Petualangan Si Pembawa Cahaya

Petualangan Si Pembawa Cahaya
CH. 8 - Hernand Yang Hilang


__ADS_3

Setelah lama berjalan mengikuti jalan setapak itu, Levin dan wanita itu akhirnya menemukan sebuah desa yang cukup besar dihadapannya.


Levin melangkah menuju desa itu sambil menggendong wanita itu dipundaknya. Kakinya mulai lemas setelah dia sampai di desa itu, tapi dia tetap memaksakan untuk tetap berjalan, mencari orang yang dapat mengobati wanita itu.


Saat itu orang berkeliaran dimana-mana, banyak pedagang dan pembeli sedang cekcok mengobrolkan bisnisnya, hanya sedikit orang saja yang memperhatikan Levin dan wanita yang bercucuran darah itu, sisanya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Lalu seorang anak kecil yang sedang bersenderan di tembok berlari mendekati Levin.


"Ikuti aku tuan! Luka wanita itu terlihat parah, aku tahu orang yang dapat mengobatinya." kata seorang anak kecil kepada Levin, dia menunjuk ke arah suatu tempat dan lalu berlari kearah itu. Levin hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang.


"Masuklah! Dan jangan terlalu mengkhawatirkan pacarmu, dia akan baik-baik saja. Ayahku adalah orang yang ahli mengobati luka seperti ini!" kata anak kecil itu sambil tersenyum, lalu berlari meninggalkan mereka berdua.


Rumah itu cukup besar dan terletak di tempat yang cukup terbuka. Rumah itu terbuat dari kayu dan batu yang kuat, ketinggiannya mencapai sekitar kurang lebih enam meter ke atas. Levin lalu mendorong pintu dan memasuki rumah itu. Pemilik rumah yang sedang berjalan mondar-mandir lalu dengan spontan melihat kearah Levin.


"Oh ya tuhan! Demi gigi loch ness cepat baringkan dia disini!" kata sang pemilik rumah sambil menunjuk ke kasur disebelahnya.


"Dia mengalami pendarahan yang cukup parah, tapi jangan khawatir aku sudah ahli dalam hal ini. Aku akan memberinya obat aneste... Ya tuhan! Kenapa obat itu menghilang di saat seperti ini? Dan kemana si Hernand bodoh itu? Ayolah!" kata pemilik rumah itu sambil mengacak-ngacak lemarinya, dan lalu menuangkan beberapa cairan ke dalam satu botol.


"Maafkan aku tuan, mungkin anda harus menunggu disini sebentar. Aku mengirim pencari rempah-rempah bernama Hernand itu dan dia belum juga kembali sejak kemarin. Dia seharusnya membawa tanaman Vervel biru yang bisa mempercepat regenerasi luka seperti ini, tapi dia belum juga kembali. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan sekarang, mungkin pergi kepada si betina Safa itu. Semoga Kaliph mengutuknya!" katanya kepada Levin, sambil membersihkan luka-luka wanita itu.


"Apakah aku bisa membantumu tuan? Kau terlihat sedikit kacau. Aku akan mencari tanaman itu dan memberikannya kepadamu, tinggal beritahu saja letaknya dimana, atau mungkin kau ingin aku mencari Hernand?" tanya Levin sambil membawa perban di salah satu meja disana dan membalutkannya ke tangannya.


"Apa? Tidak tidak, kau tidak harus merepotkan dirimu sendiri. Kau terlihat sangat lelah tuan, beristirahatlah. Aku yakin aku bisa mengobati nona ini tanpa tanaman itu." kata pengobat itu sambil melakukan pekerjaannya.


"Ayolah... Bagaimana jika aku mencari Hernand, dan kau memotong bayaran pengobatan wanita ini? Aku hanya mempunyai beberapa keping silver bersamaku, biarkan aku bekerja untukmu sebagai biayanya." kata Levin. Si pengobat itu lalu terdiam sebentar, lalu berjalan ke arah Levin dan memegang pundaknya.


"Baiklah, jika itu maumu. Kau akan sangat membantu jika kau bisa menemukan si Hernand itu. Aku menyuruhnya untuk mencari rempah-rempah di danau Dalas, ke arah barat dari gerbang utama desa. Aku tidak tahu apakah orang itu masih berada di danau itu atau dirumah pacarnya, Safa, yang terletak tidak jauh dari danau itu. Aku rasa kau bisa menemukan petunjuk di dua tempat itu, tapi jika kau tidak bisa menemukannya, bawalah tanaman Vervel biru yang tertanam disekitaran danau itu, dan aku akan tetap memotong bayarannya." kata pengobat itu sambil memberi wanita yang sedang terbaring itu minum.

__ADS_1


"Baiklah, aku rasa aku akan pergi sekarang. Lebih cepat akan lebih baik." kata Levin, dia lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Levin lalu berjalan menuju gerbang utama di desa itu, yang terdapat dua patung elang disetiap sudut pintu gerbang itu. Terdapat jalan setapak kecil yang mengarah kearah barat, dia yakin jalan setapak itu mengarah ke danau Dalas, diapun mengikutinya.


Cukup jauh dia melangkah, dia melihat jajaran rumah-rumah dipinggiran jalan setapak itu. Dia melihat kanan kiri untuk mencari seseorang yang dia bisa tanyakan, yang manakah diantara rumah itu yang merupakan rumah Safa, pacar Hernand. Dia lalu melihat seorang ibu-ibu yang sedang menanam sesuatu di pot didepan rumahnya.


Levinpun mendekati ibu-ibu itu dan menundukan badannya.


