tempat yang disebutkan oleh Zahra.
Sedengakan Zahra tengah duduk berhadapan dengan tatapan dingin seorang Fatih.
"Enak sekali jadi kamu. Pegawai biasa tapi mendapat privilese untuk datang terlambat ke kantor. Saya saja lima belas menit waktu kerja belum di mulai sudah di sini."
"Saya minta maaf, Pak."
Fatih memperhatikan Zahra dari atas ke bawah. Sebenarnya dia merasa khawatir dan ingin memastikan kalau Zahra baik-baik saja. Akan tetapi karena tidak mungkin menunjukan perhatiannya secara langsung akhirnya dia harus berpura-pura tegas.
"Saya harap kamu tidak mengukangi kesalahan yang sama. Peraturan tetap peraturan."
"Baik, Pak."
***
Hari keberangkatan menuju Bali hanya tinggal menghitung jam. Alin sudah kembali sehat bahkan kembali ceria. Entah apa yang dikatakan Bram saat menemuinya di rumah sakit yang jelas itu bukan tugas Zahra untuk memikirkannya.
"Lal, sebentar lagi kakak berangkat. Kamu yakin tidak masalah kalau kakak pergi?" Zahra mengirimkan pesan pada adiknya.
"Tidak masalah, Kak, aku akan menjaga ibu. Lagi pula hanya tiga hari dua malam kan kakak pergi?"
"iya, ya sudah kalau begitu. Kabari kakak kalau terjadi sesuatu dengan ibu."
Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam di pesawat akhirnya mereka tiba di bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Wajah-wajah senang bercampur lelah terlihat dari beberapa pegawai yang ikut serta termasuk Zahra.
"Ra, keluar yuk!" Alin sudah berdiri di dekat Zahra yang tengah berbaring.
"Malas ah. Emang kamu tidak merasa capek, Alin? Kok langsung ngajak jalan-jalan."
"Ya ampun Zahra, ini tuh lagi di Bali. Lagi liburan bukan lagi kerja. Masa selama tiga hari dua malam kamu hanya akan jadi teman tempat tidur," kekeh Alin.
Sedangkan di kamar lain ketiga pria yang sy
sudah memiliki rencana jahat pada Zahra tengah berdiskusi. Pokoknya tidak boleh sampai gagal. Bahkan mereka sudah menyiapkan obat tidur sekaligus obat perangsang.
"Tidak sabar untuk besok setelah pesta," kata Aldi sambil tersenyum jahat.
"Sama, kita akan merasakan bagiamana legitnya seorang Zahra," kekeh temannya.
Makan malam pun tiba, semua pegawai harus ikut makan malam karena sekalian ada pembahasan program kerja. Zahra dan Alin pun bersiap turun. Hanya saja ada yang aneh dari Alin sejak tadi yang selalu terlihat ceria.
"Kenapa? Ada yang aneh ya dari aku?" tanya Alin yang menyadari bahwa tengah diperhatikan oleh Zahra.
"Iya, kamu ceria sekali sejak tadi. Aku saja sampai merasa heran."
__ADS_1
"Oh itu, aku itu lagi bahagia sekali, Ra. Kamu tahu kenapa?" Zahra mengelengkan kepala, "karena Bram akan menikahiku."
Zahra langsung berdehem ketika mendengar perkataan Alin.
"Aku tahu kamu tidak suka dengan kabar gembira ini, Ra, tapi aku mohon jangan menghujat, apa lagi sampai menjauhi aku ya."
Zahra menghela nafas sambil menatap Alin. "Alin, kamu pernah membayangkan bagaimana sakitnya perasaan istri pertama?"
Alin terdiam. Zahra tidak perlu menasehati panjang lebar karena Alin sudah pasti faham tujuannya. Bukan maksud ikut campur hanya saja sebagai sesama wanita Zahra perlu mengingatkan.
Sepanjang pembahasan program kerja yang dijabarkan oleh Fatih, Zahra dan Alin tampak saling diam bahkan sampai acara berakhir mereka tidak bertegur sapa.
Keesokan harinya pun demikian. Setiap rangkaian acara yang diikuti, Alin seperti menjaga jarak dari Zahra tapi itu bukan masalah bagi Zahra.
Puncak kegiatan pun tiba, di mana perusahaan telah menyiapkan pesta di pinggir pantai. Beragam menu makanan dan minuman telah disediakan. Termasuk minuman beralkohol. Sekarang waktunya pegawai perusahaan Fatih bersenang-senang. Menikmati makanan dan minuman sepuasnya.
Zahra duduk seorang diri karena Alin masih menjaga jarak kemudian Aldi mendekat.
"Sendirian, Ra?"
"Tidak, itu banyak orang," kata Zahra sambil menunjuk yang lain.
Aldi melirik temannya dan memberi kode. Tak lama kedua temannya menghampiri mereka dan memberikan minuman pada Zahra. Minuman yang sudah dicampurkan dengan dua obat sekaligus.
Dari tadi Fatih sudah memperhatikan katiga pria itu dan ternyata dugaannya benar. Mereka memiliki niat jahat pada Zahra.
"Kamu tidak suka minuman yang mengandung alkohol kan? Pasti jus jeruk ini kamu suka, aman tidak mengandung alkohol kok."
Jelas aman karena hanya mengandung obat tidur, kata Aldi di dalam hati.
Zahra menerima gelas yang diberikan padanya namun tidak meminumnya. Memilih meletelakan gelas tersebut di atas meja.
"Kok gak di minum?" tanya teman Aldi yang satu lagi.
"Nanti saja," Kata Zahra.
Merasa tidak nyaman dikelilingi tiga pria Zahra memilih bangkit tanpa menyentuh minumannya. "Maaf ya angin malam membuatku tidak nyaman," kata Zahra seraya bangkit dan meninggalkan mereka bertiga.
"Sial!" Aldi mengumpat. Dia melirik kedua temanya dan akan menjalankan rencana kedua yaitu menyeret paksa Zahra ke atas tempat tidur.
Di sudut lain Fatih tersenyum ketika Zahra tidak menyentuh minuman yang diberikan teman Aldi. Setidaknya Zahra aman untuk sementara. Namun jangan salah bahwa dia pun memiliki rencana sendiri untuk bisa memiliki Zahra.
Tengah malam sudah lewat dan Zahra belum bisa memejamkan mata karena Alin belum kembali ke kamar. Ponselnya tidak bisa dihubungi.
Dia kembali melirik jam tangan, akhirnya dia putuskan untuk mencari Alin. Tanpa dia sadari bahwa bahaya tengah mengingai dirinya.
__ADS_1
Aldi dan kedua temannya sudah mengintai dari tadi. Salah seorang dari mereka mengikuti Zahra dari jarak aman.