
Fatih menghampiri Zahra yang tengah mengusap sudut mata. Jelas dia tersinggung dengan perkataan Demir yang menyamakan dirinya dengan para perempuan tunasusila.
"Sayang-"
"Pergi!" Zahra menepis tangan Fatih yang hendak mendekapnya.
"Zahra, kita-"
"Aku bilang pergi. Aku ingin sendiri, paham kan dengan kalimat itu." Perempuan itu berbalik badan memunggungi suaminya. Bahunya berguncang, tak lama terdengar isakan juga gerakan tangan yang menyeka duduk mata.
Di luar Hilal yang baru datang berpapasan dengan Demir. Gegas dia melebarkan langkah karena khawatir pada keselamatan kakaknya.
Saat membuka pintu dia mendapati Fatih yang tengah menatap kakaknya yang terisak.
"Kak?" Dia menghampiri keduanya.
"Aku ingin pulang, Hilal. Bisa kamu urus keplungan kakak? Please." Zahra mengatupkan tangan.
Tanpa meminta persetujuan dari Fatih, Hilal langsung menemui dokter. Dokter sempat menyarankan dirawat satu atau dua hari lagi. Namun entah kalimat apa yang disampaikan oleh Fatih sehingga dokter tersebut memberikan izin dengan syarat tetap harus rawat jalan.
"Terima kasih, Dok." Hilal menjabat tangan dokter yang telah merawat kakaknya. Kemudian mengurus administrasi kepulangan.
Sepeninggal Hilal, Fatih masih berusaha mengajak Zahra bicara. Namun wanita itu seakan tuli dengan apa yang diucapkan oleh Fatih.
"Sayang, kita akan menghadapi ujian ini bersama. Beri aku kesempatan untuk membuktikan kesungguhan inii. Aku benar-benar mencintai kamu. Ingin melihat kamu bahagia bersamaku.
"Kita akan merasakan bahagia bersama. Tidak akan ada yang memisahkan kita atau menyakitimu. Aku bisa memastikan itu," ujar Fatih.
"Dia tidak akan pernah bahagia bersamamu. Apalagi dengan posisi sebagai istri tersembunyi," kata Hilal yang muncul di pintu. "Kak, semua sudah beres. Aku akan membereskan barang milikmu. Tunggu sebentar ya," kata Hilal pada Zahra yang mengangguk.
Mengabaikan Fatih yang terus membujuk Zahra, Hilal membereskan barang milik sang kakak sambil menunggu perawat melepaskan infus.
"Jangan dulu dilepas, Sus. Bukankah istri saya masih harus di rawat dia atau tiga hari lagi?"kafa Tagih mencegah suster yang hendak melepaskan jarum infus di tangan Zahra.
"Lepas saja, Sus. Saya akan sembuh jika berada di tempat yang membuat saya merasa nyaman. Tolong lepaskan sekarang."
"Zahra, jangan keras kepala. Aku akan mengurus Demir. Dia tidak akan menyakitimu lagi."
"Bukan dia yang menyakitiku," teriak Zahra dengan air mata yang tidak bisa dibendung. "Kamu, iya kamu yang menyakiti aku." Zahra menunjuk wajah Fatih. "Sejak aku kenal dengan Anda, saya tidak pernah lagi merasakan bahagia."
"Bohong," sanggah Fatih. "Kemarin kita tidur bersama, saling memeluk. Kamu tertawa berada di dekatku. Kamu ceria. Kamu marah sama Demir bukan sama aku."
Fatih berusha mendekap sang istri namun Zahra tetap menepisnya.
"Sus, sudah selesai?" tanya Hilal yang sudah beres mengemas barang kakaknya..
Mereka lupa di sana masih ada suster yang harus menyaksikan drama Fatih dan Zahra.
"Su-sudah, Pak."
__ADS_1
Zahra, turun dari brankar dibantu Hilal. Tanpa menolah lagi pada Fatih mereka keluar dari ruang rawat tersebut. Mengabaikan Fatih yang terus memanggil dan mengejarnya. Kelakuan Fatih mengundang perhatian beberapa pengunjung rumah sakit termasuk domter dan perawat yang berpapasan dengan mereka.
Fatih tidak menyerah, dia terus meyakinkan Zahra. Bahkan mengikutinya sampai ke rumah. Dia lebih dulu turun dari mobil yang dibawa oleh Sam. Dibukanya pintu mobil yang ditumpangi oleh Zahra. Tanpa banyak berkata dia langsung mengangkat Zahra dan membawanya ke kamar. Tak dia hiraukan teriakan Hilal yang memaki juga Zahra yang meronta di dalam gendongannya. Beruntung komplek tersebut belum terlalu ramai penduduk. Jadi keributan mereka tidak menarik perhatian tetangga.
