Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
Episode dua puluh satu


__ADS_3

Sarah dan Fatih semakin lengket, persis seperti saat mereka baru menikah. Kemana Fatih melangkah di situlah Sarah berdiri.


Namun di sisi lain Fatih tetap berusaha menyenangkan hati Zahra melalui perhatian-perhatian yang tidak disadari orang lain. Sam yang menjadi perantara di antara mereka.


"Untuk sementara waktu Tuan Fatih tidak bisa mengunjungi anda, Nona. Keadaan nyonya Sarah baru kembali stabil setelah beberapa minggu yang kalau mengalami tekanan. Tuan Fatih menitipkan ini untuk anda."


Sebuah paper bag disodorkan oleh Sam. Setelahnya pria itu pamit. Sebuah kotak perhiasan bersama secarik pesan.


*Dear Zahra kekasihku.


Sudah sampai kah pesan cinta yang aku titipkan lewat udara? Aku harap kamu dapat merasakan itu. Zahra, senyum yang aku lihat beberapa waktu lalu masih membekas dalam ingatan. Menjalar dan mengakar di dalam sanubari. Senyum itu mengisi sudut kosong di ruang mata. Kemana pun aku menatap disitulah aku dapat melihat senyum itu kembali.


Zahra, cintaku hadir memang dengan cara yang salah, tapi rasa itu tidak salah. Aku nyaman berada di dekat kamu, berbagi udara yang sama meski tidak saling menyapa.


Hadirmu selalu aku rindukan, seperti malam yang mengharapkan bulan. Seperti pagi yang mengharapkan mentari. Kamu adalah cahaya yang hadir dalam gelap dan sunyinya seorang Fatih.


Zahra, aku mencintai nama itu*.


"Kak!" Hilal muncul dan mengagetkan Zahra. "Surat dari siapa?"


"Mr. Fatih."


Hilal meminta izin membaca surat itu.


"Apa dia benar-benar sudah jatuh cinta pada seorang Zahra? atau seorang Zahra yang justru jatuh cinta pada seorang Fatih?" tanya Hilal meletakan kembali pesan tersebut.


"Mungkin tapi aku juga tidak tahu."


"Aku harap bukan kakak yang malah tersakiti," kata Hilal mengingatkan kakaknya.


Sekeras apa pun hati seorang perempuan tetap bisa digoyahkan oleh perhatian kecil tapi berlanjut dan itu yang terjadi pada Zahra. Dia mulai goyah, mulai merasakan rindu pada pria yang sudah satu minggu tidak mengunjunginya.


Di tempat lain Fatih tengah memadu kasih dengan sang istri.


"Lagi?" tanya Fatih ketika Sarah kembali memainkan tangan menyentuh abs dan menggodanya.

__ADS_1


"Iya kan biar cepat jadi."


"Tapi pria itu kalau sudah keluar, butuh waktu beberapa jam untuk mengisi kembali selongsongannya. Jadi gak bisa melakukannya berturut-turut. Terlalu sering berhubungan badan juga bisa mempengaruhi kualitas ******, Sayang."


***


Tidak sabar rasanya ingin kembali melihat senyum Zahra setelah satu minggu dia tidak melihatnya. Dia merapikan kemeja dibantu oleh Sarah.


"Tadinya aku mau ikut ke kantor kalau kamu kasih izin."


"Hari ini perkerjaanku akan banyak sekali setelah ditinggalkan selama satu minggu. Sia-sia kalau kamu ikut ke kantor kalau hanya duduk menunggu aku bekerja. Mending kamu melakukan kegiatan yang membuat kamu senang. Eits tapi bukan yang itu ya."


"Ck, aku sudah berhenti minum-minum. Astaga!" Sarah menepuk kening. "Aku lupa belum lepas IUD gimana bisa hamil kalau begitu." Dia memasang wajah bersalah pada Fatih.


"Kalau begitu nanti sore kita ke dokter kandungan ya," kata Fatih santai. Sekarang IUD itu bukan masalah bagi dia. Katanya.


"Kalau pulang kerja kan kamu juga pasti capek, aku berangkat sendiri aja deh."


Mereka berpisah setelah sarapan bersama. Fatih berangkat ke kantor dan Sarah menemui dokter kandungan.


