
Fatih melirik jam tangan, dia sudah sangat terlambat namun Risya yang datang tanpa di undang menahan Fatih untuk segera pergi.
"Maaf Risya, aku sedang buru-buru sekarang. Kita akan bicara nanti."
"Oh begitu rupanya. Bodoh sekali Sarah mau bertahan dengan pria seperti kamu."
Siapa pun tidam ada yang suka dengan ego yang tersentil. Kebanyakan, ketika ego tersentil dan merasa diremahkan, maka menunjukan sisi terbaik adalah sebuah pilihan. Perkataan Risya jelas menyentil ego Fatih. Dia menarik nafas dalam kemudian mempersilahkan sahabat istrinya untuk bicara. Tak lupa dia kembali mengirim pesan pada Zahra.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tembak Fatih langsung pada inti. Dengan waktu yang terbatas, Fatih memaksimalkan pendengaran atas apa yang dikatakan Risya. Tidak ingin melewatkan momen berharga bersama perempuan yang sedang mengandung calon anaknya, sebisa mungkin agar tidak melewatkan juga apa yang dikatakan Risya.
"Sarah divonis mengidap penyakit kanker." Jeda yang dibuat Risya menghadirkan tegang menyelimuti ruangan itu. Apalagi saat mendengar kalimat lanjutannya. "Aku yakin kamu tidak mengetahui itu. Saat kamu datang menjenguk dia di penjara kamu hanya ingin melihat penderitaan dia saja kan?"
"Tutup mulutmu!" Fatih menatap tajam perempuan di sebarangnya. "Aku selalu berusaha meluangkan waktu untuk menjenguk dia, tapi dia sendiri yang menolak untuk aku temui. Terakhir saat aku menjenguk dia mengucapkan sumpah serapah dan kebencian padaku."
Risya menarik bibir, tersenyum sinis. "Kamu terlalu fokus pada sumpah serapah dan kebenciannya. Hanya karena itu kamu marah sama dia. Lihat kamu jauh lebih banyak menorehkan luka pada dia. Aku datang bukan untuk membenarkan perbuatan dia, tapi aku juga tidak tega melihat dia menderita seorang diri. Aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Jangan jadi pria pengecut yang meninggalkan sepah setelah manisnya hilang."
Risya bangkit meninggalkan Fatih setelah menyampaikan tujuannya datang. Untuk sesaat Fatih tertegun di tempat, namun panggilan dari nomor Zahra membuat kesadaran kembali.
"Aku akan segera sampai," ucap Fatih memberitahu melalui telepon.
Menolak tawaran diantar oleh sopir, Fatih memilih mengemudikan mobil seorang diri. Mobil melaju membelah kota di bawah teriknya matahari. Tak sampai tiga pilih menit mobil sudah sampai di rumah sakit tempat Zahra akan memeriksakan kandungan.
Saat tiba dia melihat hanya tinggal satu pasien yang menunggu untuk memeriksakan kandungan. Dialah Zahra, dia mengizinkan orang lain untuk cek up lebih dulu demi Fatih. Padahal satu jam yang lalu adalah bagian untuk dirinya.
"Maaf aku terlambat," kata Fatih dengan nafas tidak beraturan sebab dia berlari dari tempat parkir hingga kini tatapan mereka bertemu.
"Tarik nafas, tahan, buang. Tarik lagi, tahan, buang baru bicara," kata Zahra dengan senyum. Tidak ada amarah dari sorot matanya. Memahami dan memaklumi dalam arti tidak membesarkan masalah kecil sudah menjadi keputusan besar baginya.
"Apa pemeriksaannya sudah selesai?" tanya Fatih melirik pintu di sampingnya.
"Belum, aku dapat antrian nomor terakhir," bohong Zahra. Padahal dia menukarkan nomor antrian dengan ibu hamil sebelumnya.
"Syukurlah. Aku pikir aku akan melewati momen ini lagi."
__ADS_1
Pasien sebelum Zahra sudah keluar, suster pun memanggil dirinya. Ditemani Fatih mereka melangkah bersama dan disambut hangat oleh sang dokter.
Tangis Haru tak dapat lagi Fatih tahan ketika layar monitor menunjukan wajah mungil yang menggemaskan. Wajah mungil yang begitu mirip dengan dirinya ketika kecil.
"Ini anakku?" tanya Fatih.
"Memangnya siapa lagi yang menghamili saya?" Zahra balik bertanya dengan wajah datar. Sontak dokter yang tengah memeriksa langsung mengatupkan bibir menahan senyum.
"Ck, harusnya kamu jawab iya sayang ini anak kita karena kita membuatnya tidak sendiri-sendiri," balas Fatih tak ingin kalah.
Tangan Zahra melayang dan mendarat di bahu Fatih. Belum lagi dengan mata perempuan itu yang melotot ke arahnya.
Selesai dengan pemeriksaan kandungan serta menebus obat yang diresepkan oleh dokter, Fatih mengantar Zahra pulang ke rumah. Ada sesuatu yang tertahan di tenggorokan untuk disampaikan pada Zahra, namun entah dari mana untuk memulainya.
