
"Apa dia masih disebut sebagai istri-ku setelah aku menjatuhkan talak?" tanya Fatih.
"Kalau orang nikah normal tanpa zina maka masa idah-nya baru selesai setelah bayi itu lahir. Artinya jika kamu ingin menyentuh dia maka harus kembali melakukan ijab tapi kasus pernikahan kamu kan berbeda. Kamu menldainya lebih dulu bagi menikahinya. Mama sih kurang paham kalau soal itu. Memang benar anak yang lahir di luar pernikahan tidak memiliki keterkaitan selain darah yabg mengalir di tubuhnya. Tidak ada nasab pada ayah biologisnya, pun tidak berhak mendapatkan warisan ketika kamu pergi. Akan tetapi hal itu tidak bisa kamu jadikan dalih untuk menelantarkan anak, maka yang akan dipertanyakan adalah moral kamu sebagai laki-laki. Bertanggung jawab, memberikan nafkah, bukan berarti untuk mengesahkan nasab anak pada ayahnya tapi lebih kepada melindungi anak yang baru lahir itu."
"Aku tidak yakin Zahra akan menerima bentuk tanggung jawab dariku. Dia sudah menolaknya berkali-kali."
"Kalau begitu tunjukkan pada dia kalau kamu telah berubah. Jangan terlalu mengejar dia tapi tetap bertanggung jawab. Kamu paham kan maksud mama?"
Fatih mengangguk, kemudian dia pamit untuk pergi ke Bandung sore ini.
Tepat sebelum maghrib dia tiba di rumah milik Stainer juga Mesiska. Lebih tepatnya rumah yang ada di seberang rumah milik Zahra.
Zahra yang penasaran kenapa tetangganya begitu baik pada dirinya, maka dia jadi sering mengintip di balik tirai. Dugaannya benar bahwa Fatih ada di belakang mereka. Dia terus memantau dari balik tirai hingga saat Fatih ke luar dari rumah tersebut dia pun ke luar rumah dan pura-pura membuang sampah.
Tatapan mereka bertemu namun kali ini Fatih menunjukkan ekspresi yang berbeda. Bukan lagi tatapan penuh cinta seperti dulu. Zahra mengalihkan tatapan pada Meiska juga Steiner dan menganggukkan kepala.
Hari berikutnya Zahra menyempatkan main ke rumah Meiska, apa lagi di sana ada anak kecil yang menggemaskan.
"Tumben, Mbak zahra main, biasanya menolak terus," kata Mei mengajak Zahra masuk.
"lebih ke bosan si di rumah terus," kekeh Zahra.
"Aku juga dulu begitu kalau suami lagi kerja, tapi sekarang sih sudah enggak sejak ada anak-anak. malah pusing sekarang," balas Mei tertawa "Mbak zahra nanti nanti juga akan begitu."
Zahra mengangguk setuju, tangannya menjawil dagu bayi yang sedang belajar tengkurap.
"Kemarin ada tamu ya?' Zahra mulai masuk pada inti yang ingin bicarakan.
"Iya, itu atasannya Steiner. Mbak Zahra kenal?' Mei sudah menebak Zahra akan membahas soal ini. Kemarin dia bersama suaminya sudah membahas akan hal ini. jadi mereka bisa pura-pura baru mengetahui hubungan Zahra dengan Fatih.
__ADS_1
"Dulu dia atasan saya."
"Oh iya? Ternyata dunia benar-benar sempit ya," kekeh mei lagi.
Zahra menatap Mei yang terlihat biasa-biasa saja. Tidak terlihat kalau perempuan itu berpura-pura baru mengetahui.
"Mbak Mei, dia tidak membayar kalian untuk menjadi mata-matanya kan?"
Mei pura-pura bingung. "Apa ada sesuatu di antara kalian?' tanya Mei.
"jangan mengalihkan pertanyaan saya, Mbak. Katakan apa Pak Fatih membayar kalian untuk mengawasi saya. Saya tahu betul kalau dia orangnya sangat ngeyel."
"Tunggu-tunggu! dari perkataan Mbak Zahra saya bisa menangkap kalau memang ada sesuatu di antara kalian. Entah apa itu tapi sungguh maaf saya tidak ingin mengetahuinya. Kalau pun kita jadi tetangga dan pernah mengenal satu orang yang sama, saya rasa itu hanya kebetulan saja."
"saya harap memang begitu, tapi sikap kalian memang sangat berbeda. Kalian terlalu baik pada saya sejak kalian tinggal di sini."
"Itu karena kami perantau. Dulu almarhum ibu saya sempat berpesan di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Kami hanya ingin menitipkan diri karena tidak tahu apa yang terjadi di detik berikutnya. Setidaknya kalau terjadi sesuatu pada kami di rumah ini, Mbak Zahra akan senantiasa menolong kami. Kalau tentang mbak dengan atasan suami saya, jelas saya tidak mengetahuinya," dusta Mei meyakinkan zahra.
