
"Sepertinya aku akan betah tinggal di kantor ini," kata Demir sambil duduk dan menyilangkan kakinya di ruang kerja Fatih.
"Untuk?" tanya Fatih seraya memainkan ponsel. Dia mengirim pesan protes kepada Zahra.
"Nona Zahra, si perempuan penuh pesona yang berani mengusik perasaan ku dari Olla."
"Bermimpi saja lah karena ia tidak akan pernah kamu dapatkan. Jangankan kamu yang sudah beristri, pria yang tadi duduk di hadapannya saja ditolak. Jelas-jelas pria lajang."
Demir mengusap dagu seolah berpikir. "Ya aku tahu, tapi aku yakin bisa menaklukan dia. Kita lihat saja."
Fatih tidak lagi meladeni perkataan Demir yang akan membuat dirinya semakin naik darah.
Waktu pulang sudah tiba, kali ini Zahra tidak akan lembur mengingat kehamilan dia masih rentan dan perlu penjagaan yang ekstra. Saat dia keluar dari lobi dia melihat Demir masih ada di sana dan melambaikan tangan ke arah dirinya.
"Mari nona, saya antarkan anda pulang." Demir membuka pintu mobil untuk Zahra, terlalu percaya diri bahwa perempuan itu akan menerimanya.
Zahra tidak memberikan respon, dia malah berjalan ke dekat pintu gerbang menanti taksi online yang akan membawa dia ke stasiun. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Zahra sempat berpikir kalau yang ada di dalam mobil tersebut adalah Fatih, tapi saat dia menoleh ke belakang dia melihat mobil Fatih baru ke luar dari tempat parkir. Hampir saja dia memaki pria yang kini menurunkan kaca mobilnya.
"Apa anda ibu Zahra?' tanya pria di balik kemudi. "Mari ikut dengan saya."
"Anda siapa? Kenapa saya harus ikut dengan anda?" Zahra masih berdiri di tempat semula. Waspada kalau-kalau orang ini akan berbuat jahat.
"Anda memilih masuk atau orang-orang akan tahu rahasia anda." Pria di balik kemudi itu menunjukan foto dirinya tengah bersama Fatih di kantor urusan agama.
Tidak ada pilihan lain selain mengikuti perintah pria itu, mobil pun melaju ke arah jalan menuju Bandung. Zahra merasa heran kenapa pria itu tadi mengancam dan sekarang malah diam saja. Belum terjawab pertanyaan darinya mobil tiba-tiba berhenti ketika sudah memasuki tol. Mobil hitam yang sama tengah menghadang mobil yang ditumpangi oleh zahra. Seorang pria dari mobil itu dan memakai kain penutup kepala. Menggedor kaca kemudi dan meminta dibukakan pintu.
"Jangan turun, Pak," cegah Zahra ketika pria tadi malah membuka kunci dan pria yang mengunakan penutup kepala itu malah masuk ke kabin tengah. Otomatis Zahra berusaha melindungi diri. Tendangan Zahra mengenai dada pria yang itu.
"Tenang, ini aku." Pria itu membuka penutup kepalanya dan ternyata orang tersebut adalah Fatih.
Zahra langsung memalingkan wajah ke arah lain. "Kenapa tidak sekalian dihantam saja pak, mobilnya tadi." Zahra malah bertanya pada sopir.
"Zahra, aku terpaksa melakukan ini. Aku takut Demir mengikuti kita dan rahasia kita terbongkar."
__ADS_1
"Seharusnya anda tahu kalau takut masalah ini terbongkar. Anda tidak perlu mengikuti saya."
"Zahra ... aku ini suamimu. Keselamatanmu adalah tanggung jawabku. Kamu boleh benci tapi jangan sampai mengabaikan bahaya yang bukan hanya menyerang kamu. Berhenti menjadi perempuan egois." Kalimat Fatih seperti sebuah perintah karena untuk pertama kalinya Fatih bersikap dingin pada Zahra.
Dia lelah harus membiarkan Zahra semaunya sendiri. Sesekali Fatih harus menggunakan kuasanya.
Mobil telah sampai di depan rumah sederhana milik Zahra. Saat dia membuka pintu, di dalam rumah ada seorang perempuan yang tengah merapikan barang-barangnya.
"Anda sudah pulang, Bu? Mau saya buatkan minum apa?" tanya perempuan yang usianya di atas Zahra. "Oh iya maaf saya lupa memperkenalkan diri," kekeh perempuan itu. "Saya Bi Sumi, diminta bekerja di sini oleh Pak Sam."
Zahra langsung menoleh pada Fatih yang terlihat acuh. Percuma mendebat orang yang sama-sama keras kepala. Dia hanya mengangguk pada Bi Sumi kemudian memasuki kamar.
