Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
Episode tiga pulih lima


__ADS_3

Usai membayar di kasir Mathias mengajak Zahra untuk ngopi.


"Tenang, aku ajak kakakku kok. Kita gak jalan berdua aja," kekeh Mathias yang tahu Zahra pasti menolak. "Nah itu mereka." Mathias melambaikan tangan ke arah kakaknya.


"Kak, ini temanku Zahra. Ra, ini kakakku Friska."


Ternyata kakaknya Mathias adalah dokter Friska temannya Fatih juga. Dunia ini sungguh sempit. Zahra harus bertemu dengan orang yang itu-itu saja.


Zahra dan Friska saling menjabat tangan, mengangguk sungkan, kemudian melangkah ke sebuah kafe yang tak jauh dari mereka.


Semua itu tidak luput dari perhatian Fatih membuat perempuan di sampingnya merajuk.


"Kita ke sini untuk belanja sama liburan loh, Bukan untuk memperhatikan orang-orang yang tidak penting," kata Sarah.


"Iya maaf." Fatih menrorobg troli yang ditinggalkan istrinya.


Sementara yang sedang ngopi di kafe tengah tertawa akibat tingkah lucu keponakan Mathias.


"Jadi kalian dulu satu tempat kerja?" tanya Friska  sambil menyuapi anaknya.


"Iya, tapi tiga bulan yang lalu aku resign, Kak."


"Kenapa?"


"Karena ada seseorang yang memfitnahnya," ujar Mathias.


"Maksudnya, Mat?" tanya Zahra.


"Hari itu, saat kamu menemui pihak HRD aku melihat Alin menyenggol tas kamu dan isinya berjatuhan. Tak lama setelah itu group kantor menjadi ramai. Aku tahu kamu tidak mungkin mau membuka aib sendiri makanya aku curiga sama dia. Ternyata benar saat tas kamu jatuh dia memasukkan ponsel kamu ke dalam saku belezernya."


"Alin?" tanya Zahra seakan tidak percaya kalau perempuan itu yang tega membocorkan rahasianya. Tidak kepikiran kalau Alin akan bertindak sejauh itu hanya karena salah paham pada dirinya.


"Aku sempat mencari kamu untuk memberitahukan hal ini, tapi sayang sekali aku tidak tahu tempat tinggal kamu yang sekarang. Pas aku datang ke rumah lama aku hanya bertemu dengan bibi-mu."


Friska hanya mendengarkan siapa tahu nanti Fatih menemukan dan mencari tahu tentang Zahra. Otaknya seperti sudah terbang menjadi balik boks bagi Fatih.


"Sebenarnya kamu tidak perlu repot mencari tahu, toh hari itu aku sudah memutuskan akan resign."


"Bukan karena kamu resignnya sih, tapi maaf waktu itu aku melihat kamu bertengkar dengan Mr. fatih"


Zahra mengangguk sungkan, malu rasanya ketika ada orang lain yang mengetahui kejadian itu.


***


Zahra menolak saat Mathias menawarkan untuk mengantarkan dirinya pulang. Dia memilih menggunakan angkutan umum. Mathias juga tidak bisa memaksa karena bukan siapa-siapa.


"Kalau feeling kakak tidak salah sepertinya kamu menyukai perempuan itu?" tanya Friska di perjalanan menuju rumah.

__ADS_1


"Memang, hanya saja aku menyadari kalau tembok penghalang di antara aku dan dia itu menembus sampai langit ke tujuh. Sulitttttt."


"Kan salah satu dari kalian bisa mengalah. Mengikuti salah satu keyakinan yang paling kuat. Misal."


"Aku merasa terlihat buruk aja kalau harus pindah keyakinan hanya karena perempuan, Kak."


"Begitu? Oke, oke lalu kapan kamu akan menikah? Sudah tidak muda lagi loh kamu. Harusnya sih sudah memiliki dua atau tuga anak," tanya Friska.


Mathias hanya tertawa sambil terus mengemudikan mobil. Dia terlihat santai ketika menghadapi pertanyaan kapan nikah. Sudah sering dipertanyakan jadi dia sudah kebal. Tidak lagi tersinggung atau berpikir berlebihan.


Sampai di rumah Friska dikejutkan oleh tamu yang tidak diundang. Tamu yang datang saat membutuhkan informasi dari dia. Siapa lagi kalau bukan Fatih.


"Astaga Fatih, bisa kan kalau mau datang kasih kabar lebih dulu. Kalau kamu datang secara tiba-tiba seperti ini orang akan mengira kalau aku adalah simpanan kamu," omel Friska yang menurunkan putrinya dari pangkuan dan memintanya bermain dengan pengasuhnya.


Mathias sendiri tidak bertemu Fatih karena pemuda tampan itu dapat telepon dari salah satu temannya.


"Kenapa kamu tidak memberitahu-ku tentang kehamilan Zahra? Bahkan kalian terlihat sangat akrab dengan ngopi bersama." Fatih menyilangkan tangan bersedekap di dada.


"Ck, Aku bertemu dia lagi baru tadi, itu pun karena Mathias. Soal kehamilan aku tidak mengetahuinya karena sudah tiga bulan dia tidak datang memeriksa kandungannya. Aku pikir karena kamu yang melarang dia memeriksakan kandungan di tempatku. Ternyata aku baru tahu kalau kalian sudah berpisah."


"Aku kelepasan mengucap talak waktu itu. Baiklah karena kamu tidak mengetahuinya jadi aku pulang saja."


"Kebiasaan, belum apa-apa kamu langsung pergi saja. Aku punya informasi yang mungkin kamu butuhkan tentang Zahra."


Fatih kembali duduk menunggu teman semasa kuliahnya berbicara.