"Selamat siang, bolehkah aku bertanya sesuatu? Dimanakah salah satu dari rumah ini yang dimiliki oleh Safa?" tanya Levin sambil tersenyum.


"Aku sendiri adalah Safa, ada apa?." kata wanita itu sambil mengangkat alisnya.


"Aku sedang mencari orang yang hilang, dia bernama Hernand. Apakah kau tahu dimana dia?" tanya Levin sambil membalas mengangkat alisnya. Wanita itu lalu terkejut, sampai-sampai dia menjatuhkan sendok tanaman yang dia pegang ke tanah.


"Ma.. Maafkan aku, aku pikir kau tahu kemana dia pergi. Aku tidak bermaksud untuk..." wanita itu lalu tergeletak pingsan ketanah. Seketika Levin bisa melihat seseorang sedang menengok kearahnya di jendela lantai dua rumah Safa, orang itu lalu terkejut dan menghilang dengan seketika. Setelah itu terdengar suara orang menuruni tangga dan membuka pintu rumah, orang itu lalu menghampiri Levin.


"Apa yang kau lakukan pada adikku Safa! Pergilah atau aku tancapkan sendok ini ketenggorokanmu!" teriak orang itu sambil mengacung-ngacungkan sendok tanaman milik Safa ke atas.


Orang itu berumur sekitar dua puluh lima tahunan, terlihat lebih muda dari Safa. Dia memakai jaket hangat yang belakangnya berbulu seperti bulu serigala, dia memakai celana yang aneh, yaitu celana ketat pendek seperti celana milik perempuan.


Levinpun meminta maaf kepada orang itu dan bergegas menuju ke sungai. Dia tidak menyangka Safa akan menjadi seperti itu. Diapun berjalan dengan lebih cepat, dia berkali-kali menengok ke arah belakang memastikan orang itu tidak mengikutinya dari belakang dan menancapkan sendok tanaman ke tenggorokannya. Levinpun sampai di danau Dalas, dan berjalan kearah danau itu.


"Ya tuhan, hari macam apakah ini. Pertama-tama gua itu, terus kurungan para bandit, sekarang orang gila yang menancapkan sendok ke tenggokoran orang." kata Levin sambil membasuh tangannya di danau.


"Aku rasa aku akan mencari tanaman biru itu dan membawanya ke si pengobat, aku tidak mempunyai petunjuk keberadaan si Hernand itu." kata Levin, sambil celingak-celinguk mencari tanaman Vervel biru di daerah danau. Dia lalu melihat sekumpulan tanaman yang biru di salah satu sudut sebelah utara danau itu, dia lalu berjalan ke tepian danau itu dan mengamati tanaman-tanaman itu.

__ADS_1


"Aneh, tidak ada bekas cabutan diantara tanaman-tanaman ini. Apakah Hernand memang pergi kesini?" tanya Levin sambil mencabuti tanaman-tanaman itu dan meletakannya di belakang saku celananya. Diapun berjalan kembali, dan kakinya terkusruk kedalam lubang yang cukup dalam di tepian danau itu.


"Apa-apaan? Orang gila macam apa yang menggali lubang disini?" teriak Levin sambil mencoba mengeluarkan kakinya dari dalam lubang. Dia lalu menepuk-nepuk celananya yang kotor dan melihat kedalam lubang itu. Terdapat benda kecil yang berkilauan didalam lubang itu, benda itu adalah sebuah koin emas.


Levin lalu menundukkan tubuhnya dan memasukan tangannya kedalam lubang untuk membawa benda itu. Dia lalu mengacungkan koin emas itu keatas, emas itu adalah emas model lama yang bergambarkan raja Jonathan, raja kedua kerajaan Livermore.


"Emas! Apa yang dilakukan emas ini di lubang itu? Tunggu, jangan jangan..." Levin lalu berhenti sejenak. Wajahnya terlihat kosong memikirkan sesuatu. Dia menatap tajam kedalam lubang itu dan berlari dengan kencang ke arah desa.


Levin lalu berhenti didepan rumah Safa dan mengetuk pintu rumah itu.


"Pergilah gembel! Kami tidak butuh pertanyaan-pertanyaanmu!" teriak seorang laki-laki didalam rumah itu. Levin lalu mengetuk pintu itu lagi.


"Keluarlah Hernand! Kau tidak ingin aku melaporkanmu atas harta karun itu kan?" teriak Levin dengan nada mengancam.


Terdengar suara seseorang berlarian dilantai atas, diapun pergi menuruni tangga dengan terburu-buru dan membuka pintu rumah.


"Ma.. Masuklah! Tolong jangan beri tahu siapa-siapa tentang emas-emas ini, ka.. Kami akan memberimu jatah! Kami janji!" kata Hernand, pria yang memakai jaket berbulu serigala itu.


"Dengan senang hati, Hernand si pencari rempah-rempah." kata Levin, yang lalu dia duduk dikursi diruangan itu. Hernand lalu menghampirinya.


"Bagaimana kau bisa tahu semua ini? Siapa yang memberi tahumu? Apakah kau seorang detektif?" tanya Hernand dengan suara pelan.


"Tidak ada yang memberitahuku, Hernand kakakku, dan aku juga bukan seorang detektif. Mungkin benarlah kata dewi Hartlova, bahwa untuk menyembunyikan suatu kelicikan itu lebih sulit daripada mencarinya, karena bau kelicikan terlalu menyengat sehingga dengan cara apapun menyembunyikannya, akhirnya akan tercium juga." kata Levin sambil tersenyum.


- End of Chapter :)

__ADS_1


__ADS_2