
Fatih menunjukan foto-foto mereka yang disebarkan di group chat kantor.
"Masih mau mengelak? Nomor ini milikmu, bukan?"
"Aku-"
"Aku kabulkan keinginanmu, aku talak kamu hari ini juga. Mulai hari ini Zahra Altafun Nissa bukan lagi istriku," potong Fatih.
Zahra memalingkan wajah dan memejamkan mata. Sakit. Ada yang layu sebelum menebar harum. Namun inilah jalan dia bebas dari tuduhan menjadi pelakor.
"Terima kasih sudah membebaskan aku," kata Zahra dengan senyum pahit. Bahkan dia tidak diberi kesempatan untuk melakukan pembelaan. Dia pun melangkah meninggalkan Fatih yang memejamkan mata.
"Tidak perlu mengantarnya, Randi. Dia bukan lagi istriku," teriak Fatih pada Randi yang hendak membukakan pintu untuk Zahra.
Zahra hanya mengangguk pada Randi kemudian melangkah meninggalkan gedung tersebut. Menunggu taksi online yang akan membawanya ke stasiun. Dia sudah terbiasa hidup sederhana jadi ini bukan masalah besar. Hanya saja dia merasa sakit ketika tak diberi kesempatan untuk bicara.
Taksi yang dipesan sudah tiba, dia tidak lagi menoleh ke gedung yang sudah memberikan banyak kenangan untuk dirinya. Selanjutnya dia pulang menggunakan kereta. Tiba di rumah Bi sumi langsung menyambutnya.
"Nyonya mau dibuatkan minum apa?"
"Tidak perlu, Bi. Oh iya mulai sekarang bibi juga tidak perlu memanggil saya nyonya lagi. Saya sudah bukan istrinya Tuan Fatih. Setelah ini juga bibi bisa langsung pulang ya. Saya ingin istirahat dulu."
Zahra masuk ke dalam kamar meninggalkan Bi Sumi yang bengong.
Fatih kembali ke ruangannya meminta Sam untuk menyelesaikan masalah foto yang beredar. Namun terlambat karena foto tersebut telah sampai ke media. Tangan-tangan usil lebih cepat bergerak dari pada Sam, membuat pria itu sibuk menghubungi sana sini agar menurunkan berita tersebut.
Fatih sendiri membanting tubuhnya ke sofa, tangannya mengepal kuat. Seketika rasa cinta untuk Zahra berubah menjadi rasa benci. Tangan yang mengepal itu rasanya ingin menghantam wajah Zahra yang so tegar dan so kuat. Dia membenci wajah itu sekarang.
"Jangan katakan apa pun, Sarah," kata Fatih ketika Sarah memasuki ruangannya.
"Aku tidak akan diam untuk kali ini. Kamu sudah dipermalukan oleh perempuan itu apa aku masih harus diam? Kamu suamiku dan aku harus melindungi nama baikmu. Foto-foto itu sudah sampai ke media, nama baikmu juga perusahaan sedang dipertaruhkan. Ayo kita perbaiki bersama."
Sarah mengambil kesempatan dalam derita orang lain. Fatih harus tetap menjadi miliknya tidak peduli pria itu masih menginginkan dia atau tidak.
"Aku tahu, ini adalah cara Demir untuk merebut semua yang menjadi milik kamu terutama perusahaan. Demir bekerja sama dengan perempuan itu. Aku mengetahuinya," dusta Sarah.
Seketika Fatih mengingat ucapan Zahra yang mengatakan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Demir. Rasa benci itu semakin mengakar di dalam hati.
__ADS_1
"Kita buat klarifikasi bahwa ini hanya keisengan para pemujamu saja. Dan aku pastikan mereka akan percaya dengan ucapanku," kata Sarah lagi.
Berita tentang pria tampan yang sukses dalam berbisnis memang selalu menjadi sasaran hangat para penggemarnya. Apalagi jika menyangkut kehidupan pribadi.
Beberapa clikbait yang menggiring opini ditunjukan Sarah pada Fatih.
"Kamu akan diam saja. Kalau begitu aku akan pergi," kata Sarah namun lengannya dicekal oleh Fatih.
"Tetap di sini," pinta Fatih.
***
Awak media sudah berkumpul di loby sejak pukul tiga sore. Mereka langsung mengerubungi Fatih dan Sarah yang baru keluar dari lift. Security dibuat repot oleh mereka untuk melindungi atasannya.
"Mr. Fatih bisa klarifikasi sebentar?"
"Tuan Fatih, apa berita tentang anda itu benar."
"Tuan Fatih bisa berikan tanggapan mengambil berita yang beredar."
