
Kembali bekerja, kembali bertemu dengan Alin si super heboh ketika melihat cincin di jari manis Zahra.
"Ya ampun, apa aku melewati sesuatu," teriak Alin mengundang perhatian rekan kerja yang lain.
Zahra yang tengah merapikan meja ikut menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Ra, kamu benar-benar tega ya sama aku. Kamu masih menganggap aku ini sahabat kamu, bukan?"
"Apa sih, Alin, drama sekali." Zahra kembali fokus pada layar yang sudah menyala dan siap bekerja.
"Ini cincin apa?" Dengan gerakan cepat Alin mengangkat tangan Zahra yang tersemat cincin. Tentu saja rekan kerja yang lain kembali fokus pada mereka. Penasaran dengan apa yang mereka maksud dengan kata cincin yang tersemat di jadi Zahra si perempuan cuek.
"Ini cincin pernikahan sepertinya, kamu sudah menikah?" cerca Alin.
"Kapan kamu menikah, Zahra?' tanya Doni
"Kok tidak mengundang kami, padahal kita rekan satu divisi," kata yang lain.
"Sudah-sudah, perihal dia sudah menikah atau belum. Atau kenapa dia menikah tanpa memberi tahu kita itu hak privasi dia. Benarkan, Zahra?" kata Mathias, pria yang diam-diam mengagumi dan dikagumi oleh Zahra. Pria yang paling santai tapi otaknya bisa diandalkan. Orang yang menaruh perasaan tapi sadar bahwa dinding pembatas mereka itu menembus langit. Mereka beda keyakinan.
"Ra, katakan ini cincin apa agar kita tidak penasaran!" kaga Alin yang belum puas kalau belum menemukan jawaban sesuai keinginan otaknya.
Mathias memejamkan mata dengan hati berkata, "Jangan melebihi cinta kepada Tuhanmu, Mat. Dia bukan jodoh mu."
Fatih yang saat itu sengaja melewati ruangan kerja istrinya menunggu apa yang akan dikatakan Zahra untuk menjawab pertanyaan sesama rekan kerja.
Menghela nafas panjang sebelum Zahra berkata, "Ya aku sudah menikah."
Sontak ruangan itu riuh dengan kata waah, terdengar nada kecewa, bahagia dan biasa saja. Sudah tahu kan kalau yang kecewa siapa dan bahagia siapa.
"Aku sudah menikah hari kemarin. Dan aku sekarang menjadi istri seorang pria. Maaf, jangan tanya dengan siapa aku menikah dan karena alasan apa," kata Zahra pada orang yang mengangkat tangan dan seperti sudah bisa di tebak apa yang akan terlontar dari bibir orang tersebut.
"Waaah sayang sekali, kita harus patah hati," kata beberapa pria.
Mathias mendekat menyodorkan tangan, "Selamat, Zahra. Semoga pernikahanmu penuh berkah."
Zahra mengangguk, namun tidak berani menatap mata Mathias.
__ADS_1
Fatih melihat itu dari kejauhan. Sebagai sesama pria dia tahu kalau pria yang berdiri di hadapan istri keduanya menaruh perasaan pada Zahra.
Dia hendak masuk ke dalam ruangan itu tapi Sam lebih dulu memanggilnya.
"Tidak bisa kah kamu menunggu saya memasuki ruangan?" tanya Fatih diliputi rasa marah yang tiba-tiba menyeruak.
Sam mengangguk, "maaf, Pak. Bukankah anda meminta data perusahaan kontraktor yang membangun komplek perumahan itu segera."
Fatih meraih map yang disodorkan oleh Sam. Dia urung memasuki ruangan Zahra dan memilih kembali ke ruang kerjanya. Sebelum melangkah dia kembali melihat ruangan itu dan tatapan mereka bertemu. Seperti biasa Fatih harus menadapati tatapan datar dari wajah istrinya.
"Atur pertemuan dengan mereka, dan katakan aku ingin menanamkan modal di perusahaan mereka," kata Fatih pada Sam sesaat setelah membaca map yang diberikan oleh Sam.
Sam mengangguk dan akan melakukan permintaan atasannya. Ya dia hanya sebatas asisten pribadi jadi dia tidak perlu menanyakan alasan. Tugasnya hanya menjalankan permintaan Fatih.
"Sam," panggil Fatih sebelum pria bernama Sam itu menyentuh knop pintu. "Kamu bisa dipercaya kan?"
