
Zahra menahan nafas melihat senyum menyebalkan di bibir sang suami.
"Silahkan duduk!" Dokter Friska memecah suasana yang lebih hero dari pada film triller.
Dengan setianya Fatih mendengarkan penjelasan dokter tentang kehamilan istri keduanya. Bahkan dia yang lebih antusias dan banyak bertanya. Walau pu. terlihat tidak akur tapi mereka kompak memikirkan air mata ketika mendengar detak jantung si janin.
"Usia kandungan sudah memasuki minggu ke 12, dan perkembangan juga cukup bagus. Terdengar jelas ya detak jantungnya," kata dokter yang tetap menggerakan trensducer di perut Zahra.
"Dok, apa istri saya perlu resign dari pekerjaannya?" pertanyaan itu dilontarkan ketika proses USG telah selesai.
"Bisa disesuaikam dengan kondisi kesehatan. Tidak semua ibu hamil itu harus bedrest, tiduran dan tidak melakukan apa pun. intinya diseseuaikan. Bila sudah merasa saya harus istirahat, ya istirahat. Begitu ya, Nyonya Zahra." Dokter Friska mengangguk dan tersenyum kepada Zahra.
Selesai mendapat penecarahan dari dokter, sepasang suami istri itu keluar. Fatih sigap membukakan pintu untuk sang istri dan membiarkan istrinya melangkah lebih dulu.
"Dasar," kekeh dokter Friska saat Fatih memainkan mata dan mengacungkan jempol.
Zahra berbalik badan dan menatap suaminya yang menyebalkan itu. "Tetap di situ! Aku tidak ingin terlihat jalan bersama."
"Lah kok begitu. Kita kan suami istri," protes Fatih.
"Tunggu aku sampai di tikungan itu baru kamu melangkah," kata Zahra kembali emlangkah meninggalkan Fatih.
Dokter Friska yang baru saja keliar dari ruang praktek kembali tertawa melihat tingkah kedua orang dewasa ini.
Langkah lebar Fatih membuat dia lebih cepat menyusul istrinya. Randi dan Hilal juga sempat bingung melihat ada Fatih di sana. Bukan kah tadi mereka sepakat untuk tidak menghubungi Fatih.
"Bukan dia yang menghubungi saya. Kalau pun saya berada di sini sekarang itu karena insting seorang suami siaga pada istrinya," ujar Fatih dengan mudah menjabarkan ekspresi kedua pria dihadapannya.
Randi mengangguk lega, pasalnaya dari ekspresi Hilal sudah jelas pria itu menuduh dirinya. Randi pun membuka-kan pintu untuk kedua majikannya.
"Duduk di situ saja, Lal. Taun Fatih tidak akan pulang bareng kita, iya kan?"
Fatih menggantungkan kakinya yang hampir menapaki mobil saat mendengar ucapan Zahra.
"Maaf ya, pintunya saya tutup," kata Zahra lagi, menekan tombol untuk menutup pintu.
__ADS_1
"Tuan?" Randi kebingungan.
"Tidak apa-apa, pulang saja. Saya akan pulang bersama Sam." Fatih menepuk pundak Randi dan berbisik, "tetap memberi laporan bagaimana pun keadaan istri saya."
"Siap, Tuan."
Setelah Randi duduk di kursi kemudi, mobil pun meluncur meninggalkan rumah sakit juga Fatih. Pria itu tidak masalah ditinggalkan seperti ini, sikap Zahra yang jutek semakin memantik rasa cinta di dalam hatinya.
Menunggu Sam datang, dia menghubungi Stainer untuk memberikan shockterapy pada Hayla. Namun dari percakapan yang dia dengar tadi melaui sambungan dengan Randi, dia mendengar nama Demir. Apa mereka memiliki keterkaitan satu sama lain, begitu pikir Fatih.
***
Zahra tidak langsung pulang ke rumah. Dia mengajak adiknya untuk menikmati jajanan gerobak yang buka. Hitung-hitung mengenang kembali kebersamaan bersama kedua orang tuanya saat mereka masih hidup. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan ini.
"Lal, aku capek," kata Zahra menyandarkan kepalanya di pundak sang adik. Tangan mereka saling bertaut, jadi kalau dilihat dari jauh mereka terlihat seperti sepasang kekasih.
"Apa kita perlu mengakhirinya sekarang?"
"Aku rasa lebih baik seperti itu. Posisi sekarang itu sangat menyiksa, Lal."
Helaan nafas dari Zahra terdengar jelas. "Mungkin lebih baik terluka sekarang. Toh nanti atau pun sekarang pasti sama-sama terluka juga."
