
"Bi, bisa kita bicara?" tanya Zahra seraya masuk ke dapur tanpa memedulikan pujian dari pria beristri itu.
"Zahra, kamu tidak sopan bersikap seperti tadi." Hayla menegur Zahra yang tengah menatap pada dirinya.
"Bibi yang tidak sopan. Pemilik rumah ini sedang terbaring di rumah sakit, lalu atas dasar apa bibi membawa tamu ke sini? Kenapa tidak ke rumah bibi saja."
Hayla berdecak sambil berkacak pinggang karena itu ciri khasnya saat berbicara dengan Zahra. "Kamu itu tidak mengerti atau memang bodoh? Aku ini menjadi bibi yang baik mencarikan calon suami untuk kamu."
"Pria itu Tuan Demir 'kan?"
Wajah Hayla langsung berbinar kala Zahra sudah bisa menebak pria yang datang bersamanya. Dia menjentikan jari, "itu kamu tahu. Diam-diam kamu memperhatikannya kan? Sudah lah Zahra terima saja dari pada kamu jomblo terus."
"Maaf, Bibi, tapi bagiku lebih terhormat menjadi jomblo dari pada menjadi istri ke dua. Tolong berhenti mencarikan jodoh untukku apa lagi jika itu pria yang sudah beristri."
Hayla menarik nafas panjang sambil bersedekap. "Kamu itu tidak bersyukur, Zahra. Sudah beruntung ada pria yang mau dengan perempuan miskin seperti kamu. Lah ini malah mau jadi perawan tua."
"Beruntung apa? Apa aku harus berbangga hati karena disukai suami orang? Lalu aku datang menemui istrinya dan tersenyum bangga serta mengatakan, Wahai perempuan malang, aku ini istri kedua suami-mu. Dia lebih mencintai aku bahkan dia rela menyakitimu. Begitu, Bi?"
Percakapan bibi dan keponakan itu didengar oleh Tuan Demir. Namun pria itu segera duduk saat mendengar suara langkah menghampiri.
"Maaf, Tuan, katakan saja saya tidak sopan, tapi maaf kalau tujuan anda datang kemari adalah untuk meminta saya menjadi istri anda, saya menolaknya." Zahra berbicara tanpa duduk lebih dulu. Dia jengah dengan orang-orang yang terobsesi pada dirinya.
Tuan Demir tersenyum manis, dia suka perempuan yang menolak seperti ini. Akan tetapi dia yakin lama-lama akan luluh juga jika dihadapkan dengan uang dan dia memiliki apa yang diinginkan para perempuan. Tidak perlu capek bekerja tapi uang mengalir terus, bukan begitu.
"Santai, Nona Zahra. Katakan apa yang membuat anda menolak saya!" kata Tuan Demir.
"Karena saya tidak ingin menjadi istri kedua." Zahra menjawab dengan tegas. Tidak ada keraguan dari sorot matanya.
"Kenapa? apa nona Zahra takut mendapatkan bagian kecil dari harta saya?"
Zahra tersenyum sinis, "Tidak semua harga diri seorang perempuan bisa dibeli dengan uang. Kalau anda berpikir demikian anda salah mencari orang seperti saya. Silahkan cari yang lain saja!" Zahra menunjukan pintu keluar dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Zahra! Tidak sopan," tegur Hayla merasa tidak enak pada Tuan Demir.
"Tidak masalah, Hayla. Mungkin nona Zahra membutuhkan waktu untuk berpikir." Tuan Demir membuka dompetnya dan meletakan sebuah kartu di atas meja. "Gunakan kartu ini untuk memenuhi kebutuhan anda, Nona Zahra. Saya akan sangat senang sekali jika perempuan yang saya sukai menghabiskan uang saya."
Tidak tertarik sama sekali. Zahra bahkan memalingkan wajah ke arah lain sambil berkata, "silahkan bawa kembali kartunya. Saya masih bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya, anda tidak perlu repot-repot."
"Ihh, Zahra." Hayla yang berdiri di belakang Zahra merasa gemas. Padahal dengan kartu itu dia bisa bersenang-senang tanpa harus memikirkan pekerjaan atau cara berhemat.
"Silahkan!" Zahra kembali mempersilahkan tamunya untuk pergi. Bagi Zahra tidak perlu bersikap manis pada pria semacam Tuan Demir, sudah memiliki istri tapi masih merayu perempuan lain.
Tuan Demir semakin tertantang untuk memperistri seorang Zahra, dia mengangguk saat meninggalkan rumah Zahra. Sebelum benar-benar keluar dari rumah dia kembali berkata, "Jika Nona Zahra berubah pikiran, silahkan minta tolong pada Hayla untuk menghubungi saya."
"Tidak akan," kata Zahra di dalam hati.
Hayla langsung menarik tangan Zahra hingga tubuh keponakannya hampir saja oleng.