Setelah meletakan Zahra di tempat tidur, Fatih mendorong Hilal keluar dari kamar. "Biarkan kami menyelesaikan masalah kami."
Dia kunci kamar tersebut. Zahra memalingkan wajah ketika Fatih menghampirinya.
"Aku tidak akan lagi mengeluarkan kalimat yang mungkin bosan kamu dengar. Aku akan tetap di sini menemani kamu."
"Aku tidak membutuhkan kamu. Silahkan pergi," kata Zahra pelan.
Namun belum juga masalah di dalam kamar selesai, terdengar keributan dari luar kamar.
"Hey perempuan sialan, keluar kamu."
Fatih dan Zahra saling menatap mendengar suara itu. Mereka tahu pemilik suara itu adalah Sarah-istri pertama Fatih.
"Lihat, tadi Tuan Demir yang mengatakan aku sama dengan para perempuan yang dia tiduri. Sekarang istrimu datang melabrakku. Besok siapa lagi yang akan datang? Ibu mu? Pergi! Lagi pula apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu sudah tidak ada, bukan?"
Zahra mengusap wajah dengan kasar. Dia turun dari tempat tidur namun Fatih menahannya.
"Biar aku yang menghadapi dia. Kamu tunggu saja di sini."
Di luar kamar Sam dan Hilal juga Randi tengah menahan agar Sarah tidak membuat keributan. Bi Sumi hanya menatap bingung dari kejauhan.
"Aku tahu perempuan j4hanam itu ada di dalam. Hey j4lang, keluar kamu! Hadapi aku," teriak Sarah.
Sarah tertawa nyaring, "Apa dengan kamu membentakku akan merubah status kakakmu. Tidak. Sekali j4lang, tetap j4lang. J4laaaaaang, wanita sialan kaluar! Jangan sembunyi. Hadapi aku kalau berani."
"Nyonya, tolong jangan membuat keributan di sini," ujar Sam.
"Diam kamu." Sarah membentak Sam, "kamu hanya kacung suamiku. Posisimu tidak lebih baik dari pada seekor anjing."
Ingin rasanya Sam menampar bibir yang seenakanya bicara itu. Namun dia berusaha meghragi Fatih atasannya.
"Cukup, Sarah!" Fatih keluar dari kamar. Di belakangnya Zahra ikut keluar.
"Hoho akhirnya kamu keluar juga. Enak? Sudah selesai berzina-nya. Enak ya jadi laki-laki bisa tusuk sana-sini."
"Sarah!"
"Kamu bahkan lupa aku sedang mengandung. Dan kamu ... Senang menjadi simpanan suamiku?" Sarah menunjuk Zahra.
Namun Zahra tidak memasang ekspresi atau sejenisnya. Wajahnya datar seolah tidak ada lagiemosianl di dalam. dirinya. Dia duduk di sofa menatap Sarah yang masih berdiri di depan pintu.
"Sebagai tuan rumah, saya persilahkan anda untuk duduk, Nyonya. Mari kita bicara," kata Zahra tenang.
Cih!
__ADS_1
Sarah meludah ke arah sofa yang dipersilahkan oleh Zahra.
"Aku tidak sudi. Aku menginginkan suamiku kembali," kata Sarah dengan dada naik turun.
"Kalau begitu silahkan bawa pulang. Perempuan j4lang ini tidak membutuhkan dia lagi," kata Zahra.
"Zahra?" Fatih menatap heran. Kenapa Zahra harus mengatakan kalimat yang menyakitkan untuk dirinya. Tidak membutuhkan dia lagi? Memangnya dia ini apa, barang?
"Fatih, kalau kamu tidak ingin menginginkan kehamilan ini, aku akan mengggurkannya," kata Sarah penuh drama.
Fatih diam di tempat. Dia bingung harus memilih yang mana. Kalau dia pergi hanya karena ancaman Sarah, bisa saja Zahra menganggap bahwa dirinya hanya sebatas menginginkan anak. Padahal sejatinya dia menginginkan Zahra sepenuhnya. Namun dia juga bimbang kalau iya Sarah benar-benar hamil.
"Sarah, kita akan bicara di rumah. Pulang lah dulu. Aku akan menyelesaikan masalah dengan Zahra."