Hilal setuju, untungnya dia masih menyimpan rekaman percakapan mereka waktu itu. Kalau Fatih mengetahui niat awal Zahra menyetujui pernikahan adalah karena untuk balas dendam, pasti itu akan sangat menyakitkan bagi dia. Mereka pun pulang dan berniat mengakhiri semuanya besok.
Namun ketika mobil tiba di halaman rumah, baik Hilal mau pun Randi melihat bayangan di dalam rumah. Mereka saling lirik, sedangkan Zahra terlelap di kabin tengah sejak diperjalanan tadi.
***
Sejak Olla berlalu dari hadapannya, Sarah masih mematung di depan pintu. Namun teringat oada Tuhan awal dia pun segera memasuki mobil menuju rumah Rasya. Karena hanya dia orang yang dirasa paling solid oleh Sarah.
Tiba di sana dia langsung menceritakan kegundagan di dalam hatinya. Tidak sda yang ditutupi termasuk tentang dirinya dengan Demir.
Rasya menggelengkan kepala mendengar cerita Sarah kali ini yang dianggapnya ceroboh.
"Aku harus bagaimana, Sya?" Sarah menundukan kepalanya di atas meh bar milik Rasya.
__ADS_1
"Pusing aku menghadapi masalah kamu. Ceroboh, kenapa kami tidak kepikiran kalau Demir sendiri memiliki kepentingan. Kita tidak bisa membungkam dia kalau begini caranya." Rasya mengetuk-ngetuk jari pada meja. "Bisa jadi yang dikatakan istrinya itu benar.
"Aku tahu, makanya aku minta tolong sama kamu, Sya. Please, tolong aku."
Rasanya selalu direpotkan oleh Sarah, namun begitu dia pun tetap memikirkan solusinya.
"Sarah pernikahan kalian sudah tidak sehat, dipaksakan pun akan saling menyakiti. Aku tidak yakin Fatih tidak mengetahui perbuatanmu, dia memiliki orang-orang yang solid. Mungkin saja saat ini dia memang belum mengetahui tapi orang-orangnya? Ayolah berhenti bersikap konyol. Mending kamu tanyakan langsung pada Fatih, akan seperti apa pernikahan kalian. Aku pernah memberi saran agar kamu hamil tapi sampai saat ini kamu sendiri belum melepas IUD-nya.
"Fatih itu sangat menginginkan kehadiran seorang anak, kalau dia mengetahui dalang di balik kejahatan pada istri keduanya, bisa saja dia malah murka terhadap kamu. Lebih baik urungakan niat itu."
Sejak dulu Sarah memang sulit menerima saran yang bertengkar dengan keinginan hatinya. Begitu pun untuk saat ini, tanpa mencerna ucapan Rasya dia malah pergi begitu saja. Tanpa pamit, padahal ketika datang memohon-mohon pertolongan.
Rasya menggelengkan kepala. Sudah tidak heran lagi dengan sikap Sarah. Perempuan keras kepala yang saat ini meluncur menuju Bandung. Dia menginap di salah satu hotel dan masih memikirkan apa yang harus dia lakukan hari esok.
***
Misha menatap foto suaminya, tadi dia sempat mendengar percakapan menantu dan keponakannya. Yang awalnya berniat menemui Sarah karena belum sempat menemui permpuan itu setalah diberi tahu Fatih bahwa Sarah pernah tertekan karena permintaannya. Sayangnya dia harus mendengar fakta yang menjijikan.
"kenapa harus tabiat buruk yang kamu turunkan pada anak-anakmu. Demir terus bermain perempuan dan menyakiti Olla. Fatih ... dia juga. Anak-anak mu ...."
Seorang pelayan menghampiri dan memberi tahu adanya tamu yang berkunjung. Misha mengangguk dan menggempiri tamu-nya yang sudah menunggu.
"Apa yang kamu dapat?"
Pria dihadapannya mengeluarkan beberapa foto juga dokumen.
"Perempuan itu hamil, dan mereka sudah menikah meskipun hanya menikah kontrak. Perempuan itu adalah salah satu staf di perusahaan," jelas pria itu.
Misha memijit kening, pusing memikirkan anak laki-lakinya. Dia mengibaskan tangan meminta pria di hadapannya pergi.
Kembali ke rumah Zahra. Hilal dan Randi turun dari mobil dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Mengintip orang yang terlihat memasuki Zahra. Tubuh besar yang membelakangi jendela kaca, membuat mereka sulit mengenali pria di dalam sana.
Pria itu menatap tempat tidur Zahra dan mengambil foto yang terdapat di atas nakas.
Zahra bangun dari tidurnya, dia heran kenapa Hilal dan Randi malah mengintip melalui jendela. Dia turun untuk menghampiri adiknya. Dia yang tidak tahu apa-apa malah mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Ada apa, Hilal?"