
Zahra mencari Alin ke tempat bekas pesta tapi tidak ada. Hanya ada beberapa petugas yang tengah membereskan sisa-sisa pesta.
"Mas semua orang sudah pada bubar?" tanya Zahra pada salah satu petugas.
"Sudah, Mbak, kurang lebih dari satu jam yang lalu."
Zahra menghela nafas, yang dia takutkan Alin akan minum-minum dalam keadaan hamil muda. Dia menyusuri toilet siapa tahu Alin ada di sana. Akan tetapi bahaya yang belum dia sadari semakin dekat. Di mana saat dia hendak melewati toilet pria, tangannya di tarik oleh Aldi dan temannya. Pria yang tadi mengikuti Zahra ikut mendorong tubuh Zahra dan mengunci pintu.
"Mau apa kalian?" sentak Zahra ketika Aldi semakin dekat dan menyudutkan dirinya ke dinding.
"Mau kamu, tubuh kamu dan semua yang ada pada dirimu, Zahra." Aldi hendak menyentuh pipi Zahra namun ditepis.
"Tidak akan ada yang menyentuh sebelum halal," kata Zahra.
"Kalau begitu ayo kita menikah. Beri aku kesempatan untuk menjadi orang spesial di dalam hidup kamu. Jangan so jual mahal atau kita ...." Aldi memainkan tangan menjilati bibir sendiri dan itu membuat Zahra bergidik jijik.
"Tidak perlu tawar menawar lagi Aldi, kita bertiga sedangkan dia sendiri. Sikat, Bro."
Meskipun Zahra tampak seperti perempuan lembut tapi dia bisa melawan. Ilmu bela diri yang dia pelajari semasa sekolah kini berguna di kehidupan nyata. Dia mampu melawan tapi tentu tidak mudah melepaskan diri dari mereka.
Sepandai-pandainya Zahra melawan tetap tidak bisa menandingi tiga tenaga pria. Dia kalah dan tersudut ke pojok ruangan.
Aldi menyeringai, "kalau kamu tidak melawan, maka kamu tidak akan terluka. Kita bisa bermain tanpa saling melukai," kata Aldi persis di depan wajah Zahra.
Tawa dari ketiga pria itu menggoyahkan keberanian Zahra. Dia mulai panik apalagi ketiga pria itu mulai melepaskan sabuk.
Salah satu pintu kamar mandi terbuka. Fatih muncul dari sana. Dia yang tidak biasa mabuk harus nyangkut di kamar mandi ketika Bram meminta dia mencicipi minuman yang mengandung Alkohol. Padahal hanya satu tegukan tapi membuat dirinya oleng.
Satu keberuntungan saat Fatih datang diwaktu yang tepat untuk Zahra.
"Sama satu perempuan kok harus keroyokan," kata Fatih dengan bibir mengejek.
__ADS_1
Berkat pertolongan fatih, akhirnya Zahra selamat. Namun itu tidak menyelamatkan Zahra dan bayaya yang sesungguhnya.
Di mana pada akhirnya mahkota Zahra justru hilang di tangan Fatih Alan Akbar. Maksud hati ingin berterima kasih dengan cara mengantarkan Fatih ke kamarnya justru disitulah bahaya terjadi.
Fatih yang sudah lama memperhatikan Zahra di tambah posisi tubuh mereka yang begitu dekat mengakibatkan Fatih khilaf. Zahra sudah berusaha melepaskan diri tapi kali ini dia harus mengalami nasib malang.
Dia bangkit dengan perasaan hancur, hanya rasa sakit dan air mata serta malam sunyi yang menjadi saksi kehancuran seorang Zahra. Apa yang sangat dia jaga harus terenggut oleh pria yang bukan suaminya.
sedangkan Fatih langsung terlelap setelah melepaskan hormon testosteron.
Meskipun tubuhnya sudah dibersihkan tetap saja dia merasa kotor dan malu, tapi menangis dan meratap tidak membuat dia menemukan solusi.
Hari sudah menunjukan pukul tiga dini hari dan Zahra belum tidur sama sekali. Dia mencari informasi kantor polisi terdekat. Setidaknya ketika kehormatan dia sudah hilang tapi dia tidak kehilangan keadilan.
Dia melaporkan kejahatan Aldi dan kedua temannya termasuk tindakan asusila yang dilakukan Fatih pada dirinya. Malu memang tapi diam saja juga tidak benar.