"Kenapa tidak pulang sekarang saja?" tanya Sarah.
"Tidak bisa. Aku akan pulang setelah menyelesaikan masalahku dengan Zahra. Tolong."
"Lihat, Nyonya! Tidak ada yang menahan dia, bukan? Tapi dia sendiri yang masih ingin di sini. Jadi kalimat anda yang mengatakan saya seorang penggoda rasanya tidak benar. Oh iya satu lagi. Saya menikah dengan suami anda karena anda sendiri yang mengijinkan."
Fatih menengang teringat pesan yang dia kirim menggunakan ponsel Sarah tempo hari. Pasti Zahra mengira bahwa iti pesan dikirim oleh Sarah secara sadar. Padahal dia lah yang memanifulasi.
"Apa maksudmu?"
Zahra membuka galeri ponselnya dan menunjukan hasil tangkapan layar. "Bukankah ini nomor Anda? Pesan ini di kirim dari nomor anda."
"Tidak, aku tidak pernah mengirim pesan itu."
Kedua perempuan itu melirik kepada Fatih, termasuk Hilal yang maksih di sana. Sedangkan Sam dan Randi sejak tadi sudah tidak ada di sana. Mereka memilih menunggu di luar mobil.
"Jadi kalau bukan anda yang mengirim pesan ini lalu siapa? Atau seseorang telah membajak ponsel anda? Kalau iya siapa yang berani pada seorang Nyonya Fatih kalau bukan suaminya. Berarti anda bisa menyimpulkan dong ya, seberapa besar keinginan suami anda untuk menikah dengan saya. Saya tidak menggodanya tapi dia sendiri yang datang kepada saya. Dia bahkan berani memanifulasi anda."
Zahra menekan gejolak di dalam hatinya. Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan kalimat ini, kalimat yang menyakiti sesama kaumnya. Akan tetapi mungkin inilah puncak rencananya dengan Hilal tempo hari. Hari ini semua urusan dia dengan Fatih harus selesai. Pun pria itu harus merasakan sakitnya kehilangan dua orang perempuan dari hidupnya.
"Tanyakan pada dia siapa yang akan dia pilih? Setelah ini kita harus sama-sama sadar siapa yang diinginkan dan siapa yang tifak" kata Zahra lagi. Dia menatap bergantian semua orang yang ada di rumah itu.
"Fatih, kalau kamu mencintaiku ayo pulang sekarang," kata Sarah.Namun yang diajak bimbang harus melengkah. Melihat Fatih yang hanya diam saja membaut Sarah tahu kalau dia tidak lagi diinginkan oleh suaminya. "Oke aku tahu sekarang," kata Sarah berbalik badan kemudian masuk ke dalam mobil. Dia menangis di sana.
Fatih menatap Zahra yang kini juga tengah menatap dirinya. "Aku tidak menyangka kamu akan menyakiti sesama perempuan," kata Fatih. "Padahal aku berniat mengakurkan kalian berdua agar tetap menjadi istriku. Dia tidak memiliki keluarga yang utuh sepertimu, Zahra."
"Aku?" Zahra menunjuk diri sendiri, "katamu aku yang menyakiti dia? Kamu, kamu yang membuat aku harus menyakiti dia. Kamu hanya diam saja saat kedua istrimu beradu mulut, dan saling menghina. Kamu hanya membela diriku. Lagi pula apa yang aku katakan benar bukan? Kamu menginginkan aku? Sayang, aku tidak menginginkanmu.
"Kamu harus tahu, kenapa aku menikah denganmu. Bukan karena soal anak, bukan. Aku hanya menginginkan melihat ketidakberdayaanmu menghadapi situasi seperti ini. Ternyata sangat lucu sekali," kekeh Zahra dengan suara miris.
"Aku sangat menunggu moment ini Tuan Fatih Akbar. Ah satu lagi aku menunggu momen publik diramaikan dengan berita kita."
"Kamu jahat sekali, Zahra." kali ino Fatih tidak lagi berbicara tenang. Emosinya tersulut oleh ucapan Zahra.
"Iya, aku memang jahat, dan kamu bodoh," kata Zahra dengan tertawa. Sungguh berbalik keadaan dengan hatinya yang menangis. Bibir bisa mengatakan benci namun hati mengatakan dia jatuh cinta pada pria di hadapannya.
__ADS_1
"Hilal, kirimkan rekaman itu! sekalian tunjukan pintu ke luar pada pria ini" kata Zahra sebelum menutup pintu kamar dan mebgruung di dalam kamar.