Petualangan Si Pembawa Cahaya

Petualangan Si Pembawa Cahaya
CH. 1 - Garis Darah


__ADS_3

Hutan Kalan, adalah hutan besar yang terletak membatasi kerajaan-kerajaan di pulau Cadmuk, satu dari tiga pulau suci di benua Ydaya. Menurut legenda, hutan itu adalah hutan yang diramalkan menjadi hutan yang membawa takdir baik. Suatu hari hutan itu akan menjadi hutan yang membawa kebaikan bagi seluruh benua Ydaya, tapi sekarang hutan itu malah menjadi hutan yang berisik, orang-orang berlalu lalang melakukan pekerjaannya, yaitu membuat sebuah pelabuhan.


"Dasar tidak berguna! Kau seharusnya bisa bekerja dengan cepat! Kau kalah dengan adikmu yang masih kecil itu, dia bekerja lebih cepat daripada kau!" teriak seorang prajurit sambil memecuti seorang budak yang sedang duduk kelelahan.


 


Sore itu lebih bising dibanding sore-sore sebelumnya di hutan Kalan. Para budak disiksa dan dipekerjakan lebih keras untuk membangun sebuah pelabuhan didekat kerajaan Crescabes, yang terletak tak terlalu jauh dari situ. Banyak budak-budak yang dipekerjakan disana masih anak-anak. Para budak dewasa dipaksa untuk membangun proyek lain yang lebih penting dan sebagian dari mereka dipaksa untuk berperang membantu para tentara kerajaan.


Waktu itu sore yang cerah, angin berhembus menimbulkan suara daun-daunan dan suara air laut yang mengalir dengan lembut, membuat hutan itu menjadi tempat yang tenang, sayangnya sekarang ketenangan itu tidak lagi disana, sejak kerajaan Crescabes berperang dengan kerajaan New Vamor untuk merebutkan sebuah tambang besar dan rempah-rempah.


Seorang pemuda datang menghampiri prajurit yang sedang menyiksa seorang budak itu. Prajurit dan budak lain terlihat sedang sibuk mengerjakan tugas mereka, sehingga tidak menyadari kehadiran pemuda itu.


"Permisi tuan-tuan"


Seseorang berjubah hitam yang berumuran masih sangat muda, berdiri didepan si prajurit dan budaknya yang sedang disiksa. Dengan postur tegak dan tatapannya yang tajam membuat pemuda itu terlihat seperti seorang ksatria.


"Siapa kau? Area ini tidak untuk tempat bermain, pergilah!" teriak si prajurit


"Tenang, aku tidak membawa masalah bersamaku. Apakah budak-budakmu dijual?" tanya pemuda itu dengan wajah yang serius, membuat wajah si prajurit bingung.


"Apa? Budak-budak ini tidak dijual. Mereka adalah budak-budak kerajaan yang hanya boleh dipekerjakan untuk kepentingan kerajaan saja, lagipula anak kecil sepertimu apakah mampu untuk membeli budak-budak ini?"


Seketika wajah si pemuda terlihat kesal. Dia lalu membujuk si prajurit.


"Dengarkan aku prajurit" katanya berbisik


"Aku hanya akan membeli sebagian kecil dari budak-budakmu disini. Aku akan membeli mereka yang masih muda saja. Aku sudah menyiapkan beberapa keping emas untukmu, tidak akan ada yang menyadari jika beberapa budak hilang, bukankah begitu?" bisiknya


"Oh iya, aku juga akan membeli budak yang sedang kau pukuli, orang seperti itu tentu tidak akan menjadi masalah jika dia menghilang ya kan?" tanyanya sambil tersenyum


Si prajurit berpikir sejenak, dia melihat kantung emas yang anak remaja itu ayun-ayunkan, dan mendengarkan gemerincing emas didepan wajahnya. Si prajurit lalu menerima tawarannya.


"Hanya jika kau tidak memberitahu siapa-siapa," kata si prajurit sambil membawa kantung emas itu dengan sembunyi-sembunyi.


"Bawalah anak itu dan kedua adiknya, kau bisa tanyakan itu kepada anak itu nanti. Dan ingat, bawalah mereka secara sembunyi-sembunyi. Kembalilah beberapa jam lagi saat kami istirahat, atau tunggulah disini, jangan terlalu dekat dengan pelabuhan atau kau akan kami jadikan budak."

__ADS_1


Pemuda itupun membungkukan badannya, lalu berbalik dan melangkah pergi dari situ. Dia berjalan kearah hutan, dan duduk di sebuah batang kayu besar yang terletak tidak jauh dari pelabuhan. Dia mengamati para budak yang sedang bekerja, khususnya seorang laki-laki seumurannya yang tadi disiksa oleh salah satu prajurit penjaga. Anak itu terlihat lelah, wajahnya pucat dan bersusah payah untuk bernafas. Dia bertugas mengangkut kayu-kayu dari arah hutan dan mengantarnya ke pelabuhan, kadang dia berhenti di jalan dan duduk karena terlalu lelah.