Pintu kamar terdengar diketuk, membuat Zahra yang tengah merebahkan tubuh untuk bangun.
"Maaf, Bu. Saya mau pamit pulang, besok saya akan kembali ke sini," kata Bi Sumi. "Oh iya rumah saya ada di kampung sebelah, tidak jauh dari sini."
Bi sumi tidak menginap karena di rumah ini hanya ada dua kamar.
Bi Sumi juga pamit pada Fatih yang sejak tadi duduk di ruang tamu.
Setelah Bi Sumi pergi, Zahra kembali ke kamar. Tidak menegur Fatih atau menawarkan minum sama sekali. Tidak masalah bagi Fatih karena yang dia tahu perempuan memang akan begitu kalau sedang marah. Dia hanya perlu bersabar lalu minta maaf, kasih uang, lalu akan baikan. Akan tetapi kali ini dia sedikit pesimis karena yang dihadapi adalah seorang Zahra.
Melihat Zahra yang tidak kunjung keluar kamar padahal sudah jam delapan malam membuat Fatih berinisiatif menyuruh sopir untuk membeli makanan. Dia sendiri merasakan lapar dan di dapur tidak ada makanan yang tersedia. Lemari penyimpanan pun kosong hanya ada dua telur dan dua mi instan. Pantas saja Bi Sumi tidak memasak.
Ide brilian muncul di benak Fatih. Sambil menunggu makanan datang dia bersikap seolah-olah tengah membuat makanan di dapur. Sengaja menjatuhkan beberapa benda untuk memancing Zahra keluar.
Lihat ide dia berhasil. Zahra mentap dingin sambil melipat tangan di dada.
"Maaf, aku lapar. Jadi aku putuskan untuk membuat makanan," kata Fatih sambil memegang telur dan juga pisau. Menampakan wajah bersalah karena telah membuat kegaduhan.
"Tidak ada bahan makanan. Beli saja di luar," kata Zahra berbalik badan dan hendak kembali ke kamar.
Namun bukan Fatih kalau membiarkan Zahra pergi begitu saja. Dia goreskan pisau tersebut ke telapak tangannya, seketika cairan kental berwarna merah terlihat menents ke lantai.
__ADS_1
"Aw!" Pekikan Fatih membuat Zahra kembali berbalik badan dan melihat darah dari telapak tangan suaminya.
Zahra menggelengkan kepala. Dia segera meraih kotak obat dan menghampiri Fatih. Membersihkan luka tersebut dan mebalutnya dengan kasa.
Benarkan Zahra itu bukan perempuan kejam. Sejatinya dia perempuan lembut hanya saja lebih suka menutup diri. Perlu perhatian ekstra untuk menyentuh hatinya.
"Terima kasih," kata Fatih saat luka di tangan sudah dibalut kasa.
"Lain kali tidak perlu menyakiti diri sendiri hanya untuk menarik perhatian orang lain, yang kamu lakukan hanyalah tindakan bodoh," balas Zahra sambil merapikan kotak obat.
Tangan Zahra ditahan ketika hendak pergi.
"Kamu bukan orang lain. Kamu istriku. Aku hanya ingin kita dekat dan tidak seperti orang asing. Maafkan aku karena menempatkan kamu di posisi yang tidak kamu sukai."
Zahra bergeming sampai suara pintu diketuk membuat perhatian mereka berhenti. Gegas Zahra membuka pintu dan ternyata yanh datang adalah sopir suruhan Fatih.
"Maaf, Bu, ini pesanan Tuan Fatih."
Zahra mengangguk menerima makanan tersebut dan membawmaya ke meja makan. Meletakannya di hadapan Fatih.
Fatih mengutuk sopirnya yang datang tidak tahu waktu dan mengacaukan rencana dia. "Tunggu! Kamu belum makan sejak tadi. Ayo kita makan bersama." Fatih meminta istrinya ah istri keduanya untuk makan bersama.
"Makan saja! Aku tidak lapar."
"Zahra!" Kali ini suara Fatih kembali dingin. "Kamu memang tidak merasakan lapar, tapi janin di dalam tubuh kamu membutuhkan nutrisi. Makan!"
Zahra diam dan menatap Fatih dengan tatapan datar.
"Kamu boleh mendiamkan saya, acuh, atau apa pun tapi jangan perlakukan janin itu sama dengan saya. Bukan ia yang bersalah tapi saya." Fatih kembali bicara. Dia sudah memindahkan makanan tersebut ke dalam piring. "Makan! Kalau kamu merasa keberadaan saya menganggu, anggap saya tidak ada."
Zahra menghela nafas panjang, lalu memakan makanan yang diberikan Fatih. Usai makan dia hendak mencuci piring tapi Fatih menahannya.
"Istirahat ya, biar ini saya yang mengerjakan ini."
__ADS_1