
Wajar apabila Fatih merasa senang mendengar kabar baik tentang Sarah.
"Kapan kamu pulang biar aku menjemputnya?" tanya Fatih melalui sambungan telepon. Dia masih di rumah Zahra untuk menemani istri keduanya.
"Dua hari lagi, boleh ya. Aku akan memberi kabar kalau aku sudah siap pulang. Jangan lupa untuk menjemputku nanti."
"Pasti," kata Fatih sebelum menutup sambungan. Dia masukan kembali ponsel tersebut ke dalam saku. Kemudian menghampiri Zahra yang memejamkan mata karena merasa lelah setelah mual terus sejak tadi.
"Masih merasa mual?" pertanyaan Fatih membuat Zahra membuka mata.
"Sudah lebih baik, kalau anda mau berangkat, berangkat saja. Di sini kan ada Bi Sumi, saya bisa minta tolong sama dia." Untuk pertama kalinya Zahra tersenyum pada Fatih.
"Bisakah saya melihat senyum ini setiap hari?"
"Tidak. Anda harus ingat bahwa istri anda bukan hanya saya. Anda memiliki dua istri dan anda harus adil pada keduanya. Walau pun status saya hanya istri sementara tapi tetap statusnya anda poligami. Di mana banyak hal yang harus diperhatikan. Anda juga tidak perlu datang ke sini hampir setiap hari, ingat ada perasaan perempuan lain yang perlu dijaga."
"Apa saya harus membawa kalian dalam satu rumah agar melihat kalian secara bersamaan setiap hari?"
"Tidak banyak perempuan yang kuat berbagi suami dengan perempuan lain. Kata ayah saya dulu, memiliki satu istri saja pusingnya minta ampun. Apa lagi dua," kekeh Zahra. "Hanya orang-orang tertentu yang siap. Salah satunya orang yang memiliki tingkat keimannan yang sangat tinggi. Bukan seperti saya."
"Ya, tapi keadaan memaksa saya harus siap. Dari kamu saya banyak belajar, Zahra. Terima kasih sudah mau bicara panjang lebar dengan saya."
Ketukan pada pintu kamar membuat mereka menoleh bersama.
"Maaf tuan, ini sarapan untuk nyonya." Bi Sumi mengantarkan nampan berisi makanan walaupun ini sudsh terlalu siang untuk dikatakan sarapan.
"Terima kasih," ucap Zahra.
"Biar aku suap yai," kata Fatih memanfaatkan kesempatan. Soalnya kalau Zahra lagi full tenaga maka dia akan kewalahan. Kalau lemah seperti ini kan sikapnya manis banget. Jarang-jarang loh dia mau berbicara panjang lebar dengan Fatih membicarakan hal-hal seperti tadi, sejak kejadian malam itu.
"Aku hanya lemas, bukan tidak bisa makan," tolak Zahra.
"Ck, aku hanya ingin mewujudkan salah satu mimpi besarku saja. Menyuapi istri yang tengah hamil. masak bersama, mengajak main si kecil. Sederhana itu mimpiku. Please kali ini biarkan aku mewujudkan mimpi-mimpi itu."
"Aneh," balas Zahra tapi kali ini bibirnya tersenyum.
"Zahra ...." Fatih menarik nafas dalam sedangkan yang namanya dipanggil tengah menanti apa yang akan dikatakan oleh Fatih. "Aku mencintai kamu."
__ADS_1
Blush!
Zahra merasakan wajahnya menghangat. Baru kali ini dia begitu dekat dengan lawan jenis dan itu pun sudah menjadi suami. Tanpa bisa dicegah percikan-percikan rasa itu mulai muncul. Memberi getaran dalam setiap pembuluh darah.
"Aku tahu kamu tidak akan membalasnya, tapi aku ingin kamu tahu dan aku bisa mengucapkan kata cinta setiap hari," kata Fatih lagi.
Pintu kamar kembali diketuk, kali ini yang muncul adalah Sam.
"Maaf, Tuan. Hari ini anda ada pertemuan saat makan siang." Sam mengingatkan.
"Astaga, kamu benar-benar mengalihkan duniaku, Zahra. Sam aku akan bersiap, tunggu di mobil!" Dia kembali menatap Zahra, "aku berangkat ya. Kabari aku kalau terjadi sesuatu. Jangan sungkan."
