Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
Episode tiga puluh enam


__ADS_3

Usaha Fatih untuk bicara dengan Zahra tidak membuatku hasil. Perempuan itu seperti sembunyi di lubang semut yang sulit disusul olehnya. Bahkan ketika ia sudah berada di dalam rumah yang menjadi tempat tinggal perempuan itu namun perempuan itu tak kunjung menampakan diri.


"Aku harap kamu memiliki rasa malu untuk tidak lagi menemui kakakku. Sekarang dia perempuan single, bukan istrimu lagi yang bisa ditemui kapan saja. Wajar kalau dia enggan ditemui pria yang bukan mahromnya.


" Kamu punya istri, jika kamu merasa istrimu tidak lagi sedap dipandang sehingga kamu berpaling pada kakakku itu sungguh tidak adil. Mungkin suatu hari nanti kamu akan melakukan hal yang sama pada kakakku," lanjut Hilal.


"Itu bukan kebiasaanku, Hilal."


"Benar itu mungkin bukan kebiasaan anda tapi aku takut itu menjadi kebiasaan yang berimbas pada kakakku. Sebagai seorang adik aku tidak ingin kakakku mengalami apa yang dirasakan oleh istrimu. Pulanglah bahagiakan istrimu sebelum kamu kehilangan dua-duanya."


Dering ponsel begitu berisik dari saku celana yang dikenakan oleh Fatih.


"Yang telepon itu istrimu 'kan? Pulanglah," kata Hilal lagi.


Sudah diusir berkali-kali memang dia sudah saatnya tahu diri. Dia meninggalkan rumah itu dengan harapan besok atau lusa bisa kembali ke sana. Dia lirik jendela kamar milih Zahra karena merasa perempuan itu tengah mengintipnya, saat berbalik ternyata tidak ada.


Zahra sendiri berdiri di samping jendela setelah sebelumnya mengintip.


"Iya, beliau ada di samping saya, Nyonya." Sam yang tengah mengemudi menerima telepon dari istri majikannya. Merepotkan sekali memang.


"Iya ... iya kami sedang diperjalanan ... baik." Sam menutup sambungan lalu menoleh pada Fatih yang tengah menatap keluar jendela. "Nyonya Sarah telepon, Tuan," kata Sam.


"Biarkan saja. Jangan langsung pulang!


"Siap, Tuan."


Tidak tahu tujuan, Sam hanya muter-muter membawa mobil mengelilingi kota Bandung. Sampai akhirnya mobil berhenti di depan mesjid alun-alun.


Fatih turun kemudian melaksanakan halat di sana. Usai sholat dia duduk di pelataran masjid mengamati orang-orang yang tengah bercengkrama bersama keluarga. Ada yang berlalu mengejar anaknya atau sebaliknya. Intinya semua yang dia lihat di sana adalah mimpinya.


Pukul sebelas malam dia baru kembali ke apartemen. Di sambut wajah cemberut Sarah.


"Aku tidak suka loh kamu biarkan sendiri di apartemen seperti ini. Kita ke sini berdua jadi apa-apa juga harus berdua."


Fatih melepas mantel yang dia pakai kemudian masuk ke kamar mandi. Mandi kilat karena tak sampai sepuluh menit dia sudah keluar lagi mengenakan t-shirt berwana putih dan celana pendek sebatas lutut.

__ADS_1


"Makan malam yuk. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu. Atau ...." Sarah menurunkan suetas tali di pundak yang menjadi penopang pakai dinas yang ia kenakan.


Fatih mencegah tangan yang hendak menurunkan tali tersebut, "kapan kamu akan jujur, Sarah?"


"Ju-jujur apa?" Sarah gugup ditatap tajam oleh suaminya.


"Banyak hal yang kamu smebunyikan dari aku. Soal kaku dengan Alin, Demir, dan kehamilan kamu."


"Kamu menuduh aku berbohong soal kehamilan?" Sarah panik sehingga nada bicara tak terkontrol.


Fatih membenarkan bantal kemudian menjatuhkan diri, "tidak perlu panik kalau kamu tidak berbohong."


***


Sarah mulai panik ketika mobil yang dia tumpangi bersama suaminya memasuki pelataran rumah sakit. Apalagi ketika langkah kaki mereka berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan dr. Friska Sp. OG.


"Ayo," ajak Fatih setelah membukakan pintu untuk istrinya. "Kok diam? Sarah ...."


"Kenapa kita harus ke sini Fatih. Aku punya dokter kandungan sendiri."


Perempuan itu memutar otak mencari alasan karena sudah pasti dia akan ketahuan. Tidak bisa mengelak lagi. Tidak selamanya dia membohongi suaminya.


"Selamat siang, silahkan duduk," sapa dokter Friska dengan tersenyum.