Kurang lebih seperti itu kalimat yang dilontarkan para awak media.
"Berita mana yang harus saya klarifikasi? Jika tentang perempuan kedua dalam hidup saya, saya tekankan itu tidak ada. Saya hanya memiliki satu istri yang sekarang berdiri di samping saya."
Fatih menoleh pada Sarah yang juga tersenyum kepadanya. Tangan mereka saling menggenggam menunjukan tidak ada masalah diantara mereka.
"Benarkah itu Nyonya?" tanya salah satu wartawan.
"Benar, kalau tidak untuk apa saya berdiri di sini hanya untuk berpura-pura. Saya percaya kalau suami saya memiliki atittude yang tinggi. Tidak mungkin melirik perempuan rendahan yang menggoda dia. Sudah terbukti selama ini." Sarah tersenyum meyakinkan.
"Lalu bagiamana dengan foto-foto yang beredar?" tanya wartawan yang lain.
"Ith hanya keisengan para pemuja suami saya. Mungkin mereka berpikir dengan cara seperti ini akan membuat hubungan kita menjadi renggang. Padahal itu tidak ada apa-apanya. Terima kasih sudah peduli dengan hubungan kami."
Sarah dan Fatih mengatupkan tangan kemudian berpamitan kepada awak media. Mereka masuk ke dalam mobil yang sama.
"Aku sudah meyakinkan mereka dan melindungi nama baik kamu. Setelah ini ada atau pun tidak cinta di antara kita, aku harap kamu tidak mengambil keputusan yang akan merugikan kamu sendiri dengan menceraikan aku."
__ADS_1
"Tidak perlu mengatur, aku tahu apa yang harus aku lakukan," balas Fatih. Kemudian diam, walaupun bersama tetap saja ada jarak di antara mereka.
***
Zahra duduk di taman belakang yang menghadap sawah. Angin malam menerbangkan rambutnya yang panjang. Hilal menghampiri kakaknya membawa singkong yang baru dibakar dan menikmatinya bersama. Setelah itu mereka mengenang kembali cerita lama yang membuat mereka tertawa.
Mengenang masa lalu yang meneynagkan membaut Zahra melupakan apa yang terjadi hari ini. Namun Hilal yang tadi ikut tertawa seketika diam ketika membuka laman instagram. Banyak sekali berita klarifikasi yang dilakukan oleh Fatih juga Sarah.
"Apa-apaan ini?" Hilal mengerutkan kening lalu menoleh pada kakaknya gang menatap lurus pada pesawahan.
"Tidak perlu kaget, Lal. Dia sudah menjatuhkan talak sama kakak tadi siang." Zahra menoleh dan menunjukan senyum seolah ini bukan masalah besar baginya. "Semuanya sudah selesai."
"Apa perasaan kakak juga ikut selesai?"
"Apalah artinya perasaan yang salah, Hilal. Aku cukup lega ketika dia membebaskan aku dari pernikahan ini. Ya walaupun secara perasaan merasa terluka juga," kekeh Zahra.
"Wajar, Kak. Manusiawi kalau kakak merasakan sakit. Kalau mau nangis, nagis aja gak perlu malu sama aku. Jangan ditahan dari pada rasa sesak itu malah mengakar di hati dan menggerogoti pikiran."
Zahra mengangguk dan menunduk, seketika dia terisak. Dirangkulnya pundak sang kakak oleh Hilal. Sampai tak terdengar lagi isakan dari kakaknya.
"lega?"
Zahra mengangguk.
"Sekarang ikut aku!" Hilal mengulurkan tangan membantu kakaknya bangkit. Lalu masuk ke dalam kamar mengambil kunci motor juga jaket untuk kakaknya. Dia juga mengambil tas gendongnya.
"Kita mau kemana, Hilal?"
"Sudah ikut saja dulu, ayo naik!"
Motor melaju menuju jalanan ramai kemudian memasuki halaman parkir sebuah rumah sakit di daerah soreang.
"Ayo!" Hilal menarik tangan kakaknya setelah melepaskan helm. Langkah mereka menuju sebuah ruangan yang bertulikan R. Praktek dr. Sintia Sp. OG.
"Kita mau ngapain ke sini Hilal?"
"Memeriksakan kandungan, Kakak."
__ADS_1
"Kandungan?" Zahra menyentuh perutnya. Bukankah kemarin kandungannya dinyatakan keguguran.
"Iya, kandungan kakak. Memangnya siapa lagi yang hamil, masa aku?" kekeh Hilal seraya menghampiri suster yang berjaga di sana.