Zahra yang duduk di kursi samping kemudi menyadari perubahan mimik wajah yang terjadi pada Fatih. Akan tetapi dia enggan bertanya lebih dulu. Akan lebih baik kalau menunggu Fatih yang bercerita sendiri.
Tarikan nafas yang begitu panajang menadakan kegundahan yang tengah dialami Fatih. "sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan, Ra." Fatih akhirnya membuka percakapan setelah mereka berada di setengah jalan menuju pulang.
"Sarah. Aku tahu sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan dia, tapi seperti katamu, tidak akan ada waktu yang tepat kalau kita tidak memulai."
Zahra masih mendengarkan, kali ini bahkan berani menatap pria di sampingnya lebih dulu.
"Sarah divonis mengidap penyakit kanker." Fatih melanjutkan kalimatnya.
"Oh ya? Sejak kapan?"
"Aku tidak tahu. Selama ini dia begitu rapih menyimpan semua penderitaannya. Entah apa maunya."
Zahra mengangguk, "berarti kamu akan pergi?" Fatih mengangguk menyiyakan. "Pergilah! Dia jauh lebih membutuhkan kamu ketimbang aku." Bibirnya melengkungkan senyum yang teramat tulus sungguh berbeda dengan hati yang tidak sejalan.
"Kamu tidak keberatan?"
Memangnya Zahra siapanya Fatih sampai harus merasa keberatan. Dia dan pria di sampingnya hanya terikat oleh tanggung jawab pada bayi yang tak pernah meminta dihadirkan ke dunia ini.
__ADS_1
Gelengan kepala juga senyum yang tak hilang dari bibir Zahra, menunjukan bahwa perempuan itu baik-baik saja. Setidaknya itu yang dilihat Fatih.
"Zahra ...." Fatih menghentikan mobil saat tiba di depan halaman rumah. "Beri kabar apa pun keadaannya. Aku akan kembali dan menemani saat persalinan tiba."
Sebelum turun dan kembali berpisah, Zahra mengangguk lebih dulu. Menimbulkan tangan sebelum akhirnya mobil yang dikemudikan Fatih kembali melaju meninggalkan senyum yang akhirnya pudar.
***
Fatih mencabut laporan atas Sarah kemudian membawanya untuk berobat keluar negeri. Meninggalkan Zahra bersama penantiannya untuk bertemu snah anak yang tinggal menghitung minggu.
Orang-orang Fatih seperti Sam, Steiner, Meiska dan beberapa lainnya selalu datang untuk memastikan Zahra baik-baik saja dan tidak kekurangan apa pun.
"Aku tidak bisa bebas bergerak karena barang-barang ini membuat rumahku yang sempit menjadi semakin sempit," kata Zahra pada Fatih melalui sambungan telepon saat kedatangan barang dan kebutuhan bayi yang dikirim pria melalui orang-orangnya.
"Kalau begitu kamu bisa pindah ke rumah yang telah aku siapkan untuk kalian. Maksudku untuk anakku," balas Fatih di seberanng sana yang tengah menemani Sarah terapi.
"Tidak perlu, rumah ini masih muat asal kamu berhenti mengirimkan barang-barang. Ini saja sudah terlalu banyak, yang ada bisa tidak terpakai."
"Baiklah aku memang tidak pernah pandai untuk memaksa. Tapi kamu bisa pindah ke rumah itu kapan pun kamu mau."
"Iya nanti aku beri tahu kalau aku siap. Aku tutup ya." Panggilan pun berkahir.
"Aaaaa!" Zahra memekik ketika lampu rumah tiba-tiba padam. Seseorang yang tengah berdiri di balik jendela menyalakan senter dan menyoroti wajah sendiri. Orang tersebut seolah ingin memberi tahu keberadaannya.
Berpegangan pada dinding tembok, Zahra merayap mendekati tempat penyimpanan perkakas seperti palu, gunting rumput dan beberapa perkakas kebutuhan kebun. Setidaknya beberapa benda tersebut bisa digunakan untuk melindungi diri sendiri.
Lampu rumah kembali menyala, orang di balik jendela pun tidak terlihat lagi. Akan tetapi bukan berarti Zahra dapat bernapas lega karena di detik berikutnya pintu rumah terdengar di ketuk.
Dari balik tirai, Zahra mengintip untuk mengetahui siapakah yang datang. Ternyata orang yang dagangan adalah Hayla. Tidak berniat untuk membuka pintu Zahra kembali menutup tirai, namun sial Bibinya menoleh dan mengetahui keberadaan dirinya.
"Zahra, ternyata kamu ada di rumah. Bibi pikir kamu tidak ada karena yadi rumah begitu gelap. Bisakah bibi masuk?" teriak Hayla.
Pada akhirnya meski enggan, Zahra tetap membukakan pintu untuk bibinya. Begitu pintu terbuka, seseorang mendorong Hayla hingga tersungkur. Belum sempat Zahra berlari untuk menyelamatkan diri sendiri, beberapa pria bertubuh besar masuk dan menarik tubuh Zahra. Membawanya masuk ke dalam mobil yang entah melaju ke mana.
__ADS_1