Petualangan Si Pembawa Cahaya

Petualangan Si Pembawa Cahaya
CH. 12 - Hati Yang Penuh


__ADS_3

Levin berjalan keluar sambil menggendong wanita yang sedang tertidur pulas dipunggungnya. Sepertinya obat yang diberikan kepadanya sangatlah kuat, sehingga dia masih tertidur dengan lelapnya. Levin menanyakan ke beberapa orang disekitarnya tentang sebuah penginapan. Seseorang lalu memberitahunya, dia menunjuk ke arah sebuah bangunan yang merupakan sebuah penginapan sekaligus kedai minuman. Bangunan itu terletak tidak jauh dari rumah si pengobat itu, karena desa itu adalah desa yang kecil.


Levin berjalan ke arah penginapan itu, badannya sangat terasa berat karena energinya sangat terkuras di hari itu. Hari mulai gelap, Levin memasuki penginapan itu yang terdengar sangat berisik meskipun diluar, sehingga ketika dia masuk dia melihat banyak orang didalam.


"Oh lihat siapa yang datang? Seorang anak kecil dengan pacarnya yang sedang tertidur!" teriak seseorang yang terlihat mabuk di dalam kedai itu. Semua orang lalu menengok ke arah Levin. Seseorang yang sedang terduduk lalu berdiri dengan sempoyongan dan menunjuk ke arah Levin. Wajah orang itu sangat acak-acakan, topinya miring dan kumisnya yang lebat basah karena minuman.


"Afa yang kau makfut bofoh? Dia adalah feorang fenyihir! Semuanya dia afalah seorang fenyihir dengan hoblin!" teriak orang yang mabuk parah itu sambil terjatuh ke lantai. Semua orang disana lalu tertawa terbahak-bahak. Seseorangpun lalu membuka pintu, dia adalah sang bartender. Dia lalu menghampiri Levin.


"Maafkan kelakuan mereka tuan. Aku adalah pemilik kedai ini, adakah yang bisa aku bantu?" tanya bartender itu. Levin lalu tersenyum.


"Aku sedang mencari sebuah penginapan untuk beristirahat. Aku akan membayar dua keping emas untuk semalam." kata Levin. Si bartender lalu terkejut, dia lalu menunjuk ke arah sebuah pintu diruangan itu.


"Penginapan? Hmmm, baiklah, pergilah ke pintu itu, lalu pergilah lurus kedepan menyusuri lorong yang agak gelap lalu belok ke pintu putih di sebelah kiri. Sudah lama sejak terakhir kalinya seseorang datang kesini untuk menginap, sehingga ruangan itu sedikit kotor." kata bartender itu.


"Baiklah, terimakasih." Levin lalu berjalan ke arah pintu itu, beberapa orang disana mengamati gerak-gerik Levin, sebagian mereka melihat ke arah wanita itu dengan wajah yang jahil. Levin menyadari semua itu dan berjalan dengan lebih cepat.


Levin lalu membuka pintu ke sebuah lorong yang gelap, ruangan itu hanya di terangi oleh sedikit bercak cahaya lilin disana. Setelah itu dia melangkah ke depan, dia menggerak-gerakan tangannya keatas menyingkirkan sarang laba-laba yang mengerumuni atap ruangan itu. Dia lalu belok ke arah kiri, suara orang-orang mabuk itu mulai memudar, setelah itu dia membuka pintu sebelah kirinya dan masuk ke sana.


Ruangan itu tidak sesuai dengan ekspektasi Levin, yang merupakan kamar kecil kotor dan gelap. Ruangan itu ternyata lebih besar dan lebih bersih daripada yang dia pikirkan, ruangan itu juga memiliki tiga ranjang, mungkin dulunya ruangan itu adalah sebuah ruangan eksklusif khusus untuk orang-orang yang membayar lebih atau mungkin untuk tamu spesial.


