
Di saat yang lain sibuk membicarakan perihal famili gathering, Zahra memilih sibuk pada pekerjaan. Sampai supervisornya menghampiri dan mengatakan dia harus ke ruangan atasannya.
"Apa lagi, Ra?" Sepeti biasa Alin paling ingin tahu apa pun yang berkaitan dengan Zahra. Dia tengah mencari celah dari seorang Zahra. Berjaga-jaga, bukan tidak mungkin suatu hari Zahra akan bernyanyi tentang skandalnya. Padahal dalam pikiran Zahra tidak terpikirkan sama sekali.
Yang ada dalam pikiran Zahra hanya bagimana cara membahagiakan ibu serta adiknya. Tidak ada ruang untuk memikirkan kehidupan orang lain.
"Kurang tahu."
Sebenarnya dia malas berurusan dengan Fatih. Apa lagi setelah Alin mengatakan bahwa pria itu kemungkinan suka pada dirinya.
Berbeda dengan Fatih yang merasa memiliki kesempatan untuk bisa bertemu tatap lagi dengan Zahra. Maka mengucapkan teirma kasih atas sikap baik perempuan itu pada istrinya ia jadikan alasan.
Zahra mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk. Duduk di seberang Fatih yang pura-pura terlihat sibuk. Beberapa menit kemudian pria itu baru menatap layar laptop kemudian menatap Zahra.
"Maaf kalau saya harus mengganggu waktu kerja anda, Nona Zahra."
Zahra menghela nafas kemudian mengangguk.
"Begini, maksud saya memanggil anda karena saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan anda pada istri saya semalam. Mungkin kalau tidak ada nona Zahra istri saya bisa saja tidur di pinggir jalan atau lebih parahnya menjadi korban kejahatan. Untungnya dia bertemu orang baik seperti anda."
"Bukan masalah besar, Pak. Sudah menjadi kewajiban untuk membantu sesama."
Fatih mengangguk-angguk kepala, mencari alasan apa lagi ya agar bisa menahan Zahra lebih lama di ruangannya.
"Apa itu berlaku pada siapa pun?"
"Tentu saja, menolong sesama tidak harus memandang siapa yang akan ditolong. Saya rasa anda pun demikian."
"Anda salah, Nona Zahra, saya tidak memiliki pikiran sebaik anda. Tapi anda begitu luar biasa, saya yakin orang luar biasa seperti anda lahir karena didikan yang luar biasa juga. Saya jadi penasaran untuk bisa bertemu dengan orang luar biasa yang telah mendidik anda." Ada maksud tersirat dari ucapan Fatih tapi Zahra enggan mengakuinya.
"Ternyata anda lebih pandai untuk memuji rupanya, Pak," balas Zahra membuat seorang Fatih tertawa pelan.
"Bagaimana keadaan ibu anda sekarang?"
"Masih di ruang intensif, dan masih sama."
"Saya berdoa untuk ibu mertua semoga lekas pulih kembali." Zahra melotot ketika mendengar perkataan Fatih.
Ibu mertua? Memang sudah gila Mr. Fatih ini.
Suasana berubah canggung saat Fatih kehabisan ide untuk menahan Zahra. Sedangkan Zahra enggan memai percakapan karena dia ingin segera meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Apa sudah tidak ada yang ingin disampaikan lagi, Pak? Kalau tidak saya harus melanjutkan pekerjaan saya," kata Zahra. Meskipun merasa jengah tapi tetap mengedepankan adab.
"Oh iya, silahkan kembali bekerja. Sekali lagi terima kasih untuk yang semalam. Soal kejadian di rumah sakit?"
"Carilah orang lain karena anda tidak akan mendapatkan aoa pun dari saya." Zahra benar-benar meninggalkan ruangan Fatih setelah mengatakan kalimat itu.
Fiuh Fatih meniup udara di sekitar setelah pintu kembali tertutup. Susah sekali mendekati Zahra, tiba-tiba dia teringat akan sang istri dan juga ibunya yang masih ada di rumah mereka.
Bisa-bisanya dia lupa kalau ibu dan istrinya bertemu pasti akan terjadi kembali pembahasan tentang anak. Dan itu benar terjadi saat Sarah baru bangun ketika jam dinding menunjuk angka sebelas.
"Senang ya jadi nyonya, suami berngakat kerja pagi-pagi sedangkan nyonya jam sebelas baru bangun," sindir Misha dari ruang keluarga.
