
Sarah baru menyadari kalau yang terjadi barusan hanyalah sebuah angan yang tiba-tiba muncul. Akan tetapi spray kotor itu memang adanya, dia melihat secara nyata. Sakit? iya tentu saja karena selama mereka menikah sampai saat ini berada di titik sama-sama bosan Sarah sendiri tidak ada niat untuk selingkuh.
Fatih meregangkan otot ketika mendengar bunyi air dari kamar mandi. Wow semalam dia tidur tanoa mengganti pakaian lebih dulu.
"Morning!" Fatih mengapa Sarah yang baru keluar dari kamar mandi.
"Morning," balas Sarah.
Perempuan itu menutupi rasa kecewa terhadap sang suamiĀ dengan tetap tersenyum. Dia duduk di depan meja rias yang membelakangi posisi Fatih. "jadi kau sudah menemukan perempuan yang akan kau nikahi?" tanya Sarah dengan ekspresi tenang.
Refleks Fatih menoleh ke arah koper yang isinya sudah keluar semua. Dia yakin kalau Sarah sudah tahu tentang spray dan noda itu.
"Sudah, tapi dia menolak untuk aku nikahi?"
"Sungguh? lalu?"
Tanpa Sarah melanjutkan kaliamatnya , Fatih paham kemana arah istrinya ingin bicara.
"Itu kecelakaan, aku mabuk dan meruda paksa dia." Sarah diam masih mendengar kelanjutan cerita suaminya. Dia sedang membaca ekspresi dati sang suami apakah itu sebuah kejujuran atau hanya bualan semata.
"Kemarin aku langsung menemui dia rumahnya, menawarkan tanggung jawab walaupun mungkin harus menjadi istri kedua karena kau yakin dia akan mengandung anaku. Kamu tahu apa yang dia lakukan? Dia menolaknya, dia ingin aku mempertanggung jawabkan kesalahan ini dengan menghadapi hukum yang berlaku di negeri ini. Jadi itu murni kecelakaan walaupun aku sangat berharap dari kecelakaan ini akan ada kebahagaiaan yang tuhan titipkan berupa anak. Point inti dari masalah ini adalah kesalahanku."
Sarah terdiam.
"Aku minta maaf telah menyakiti kamu tapi memang aku dan dia tidak memiliki hubungan spesial sebelumnya. Kamu bisa membuktikan ucapanku dengan datang ke kantor dan melihat dia langsung. Dia staf di kantor aku."
Ada yang patah tapi bukan ranting, ada yang gugur tapi bukan bunga.
__ADS_1
Sakit ketika mendengar pengakuan dari suaminya secara langsung. Rumah tangga mereka hampir karam kalau tidak ada yang mau menyerah dan saling memperbaiki diri.
***
Sarah ingin membuktikan ucapan suaminya. Dia ikut ke kantor dengan tujuan ingin melihat seperti apa orang yang menjadi perempuan lain di hati suaminya.
Sarah memasuki ruangan Pak Adam dengan alasan ingin melihat kinerja para pegawainya. Dia duduk memperhagikan Zahra dari ruangan itu.
Zahra sendiri tetap masuk kerja walaupun hatinya menolak. Dia berusaha profesional dak tidak mengaitkan masalah pribadi dengan pekerjaan.
Saat dia hendak ke ruang foto copy, dia berpapasan dengan Fatih yang saat itu hendak memasuki ruangan kerjanya.
Hanya berhenti sejenak dan mempersilahkan Fatih lebih dulu, setelahnya tidak terlihat interaksi apa pun. Zahra bersikap demi kian karena di tempat kerja mereka statusmu tasan dan bawahan. Di mana Zahra harus mengedepankan sopan santun diatas ego dan kebencian.
Ya, Zahra membenci pria itu.
Sarah mengikuti Zahra dan mereka bertemu di toilet perempuan. Zahra seperti tidak terusik dengan kehadiran Arah di sana.
"Saya istri Mr. Fatih," kata Sarah menghampiri Zahra yang tengah mencuci tangan.
"Ya?" Zahra menatap lawan bicaranya.