Levin lalu meletakkan wanita itu di ranjang, dia masih tertidur. Levin menyalakan lilin-lilin yang ada di ruangan itu dengan korek yang sudah disediakan di pinggiran kamar, sehingga membuat ruangan itu lebih terang dari pada ruangan lorong dan kedai itu yang gelap mengerikan. Levin lalu mengunci pintu masuk ruangan itu dan loncat ke arah ranjangnya yang berada di tengah.

__ADS_1


"A.. Astaga. Aku tidak menyangka bisa se-melelahkan ini, padahal baru sehari." kata Levin sambil menguap. Dia lalu memejamkan matanya dan tertidur dengan lelap.


Di subuh hari menjelang fajar di kamar itu, wanita yang tadi tertidur sangat pulas terbangun, wajahnya terlihat segar dan energinya terpulihkan. Dia menengok ke kanan kiri kebingungan, dia mengamati ruangan itu yang remang-remang, dia lalu melihat Levin yang sedang tertidur dengan pulas.


"O.. Orang ini! Bukankah dia yang menyelamatkanku di kurungan itu? Dan.. Yang mengobati lukaku?" tanya wanita itu kepada dirinya sendiri dalam hati. Dia lalu mencoba untuk menggerakan kakinya yang terluka, tapi kakinya masih belum bisa dipakai untuk berjalan.


"Sial. Kenapa dia menyelamatkanku dikurungan itu? Apa yang dia inginkan sebenarnya? Aku rasa dia menyembunyikan suatu kejahatan, aku yakin itu." kata wanita itu, sambil memaksakan diri untuk berdiri, kakinya yang masih terluka tidak bisa menahan tubuhnya yang berat, sehingga dia terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang cukup keras yang membuat Levin terbangun. Dia terbangun dengan terkejut, dia mengucek matanya yang masih buram dan melihat wanita itu sedang terbaring dilantai.


"Astaga! Apa yang sedang kau lakukan disana?" teriak Levin sambil berdiri mendekati wanita itu.


"Aku sedang tidur disini! Tentu saja aku terjatuh bodoh!" balas wanita itu teriak kepada Levin, dia memegangi pahanya yang kesakitan.


"Seharusnya kau jangan bergerak. Beristirahatlah dulu. Kau masih perlu waktu untuk pulih sepenuhnya." kata Levin sambil mengangkat wanita itu kembali ke ranjangnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau pulih sepenuhnya. Kau tidak bisa pergi dengan keadaan seperti ini kan? Tapi jika perlu, aku rasa aku bisa mengantarkanmu kerumahmu." kata Levin. Wanita itu lalu terdiam, menyetujui perkataan Levin.


"Cih... O.. Orang sepertiku mana punya rumah. Keluarga saja aku tidak punya." katanya sambil menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca, dia mengingat kembali kenangan bersama ayah dan ibunya saat masih kecil. Tenggorokannya lalu terasa terganjal, matanya buram karena air mata yang mencoba untuk terjun mengalir dari matanya. Dia lalu mencoba untuk berbicara.


"Aku, adalah orang yang miskin sejak aku lahir. Aku dilahirkan dikeluarga yang sederhana, meskipun begitu kami sekeluarga dapat untuk hidup bahagia. Bukan hanya hidup miskin, aku juga hidup di lingkungan yang keras." wanita itu menjeda perkataanya, dia mengerutkan wajahnya menahan sakit di dadanya. Levin lalu duduk diranjangnya yang berada di tengah, dia mencoba untuk mendengarkan cerita wanita yang sedang kesedihan itu.


"Waktu aku berumur empat tahun, dan adikku yang waktu itu masih bayi, sekelompok bandit berbaju merah menjarah kotaku di Dreemor, kerajaan New Vamor. Mereka membantai ibu dan ayahku, para bandit itu membunuhnya tepat dihadapanku, mereka menggorok lehernya dan memaksaku untuk menyaksikannya. Itu adalah hal paling mengerikan seumur hidupku dan aku tidak akan bisa melupakannya. Lalu adikku, sayangnya aku tidak tahu apa yang mereka lakukan padanya, mungkin menyimpannya dirumah kami yang terbuat dari kayu dan membakarnya. Setelah itu aku diculik dan dibawa ke perahu besar mereka, saat itu mereka memperbudakku dan tubuhku dilukai oleh mereka."

