Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
episode dua puluh tiga


__ADS_3

Alin pernah mengikuti Zahra namun perempuan itu langsung menyadari bahwa dia tengah diikuti. Jadilah dia pulang pergi menggunakan kereta dan melarang Fatih datang. Namun kala itu Fatih tetap datang di malam hari.


Sadar bahwa dia tidak akan mendapatkan informasi apa pun ketika dirinya yang turun langsung, maka dia membayar jasa seseorang untuk menguntit Zahra tanpa diketahui perempuan itu. Hasilnya membuat Alin puas.


"Wow, ternyata .... Kamu memang munafik Zahra. Tunggu sampai waktunya tiba, sayang! Kau tidak akan bisa bersembunyi lagi di bakik wajah so alim itu." Alin menyeringai menatap beberapa foto yang baru saja dia terima. Tak sabar rasanya menunggu hari itu akan tiba. Hari di mana dia akan mempermalukan Zahra di depan umum.


Tidak hanya itu, dia juga menghubungi Sarah melalui akun media sosialnya.


"Selamat malam, Nyonya Sarah. Saya memiliki info penting untuk anda. Kapan saya harus menemui anda?" Belum ada jawaban. Sudahlah dia memilih tidur. Tidak sabar menanti hari-hari yang akan menyenangkan bagi dirinya.


***


"Sarah!" Demir memanggil Sarah yang hampir masuk ke dalam mobil. Namun karena dirinya diabaikan dia pun ikut masuk melalui pintu sebelah. "Hey kenapa selalu menghindar dariku?" tanya Fatih.


"Turun!" Sarah menatap tajam pria yang duduk di samping kemudi.


"Oh Ayolah Sarah, kita pernah dekat bahkan tak berjarak di bawah selimut. Kenapa setelah kejadian itu kau selalu membuat jarak di antara kita?"


Sarah diam dan menatap lurus ke depan.


"Hey, lihat aku!" Demir meraih dagu Sarah, membuat wanita itu kini menghadap dirinya. "Apa service-ku hari itu tidak membuatmu puas. Kenapa kamu malah menikah dengan dia. Padahal aku tidak ada bedanya dengan dia."


"Karena dia baik. Bukan pemain perempuan sepertimu." Akhirnya Sarah bicara dan membuat Fatih terbahak.


"Baik? Menurutmu dia baik dan tidak bermain dengan pertemuan lain? Oh Ayolah Sarah jangan menghianati pikiranmu sendiri. Bibir dan otakmu sedang tidak sejalan, aku tahu itu, kenapa harus menutup-nutupinya."


Demir kemudian meraih amplop coklat di atas dashboard dan mengeluarkan isinya.


"Kau percaya foto-foto ini?" Demir menaikan satu alisnya. "Rupanya menghabiskan waktu selama tujuh tahun untuk berada di samping dia tidak membaut kamu memahaminya." Demir terus bicara membuat Sarah memicingkan mata. "Kamu tidak sadar oto-foto ini sudah dimanifulasi."


"Apa maksudmu?"


"Aku akan memberitahumu asal kamu menyentujui kesepakatan kita."


"Aku tidak ingin berurusan lagi denganmu, Demir."


"Oh come on. Jangan munafik Sarah, aku tahu kamu penasaran dan aku punya jawaban atas rasa penasaranmu itu. Kita harus menjadi partner untuk melawan seorang Fatih Alan Akbar."


Sarah tertegun. Benarkah Demir memiliki jawaban yang dia mau atas suaminya.

__ADS_1


"Bagaimana? Kalau setuju temui aku di Caston suite. Gunakan kartu ini." Demir meletakan sebuah kartu akses di atas paha Sarah sekaligus menggunakan kesempatan tersebut untuk menyentuh paha Sarah yang tidak tertutup oleh pakaian. "I miss you, baby," bisik Demir sebelum dia turun.


Sarah dilema dan bimbang. Demir adalah masa lalunya yang kelam. Dia sempat syok ketika menikah dengan Fatih dan baru mengetahui bahwa kedua pria itu adalah saudara beda ibu. Selama ini dia mati-matian menghindari Demir tapi sekarang keadaan membawa dia harus kembali dekat dengan pria itu. Demi sebuah misi. Ya misi membongkar kebohongan suaminya.


Setelah berpikir cukup lama akhirnya mobil Sarah melaju mengikuti mobil Demir hingga mobil keduanya berhenti di tempat parkir sebuah gedung yang menjulang tinggi.


Demir membukakan pintu lift dan membiarkan Sarah masuk lebih dulu. Begitu pun ketika mereka tiba di sebuah kamar yang terlihat mewah. Dari atas sini Sarah dapat melihat pemandangan kota Jakarta baik siang mau pun malam.


"Kau akan tetap berdiri di situ," ujar Demir dan meletakan minuman berwarna yang memabukkan di atas meja.


"Aku ingin tahu apa yang kamu ketahui sekarang," kata Sarah bersedakap dada.


"Hey, tidak bisa kah kita sedikit santai dan menikmati kesempatan yang jarang sekali kita dapatkan ini. Ayolah Sarah apa kamu tidak merindukan ini." Demir membuka kemejanya dan menampilkan pahatan dada dan perut yang sangat menggoda. Dia tahu Sarah tidak mampu menahan godaan ini terbukti dari perempuan itu yang memalingkan wajah.


