
"Bi, apa Mr. Fatih seorang mafia, pengedar obat-obataan terlarang atau sejenisnya?" Zahra masih penasaran.
"Sepertinya Nyonya terlalu banyak membaca novel online," kekeh Bi Sumi. "Tuan itu sama seperti kita, hanya saja dia memiliki kelebihan harta. Ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan dan sekarang dia hanya memiliki ibu."
"Yakin bukan seorang mafia, Bi. Aku akan merasa tidak aman kalau ternyata anakku harus memiliki ayah seorang mafia."
Lagi-lagi Bi Sumi tertawa, "Bukan, kalau pun nyonya melihat Tuan di kawal itu wajar. Tuan seorang pebisnis besar tentu membutuhkan pengawal untuk keamanannya. Tidak semua yang dikawal itu mafia, nyonya. Selain itu juga karena Tuan Fatih sangat tampan, kalau tidak memakai pengalawal bisa saja tuan dikerubungi daun-daun muda."
"Ah iya ya." Zahra ikut tertawa.
"Berarti nyonya mengakui kalau tuan itu sangat tampan?"
Seketika Zahra mengingat perkataannya barusan yang secara tidak sadar dia mengakui bahwa suaminya memang tampan. Dia berdehem.
Deru motor terdengar dari halaman depan. Tak lama Hilal muncul dan menghampiri Zahra dan Bi Sumi yang masih tertawa.
"Seru amat, lagi menertawkan apa sih kalian?" tanya Hilal yang penasaran dan ikut bergabung.
Pukul tujuh Bi Dumi pamit pulang karena Zahra sudah ada yang menemani.
"Kok telat, Lal pulangnya?" tanya Zahra setara membereskan meja makan dan memasuki kembali potongan cake yang belum dimakan.
"Mengurus administrasi magang dulu, sekalian mengenal kantornya. Tebak di mana aku magang!"
Kayak mau ngasih reward aja kamu ngasih tebak-tebakan," kekeh zahra.
***
Sarah bangkit dan melirik jam pada layar ponsel yang menunjukan pukul 19:15. Dia segera turun dari tempat tidur dan memakai kembali pakaiannya. Sedangkan Demir masih terlelap sejak mereka usai sama-sama menerjang gelora asmara. Tentu sjaa Demir belum memberi tahu apa yang dia ketahui tentang Fatih. Dia pulang tanpa membangunkan Demir.
Sampai di rumah dia langsung turun dan memasuki kamar. Mengabaikan pelayan yang setia menunggu dirinya pulang.
Setelah mandi dia merebahkan diri di samping suaminya. Fatih yang tidak benar-benar tidur langsung memeluknya.
"Dari mana? Kok pulangnya malam banget," kata Fatih menarik agar tubuh mereka semakin dekat.
__ADS_1
Sarah was-was, takut kalau sang suami akan meminta jatah sedangkan dirinya masih lelah. Pusat gairahnya juga masih merasakan linu karena Demir bermain kasar.
"Mencari tahu tentang kamu," balas Sarah.
"Dapat?" tanya Fatih sambil menguap dan memejamkan mata.
Sarah tidak menjawab. Saat mendengar dengkuran halus dari sang suami dia memilih membuka ponsel dan mengirim pesan pada Demir.
Kamu memiliki utang penjelasan padaku besok.
Karena rasa kantuk yang tak kunjung datang, di memilih menggulir aplikasi media sosial hingga gua menemukan pesan dari Alin. Dua baca kemudahan mencaritahu si pengirim.
"Perempuan ini, bukannya ...."
Setelah ingat siapa Alin dia pun membalas pesan tersebut dan meminta Alin menemuinya hari esok.
***
Hayla tengah bertengkar dengan suaminya gara-gara dia menyinggung pendapatan sang suami yang lebih kecil darinya. Jelas saja Hayla mendapatkan penghasilan besar meskipun tidak bekerja. Dari mana lagi kalau bukan dari hasil menjual nama Zahra pada Demir.
"Hah, kau berniat meninggalkan aku?" tanya Hayla melihat suaminya yang mengemasi barang-barang miliknya.
"Memangnya kau biss hidup dengan uangmu yang sedikit itu hah? Sudahlah terima saja kenyataan bahwa aku memang memiliki penghasilan lebih besar darimu."