Mei menarik nafas panjang setelah mengantar Zahra sampai ke pintu, setelah itu dia menghubungi suaminya untuk menceritakan kedatangan Zahra serta kecurigaan perempuan itu.
Fatih yang tengah bersama Sam juga Stainer di ruang kerjanya otomatis langsung mendengar laporan dari istri bawahannya.
"Pantas Anda menyukainya, Tuan. Ternyata Nyonya Zahra memiliki insting yang tajam tidak jauh berbeda dengan Anda, kata Steiner membuat Fatih tertawa. Sedangkan Sam hanya mengulum senyum
"itulah tapi dia. Selain itu dia juga memiliki keteguhan yang cukup kuat. Saya sampai kewalahan menghadapinya. Kalian bisa memberikan saran apa dan bagai mana agar saya bisa kembali meraih hatinya."
Kedua orang yang ada di hadapannya saling lirik.
"Menurut saya selama ini Anda terlalu menujukan bahawa Anda tergila-gila padanya. Istilahnya begitu jadi mungkin nyonya Zahra merasa terganggu akan hal itu. Jadi bagaimana kalau Anda mencoba sedikit cuek tapi selalu ada saat beliau membutuhkan." Sam memberikan tanggapan.
__ADS_1
"Itu berarti saya harus kembali menyusupkan seseorang yang bisa selalu ada di dekat dia. Agar saya dapat mengetaui apa yang dilakukan Zahra. Kalau Steiner dan istrinya kan hanya memantau dari jarak jauh. Tidak mungkin juga mengikuti Zahra setiap saat. Bisa gagal kalau dia mengetahuinya."
"Ada perempuan yang pernah jadi pegawai nyonya Zahra ketika usaha kue-nya berkembang. Namanya Nadia saya rasa perempuan itu tidak akan keberatan diajak kerja sama. Apalagi jika ada uang, siapa yang bisa menolak." Steiner melirik Sam juga atasannya.
***
Di tempat lain orang-orangnya Demir menjemput paksa seorang Hayla. Di sini lah perempuan itu sekarang, duduk berhadapan dengan Demir. Saat berita tentang Demir yang di penjara Hayla sempat berpikir bahwa dia tidak akan berhubungan lagi dengan pria itu. Sedikit menguntungkan bagi Hayla karena Demir tidak akan terus menerus meminta dirinya untuk membujuk Zahra. Menghabiskan waktu untuk shopping lebih menyenangkan ketimbang membujuk keponakannya yang keras kepala.
"Saya sudah memberikan banyak uang yang tidak jelas pada kamu Hayla. Tidak masalah kamu tidak berhasil membujuk keponakan kamu itu tapi kali ini saya minta kamu berikan jaminan pada kepolisian bahwa saya tidak bersalah. Kamu harus melakukannya dengan cepat sebelum berkas itu bergulir ke pengadilan. Ingat uang itu bukan uang cuma-cuma. Paham?"
Ditatap dengan tatapan tajam dan penuh penekanan membuat Hayla menyetujuinya.
"Saya akan melakukannya tapi setelah itu anda tidak akan mengungkit lagi soal uang itu," balas Hayla.
"Saya bebas, maka uang itu akan tetap menjadi milikmu. Bahkan saya bisa menambah kan lagi."
Hayla pun menemui petugas dengan membawa surat pencabutan laporan yang ditandatangi mirip dengan tandatangan Fatih. Dia mengakui bahwa dirinya suudara Zahra yang setatusnya sbegagai korban. Dengan dalih memaafkan kejahatan Demir dia meminta pria iti dibebaskan.
Berhasil. Demir pun kembali menghiurp udara bebas.
"Kau sangat pandai Hayla." Demir memuji perempuan itu sambil mengusap bibir perempuan. "Sepertinya aku lebih membutuhkan kamu ketimbang keponakan kamu itu. Dilihat-lihat kamu lebih cantik dari dia."
Hayla menuduk tersipu, tak lama dia mengangkat wajah dan langsung meraup bibir di hadapannya.
Dari dulu dia menginginkan Demir tapi kenapa pria itu baru menatap dirinya sekarang. Hayla dengan senang hati melayani hasrat dari pria yang berada di atas tubuhnya sekarang.
Setelah gelora hasrat utu dilalui, Demir turun dari tampar tidur. Meninggalkan Hayla yang memejamkan mata karena lelah.
Dia berdiri di balkon apartemen menatap kelip lampu di malam hari. Hembusan angin menerpa tubuhnya, membuat rambut itu menjadi acak-acakan justru malah terlihat semakin tampan. Sayang, dia sangat jahat.
__ADS_1
"Demir belum berakhir, Fatih," gumam pria itu menyeringai. Apalagi kala merasakan sepasang tangan mendekap tubuhnya dari belakang.