"Saya sudah tahu apa yang terjadi di antara kamu dan suami saya." Sarah sempat menatap heran kenapa Zahra bisa berenang itu ketika berharap dengan istri sah Fatih.
"Lalu apa yang ingin anda lakukan pada perempuan ini?" tanya Zahra. Di dalam hati Zahra merutuki seorang Fatih. Bisa-bisanya dia memberi tahu kejadian buruk itu pada istrinya. Apa dia tidak berpikir bahwa kejijurannya seperti memberikan racun yang dicampur di dengan madu.
"Tidak ada, saya hanya ingin melihat seperti apa perempuan yang telah meruntuhkan imannya Fatih."
__ADS_1
"Jadi anda ingin mengatakan bahwa saya menggoda suami anda?" Zahra tersenyum sinis. "Malang sekali nasib perempuan, sudah menjadi korban pun masih disalahkan."
"Kalau kau tidak menggoda suami saya kenapa setelah kejadian itu kamu masih ada di sini. Berharap apa? berharap Fatih bertanggung jawab lalu menikahimu?" tanya Sarah memancing.
"Dinikahi oleh pria beristri, atau pria yang meninggalkan perempuan pertama demi perempuan kedua itu bukan impian saya. Bahkan andai setalah kejadian itu ada yang tubuh di rahim saya, saya tidak akan menerima bentuk tanggung jawab apa pun darinya. Jadi anda tidak perlu khawatir akan kehilangan apa yang anda miliki. Saya bekerja masih bekerja di sini karena saya memiliki utang terhadap perusahaan. Permisi."
Zahra kembali ke ruangan dan kembali bekerja sedangkan Sarah terus mengawasinua dari jarak jauh. Benarkah apa yang diucapkan perempuan itu. Rasanya sungguh mustahil ada perempuan yang menolak dijadikan istri kedua oleh suaminya.
Namun sampai jam pulang tiba, Sarah tidak menemukan apa yang cari. Zahra sama sekali tidak terlihat mencari perhatian dari suaminya. Bahkan ketika mereka berpapasan pun Zahra seperti tidak melihat keberadaan Fatih. Lebih teoatnya menganggap tidak ada.
***
Zahra menatap tanggal yang tertera do layar ponsel. Kejadian malam itu tepat di masa susburnya. Mungkinkah hanya satu kali melakukan benih iti akan membuahi sel telurnya. Kalau iya berarti Zahra harus siap dengan cemoohan krang lain karena tidak mungkin untuk menggugurkannya. Aborsi bukan pilihan yang tepat.
Malam ini dia giliran menjaga ibunya. Dia tatap wajah tak berdaya yang tengah berbaring itu. Dia ingin mengadu pada ibunya tapi tak tahu cara untuk menyampaikan.
Jangankan dalam keadaan sakit, dalam keadaan sehat pun belum tentu akan berdampak baik pada ibunya.
"Aku bingung, Bu. Tidak tahui sekarang harus melakukan apa. Kejadian yang tidak pernah aku bayangkan menimpaku dan menghancurkan mimpi-mimpi yang kau bangun. Aku sudah menjadi perempuan yang tidak berharga lagi. Apa suatu hari akan ada pria tang mau menerima keadaanku. Aku takut, Bu," kata Zahra di dalam hati.
"Andai benih itu tumbuh, apa yang ahrus aku lakukan, Ibu? Aku tidak mungkin tega dengan tidak memberi kesempatan untuk dia melihat dunia. Katakan apa yang harus aku lakukan ibu?" Zahra berbicara dari dalam hati.
Dia sendiri sudah mulai merasakan tanda-tanda adanya kehamilan. Tubuhnya sering merasa lelah, musik merasakan mual ketika mencium aroma makanan.
"Sus, maaf. Kalau malam ada dokter kandungan jang bagian jaga tidak?" tanya Zahra. Mumpung masih di rumah sakit dan dia mulai merasakan tanda-tanda sperti orang hamil jadi dia putuskan untuk memeriksanya.
"Malam ini kebetulan dokter kandungan yang jaga ada dr. Friska. Mari saya antar."
__ADS_1
Dokter Friska tersenyum usai memeriksa Zahra. Kemudian dia mengirimkan pesan berupa foto pada Fatih.
Positif.