"Aku datang ke sini bukan itu," balas Sarah dengan penekanan. Ya dia menekan hasrat yang tiba-tiba menggeliat. Bayangan bagaimana gagahnya Demir kala itu membuat dirinya tak berdaya. Oh apa sekarang hal itu harus terulang kembali dan menodai pernikahannya dengan Fatih.


Demir tidak menghiraukan kalimat Sarah bahkan dia malah melepas celana panjangnya hingga menyisakan kain dalam. Astaga benar-benar penjahat kelamin.


"Yakin kau tidak merindukan ini?" Demir sudah berdiri di belskang tubuh Sarah dan menarik tangan perempuan itu, membawanya ke arah bukti nyata jantannya seorang Demir.


"Demir ...." Suara Sarah tertahan kala bibir mereka menyatu. Berbagi nafas untuk beberapa waktu.


"Aku yakin kau merindukan ini," bisik Demir. Mendekap tubuh di hadapannya dan menggiringnya ke atas pembaringan.


***


"Kalian tahu nyonya pergi ke mana?" Dia bertanya pada pelayan di rumahnya.


"Nyonya tidak mengatakan apa-apa tuan," kata kepala pelayan itu menundukan kepala.


"Sejak kapan dia pergi?"


"Sekitar pukul sepuluh, Tuan."


Fatih memeriksa titik lokasi sang istri. Dia khawatir mengingat istrinya itu baru saja selesai mengatasi tekanan dan sekarang takutnya dia mengalami tekanan kembali.


Rupanya yang dia pikirkan salah, karena saat ini istrinya tengah menggeliat di bawah kungkungan seorang Demir. Mengulang romansa haram yang terhenti sejak tujuh tahun yang lalu.


Fatih berdecak saat titik lokasi istrinya tidak ditemukan. Rupanya Sarah sengaja mematikan akses lokasinya karena titik lokasi terkahir adalah berada di restaurant yang dikirimkan oleh Sam.

__ADS_1


Fatih merebahkan tubuhnya di atas sofa, bayangan penolakan Zahra hari kemarin kembali menghampiri. Sejak kejadian kemarin dia mengacuhkan perempuan itu. Padahal dia juga istrinya. Wajar juga Zahra menolak karena perempuan itu memiliki pendirian yang teguh. Dibere ijin untuk memeluk dan menyatukan nafas saja sudah beruntung.


Zahra sendiri baru tiba di rumah, dia langsung membersihkan tubuh. Kemudian menghampiri Bi Sumi yang belum pulang.


"Masak apa, Bi? Hilal belum pulang?"


"Belum, Nyonya. Anda mau makan sekarang?"


"Nanti saja, Bi, bareng Hilal. Bibi pulang saja, ini sudah terlalu sore," kata Zahra seraya membuka pintu lemari penyimpanan makanan.


Efek kehamilan yang mudah lapar membuat dia menyetok makanan banyak. Namun tetap memperhatikan asupan gizi untuk kandungannya.


"Nanti saja lepas adzan, Nyonya. Tidak baik meninggalkan perempuan hamil di waktu maghrib."


Zahra tertawa, tapi tetap menghargai kepercayaan asisten rumah tangganya. "Kalau begitu temani saya makan ini." Dia mengeluarkan cake dan membawanya ke meja makan.


Zahra dibuat tertawa terpingkal-pingkal kalau mendengar cerita Bi Sumi. Perempuan itu tahu saja bahwa dirinya tengah dilanda galau karena memikirkan pria yang belum tentu memikirkan dirinya.


Dia sudah berusaha menekan perasaan yang hadir untuk sang suami. Akan tetapi semakin dia tekan dia malah semkain merasakan rindu. Gawat. Jangan sampai dia yang merasakan sakit hati seperti kata Hilal tempo hari.


"Sudah lama sekali Tuan tidak datang, Nyonya," Bi Sumi ingin tahu bagaimana perasaan perempuan muda di hadapannya pada majikan dia yang sebenarnya. Itu juga merupakan salah satu tugas yang diamanatkan oleh Fatih padanya. Mencari tahu perasaan Zahra pada dirinya.


Zahra mengangkat wajah dan menatap perempuan seusia ibunya itu.


"Bi, kamu tahu kalau aku ...."


Bi Sumi mengangguk dan tersenyum. "Saya tahu, Nyonya, tidak perlu khawatir saya akan membuka rahasia anda dan tuan pada orang luar. Bisa-bisa saya dicincang oleh Tuan nanti." Dia bergidik membayangkan dagingnya menjadi halus.


Ah iya Zahra tidak pernah tahu bagimana kepribadian sang suami sesungguhnya. Dia hanya mengenal Fatih dari apa yang dia lihat. Sekarang malah jadi penasaran mendengar ucapan Bi Sumi. Apa suaminya memang seganas itu atau Bi Sumi terlalu berlebihan dalam ucapannya.


"Bi, kamu sudah lama bekerja dengan Tuan?"


"Lama. Saya tidak pernah bekerja dengan orang lain selain tuan Fatih."


"Aku ingin mendengar tentang dia dari versimu, Bi. Apa Bibi tidak keberatan menceritakannya padaku?"


Bi Sumi terdiam. "Apa nyonya tidak mengetahui tentang siapa suami anda?"


Zahra menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kalau begitu anda tidak perlu mengetahuinya," kata Bi Sumi dengan senyum yang membuat Zahra penasaran.


Siapa Fatih sesungguhnya?


__ADS_2