Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
Episode tiga puluh tujuh


__ADS_3

Tak ada kejahatan yang benar bisa disembunyikan karena Tuhan selalu menunjukannya dengan cara lain. Bahkan ketika seorang jendral yang melakukannya, kebenaran tetap akan terbuka meski membutuhkan waktu yang tidak sebenar.


Begitu juga dengan kejahatan Demir yang hanya memiliki kekuatan berupa uang, itu pun uang dari istrinya akhirnya bisa terungkap. Selain bekerja sama dengan Sarah, pria itu juga bermain-main dengan salah satu pelayan di rumah Misha demi sebuah misi.


Lina, gadis dari kampung yang berhasil digoda Demir sehingga tidak lagi setia pada majikannya. Dia menjadi informan bagi Demir hingga beberapa hari yang lalu Pria itu memiliki celah untuk mencelakai Misha. Dia masuk ke rumah dengan alasan ingin bertemu dengan ibunya. Iya dia mengakui Misha sebagai ibunya saat ada kepentingan saja. Selebihnya dia tetap menganggap siap pun musuh kecuali orang-orang yang memiliki loyalitas tinggi terhadapnya.


Demir di seret ke penjara atas banyaknya tuduhan. Akan tetapi rasanya tidak adil jika hanya dia yang harus menanggung semua akibatnya. Sarah pun ikut terseret karena Demir yang membeberkan semua kejahatan perempuan itu.


Terbukti kan apa yang dikatakan Olla tempo hari. Demir hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri. Dia tidak bisa menjadi partner yang saling menguntungkan. Ketika dirinya merasa dirugikan maka dia akan menyerang lebih mengerikan bahkan tak segan untuk menghilangkan nyawa seseorang.


Sarah melakukan pembelaan ketika dijemput oleh pihak kepolisian. Dia menatap nanar pada pria yang berdiri di depan pintu dan tidak bergeming.


"Fatih, aku hanya cemburu pada dia yang merebut hatimu. Aku mencintaimu, tolong bebaskan aku. Aku mohon aku akan berubah untuk kamu."


Mengingat banyaknya tindakan Sarah yang diluar batas membuat suaminya menggelengkan kepala menolak permintaannya.


Sarah terus berteriak ketika dua polisi membawanya masuk ke dalam mobil diikuti polisi yang lain. Memohon agar dia lolos dari hukuman. Hingga mobil yang membawanya tak terlihat lagi dari pandangan Fatih.


***


Hilal tersenyum bahagia ketika seniornya di tempat magang mengatakan bahwa dia ada kemungkinan akan direkrut menjadi karyawan tetap. Dedikasinya selama magang ternyata membuahkan hasil. Tidak ada keringat yang keluar sia-sia, tidak ada waktu yang terbuang begitu saja. Itulah gambaran yang didapatkan dia di tempat kerja.


Hal tersebut ditandai dengan dipanggilnya dia oleh HRD, tentu saja Hilal menyatakan kesediaan. Gaji, tunjangan dan bonus tahunan lumayan cukup membantu keuangan kakaknya untuk membosankan bayi yang masih di dalam kandungan.


Dia segera menghubungi kakaknya dengan perasaan bahagia dan mengatakan akan pulang cepat. Selain itu dia juga menawarkan pada kakaknya ingin dibelikan apa.


Sampai di rumah dia melihat kakaknya tengah mengotak-atik sebuah aplikasi. Di dapur juga masih banyak kemasan kue.


Ucapan salam terdengar seiring dengan pintu yang terbuka. MenampilkanHilal dengan senyum bahagianya.


"Ada apa, Kak?" Hilal duduk di sebelah kakaknya, menatap layar laptop.


"Akun kakak gak bisa di buka, Padahal kemarin masih bisa." Zahra menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari layar.


"Biar aku coba," kata Hilal mengambil alih kegiatan Zahra tadi. "Oh iya aku belikan martabak sama singkong keju untuk kakak."


Menunggu Hilal mengembalikan akunnya, Zahra memakan makanan yang dibawa oleh sang adik. Sampai satu jam berlalu Hilal tidak bisa membuat akun tersebut kembali. Gelengan kepala Hilal membuat Zahra menyandarkan tubuh dan menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Berat banget hari ini," kata Zahra mengusap wajah.


Selain akun jualannya yang hilang, hari ini dia juga menerima banyak komplain dari para pembeli. Bahkan hari ini banyak pesanan yang dibatalakan sepihak dan tiba-tiba. Padahal sebagian cake yang dipesan sudah jadi dan siap antar.


"Rugi sudah," kekeh Zahra menoleh pada adiknya.


Untung rugi dalam sebuah usaha sudah biasa. Tidak sedikit yang mengalami hal yang sama dengan Zahra. Bahkan ada yang lebih parah sampai harus menggerus aset lama, lalu kenapa harus merasa paling menyedihkan, bukankah masih bisa mengulang lagi. Tidak ada kata sukses yang diaraih hanya sekali mencoba kalau pun ada itu melainkan sebuah keberuntungan. Bisa saja sukses tersebut diarih karena ada banyak hal baik yang dilakukan tanpa di sadari.


Cake yang tinggal diantar itu akhirnya dibagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan. Seperti para tina wisma disekitar jalan yang tidak jauh dari kediamannya. Setidaknya modal yang dihabiskan tidak terbuang sia-sia.


***


Hari-hari Zahra terasa membosankan ketika tidak banyak kegiatan yang dia lakukan. Akun baru untuk berjualan cake kembali masih sepi. Dalam satu minggu yang memesan cake padanya hanya satu atau dua orang utu pun tidak dalam jumlah banyak.