"Itu ... aku bosan mendnegr kalimat yang sama lagi setiap saat." Rangga sudah membuka pintu mobil bagian belakang dan memasuki kopernya.
Sebenernya Hayla tidak ingin ditinggalkan oleh suaminya, namun gengsi membuat dia tidak mampu mengucapkan kalimat yang akan menahan kepergian suaminya. Dia menatap Rangga yang tengah memasukan koper.
"Kau akan tetap pergi?"
Rangga tidak menjawab. Dia menutup pintu belakang dan segera masuk ke balik kemudi. Tak dia hiraukan Haya yang masih berdiri di dekat mobilnya. Mobil menyala dan meninggalkan rumah Hayla bersama umpatan yang diucapkan oleh istrinya.
"Dasar laki-laki lemah, begitu saja kamu kabur. Pergi aja sekalian! Tidak perlu datang kembali. Dasar banci!" teriaknya sambil menutup pintu rumah.
Tak lama dia berbalik badan mendengar pintu rumahnya diketuk. Dia kira yang datang adalah suaminya tapi malah Demir bersama dua banditnya.
__ADS_1
"Tu-tuan? Silahkan masuk." Hayla merindukan kepala, merasa gugup harus mendapatkan tatapan tajam dari sumber keuangannya.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu untuk mendapatkan nona Zahra?" tanya Demir dengan ekspresi yang angkuh.
"Saya ... saya sedang mengusahakannya. Tuan tahu sendiri lkan bagaimana keras kepalanya keponakan saya."
"Kalau begitu beri tahu aku dimana dia dia tinggal sekarang?"
Hayla meremas jari tangan yang berkeringat. Dia gugup sekaligus takut. Sejak kakaknya meninggal dia tidak mau tahu di mana kedua keponakan tinggal. Mau mendapatkan rumah yang layak atau pun tidak dia tidak peduli.
Dia berpikir kalau Demir tidak akan lagi mencari Zahra, namun dia lupa kalau uang yang masuk ke rekeningnya harus dia bayar dengan membawa keponakannya kepada Demir.
"Ck, sudah kuduga kalau kau lari dari tanggung jawab." Demir melirik pada kedua banditnya membuat Hayla merinding. "Kau bahkan tidak tahukan kalau dia sudah menikah dan tengah hamil?"
"Hamil? Astaga anak itu. Tuan beri aku kesempatan satu minggu lagi. Aku pastikan dia akan menjadi milik anda."
Demir mengeluarkan secarik kertas dan melemparkannya pada Hayla.
"Mereka tinggal di sana. Bawa dia kehadapanku jika kau masih berharap berumur panjang."
Hayla mengepalkan tangan, memaki keponakannya di dalam hati.
Pagi-pagi dia sudah datang ke alamat yang diberikan Demir semalam. Dia mengetahui pintu dengan tidak sabar. Yang di dalam rumah saling melirik, kiranya siapa yang bertemu di pagi hari.
"Biar aku yang buka, Kak," kata Hilal. "Bibi?" Dia tertegun melihat perempuan yang sudah beberapa bulan tidak mengacaukan hidup mereka dan sekarang datang lagi.
Perempuan itu nyelonong masuk tanpa dipersilahkan. Dia langsung menemui Zahra yang becermin merapikan penampilan untuk bekerja.
"Kamu hamil?" tanya Hayla sambil berkacak pinggang. "Hah, jawab!"
"Iya aku hamil. Ada apa lagi bibi datang kemari?" Zahra memberi isyarat pada Hilal agar sang adik diam dulu. Biarkan dirinya menghadapi perempuan yang dia anggap sebagai bibi.
"Pulang! Kamu tuh selalu saja membuat keluarga kita malu. Kau harus menikah dengan Tuan Demir." Hayla menarik paksa tangan Zahra.
"Berhenti mengatur hidupku, Bi. Bibi tidak memiliki kontribusi dalam membesarkan aku. Jadi berhenti seolah bibi memiliki andil atas kehidupanku." Zahra menghentakkan tangan dari cengkraman bibi nya. "Sekali lagi aku beri tahu, sku sudah menikah dan aku tidak akan menikah dengan pria yang bibi pilihkan."
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak tahu diuntung, Zahra. Sia-sia aku mencelakai kakakku agar kau mau menerima Tuan Demir." Entah sadar atau tidak Hayla mengucapkan kalimat itu.
Deg.