Fatih bangkit setelah mendapat anggukan dari Zahra, tak lama dia kembali lagi ke kamar Zahra.
"Ada yang tertinggal?" tanya Zahra.
"Iya ada, boleh kan kalau kita bersikap seperti suami istri sesungguhnya?" Fatih balik bertanya.
"Aku tidak paham." Zahra mengedikkan bahu.
"Seperti ini," kata Fatih seraya mendaratkan kecupan singkat di kening Zahra. Pergerakannya sangat singkat karena sadar kalau terlalu lama Zahra akan menolak dan memaki.
"Istirahat, Sayang!" Fatih mengirim pesan dari dalam mobil.
***
Wajah ceria terlihat jelas dari wajah perempuan yang baru keluar dari bandara dan menghampiri Fatih.
"Kangen," bisik Sarah ketika mereka berpelukan.
"Aku juga." Fatih menjawil hidung istrinya. "Mau pulang ke rumah, apartemen atau liburan lagi?"
Sarah merajuk manja dengan memonyongkan bibirnya.
"Maksudku liburan bareng aku, ya seperti ke daerah pegunungan yang dekat. Mungkin puncak atau Bandung. Semakin dingin suhu udaranya maka semakin hangat kita," bisik Fatih mengajak sang istri masuk ke dalam mobil.
"Eemmm, Bandung boleh."
__ADS_1
"Pangalengan, Ciwidey, lembang, atau kamu punya referensi yang lain?" tanya Fatih saat mereka sudah berada di dalam mobil. Tidak lupa dia mengucapkan terima kasih pada Rasya dan Aluna yang menemani istrinya selama beberapa hari.
Sarahh membuka ponsel, mengetik destinasi wisata sekitar daerah Pangalengan dan Ciwidey.
"Pangalengan sepertinya bagus. Kita ke sana bagaimana?" tanya Sarah menunjukan beberapa foto dari internet.
"Boleh."
Fatih bernafas lega karena Sarah mau diajak liburan di daerah sekitar Bandung. Jadi dia bisa mencuri-curi waktu untuk melihat keadaan Zahra nanti. Padahal di kantor juga bisa 'kan?
Aneh rasanya ketika dia memiliki dua istri sedangkan dia hanya paham sedikit tentang ilmu poligami. Kadang-kadang dia pusing sendiri memikirkan harus apa dan bagaimana pada kedua istrinya
Mereka berangkat berdua, tidak ada bantuan dari asisten atau siapapun selain mengandalkan diri sendiri. Semua dilakukan benar-benar berdua.
Tatapan penuh rindu, penuh gelora untuk memupuk kembali cinta yang hampir pupus. Kamar penginapan di daerah dingin kini terada hangat oleh aktifitas sepasang manusia yang tengah membangun kembali romansa.
Tidak ada seorang Zahra, tidak ada minum-minuman dan tidak ada pendampingan. Deru nafas yang saling bersahutan memperjelas aktifitas mereka.
"Berapa lama kita di sini?" tanya Sarah setelah aktifitas mereka selesai.
"Senyamannya kamu. Suka gak di sini?" Fatih mengusap lembut pipi sang istri.
"Suka, Fatih ...."
"Ya?"
"Aku siap?"
Fatih mengerutkan kening.
"Kamu ingin kita punya anak, kan? Aku siap tapi kamu harus berjanji satu hal, tidak akan ada perempuan lain di antara kita. Tidak akan ada anak yang akan merebut kebahagiaan anak kita. Kalau sekarang sudah ada aku harap kamu melepaskannya."
Fatih mengangguk dan tersenyum.
"Kamu tahu kenapa selama ini aku takut memiliki anak?" Fatih menggelengkan kepala. "Itu karena aku taku tidak mamiliki waktu dengan kamu, tapi kita malah semakin jauh karena ketakutan itu. Aku siap dan kita akan tetap bersama."
Fatih dilema, semua sudah terlanjur terjadi. Mengatakan yang sejujurnya pada Sarah saat ini belum tepat waktunya. Perempuan itu baru stabil.
__ADS_1
"Kok diam?" Sarah mendongakkan kepala menatap suaminya.
"Bukan apa-apa. Mau makan sekarang?" Fatih mengalihkan pembicaraan. Untuk saat ini dia butuh tenang sebelum mengambil keputusan. Haruskah dia melepaskan Zahra?