Jalan ninja Fatih agar bisa memiliki waktusedikit lama dengan Zagra adalah meminta perempuan itu ke ruangannya melalui Pak Adam.


"Zahra, pekerjaan yang saya minta kemarin sudah selesai?" tanya Pak Adam.


"Sudah, Pak." Zahra menyodorkan berkas yang sudah dia cetak kemarin.


"Antarkan ke ruangan Mr. Fatih ya!"


"Tidak diperiksa dulu, Pak?" tanya Zahra.


"Saya percaya hasil kerja kamu. Sudah di tunggu."


Zahra mengangguk, membawa berkas itu ke ruangan Fatih. Dia berusaha mengontrol detak jantung yang tiba-tiba berdetak tak karuan.


"Ya?" Terdengar suara Fatih ketika Zahra mengetuk pintu. Pria itu tidak duduk di meja kerja melainkan menunggunya di sofa.

__ADS_1


"Permisi, Pak. Saya mau mengantarkan berkas ini dari Pak Adam." Walaupun yang tengah duduk santai itu suaminya, tapi di kantor tetaplah atasannya.


Fatih menerima berkas tersebut dan mempersilahkan Zahra duduk. Setelah memeriksa sekilas Fatih meletakan berkas tersebut dan menatap perempuan yang selalu tenang saat berhadapan dengan dirinya.Tidak tahu.saja detak jantung Zahra sedang tidak normal.


"Kapan jadwal memeriksakan kandungan?" tanya Fatih.


"Bukan waktunya membahas pribadi, Pak," kata Zahra.


Fatih berpindah posisi duduk sehingga kini mereka berdampingan. Dia tahu saja momen di mana Zahra tidak mungkin teriak atau menampar dirinya.


"Tidak ada waktu kalau kita tidak mencurinya. Kisah kita tidak senormal kisah orang lain. Andai kamu tidak keberatan membuka kisah kita di depan umum. Kita tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini." Fatih menatap wajah cantik di hadapannya.


"Pak ...." Zahra menghindar ketika tangan Fatih hendak menyentuh wajahnya.


"Aku tersiksa dengan keadaan ini, Zahra. Aku mencintai kamu, kita suami istri tapi seolah samudera memisahkan kita. Sakit rasanya ketika aku tidak bisa berada di samping perempuan yang menjadi ibu dari anakku. Tidak bisa mendampinginya di masa sulitnya menghadapi morning sickness, tidak ada di sampingnya kala dia menginginkan sesuatu di tengah malam. Sakit."


Untuk pertama kalinya Fatih menjatuhkan air mata dihadapan Zahra.


Tangan Zahra terulur menghapus jejak air mata di pipi Fatih. Hatinya yang keras kembali tersentuh.


"Bagaimana keadaan nyonya Sarah? Sam bilang beliau sakit."


Fatih memejamkan mata merasakan lembutnya tangan itu di pipi. Dia genggam kemudian dia kecup cukup lama.


"Apa di hati kamu tidak ada perasaan cinta untukku, Zahra?" Fatih malah balik bertanya. Dia menatap sendu pada wajah Zahra yang selalu terlihat tenang.


Helaan nafas terdengar dari Zahra.


"Aku berusaha agar cinta itu tidak pernah tumbuh dari pada menyakiti diri sendiri. Karena kamu tidak akan pernah bisa kumiliki seutuhnya." Zahra tetap tersenyum walau ada sebagian hatinya yang tercubit. Iya dia menghindari kenyataan bahwa dia telah jatuh cinta pada pria di hadapannya.


"Izinkan aku memelukmu sekali ini saja," pinta Fatih dengan wajah sendu. Sungguh berbeda dari Fatih yang terkenal tegas dan berwibawa.


Zahra mengangguk memberi izin membuat Fatih tersenyum dalam kesedihan. Tubuh itu saling mendekap meluapkan rasa sesak di dalam dada. Berharap waktu berhenti sebentar saja dan memberikan kesempatan mereka untuk merasakan bahagia. Tidak ada yang memaksa kali ini, dan entah siapa yang memulai, bibir mereka bertemu untuk berbagi nafas. Zahra pun tidak menolaknya. Lagi-lagi dia mengingkari ucapannya.


Salahkah dia? atau takdir yang salah karena mempermainkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2