Hari sudah mulai gelap. Udara menusuk lebih dingin dibanding dengan sebelumnya, terdengar suara kodok dan jangkrik dari arah hutan, menandakan malam akan datang dan waktu mereka untuk segera beristirahat. Pemuda itupun bangun, setelah lama duduk menunggu disana akhirnya dia berjalan menuju ke budak tadi, yang tengah memeluk adik laki-lakinya yang masih kecil sambil menahan tangis, dia mengelus kepala adiknya dengan lembut. Prajurit tadi yang sedang duduk lalu bergegas berjalan menuju arah si pemuda, dan membisikkan sesuatu kepadanya.


Aku akan mengalihkan perhatian prajurit yang lain, setelah kami berbalik badan bawalah mereka berdua pergi dari sini." bisik prajurit itu. Wajah si pemuda lalu berubah, dia kebingungan dengan apa yang dikatakan si prajurit.


"Kau bilang dia mempunyai dua adik, mana yang satunya lagi?" tanya pemuda itu, sambil memasang wajah kesal


"Jika kau tidak memberiku adiknya yang satu lagi, aku akan memberi tahu penjaga lain jika kau berusaha untuk menipu mereka dan menjual budak-budak kerajaan ini dengan illegal." pemuda itu mengancam si prajurit seolah-olah dia sedang berbicara pada teman seumurannya. Si prajurit lalu menengok kearah kanan dan kiri karena kesal, dia berpikir untuk sejenak.


"Dan jangan berfikir jika kau tidak akan kena batunya juga. Hukumanmu akan lebih parah dariku, kau tahu itu kan?" kata si prajurit itu sambil membungkukkan badannya ke arah si pemuda, dia pun tersenyum sinis. Terlihat dia sedang memikirkan sebuah kelicikan.


"Oh iya, aku lupa mengenalkan diriku, tuan penjaga," pemuda itu membuka kerudungnya, dan memperlihatkan wajahnya dengan jelas.


"Aku adalah Prince Baron Florent, anak dari Shira Florent, raja dari kerajaan Wimara," kata pemuda itu sambil meletakkan tangannya di dada, dan membungkukkan badannya. Dia lalu menunjukkan sebuah tanda di telapak tangannya, menunjukan dia adalah seorang bangsawan dari kerajaan Wimara, kerajaan yang besar yang terletak jauh di barat.


"Sepertinya kaulah yang akan mempunyai masalah besar jika ada sedikit kekacauan disini." kata pemuda itu sambil tersenyum. Seketika wajah si prajurit menjadi pucat, wajahnya yang licik kini berubah menjadi ketakutan setengah mati.


"A... Aku tidak tahu jika kau adalah Baron, ma... Maksudku pangeran Baron. Baiklah.. Aku akan mengantarkan adiknya kepadamu nanti. Kemana aku harus membawanya, tu.. Tuan?" pemuda itu tersenyum, melihat reaksi si penjaga yang berubah drastis.


"Sekarang aku akan membawa dua anak malang itu, kau alihkan perhatian penjaga yang lain dan aku akan pulang bersama mereka. Dan jangan lupa, lakukanlah apa yang aku katakan tadi, atau sesuatu akan terjadi disini dan akan membuatmu bermasalah."


Si prajurit lalu bergegas melaksanakan perintah si pemuda itu, dia mengalihkan pandangan kedua penjaga lain didaerah itu dengan lihai. Saat mereka menatap kearah lain, si pemuda lalu menghampiri kedua budak yang sedang membereskan tempat kerjanya.


"Ikuti aku, cepat!" kata si pemuda itu dengan tegas sambil menarik tangan budak yang lebih tua. Kedua budak itupun menurutinya, seolah-olah mereka berpikir bahwa pemuda itu adalah salah satu dari prajurit yang memperkerjakan mereka. Merekapun berjalan dengan langkah yang cepat ke arah hutan. Tidak jauh mereka melangkah, seseorang dari prajurit mengikuti mereka.


"Berhenti disana kau tikus pencuri!" teriak penjaga itu sambil mengacungkan anak panah kearah si pemuda. Dia terkejut karena tidak menyadari penjaga yang ada di sekitaran hutan.


"Tenang-tenang penjaga. Aku tidak membawa masalah disini, aku ditugaskan untuk membawa mereka ke kota dengan aman, jadi kau pergilah atau kau akan bermasalah." kata pemuda itu, dia selalu meletakkan tangannya di saku yang terhalang oleh jubahnya yang panjang, dia memegang sesuatu disana. Sedangkan kedua budaknya sembunyi dibalik pemuda itu.


"Kau pikir aku bodoh? Berlututlah sekarang atau kau aku...." pemuda itu melemparkan sebuah pisau dari balik jubahnya, tepat mengenai leher si penjaga. Si penjaga itupun lalu terpental kebelakang dan menembakan panahnya kearah kaki si pemuda. Tapi dengan cepat dia menghindarinya, sehingga panah itu menancap ke tanah.


