Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
episode dua puluh lima


__ADS_3

Degup jantung Zahra bergemuruh ketika mendengar pengakuan dari bibi nya. Hilal bahkan langsung menarik rambut sang bibi membuat pemiliknya memekik dan memaki.


"Dasar anak-anak haram. Anak tidak tahu diuntung, anak pembawa sial." Berbagai umpatan terlontar dari bibir Hayla. Anggota kebun binatang pun tak luput untuk disebut.


"Hilal!" Zahra mencegah adiknya yang hendak menampar bibir yang tidak berhenti mengumpat itu. Dia menggelengkan kepala. Biar bagaimana pun perempuan menyebalkan itu adalah bibinya. Adik dari mendiang ibunya.


"Hah, dasar anak-anak tidak berguna." Biar pun rambutnya sudah dilepaskan tetap saja Hayla mengeluarkan umpatan.


"Katakan sekali lagi, iya bibi yang mencelakai ibu?" tanya Hilal dengan sorot mata tajam. Wajahnya memerah, jelad sekali tengah menahan amarah.


"Iya, kenapa? Mau melaporkan aku? Polisi tidak akan mempercayai omongan tanpa bukti."


Hari itu Hayla merasa buntu karena Zahra terus menolak untuk dipertemukan dengan Tuan Demir. Kemudian terpikirlah sebuah ide yang saat jahat. Dia yakin jika kakaknya masuk rumah sakit dan membutuhkan uang banyak Zahra tidak akan menolak lagi dipertemukan dengan Demir.


Dia datang ke rumah kakaknya dengan alasan rindu. Dia juga menyampaikan niat baik dari seorang Demir. Namun hari itu ibunya Zahra mengatakan dengan tegas menolaknya.


"Tugasku hanya membesarkan dan mendidiknya. Soal urusan teman hidup biarkan dia yang menentukan. Dia tahu mana yang dia butuhkan. Hayla aku hargai niat baikmu menikahkan Zahra dengan lelaki pilihanmu tapi aku tidak akan memaksa Zahra untuk menerimanya. Dan aku pun tidak menyetujuinya."


Hari itu memang Hilal hanya menemukan ibunya yang sudah tergeletak di kamar mandi. Dia pikir ibunya memang jatuh tanpa ada unsur yang mencelakai. Tapi ternyata ada manusia yang lebih tega dari pada hewan. Hewan saja masih ada yang melindungi keluarganya, ini manusia tapi malah mencelakai kakaknya sendiri.


Hilal menonjok tembok meluapkan rasa kesal karena tidak mungkin memukul bibi nya. Dia masih berusaha menghargai perempuan itu. Padahal bisa saja dia melakukan hal yang sama, suasana masih sepi dan tidak ada orang lain selain mereka bertiga. Namun jika itu sampai terjadi lalu apa bedanya dia dengan sang bibi.


"Payah sama perempuan aja tidak berani. Ganti saja celananya dengan rok, itu lebih cocok untuk laki-laki payah sepertimu." Sekali lagi Hayla memaki keponakannya.


"Pulang dan jangan pernah datang lagi," kata Hilal memunggungi bibi nya. Dia mengusap wajah dan mengontrol emosi. Dadanya terlihat naik turun.


Kejadian dan pengakuan bibinya tadi pagi membuat Zahra lebih banyak melamun sepanjang perjalanan dia menuju kantor. Saat turun dari mobil pun dia terlihat tidak semangat sekali. Pengakuan itu sangat menyakitkan bagi dia dan sang adik.

__ADS_1


"Sudah sampai, Nyonya." Randi memberi tahu istri majikannya yang sejak tadi menatap kosong.


Zahra mengerjap lalu meraih tasnya dan mengucapkan terima kasih. Tatapan mata yang kosong menarik perhatian beberapa orang yang sempat berpapasan dengannya.


