Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
Episode sembilan belas


__ADS_3

"Ugh," erang Fatih ketika merasakan pusing akibat benturan.


"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya sopir yang menemani perjalanan menuju Bandung. "Apa perlu ke rumah sakit?"


Kening yang berdarah tak dihiraukan oleh sopir itu. Yang paling utama adalah keselamatan majikannya.


"Tidak perlu. Kita langsung ke rumah Nyonya Zahra."


Berkali-kali Zahra menoleh ke arah jam dinding. Hujan disertai petir membuat dia khawatir akan Hilal yang masih di luar rumah. Akhir-akhir ini adiknya memang banyak sekali kegiatan sampai malam. Dai putuskan menunggu Hilal di ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga. Dia menggelar karpet, mengambil selingkuh dan merebahkan tubuh sambil memutar film bergenre action kesukaanya. Jarang sekali dia memuat film-film berbau romantis, jadi wajar kalau dia masih kaku sama laki-laki sampai sekarang.


Ketukan pada pintu membuat mata Zahra terbuka. Sekali lagi dia melirik jam dinding yang sudah menunjuk angka sembilan.


"Kalian?" pekik Zahra ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu. "Kenapa bisa terluka ayo masuk!" Zahra mempersilahkan Fatih dengan sopirnya masuk. Segera dia ambil kotak obat yang selalu tersedia di rumah.


"Pergilah ke rumah sakit, nanti tagihannya kirim ke saya," kata Fatih pada sopirnya saat Zahra mengambil kotak obat.


"Loh mau ke mana, Pak? Itu pelipisnya berdarah biar diobati dulu," kata Zahra.


"Tidak perlu, dia saya suruh ke rumah sakit. Tidak jauh kan dari sini?"


Zahra mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Fatih. Dia masih bingung kenapa sopirnya di suruh kerumah sakit sedangkan Fatih memilih diobati seadanya di rumah.


"Aw!" Fatih pura-pura meringis saat kapas basah oleh alkohol pembersih luka menyentuh keningnya. "Pelan-pelan."


"Satu minggu yang lalu tangan, sekarang kening, lusa apa lagi yang mau dilukai?" tanya Zahra datar. Tangannya tetap bergerak mengobati luka di kening Fatih.


"Terima kasih ya sudah mengkhawatirkan aku." Fatih meraih tangan sang istri dan mengegenggamnya. "Ini tidak disengaja. Aku sama sopir memang kecelakaan, hujan membuat jarak pandang terhambat jadi mobil kami oleng. Sumpah." Fatih mengangkat kedua jaring membentuk Huruf V.


"Aku sudah mengirim pesan dan meminta kamu agar tidak datang. Kenapa masih datang?"


"Karena aku merindukan kamu. Aku ingin selalu melihat wajah judes ini. Aku ingin melihat tatapan tajam dan datar dari kamu. Aku rindu semua yang ada padamu. Aku takut jika kamu menjauh begitu saja." Fatih mendekatkan tangan sang istri ke bibirnya kemudian ia kecup.


Seolah tengah dihipnotis, Zahra lupa menarik tangannya dari bibir sang suami. Getar-gatau asmara mulai mengalir di nadi Zahra. Dia segera menarik tanganmu saat merasakan ada yang tidak beres dari dirinya. Dia bangkit untuk meletakan kembali kotak obat ke tempat semula.


Melihat bantal dan selimut di dekatnya, Fatih merebahkan tubuh untung mengurangi rasa pusing akibat benturan tadi. Dalam beberapa menit dia sudah memejamkan mata.

__ADS_1


Sebelum masuk ke dalam kamar untuk tidur, Zahra kembalikan selimut oada tubuh Fatih. Entahlah dia tidak mengerti kenapa bersikap baik seperti ini lada Fatih. Mungkin ini efek dari obrolan bersama gurunya beberapa hari yang lalu.


Fatih terbangun ketika mendengar suara dari kamar mandi. Sekarang sudah pukul 01:13 lalu siapa yang sedang di kamar mandi.


Pintu kamar Gilak terbuka, Fatih dan Hilal saling tatap kemudian menuju sumber suara.


"Hueekk,"


"Zahra!"


"Kak?"