"Please, Zahra, jangan jadi manusia bodoh dengan mengatakan tidak butuh uang. Menikah dengan Tuan Demir itu jalur cepat untuk bisa kaya. Kamu dan adikmu tidak akan hidup susah lagi." Bibinya masih berusaha memberi pengertian agar keponakannya menerima tawaran Tuan Demir. Tentu saja karena dirinya juga mendapatkan imbalan yang tidak sedikit.
"Kalau begitu bibi saja yang menikah dengan dia. Bukanya bibi sama pama Rangga juga sedang tidak baik-baik saja," kata Zahra sambil berlalu ke dalam kamar. Istirahat sebentar kemudian membersihkan diri. Setelah itu baru dia berangkat ke rumah sakit. Dia dan Hilal akan bergantian untuk menjaga ibunya.
"Lal, menurut kamu senyum kakak itu bagaimana?"
"Manis," jawab Hilal, "senyum kakak itu sangat manis dan senyuman kakak itu menularkan aura positif pada orang lain. Tumben sekali kakak menanyakan hal seperti itu."
Zahra menengadahkan kepala menatap plafon rumah sakit. "Tadi Bi Hayla membawa tamu ke rumah kita-"
"Biar kutebak," potong Hilal, "Bi Hayla membawa tamu pria yang akan melamar, Kak Zahra kan?"
Zahra menoleh dan mengerutkan kening."Kamu tahu?"
"Aku hanya menebak dari ekspresi kakak sudah bisa terbaca. Aku heran sekali sama bibi itu, kok senang sekali dia mencari calon suami untuk kakak. Anehnya yang dia cari itu pria-pria beristri. Hati-hati loh, Kak. Kita tidak tahu apa yang akan direncanakan mereka setelah melihat kakak."
__ADS_1
Zahra mengangguk setuju atas ucapan Hilal, kemudian mereka berpisah karena Hilal malam ini akan beristirahat di rumah.
***
Alin menggigit kuku setelah melakukan tes kehamilan beberapa kali dan hasilnya sama. Setiap alat menunjukan dua garis merah. Artinya dia sedang mengandung anaknya Bram.
Dia bingung, malam-malam seperti ini mana mungkin menghubungi dan memberi tahu Bram. Karena pria itu tidak akan menghiraukan dirinya. Bram sudah bepesan agar tidak meghubunginya saat dia tengah bersama keluarga.
Benar kan kata Zahra, bahwa perempuan kedua jarang atau bahkan hampir tidak memiliki kesempatan jadi yang utama. Para pria hidung belang itu hanya mencari perempuan kedua saat butuh tempat untuk melampiaskan hasrat.
"Bram, aku hamil." Alin mengetik pesan namun dihapus kembali.
Enaknya berdua tapi bingungnya sendiri kalau sudah begini. Dia tidak bisa tidur memikirkan jalan keluar untuk kehamilannya sekarang. Lambat laun orang lain pasti akan menyadari perubahan pada tubuhnya.
"Aku harus apa sekarang?" dia bertanya pada ruangan yang hanya ada dirinya.
Teringat pada Zahra, dia pasti akan memberi solusi. Akan tetapi dia sudah melakukan panggilan sebanyak tiga kali tapi tidak ada panggilan yang dijawab oleh Zahra.
Jelas karena Zahra tengah memejamkan mata. Dia sendiri belum benar-benar pulih tapi tetap memutuskan untuk menjaga ibunya malam ini.
Malam terus bergerak, menyisir kesunyian dan merangkak menuju pagi. Zahra terbangun saat mendengar adzan subuh berkumandang. Saat dia keluar dari ruangan ibunya ternyata Hilal sudah berdiri di sana.
***
Zahra baru memeriksa ponsel saat dirinya sudah berada di dalam kereta. Ada tiga panggilan tidak terjawab dari Alin, dia segera menghubungi Alin kembali. Tidak dijawab, dia coba lagi tapi sampai lima kali memanggil tetap tidak ada jawaban.
Mumpung masih ada waktu, Zahra memutuskan untuk ke rumah Alin lebih dulu. Rumah itu tampak sepi, tidak aaa tanda-tanda aktifitas dari pemilik rumah.
Mobil Alin masih ada di garasi itu artinya Alin masih di rumah tapi kok sepi. Zahra memanggil dan mengetuk pintu kamar Alin.
"Alin, kamu masih tidur? Alin!"
__ADS_1
"Alin ini sudah siang, kamu tidak akan masuk hari ini? Alin!"
Zahra yakin ada yang tidak beres dengan temannya. Akhirnya dia memberanikan diri membuka pintu kamar Alin. Untuk pertama kalinya karena sebelumnya dia tidak pernah melakukan ink. Saat pintu kamar terbuka mata Zahra hampir saja lompat dari tempatnya. Jantung berdegup sangat kencang.