"Tapi itu memang faktanya. Sebelumnya dia juga sudah mengatakan itu berkali-kali. Bukti juga ada di ponselnya."


"Ck, sekian bulan kamu bersama dia ternyata tidak membuat kamu memahaminya. Katanya cinta tapi malah buta. Bukan dia pelakunya, tapi Alin. Entah siap Alin itu tapi Mathias bilang digantung menyebarkan foto-foto kalian. Detailnya kamu bisa cek CCTV di ruang kerja Mathias."


Fatih tertegun, kemudian dia bangkit dan meninggalkan Friska tanpa mengucapkan terima kasih. Dia menghubungi Sam untuk memeriksa arsip CCtv beberapa bulan yang lalu. Hasilnya membuat dia benar-benar menyesal.


Dia arahkan laju mobilnya menuju tempat tinggal Zahra, namun ponsel di sakunya berdering dari Sarah.


"Kamu di mana?" tanya Sarah dari seberang sana.


"Di mobil, ada apa?"


"Kamu lupa ya mau menemani aku jalan-jalan. Aku lagi ngidam loh. Kasihan anak kamu kalau nanti pas lahir dia ileran terus. Aku tunggu kamu di apartemen ya." Sarah langsung mematikan sambungan tanpa menunggu Fatih menjawab lebih dulu.


Sarah tahu kalau Fatih mengarahkan mobilnya ke arah tempat tinggal Zahra. Dia mengetahui itu karena memasang alat pelacak di mobil milik suaminya.


Tak lama pintu apartemennya berbunyi, Sarah langsung membukanya karena mengira yang datang adalah fatih-suaminya. Akan tetapi yang datang malah Demir.


"Hai!' Pria itu menyeringai, "kok kaget begitu. Bukankah kita sudah sering melakukan ini?"


Sarah mendorong tubuh Demir yang sudah masuk. Gawat kalau sampai Fatih memergoki mereka.

__ADS_1


"Ayo lah Sarah, aku sedang membutuhkan kamu. Wanginya." Demir malah mendekap tubuh Sarah dan mengendus bagian leher jenjang Sarah.


"Demir, please. Sebentar lagi Fatih datang." Sarah memberontak memukuli dada yang selalu menjadi pelariannya saat diabaikan oleh Fatih.


"Oke." Pria itu melepaskan tubuh Sarah, "kabari kalau dia sedang tidak ada. Ingat Sarah kita harus saling menguntungkan kalau kamu tidak ingin rugi sendiri."


Fatih tiba di apartemen. Dia membawa makanan yang diminta Sarah. Saat pintu lift terbuka dia berpapasan dengan dengan Demir yang hendak masuk.


"Ck, emang dasar adik kakak selalu saja bertemu. Dunia memang menginginkan adik kakak ini selalu bersama," kekeh Demir tidak ditanggapi oleh Fatih.


Fatih mulai curiga pada istri dan saudara tirinya. Dia memerintahkan Sam untuk mencari tahu, namun ketika di hadapan Sarah dia tetap menunjukan sikap manisnya.


"Pesanan kamu." Fatih tersenyum dan menyodorkan makanan yang dia bawa saat Sarah membuka pintu.


Perempuan itu berhambur ke pelukan suaminya dan menunjukan ekspresi bahagia. Padahal di dalam hati dia merasa waswas takut kepergok.


Fatih membalas pelukan sang istri, tanpa istrinya ketahui bahwa dia tengah mengendus aroma lain yang tentunya bukan aroma parfum yang sering digunakan Sarah. Bukan juga parfum dirinya.


"Barusan aku bertemu Demir, apa dia tahu kita menginap di sini?" Fatih mengajak istrinya duduk. Dia juga mengambil piring dan menuangkan makanan yang dia beli lalu menyuapi istrinya.


"Demir?" Sarah pura-pura terkejut. Akan tetapi gerak mata yang liar tidak bisa menyembunyikan kebohongan.


Fatih mengangguk tetap tersenyum.


***


Hati memang kadang sulit dikontrol. Ketika seorang Zahra tengah berusaha mengubur perasaan yang tak biasa pada Fatih, semesta justru mempertemukan mereka kembali. Mengharapkan getar yang berusaha dinormalkan.


Tatapan penuh cinta itu masih dapat Zahra lihat dari seorang Fatih. Ia sendiri tidak memungkiri bahwa hatinya berdesir ketika kembali bertemu tatap. Rasanya ingin sekali mendekap tubuh tegap dengan sorot mata tajam itu. Namun apalah daya, jangankan sekarang ketika talak telah jatuh atasnya, dulu ketika masih menjadi sepasang suami istri pun perasaannya tetap lah terlarang.


Hilal yang baru pulang berdehem mendapati kakaknya tengah melamun sambil mengusap perut.


"Hilal?" Zahra menoleh, "kok tidak mengucap salam?"


"Emh berati kakak lagi melamun sampai tidak mendengar aku mengucapkan salam. Hayo memikirkan siapa?"


"Kenapa ya, Lal. Perasaan itu semakin berusaha dilupakan malah semakin menjadi. Kebaikannya selalu dominan membayangi." Zahra membetulkan bantal yang dijadikan tempat bersandar.


"Kalau begitu ingat saja keburukannya." Hilal menatap wajah kakaknya yang gelisah. "Ada apa?"


"Dia tahu kakak masih hamil."


Saat saling menatap. pintu rumah terdengar diketuk.


Zahra yang paling dekat dengan pintu langsung membukanya. Namun dia tutup kembali ketika tahu siapa yang datang.


"Zahra kita perlu bicara." Fatih berteriak dari luar rumah.

__ADS_1


Zahra menggelengkan kepala tanda dia tidak ingin Hilal membuka lagi pintu.


__ADS_2