Sebelah tangan Zahra memijit kering dan sebaliknya lagi beroegangan pada washtafel. Dia sudah lelah, hampir lima belas menakt dia di kamar andri untuk memuntahkan sesuatu yang bergejolak di dalam perut.


"Pegang Kak Zahra jangan sampai jatuh. Aku buatkan teh hangat dulu," kata Hilal pada Fatih.


Tidak ada tenaga ketika Fatih memijit tengkuknya, Zahra malah merosot ke lantai saking lemasnya. Gegas Fatih mengangkat tubuh Zahra dan membawanya ke kamar.


"Ini minum dulu, Kak." Hilsl menyodorkan teh hangat. Dia melirik Fatih yang akhirnya memasuki kamar kakaknya.


"Eh!" Tiba-tiba merasakan pijatan pada kakinya dan itumebuatnya nyaman, hingga beberapa menit kemudian terlelap.


Hilal ke luar kamar lebih dulu sedangkan Fatih masih melakukan pijatan pada kaki Zahra. Dia menaikan selimut untuk Zahra sampai ke dada. Dia singkirkan anak rambut yang menghalangi wajah istri keduanya.


"Kalau aku tahu hamil akan merepotkan kamu seperti ini, aku tidak akan melakukannya malam itu. Maafkan aku nona Zahra, selamat tidur."


Fatih kembali memijat kaki Zahra agar perempuan iti semakin lelap, sampai dirinya ikut terlelap beralaskan kaki, sang istri.


Pukul 04:10 menit Zahra menggeliat, merasakan kaki yang kesemutan. Saat mata terbuka sempurna dia melihat Fatih tidur di kakinya.


"Pak! Pak bangun!" Zahra mengguncang tubuh suaminya.


Fatih memicingkan mata dan baru menyadari kalau dia masih berada di akamr Zahra. Gegas dia bangun dan tatapannya bertemu dengan tatapan Zahra.


"Ma-af saya ketiduran," gagap dia karena merasa melanggar poin dari perjanjian yang mereka sepakati.

__ADS_1


Zahra tidak membalas, dia bangun dan pergi ke kamar mandi karena kembali merasakan mual.


"Kalau tidak kuat, hati ini tidak perlu bekerja ya," kata Fatih.


***


Di salah satu vila yang di sewa oleh Rasya, Sarah tengah melakukan terapi bersama Aluna. Perlahan kondisinya kembali stabil. Dia menceritakan semua kekhawatirannya terhadap Fatih pada Aluna termasuk kekhawatiran memiliki anak.


"Entah lah aku selalu tidak siap kalau harus memiliki anak. Membayangkan tangisannya, biaya hidup dan pendidikannya," kata Sarah.


"Iya itu hak masing-masing. Gini, aku mau kamu membayangkan andai kamu punya anak ya. Menurutmu apa Fatih akan membiarkan kamu mengurusnya sendirian?"


"Tidak, dia sangat menyayangi anak kecil." Pikiran Sarah mengawang, mengingat-ingat momen manis saat Fatih bermain dengan anak-anaknya Olla dan Demir.


"Oh ya? Apa kamu pernah melihat suamimu bermain dengan anak-anak?" tanya Aluna.


Sarah mengangguk.


"Sekarang bagiamana komunikasi kami dengan dia?"


"Buruk. Kita sering bertengkar ketika membahas soal anak."


"Berarti dia sangat menginginkannya ya," kekeh Aluna.


"Iya, bahkan dia mengatakan dia akan menikah lagi kalau aku tidak memiliki anak." Sarah menjatuhkan air mata ketika mengingat perkataan Fatih tempo hari. Termasuk soal noda merah pada alas kasur yang ada di koper suaminya.


"Kadang pengorbanan itu dibutuhkan oleh setiap pasangan ya. Apa Fatih pernah berkorban selama kalian berumah tangga?"


"Pernah, bahkan ... dia yang lebih banyak berkorban selama ini. Apa sekarang dia merasakan jenuh ya dengan pengorbanannya?" gumam Sarah.


Aluna menempuk pundak Sarah. "Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang?"


Sarah mengangguk dan meminta menghubungi Suaminya.


"Aku siap," kata Sarah ketika panggilan dijawab oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2