
Sejak Fatih keluar dari rumahnya semalam, setiap detik perasaan Zahra tidak pernah tenang. Apalagi pria yang pernah menjadi suaminya keluar dalam keadaan luka lebam di pipi akibat ditonjok adiknya.
Adzan subuh telah lewat dan samar-samar gelap berganti terang. Zahra mengintip Fatih yang belum keluar juga dari rumah Meiska hanya untuk memastikan keadaan pria itu. Sudah setengah jam lebih dia mengintip tapi mobil milik Fatih belum juga bergerak. Bahkan ketika sang surya mulai menghangat mobil itu masih ada di sana.
Memantapkan hati untuk menemui pria itu, kini Zahra sudah berdiri di depan pintu rumah Meiska.
"Mbak Zahra?' sapa Mei ketika pintu sudah terbuka. Membukakan pintu lebih lebar dan mempersilakan Zahra untuk masuk.
"Tuan Fatih masih di sini?" tanya Zahra langsung pada inti.
Mei mengangguk, "Beliau masih di kamar, Mbak. Kata suami saya demamnya belum turun."
Demam? apa itu karena dipukul Hilal kemarin, gumam Zahra.
"Boleh saya menjenguknya?"
Mei mengangguk dan berjalan lebih dulu menunjukan kamar tamu. Setelah mendapat jawaban dari orang yang ada di dalam, Mei membukakan pintu dan mempersilakan Zahra masuk.
Tubuh besar Fatih masih berbaring di atas tempat tidur dengan selimut hanya menutupi sampai dada. Pesona tampan pria itu tidak berkurang meski matanya sedang terkatup.
Zahra masih berdiri menatap mantan suaminya. Sejenak dia mengakui bahwa pria itu memang tampan. Dia elus perutnya yang membuncit berharap anak yang lahir mewarisi ketampanan ayahnya.
Perlahan Fatih membuka mata dan melihat Zahra yang masih berdiri tak jauh dari tempat tidur.
"Ada apa?" tanya Fatih dengan suara yang serak. Dia berusaha bangun namun Zahra menahannya.
"Tidak perlu bangun, aku hanya ingin mengatakan maaf atas sikap spontan Hilal kemarin."
Fatih menyunggingkan senyum, "hanya pukulan ringan, tidak perlu meminta maaf, Zahra."
"Tapi Anda demam gara-gara itu kan?"
"Kamu berpikir begitu? Baiklah saya terima permintaan kamu tapi karena kamu berpikir bahwa saya selemah itu, saya ingin kamu yang merawat, bisa?"
__ADS_1
Padahal Fatih merasakan tubuhnya mulai tidak enak sejak masih di kantor. Jadi murni bukan karena pukulan Hilal. Mumpung ada kesempatan untuk lebih dekat kenapa tidak dimanfaatkan saja. Fatih ini seorang pebisnis, wajar dong kalau bisa membaca peluang meskipun itu terlihat kecil. Lihat sekarang Zahra mengangguk menyetujuinya.
Perempuan itu menyiapkan bubur juga obat, dia terpaksa menggunakan dapur milik Mei karena tidak mungkin bolak-balik ke rumah hanya untuk membuat bubur. Mei ikut membantunya sambil ngobrol ringan.
"makan dulu ya, biar nanti bisa minum obat," Zahra meletakan bubur di atas meja lalu membantu Fatih untuk duduk. Benar kata Mei demam Fatih belum juga turun ketika tangan Zahra menyentuh keningnya. Karena tadi setuju untuk merawat, Zahra tidak keberatan untuk menyuapi Fatih tanpa diminta oleh pria itu. Dia benar-benar melayani sepenuh hati, begitu sabar ketika Fatih menolak supan berikutnya.
Sangat disayangkan Fatih harus sakit dulu baru bisa dekat dengan Zahra.
"Apa ini tidak enak? Mau saya buatkan yang lain?" tanya Zahra ketika yang dirawat menolak suapan kedua.
"Bukan buburnya yang tidak enak, tapi rasanya pahit semua. Simpan saja nanti saya akan makan kalau rasa pahitnya sudah hilang."
"Sakit kan memang begitu rasanya. Dulu kata ibu kalau sakit harus dipaksakan untuk makan, kalau tidak mau makan ya kapan mau sembuhnya." Zahra kembali mengangsurkan suapan berikutnya.
"Pahit, Zar." Fatih melengos.
"Dua suap lagi aja ya, habis itu minum obat ya."