Fatih menarik kursi untuk dirinya juga Sarah, akan tetapi perempuan itu masih saja berdiri.


"Sarah," tegur Fatih.


"Oke, aku akan bicara tapi tidak di sini," kata Sarah meninggalkan ruangan tersebut disusul Fatih.


Di dalam mobil Fatih menatap perempuan yang telah menjadi istrinya selama tujuh tahun. Menunggu perempuan itu untuk bicara. Tidak ada lagi senyum ramah, dan perlakuan manis. Wajahnya tampak garang menunggu perempuan itu membuka suara. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan istrinya, namun dia menunggu kejujuran dari perempuan itu.


"Kamu akan tetap diam?" Fatih bosan menunggu. Bagong sang istri terlalu banyak drama.


Menarik nafas dalam-dalam dan menghebuskannya secara perlahan.

__ADS_1


"Aku tidak hamil, Fatih."


"Lalu?"


"Lalu apa lagi? Aku tidak memiliki kebohongan lain, Fatih."


Fatih mengeluarkan amplop coklat berisi bukti-bukti kebohongan istrinya. Foto-foto kegiatan Sarah dan orang-orang yang ditemuinya. Termasuk foto saat Demir datang ke apartemennya kemarin. Ada juga beberapa foto saat Alin dan Sarah bertemu, ada juga bukti chat mereka saat Sarah meminta Alin memfitnah Zahra dengan menyebarkan foto-fotonya melalui ponsel perempuan itu.


Sarah terperangah menatap foto-foto dirinya bersama Demir yang tidak hanya satu.


"Tidak memiliki kebohongan lain?" Fatih tersenyum tipis. "Aku diam bukan berarti tidak mengetahui apa yang kamu lakukan Sarah. Untuk apa aku memiliki banyak orang kalau aku tidak mengetahui apa yang dilakukan istri sendiri. Bahkan kamu dan Demir bukan hanya sekedar tidur tapi juga bekerja sama iya kan?"


"Fatih, Fatih, aku minta maaf. Iya aku tahu aku salah tapi ... tapi semua aku lakukan karena kau takut kehilangan kamu."


Fatih menyunggingkan senyum sinis, "itu kalimat basi yang sering digunakan orang-orang seperti kamu, Sarah. Sekian lama aku diam, dan selama itu pula kamu menganggap aku tidak tahu apa-apa. Kamu bukan hanya menyakiti aku juga Zahra, tapi kamu juga menyakiti perempuan lain. Olla yang bahkan tidak tahu apa-apa harus menjadi korban kamu."


"Lalu apa bedanya aku sama kamu yang bahkan berani tidur dan menghamili perempuan lain. Kamu lebih bajingan Fatih!" teriak Sarah tidak ingin disudutkan seorang sendiri.


Teriakan Sarah tidak terdengar sampai keluar karena mobil Dari selain memiliki tingkat keamanan yang tinggi juga kedap suara. Jadi apa pun yang terjadi di dalam mobil, orang di luar tidak akan mengetahuinya.


"Iya, kita sama-sama bajingan, bedanya aku mengakui langsung sedangkan kamu tidak."


Sam mengetuk kaca mobil dan memberi tahu kalau Olla menghubunginya. Fatih merogoh saku celana dan melihat terdapat banyak panggilan tak terjawab dari sepupunya juga dari nomor rumah.


"Fatih, Bibi Misha di bawa ke rumah sakit. Cepatlah pulang!" Terdengar nada panik dari istri Demir itu.


"Aku akan segera pulang," kata Fatih menutup panggilan dan meminta Sam untuk segera pulang ke Jakarta. Dia abaikan Sarah yang duduk di sebelahnya. Tadinya dia akan menjatuhkan talak pada perempuan itu namun dia urungkan karena waktunya yang tidak tepat. Biarlah Sarah menjadi urusannya nanti.


Untuk kali ini perempuan itu masih bisa bernafas lega selama suaminya belum menjatuhkan talak. Dia akan mencari cara agar Fatih tidak menceraikan dirinya.


Tiga jam dalam perjalanan, mereka tiba di sebuah rumah sakit yang menjadi tempat ibunya di rawat. Fatih menatap ibunya yang terbaring lemah dibantu alat-alat rumah sakit.


"Apa yang terjadi?" tanya Fatih pada Olla juga salah satu pelayan yang ikut mengantar Misha ke rumah sakit.


"Aku tidak tahu karena saat aku tiba di rumah bibi, palayan sedang sibuk menolong bibi," ujar Olla melirik pelatan di sebelahnya.

__ADS_1


Pelayan yang berdiri di samping Olla itu terlihat gugup. Sesekali dia menolah pada Olla seperti mengetahui sesuatu tapi takut mengutarakannya.


__ADS_2