
Levin berdiri berpijak di tanah yang bermandikan cahaya mentari pagi itu. Dengan cepat dia menengok kebelakang dan mencari Llemas di danau, tapi dia tidak ada disana. Levin melangkah mendekati danau sambil mengeluarkan kristal ditangannya.
"Llemas? Apa kau mendengarku?" tanya Levin dalam hatinya. Indranya tidak bisa merasakan kehadiran Llemas dimanapun, tapi dia bisa merasakan kepingan kristalnya.
Levin melihat kebawah dengan kaget ketika dia merasakan kristal itu terinjak dikakinya. Dia mundur, kemudian kristal-kristal itu bercahaya dan menyatu satu sama lain.
"Llemas? Dimana dia?" tanya Levin dalam hati.
Merasus berjalan kearah Levin. "Levin... Kristal apa itu?" tanya Merasus sambil menunjuk kristal itu dengan wajah takut daripada bingung.
"Ini.. Mmm.. Ini kristal ayahku, aku tidak tahu kristal apa ini." ucap Levin sambil tersenyum terpaksa, dia lalu memalingkan pandangannya ke danau itu kembali. Danau itu menjadi tenang dan damai, energi berputar mengerikan disana sudah hilang, airnya datar tidak tergoyah sedikitpun.
"Aku... Bisa merasakan kekuatan besar didalamnya... Kekuatan yang pernah aku rasakan sebelumnya." ucap Merasus. "Bolehkah aku memegangnya?" mata Merasus menatap kristal itu seperti orang yang mabuk. Otot-otot wajahnya melemas dan suatu perasaan muncul menggebu-gebu di dadanya.
"Me.. Merasus?" tanya Levin sambil mundur kebelakang, sementara Merasus terus maju kearahnya dengan pelan seperti ditarik oleh sesuatu.
"Kau.. Baik-baik saja kan? Hei!" Levin mendorong Merasus sampai dia terjatuh saat dia hampir memegang kristal itu. Seluruh tubuhnya langsung melemas, dia menggeleng-gelengkan kepalanya ditanah.
"Kristal... Calemiara." ucap Merasus lirih sambil berusaha berdiri. Dia lalu mundur kebelakang sambil menatapi Levin tajam. Dia menyembunyikan tangannya kebelakang.
Merasus lalu tersenyum. "Maafkan aku Levin. Sepertinya aku terlalu kelelahan karena mana ku habis. Mmm, apakah kau akan pulang sekarang?" tanya Merasus dengan wajah sedikit merayu.
Levin menghela nafas lega. Dia lalu tersenyum kepada Merasus. "Iya, aku rasa aku akan pulang ke desa. Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan, apakah kau tahu kemana Llemas pergi?"
"Llemas? Monster yang didanau? Barusan saat kau fokus melihat ke mayat kadal itu aku merasakannya menyusut, saat aku melihat kearahnya dia berubah menjadi seorang gadis telanjang dan berlari setelah dia meletakkan sesuatu ditanah. Mungkin dia malu kepadamu, meskipun wajahnya lebih terlihat buru-buru daripada malu sih." Merasus tersenyum lagi, sekarang lebih manis.
"Berubah menjadi manusia? Bagaimana bisa?" tanya Levin dalam hati sambil melamun. Pelukan Merasus memecah lamunan itu dan membuatnya sadar sepenuhnya. Levin menatap kearah Merasus yang memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Levin menarik Merasus dengan paksa agar lepas. "A.. Apa yang kau lakukan Mera?"
"Mera? Wahh, ini pertama kalinya ada seseorang memanggilku dengan nama itu. Aku sangat senang." kata Merasus girang sambil memeluk Levin dengan lebih erat.
"Woi ka.. Kau sebenarnya kenapa?"
Merasus melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Levin sambil tersenyum manis. Wajahnya memang sangat cantik, matanya biru berkilau dan rambutnya pendek sedikit keriting. Bentuk wajahnya juga sempurna, senyumannya semakin memperindah estetika dan energi yang dia pancarkan.
"Kau tahu siapa aku Levin?" tanya Merasus dengan suara lembut.
Pipi Levin sedikit memerah. Bola matanya dibelokkan ke kiri karena malu. "Ka.. Kau Merasus kan? Memangnya kenapa?"