Sedangkan Hilal sudah mulai bekerja sebagai karyawan tetap. Ia meminta pihak kampus untuk mengatur jadwal kuliahnya menjadi malam. Alhasil dia selalu pulang larut.


"Maaf ya, Lal, gara-gara kakak tidak bekerja sekarang jadi kamu yang bekerja sampai larut." Zahra menunjukan ekpersi sesal sambil menyiapkan bekal untuk dibawa Hilal.


"Kita ini keluarga suda sepantasnya juga aku membalas kebaikan kakak. Lagi pula aku sudah bisa bekerja, masalah pulang larut itu bukan masalah besar. Yang penting kakak sekali doakan aku agar selalu pulang dalam keadaan selamat."


"Hmm semakin tua kamu semakin bijak ya," kekeh Zahra melihat ekspresi adiknya dikatakan tua.


"Harusnya yang melakukan ini istri aku bukan kak Zahra.


Kalau istri aku pasti saat merapihkan kemeja itu ada adegan manisnya."


"Kamu ini baru juga jadi pegawai sudah memikirkan istri. Kuliah juga belum selesai," omel Zahra. Dia kembali duduk karena sudah sering merasakan pegal. Melihat Nilai yang sudah rapih, Zahra tersenyum mengingat saat dia juga masih bekerja. Dulu dia sangat memperhatikan penampilan, bukan untuk menarik lawan jenis melainkam untuk kenyamanan diri sendiri.


"Senyum-senyum, lagi ingat seseorang ya?" tanya Hilal yang sedang memakai sepatunya.


"Apa? Orang kakak lagi ingat masa-masa jadi pegawai seperti kamu. Rasanya jadi rindu suasana kantor."


"Mikir soal kerja laginya nanti saja kalau kalau sudah melahirkan. Aku berangkat ya."


Setelah mencium punggung tangan kakaknya, Hilal mulai meninggalkan rumah bersama motor butut yang selalu menjadi temannya. Dia tidak malu menggunakan motor tersebut disaat teman-temannya berlomba menunjukan kualitas kendaraannya. Selama masih bisa melaju mari kita tancap gas.


***

__ADS_1


Rasa bersalah atas apa yang dilakukan pada Zahra oleh Sarah membuat Fatih malu untuk menemui perempuan tersebut. Padahal rasa rindu selalu mengusik kesendiriannya. Namun meskipun dia tidak menemui Zahra secara langsung, dia selalu mendapatkan kabar tentang perempuan itu dari orang-orang yang dia tempatkan di sekitar Zahra.


Seperti hari ini, seseorang mengetik pintu rumah Zahra membawa boks berisi makanan.


"Siapa?" tanya Zahra karena memang dia belum pernah melihat orang yang ada di hadapannya.


"Saya meiska, penduduk baru di komplek ini. Itu rumah saya." Dia menunjuk rumah seberang Zahra. Di sana juga ada seorang pria bersama seorang anak yang melambaikan tangan ke arah mereka.


Tentu saja Zahra percaya kalau mereka benar-benar tetangga barunya.


"Mari masuk," ajak Zahra.


"Ah tidak perlu, saya hanya ingin mengantarkan ini sebagai perkenalan kita. Lagi pula di rumah masih banyak barang ya g harus dirapihkan." Meiska menyodorkan boks yang dibawanya.


"Wah repot-repot." Zahra menerima boks tersebut, "lain waktu aku akan mampir ke rumah kalau mbak Mei tidak ingin mampir sekarang."


"Harus, kita kan tetangga," kekeh Meiska seraya pamit. Kemudian dia mengirimkan pesan pada Fatih bahwa makanannya sudah diberikan.


Fatih menerima pesan tersebut dan tersenyum ketika membacanya. Dia sentuh dadanya yang selaku berdebar kencang ketika menyebut atau mendengar nama Zahra.


Misha yang sudah pulang dari rumah sakit dan kini aktifitasnya dibantu kursi roda menghampiri putranya dan menyentuh pundak yang membelakanginya.


"Ma!" Fatih menoleh.


"Dari tadi kamu duduk saja di situ, memangnya tidak merasa pegal? Mama saja merasa bosan harus dibantu kursi roda terus. Eh kok senyum-senyum kamu lagi menertawakan mama?" Misha memicingkan mata menatap putranya.


"Tidak mungkin dong aku menertawakan mama. Kena kualat nanti aku."


"Bagaimana keadaan mereka sekarang? Kamu sudah menjenguknya?"


"Sarah? Dia baik-baik saja. Ya walaupun marahnya padaku memang belum usai. Tapi dia dalam keadaan baik saat ini."


"Terus?"


"Mama itu lagi menanyakan siapa? Kalau Sarah kan sudah aku jawab. Kalau Demir aku tidak mengunjunginya."


"Kalau istrimu yang satu lagi bagaimana?"

__ADS_1


"Zahra maksud mama? Kata Mei dia juga dalam keadaan baik."


"Kenapa harus membayar orang hanya untuk mencari tahu kabarnya. Padahal kamu bisa datang sendiri lalu minta maaf. Sekeras-kerasnya hati seorang perempuan selaku ada sisi lembut dan mudah memaafkan. Kalau pun dia masih jutek, kaku itu adalah ciri mereka untuk melindungi diri. Mama bukan mengharapkan kamu menikahi kembali perempuan itu tapi mama tidak ingin kamu lepas tangan begitu saja setelah menghancurkan masa depannya. Rasanya mama tidak perlu menyembuhkan satu-satu kesalahan kamu. Iya 'kan?"


__ADS_2