"Saya sudah boleh pulang?" tanya Zahra, tidak mungkin dong dia diam di sana hanya menunggu orang istirahat.
"Kamu keberatan kalau saya meminta kamu tinggal di sini lebih lama. Saya hanya ingin dekat dengan dia, Ra." Dengan kamu juga, Fatih melanjutkan kalimat itu di dalam hatinya.
Meiska seolah paham bahwa Fatih ingin berduaan dengan Zahra. Dia pun mengambil tas dan menggedong bayinya yang masih kecil juga menuntun anak pertamanya. "Mbak Zahra!''
Zahra menoleh menatap penampilan Meiska yang sudah rapih.
"Saya ada keperluan sebentar, tapi saya juga tidak bisa meninggalkan Tuan Fatih sendiri. Saya boleh minta tolong Mbak?"
Inilah salah satu kelemahan Zahra, dia sulit menolak ketika ada orang meminta tolong padanya. Zahra mengangguk walau berat. Yang benar saya harus berduaan dengan Fatih lagi. Belum apa-apa sekarang jantungnya sudah mulai tidak aman.
"Saya ada di sofa, kalau memerlukan sesuatu panggil saja ya," kata Zahra yang tidak enak harus berada di ruangan yang ama dengan ria yang jelas-jelas sudah bukan suaminya lagi. Sejak tadi juga pintu kamar dibiarkan terbuka agar tidak terjadi fitnah, apa lagi sekarang hanya tinggal mereka berdua.
Matahari semakin terik tapi Mei belum juga kembali. Zahra bangkit dari sofa untuk memeriksa keadaan Fatih. Siapa tahu pria itu juga memerlukan sesuatu.
__ADS_1
"Anda sudah bangun," kata Zahra dari ambang pintu saat melihat Fatih tengah bersandar sambil menggulir layar ponsel.
"Sudah dari tadi, saya panggil kamu tapi tidak ada sahutan, saya pikir kamu sudah pulang," jawab Fatih menoleh sekilas.
Zahra melebarkan mata, apa iya dirinya tidur sangat pulas sampai-sampai tidak mendengar Fatih memanggilnya. Padahal dia merasa dirinya tidur-tidur ayam yang sebentar-sebentar bangun hanya untuk melihat apakah Fatih membutuhkan dirinya atau tidak.
"Saya butuh air minum," kata Fatih lagi membuat Zahra teresiap sekaligus malu. Gegas dia mengambilkan air minum.
"Maaf," kata Fatih ketika Zahra menyodorkan segelas air minum.
"Tidak apa-apa. Anda sakit juga karena adik saya," balas Zahra.
"Saya tidak minta maaf karena merepotkan kamu dengan merawat saya. Saya minta maaf untuk kejadian di parkiran tempo hari. Saya membentak kamu."
Zahra jadi kikuk sendiri, karena salah menebak. Namun setelah itu mereka sama-sama tertawa.
"Ternyata orang cantik bisa loading juga ya," ejek Fatih sambil tertawa melihat wajah Zahra yang memerah.
"Bukan loading, saya hanya lupa. Kan kejadiannya sudah lama," sangkal Zahra menutupi wajah.
Kedekataan itu tak lantas pudar, berlanjut ke hari-hari berikutnya. Keduanya memutuskan untuk akur tapi Zahra menegaskan lebih dulu bahwa di antara mereka tidak boleh ada yang jatuh cinta. Akur bukan berarti kembali bersama, tapi sebuah kerja sama untuk membesarkan bayi yang akan segera lahir.
Fatih setuju meski dia harus menelan kecewa yang tiba-tiba menyeruak. Dia tetap tersenyum ketika datang dan pergi. Menunjukan bahwa keputusan Zahra tidak mengubah apa pun.
"Aku sedikit terlambat, kita bertemu di dokter saja," kata Fatih di seberang telepon. Dia masih berada di ruang rapat bersama para staf.
Hari ini merupakan jadwal memeriksa kandungan Zahra dan mereka sudah berjanji untuk pergi ke dokter bersama. Mereka akan bertemu pukul 15:00 namun pukul 14:25 masih di ruang rapat.
Pukul 14:37 rapat selesai, gegas Fatih bangkit dan menitipkan pesan pada Sam untuk menyelesaikan semuanya.
Saat keluar dari lift dia menghentikan langkah melihat seseorang yang tengah berdiri di depan pintu baju tersebut.
"Bisa kita bicara," ujar perempuan itu.
__ADS_1