Sarah yang hendak melangkah ke dapur pun urung dan memilih menghampiri mertuanya.
"Mama di sini?"
"Dari semalam mama di sini dan mama tahu kalau kamu masih mabuk-mabukan. Kapan kamu akan berubah? Menunggu anak saya merasa bosan dengan kamu kemudian kamu ditinggalkan, begitu?"
Sarah menghela nafas, salah lagi kan dia. Ah memang dia menganggap tidak pernah benar di mata mertuanya.
"Kamu bosen kan kalau terus diingatkan. Mengira kalau mama itu tidak suka sama kamu. Iya kan? Padahal mama bawel seperti ini juga karena sayang sama kamu. Bayangkan kalau sampai Fatih bosan dengan pernikahan kalian yang seperti ini. Monoton, dia bahkan ketika sarapan saja tidak dilayani istrinya kemudian dia berpaling. Lalu siapa yang akam rugi? Kamu, sebagai perempuan."
"Iya, Ma. Maafkan Sarah."
Bosen kalau mama membahas soal anak, jawab Sarah di dalam hati.
"Bosen kan?" tekan Misha.
"Iya, nanti aku pikirkan soal anak. Aku sarapan dulu ya, Ma." Sarah pamit setelah memasang senyum sebaik mungkin.
Bisa-biasanya Fatih tidak memberi tahu dirinya kalau ada Misha di rumah.
Baru saja duduk ponselnya sudah berdering, Fatih menghubunginya.
"Sudah bangun, Sar?" tanya Fatih
"Kalau belum mana bisa aku menjawab panggilan dari kamu."
"Mama masih di rumah?"
"Iya, dan aku habis dikasih ceramah tujuh menit gratis. Kenapa kamu tidak memberi tahu kalau mama ada di rumah?"
__ADS_1
"Mana bisa aku memberi tahu, kamu dibangunkan saja susah. Mama ceramah apa?"
"Biasa, perubahan yang ujung-ujungnya kamu juga tahu. Pasti mengarah kepada persoalan anak. Mama kamu itu pinter sekali merangakai kata. Bosan aku tuh."
Bukan kamu saja, aku juga bosan dengan pernikahan kita, kata Fatih di dalam hati.
***
"Zahra," sapa seorang pegawai laki-laki.
Seperi biasa Zahra hanya mengangguk dan tersenyum.
"Mau pulang bersama, Zar?" tawar pria itu.
"Maaf tapi kita beda arah."
"Loh bukannya pulang ke rumah Alin?"
"Hari ini saya pulang ke Bandung. Mari." Zahra pamit dan mengangguk sopan.
Lagi-lagi mendapat penolakan dari seorang Zahra. Kapan dan harus menggunakan cara seperti apa untuk menaklukan perempuan itu.
Kereta api cepat Jakarta-Bandung menjadi teman setia perjalan Zahra. Hari ini dia tidak langsung ke rumah sakit melainkan pulang ke rumah lebih dulu.
Sebuah mobil metalik hitam terparkir di halaman rumahnya. Siapakah yang sedang bertamu. Bukankah tadi Hilal bilang dia masih di rumah sakit. Lalu siapa yang ada di dalam rumah.
Gelak tawa dari dalam rumah sudah bisa ditebak siapa tamu yang datang ke rumahnya. Sudah tentu itu Hayla tapi entah dengan siapa.
Zahra mengucap salam dan kedatangannya di sambut hangat oleh bibi-nya. Pasti sebentar lagi akan terjadi sesuatu.
"Kamu sudah pulang, Sayang? Sini duduk ini ada tamu."
Sehingga pria yang ditaksir seumuran dengan Fatih tersenyum ke arahnya.
"Ternyata Nona Zahra lebih cantik dari fotonya," kata pria yang belum diketahui namanya.
Deg. Jangan bilang kalau ini pria yang sering dikatakan oleh bibi-nya. Tuan Demir.
"Oh itu sudah jelas, lihat saja bibi-nya cantik kan?"
Pria itu tertawa, "iya memang, tapi nona Zahra jauh lebih cantik."
__ADS_1
Zahra mengusap wajah. Bertanya dalam hati kenapa harus pria seristri yang menyukai dirinya. Tidak adakah pria lajang yang mampu membuat dia merasa nyaman?