"Merasus adalah namaku, tapi apakah kau tahu siapa aku? Apa yang aku kerjakan dan dimana aku tinggal?"
"Ma.. Mana aku tahu... Aku baru sampai kesini."
"A.. Apa? Kenapa?"
"Aku merasakan sebuah takdir yang kuat dalam dirimu. Aku juga merasakan rasa aman dan kasih sayang yang dalam dihatimu. Aku hanyalah orang tidak berguna yang hanya menjadi sampah bagi warga desa sini, mungkin kita bisa bekerja sama untuk mengalahkan kejahatan-kejahatan dan menyelamatkan orang-orang. Bagaimanapun..." Merasus mengeluarkan sebuah pisau kecil dibalik jubahnya dan mengacungkannya kepada Levin sambil berlutut. "Inilah keputusan hidupku, jika kau menerimaku tolong angkat dan peluklah aku. Tapi jika kau menolakku, maka tusuklah aku menggunakan pisau ini."
"A.. Apa-apaan ini? Menampungnya mungkin akan membuat nyawanya terkena bahaya... Tapi, jika aku menolaknya aku harus menusuknya?" Levin kebingungan. "Akan beresiko bagiku dan baginya jika aku membawanya, perjalanpun mungkin akan lebih lambat. Aku rasa... Aku menolaknya."
Levin berjalan kedepan dan menggaruk lehernya. "Emmm, aku rasa... berhentilah bercanda Merasus... Ayo kita pulang saja."
Merasus terdiam sejenak, dia lalu mengangkat kepalanya dan menatap Levin sedih. "Aku rasa itu adalah penolakkan." katanya sambil merubah posisinya menjadi sila. Dia lalu membuka pisau kecil itu dari tutupnya. "Jika kau tidak ingin menusukku, aku rasa aku akan melakukannya sendiri." Merasus mengayunkan tangannya kedepan.
Dengan cepat Levin memegang pisau itu mencegahnya. "Ba.. Baiklah! Ta.. Tapi jangan salahkan aku kalau kau mati... Aku mempunyai tugas yang berbahaya kau harus tahu itu." Levin membawa pisau kecil itu dan tutupnya lalu mengamankannya.
__ADS_1
Merasus lalu merubah kembali posisinya menjadi berlutut. "Kau belum menampungku secara resmi." katanya sambil terdiam menghening.
"Apa? Kenapa?"
Merasus hanya diam. Dia tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya berlutut.
"O.. Oh iya, aku harus mengangkatnya dan memeluknya... Dasar betina sialan."
Levin maju perlahan ke wanita itu. Hatinya berdebar-debar dan wajahnya merah padam. Dia lalu membungkukkan kakinya dan mengangkat Merasus seperti seorang nelayan yang membawa jaring hasil memancingnya. Merasus memejamkan matanya, ekspresi wajahnya terlihat seperti seorang pengantin yang menyerahkan hidupnya kepada pasangannya. Levin merapatkan kedua bibirnya dengan erat dan menggelengkan kepalanya kecil.
"Terserah saja..."
Levin memeluknya dengan longgar dan sebentar.
"Sudahkah? Sekarang bisakan aku pergi ke desa?" ucap Levin bernada sedikit kesal.
"Aku? Maksudmu... Kita? Master?" kata Merasus sambil mencondongkan tubuhnya kedepan dan merapatkan kedua tangannya ke atas.
"Ayolah Levin... Clea lebih imut."
"Emm, Master... Karena sekarang aku adalah budakmu, aku akan melakukan apapun untukmu. Bahkan aku bisa menggendongmu ke desa jika kau mau." kata Merasus sambil berbalik dan menungging ke arah Levin. Levin menelan ludahnya, nafasnya mulai terasa berat dan kepalanya mulai kacau dengan pikiran-pikiran aneh.
"Aku akan pergi kesana sendiri!" teriak Levin sambil berjalan cepat ke arah desa. Merasus berlari membuntutinya.
"Aku mempunyai permintaan, bolehkah kau memanggilku Mera?" tanya Merasus.
Levin menggelengkan kepala kecil. "Terserah kau saja."
__ADS_1
- End of Chapter :)