Mereka saling bertanya melalui ekspresi, tidak terkecuali Fatih yang baru turun dari mobil bersama Sarah. Melihat tatapan sang suami tertuju pada Zahra, gegas Sarah merapihkan jas sang suami untuk menarik perhatiannya agar tertuju pada dirinya. Menyambar bibir sang suami ketika Zahra menoleh ke arah mereka.


Sakit. Ketika keadaan sedang kacau dan berharap seseorang yang telah mengusik hidupnya itu akan memberikan ketenangan tapi malah menaburkan garam pada lukanya.


"Zahra, kamu baik-baik saja," tanya Mathias yang sedang menunggu lift terbuka. Hanya anggukan pelan sebagai jawaban dari Zahra.


Dia berusaha menjaga sikap profesional walau hati dalam keadaan gundah gulana. Perusahaan sudah menggaji dirinya, artinya mereka menginginkan yang terbaik tidak peduli pada urusan pribadi setiap pekerjanya.


Selama kamu berada ditempat kerja, maka tidak ada waktu untuk memikirkan masalah pribadi. Kurang lebih seperti itu lah.


***


Saat makan siang tiba dan Sarah pamit ingin makan di luar, Fatih meminta Zahra ke ruangannya.


"Tidak."


Fatih meraih wajah istri keduanya agar tatapan mereka bertemu.


"Mau berbagi denganku?"


Zahra melirik sekilas namun kembali memalingkan wajah. Perhatian Fatih yang seperti ini justru semakin menambah perasaan sakit pada hati Zahra. Dia harus sembunyi-sembunyi untuk menemui pria yang statusnya adalah suami. Dia menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Berbagilah denganku, suka dukamu adalah suka duka-ku juga. Zahra ...." Fatih memanggil dengan suara begitu lembut dan tatapan hangat.

__ADS_1


Kalau statusnya adalah istri satu-satunya bagi Fatih, mungkin perasaan sakit dan sedih itu akan sirna begitu saja ketika diperlukan begitu manis oleh sang suami. Namun kenyataan yang ada saat ini justru semakin membuatnya terlihat menyedihkan.


Satu tetes air mata jatuh di pipi Zahra, langsng di usap ole Fatih.


"Apa pernikahan ini membuatmu tersiksa?"


Bodoh kenapa harus bertanya. Jelas-jelas ini sangat menyiksa.


Zahra berdehem kemudian bangkit, "Aku harus makan siang. Permisi."


Di sebuah tempat makan Alin sudah menunggu kedatangan Sarah. Dia tersenyum puas kala melihat mobil perempuan itu tiba.


"Sudah lama menunggu?" tanya Sarah yang baru tiba di meja makan yang Alin pesan.


"Baru juga tiba. Anda mau langsung pesan?" tawar Alin.


"Nanti saja. Aku tidak memilki banyak waktu, sekarang katakan info penting menurut kamu itu."


Alin merogoh tasnya kejadian menyodorkan flashdisk berwarna hitam.


"Saya tahu apa yang menyebabkan anda sering datang ke kantor, bahkan hampir setiap hari. Jawaban yang anda mau ada di sini." Alin tersenyum meyakinkan, "tenang saja, informasi ini baru saya yang mentahui. Anda tidak perlu khawatir tapi sesama perempuan kita perlu melawan parasit dalam rumah tangga bukan?"


Sarah mengangguk, membenarkan perkataan Alin. Kemudian dia membuka iPad yang selalu dia bawa dia memasukan flashdisk tersebut.


Beberapa foto beirisi Fatih tengah mendatangi Zahra di malam hari. Tentang sopir yang selaku mengantar jemput Zahra dan bill makanan yang selalu dipesan atas nama Sam lalu dikirim kepada Zahra.


Sarah mengepalkan tangan. Dia langsung menghubungi Demir.

__ADS_1


"Hey ada apa? Apa kamu merindukan sentuhan dariku?" tanya Demir yang sedang makan siang di tempat lain.


"Aku tunggu kamu di tempat kemarin," kata Sarah kemudian mematikan sambungan. Dia melirik pada Alin yang dipastikan dapat mendengar ucapan Demir tadi.


__ADS_2