Petugas kepolisian memproses laporan Zahra setalah mendapatkan hasil visum. Sedangkan dia langsung diantarakan pulang ke Bandung ditemani komnas perlindungan saksi dan korban.
Fatih terbangun kala sinar matahari mulai menerobos melalui celah gorden. Dia terbangun karena mendengar suara keributan di depan pintu kamarnya.
Dia tersentak kala melihat ada noda di atas tempat tidurnya. Namun dia baru menyadari kelakuannya setelah berdiam selama beberapa detik.
Zahra! Fatih langsung mencari perempuan itu di segala sudut kamarnya tapi tidak menemukannya. Gegas dia melepas sprei itu dan memasukannya ke dalam koper, sebab pintu kamar tidak berhenti berbunyi.
Bram bersama beberapa petugas penginapan terlihat di depan pintu kamarnya.
"Ada apa, Bram?" tanya Fatih tetap berusaha tenang.
"Tadi pagi aku mendapat laporan dari petugas hotel kalau kamu di serang tiga orang laki-laki," kata Bram. Tatapan matanya menyisir seluruh ruangan. Karena selain menadapat laporan itu dia juga menadapat laporan bahwa Fatih membawa Zahra ke kamarnya.
"Iya. Ini buktinya lebam di wajah," kata Fatih santai menunjuk cendra mata yang diberikan Aldi dan kawan-kawan. Dia menyadari kalau Bram mencurigai yang lain. Akan tetapi dia merasa tenang karena Zahra sudah tidak ada di kamarnya, tapi kemana perempuan itu.
__ADS_1
"Oke, aku hanya ingin memastikan keadaan kamu saja. Oh iya penerbangan kita jam sepuluh, siap-siap!"
Fatih mengangguk kemudian menutup pintu ketika Bram sudah ke luar dari kamarnya. Gegas dia membersihkan diri sambil terus memikirkan keberadaan Zahra.
"Aku akan tetap bertanggung jawab, Nona Zahra. Aku tidak akan membiarkan kamu menanggung malu seorang diri dan aku berharap benihku langsung tumbuh di rahimmu. Kamu dan benih itu akan menjadi milikku" gumam Fatih sambil mengguyur tubuhnya dengan air.
Kehebohan terjadi ketika Alin tiba di kamarnya dan tidak menemukan Zahra bahkan barang-barangnya sudah tidak ada di sana.
"Cari siapa," tanya Bram. Pria yang semalam mengahbiskan waktu bersamanya hingga membuat Zahra mencarinya dan mengalami musibah.
"Zahra tidak ada di kamar. Barang-barangnya juga sudah tidak ada," kata Alin.
"Ikut aku." Bram menarik tangan Alin menemui petugas hotel dan menanyakan siap yang bertugas sebelum pergantian jam kerja.
"Oh tunggu sebentar biar saya panggilan mereka yang masih di ruang ganti," kata petugas yang ditanyai oleh Bram.
"Salah satu pegawai kami yang ikut trip ini tidak ada di kamar. Barang kali di antara yang bertugas tadi malam ada yang melihat dia," kata Bram pada mereka yang bertugas tadi malam sambil menunjukan foto Zahra dari ponsel Alin.
"Oh kalau mbak ini saya melihatnya keluar dari penginapan sekitar pukul tiga dini hari, Pak. Dia juga membawa koper dan menanyakan kantor polisi terdekat."
Yang terpikirkan dalam benak Alin dan Bram mungkin Zahra tengah melaporkan penyerangan dari Aldi dan kawan-kawan. Namun tak lama beberapa petugas kepolisan datang dan menghampiri mereka.
"Selamat, Pagi. Kami mendapatkan laporan penyerangan kepada nona Zahra yang dilakukan sodara Aldi, Galih dan Ginanjar."
Bram, Alin dan yang lain langsung menatap ketiga pria yang dibawa oleh petugas kepolisian. Namun yang membuat mereka heran adalah saat Fatih juga harus ikut bersama mereka.
Semua orang bertanya-tanya kenapa Fatih sampai ikut dibawa. Tidak mungkin dong seorang Mr. Fatih terlibat dengan Aldi dan kawan-kawan.
"Fatih!" Bram menghentikan Fatih yang hendak masuk ke dalam mobil polisi.
"Aman, Bram, tapi tolong atur agar berita ini tidak sampai tersebar ke publik. Murni hanya kesalah pahaman. Aku percaya kamu adalah olah yang bisa dipercaya."
__ADS_1
Tentu saja karena Fatih juga menyimpan rahasia Bram dengan Alin.