Penjaga yang lain dengan spontan melihat ke arah hutan, dimana letak suara teriakan pemanah itu berasal. Si pemuda lalu bergegas membawa kedua budak itu lari kearah hutan yang gelap. Mereka lari dengan kencang, si pemuda menggendong adik si budak dan lari dengan kecepatan yang sangat cepat. Pemuda itu lari berbelok belok seolah\-olah dia tahu kemana dia akan pergi, meskipun di hutan yang gelap gulita dan permukaan tanah yang basah, dia masih ingat kemana dia akan membawa para budak itu.


__ADS_1


Merekapun berhenti disebuah rumah kayu yang terletak jauh dari kerajaan. Mereka berada disebuah kampung kecil yang tidak termasuk dikerajaan manapun, yaitu kampung Foragar. Kampung indah itu terletak didalam hutan Kalan yang luas, kampung itu dialiri dengan sungai dan dekat dengan kampung lainnya yang lebih besar, yaitu kampung Mofur, kampung para pemancing.


Si pemuda itu lalu membawa kedua budaknya kedalam rumah kayu yang berukuran sedang. Mereka masuk secara sembunyihsembunyi, meskipun waktu itu diluar cukup gelap dan sepi pemuda itu tetap mengendap-ngendap untuk masuk kedalam rumah itu. Mereka masuk dan berada di ruang tengah, ruangan terang yang diterangi oleh cahaya lilin dan bau-bauan yang harum, membuat ruangan itu menjadi ruangan yang nyaman bagi mereka untuk beristirahat.


"Kalian beristirahatlah disini, aku akan menyiapkan makanan dan air untuk kalian mandi." ucap pemuda itu sambil mengelus kepala budak yang masih kecil. Diapun lalu berjalan pergi.


"Tunggu! Siapa kau? Bukankah para penjaga itu akan kesini dan mencari kita? Aku tidak mau dihukum mereka karena disangka kabur!" teriak budak yang lebih tua dengan panik, si pemuda hanya tersenyum.


"Aku adalah seseorang yang dikirim tuhan untuk menyelamatkan kalian. Dan jangan khawatir teman, mereka tidak akan menemukan kita disini. Tidak ada yang melihat kita kesini dan tidak akan ada yang bisa melacak kita meski seorang detektif sekalipun" katanya sambil tersenyum, lalu pergi ke arah dapur.


Keesokan harinya, seseorang mengetuk pintu rumah tersebut. Kedua budak yang tidur di ruangan yang sama, terbangun setelah mendengar ketukan itu, terlihat panik diwajah mereka.


"Sembunyi!" kata budak itu kepada adiknya.


Sementara itu, si pemuda yang duduk diruang tengah terbangun dari duduknya, dia memang sedang menunggu seseorang. Dia lalu membuka pintu yang tidak terkunci itu dengan pelan-pelan, dan melihat seseorang yang tinggi menjulang, dia membawa tongkat kayu dan memakai pakaian abu-abu rombeng layaknya seorang gembel, topinya yang besar menutupi sebagian wajahnya dan jenggotnya yang putih panjang memperlihatkan bahwa dia adalah seorang penyihir.


"Ramon Awaru! selamat datang teman, masuklah!" kata pemuda itu sambil tersenyum. Lalu penyihir itu masuk, tubuhnya yang tinggi membuatnya harus membungkukkan badan untuk melewati pembatas pintu, dia berjalan dan duduk di kursi yang sudah disiapkan si pemuda.


"Mana mereka, Baron?" tanya Ramon sambil mengamati ruangan sekitarnya.


"Mereka sedang sembunyi. Mereka berfikir kau adalah prajurit yang akan membawa mereka. Tapi tunggu sebentar, akan aku panggil mereka" pemuda itu lalu berjalan menuju ruangan si budak.


"Keluarlah tuan-tuan! Seseorang yang spesial sedang menunggu kalian di ruang tengah. Pergilah kesana dan lihat dia!" kedua budak itu lalu keluar dari lemari dengan pelan-pelan, melihat wajah pemuda itu dengan wajah bingung, sedikit kesal


"Aku rasa kau sedang berbual. Kami tidak mempunyai orang yang spesial. Apa yang sebenarnya kau inginkan dari kami? Biarkan kami pergi, aku mohon" ucap budak yang kecil dengan nada pelan memohon.


"Apakah mungkin yang kau maksud adalah kakak perempuan kami, Ally?" tanya budak yang lebih tua sambil melangkah keluar dari lemari.


"Ayolah, jangan membuang-buang waktu, dia sedang menunggu!" kata pemuda itu, dia lalu memegang tangan si budak dan membawanya keluar ruangan. Adiknya mengikuti dari belakang.


Ketika mereka diruang tengah, penyihir tua itu terkejut, dia mengangkat kedua alisnya dan terlihat ekspresi terkesan diwajahnya. Dia mengacungkan tongkatnya, tongkat tersebut bersinar, lalu sebuah tanda dileher kedua budak itu ikut bersinar.


"Sempurna! Sekarang kemarilah, kedua anakku!" penyihir itu lalu berjalan dengan senang menuju kedua budak itu dan memeluk mereka dengan erat. Wajah kedua budak itu bingung, mereka bertatap satu sama lain.


- End of Chapter :)

__ADS_1


__ADS_2