"Tentu, saya hanya cukup tahu mengenai pekerjaan bukan persoalan pribadi," kata Sam memberikan jawaban yang diharapkan oleh Fatih.
"Terima kasih."
***
"Zahra, setelah makan siang tolong revisi draft yang sudah saya kirim melalui emali ya."
"Baik, Pak."
Zahra langsung membuka email tersebut dan langsung mengerjakannya.
Alin yang sudah siapa mengajak makan siang menarik nafas dan melirik jam tangan. "Sudah waktunya makan siang, Ra. Kantin yuk."
"Kamu duluan saja, Alin! Aku masih memiliki pekerjaan."
Alin memutar kursi Zahra sehingga mereka berhadapan. "Sudah waktunya istirahat, ayo ke kantin. Pak Adam meminta draft itu direvisi setelah istirahat 'kan?"
"Tapi Alin ...."
"Permisi, Bu Zahra," seorang ob menghampiri dan membuat perkataan Zahra terpotong. "Ini ada paket, katanya makan siang untuk bu Zahra."
__ADS_1
"Dari siapa?" tanya Zahra.
"Kata kurir yang ngantar dari suami ibu."
"Ah manisnya." Alin yang berkata, "beruntung banget sih, Ra, kamu dapat suami yang amat manis." Alin mengintip isi dari kotak makanan yang diberikan Ob.
Zahra langsung menoleh ke arah kaca di mana saat itu juga Fatih tengah lewat dan mengangguk ke arah mereka.
"Kamu lagi hamil dan butuh nutrisi kan, Alin? Ini untuk kamu saja." Paper bag itu berpindah ke meja Alin sekarang. Jelas saja Alin langsung berbinar apa lagi makanan itu dibeli dari tempat makan yang terkenal mahal.
"Pak, tolong belikan ini di kantin ya," kata Zahra pada Ob itu sekalian memberikan uang tips.
Fatih menggelengkan kepala melihat tingkah istri keduanya. Zahra seperti ingin menguji kesabarannya. Namun bukan Fatih kalau menyerah sebelum mencoba. Dia yakin beberapa rencana yang sudah dia susun untuk beberapa waktu ke depan bisa meluluhkan kerasnya hati seorang Zahra.
"Fatih!" Seseorang menghentikan langkah Fatih sebelum lift terbuka.
"Demir?" Fatih menatap langkah Demir semakin dekat.
"Hei ada apa? Kenapa kau menatap seperti itu?" tanya Demir dengan senyum yang menyebalkan di mata seorang Fatih.
"Untuk apa kau datang ke kantor milikku?" tanya Fatih datar.
"Hei! Apa sopan santumu telah hilang? Berkata lah yang sopan, suka tidak suka aku ini kakakmu. Ah satu lagi, ini kantor ayah kita bukan hanya ayahmu."
Tangan Fatih terkepal, andai ini bukan di kantor dan tidak akan memancing kerumunan sudah tentu kepalan tangan itu akan melayang.
"Ayahku hanya memiliki satu istri yaitu Misha Andriana Akbar dan Misha Andriana Akbar hanya memiliki satu anak. Fatih Alan Akbar."
"Ya ya memang benar, yang tercatat di hukum negara hanya sebatas pernikahan itu. Nona Zahra," Demir memelankan suara ketika melihat perempuan yang dia kejar selama ini ternyata ada di perusahaan Fatih.
Demir menjentikan jari, "Mau makan siang bareng? Aku ingin mencoba makanan di dari salah satu resto yang ada di gedung ini."
Demir melangkah lebih dulu mengikuti langkah Zahra. Tingkahnya itu membuat darah Fatih semakin naik. Ah kenapa Demir tidak menghajarnya lebih dulu agar dia ada alasan untuk membalas.
Zahra yang niat awalnya tidak ingin turun akhirnya turun juga. Dia mengambil makanan pesanannya. Seperti biasa jika tidak ada Alin maka Zahra memilih untuk tetap duduk sendiri dan menikmati makan siangnya.
"Selamat siang, Nona Zahra!" sapa Demir membuat Zahra mendongak.
__ADS_1
Tentu saja perempuan itu terkejut melihat keberadaan pria yang selalu mengejar dirinya melalui Hayla. Yang lebih mengejutkan lagi kenapa Demir bisa bersama Fatih suaminya.