__ADS_1


"Aku lalu diperjual belikan di pasar budak para bandit. Bandit-bandit di klan lain lalu membeliku dan melakukan hal yang sama seperti bandit sebelumnya, mereka mengerasiku, dan lalu menjualku kembali ke klan yang lain. Aku tidak sendiri disana, aku menemukan beberapa orang-orang yang bernasib sama sepertiku, kebanyakan dari mereka adalah perempuan. Tapi, tidak ada satupun dari para perempuan itu yang mempunyai hati, sebagian dari mereka mencoba untuk mendekatiku dan hanya memanfaatkanku untuk kepentingan mereka. Mereka hanyalah penipu, otak dan moral mereka hancur karena perbudakan itu. Dulu aku pernah diajak oleh orang yang aku pikir adalah temanku untuk membuat lubang di kapal dan kabur. Tapi kami ketahuan, perempuan ****** itu lalu menuduhku dengan lihainya, sehingga membuat para bandit itu percaya dan menghukumku. Mereka menyiksaku dengan cara ditenggelamkan, dipaksa untuk memakan bangkai, dan dilempari oleh batu panas ke punggungku sehingga menimbulkan bekas sampai sekarang." kata wanita itu sambil mencoba menahan air matanya.


"Suatu hari aku berhasil untuk melarikan diri, sebenarnya aku sudah beberapa kali lolos dari kapal mereka, tapi akhirnya mereka dapat menemukanku kembali, aku lalu disiksa setelahnya. Sampai waktu itu, aku melihat para bandit yang berseragam merah, persis seperti yang aku lihat saat aku kecil. Saat itu aku lalu mencoba untuk kabur dan mengikuti mereka, tapi para bandit dikapal itu melihatku dan mengerjarku. Saat itu aku mencoba untuk sembunyi di gua, dan saat itulah kau datang, tapi pakaianmu berbeda dan aku tidak memanahmu dengan panah yang aku curi di kapal. Tapi saat aku pergi dari situ, bandit yang bertubuh kekar melihatku dan berhasil menangkapku, mereka geram denganku yang tak henti-hentinya mencoba melarikan diri, dan mencoba untuk membunuhku di kurungan itu." kata wanita itu, dia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis. Levin menghampirinya, meletakan tangannya di kepala wanita itu dan mengelusnya. Wanita itu lalu menatapnya dengan heran, dia penasaran dengan motif Levin melakukan semua ini kepadanya.


"Kalau begitu, aku rasa aku akan membantumu mencari tempat untuk kau tinggali. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di antah berantah seperti ini, ya kan?" kata Levin sambil tersenyum kepadanya. Wanita itu mengerutkan matanya.


"Ke.. Kenapa kau melakukan semua ini? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya wanita itu sambil menghapus air matanya.


"Kenapa aku melakukan semua ini? Terdapat banyak alasan bagi seseorang untuk berbuat jahat dan merugikan orang lain, tapi apakah perlu sebuah alasan bagi kita untuk berbuat baik?" kata Levin, dia lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya.


"Istirahatlah, tidak akan ada yang berani untuk menyakitimu sekarang, aku akan menjagamu sampai kau pulih kembali. Aku akan keluar sebentar, kau tidur dan bersantailah disini." kata Levin sambil tersenyum ke arah wanita itu. Dia lalu berjalan ke arah pintu, wanita itu lalu memegang tangan Levin untuk mencegahnya.


"Tu.. Tunggu dulu. Si... Siapa namamu?" tanya wanita itu dengan agak malu.


"Aku adalah Levin, Levin Awaru. Siapa namamu?" tanya Levin.


"Aku Clea Violeta, pa.. Panggil saja Clea." kata wanita itu sambil memalingkan pandangannya.


"Ta.. Tapi jangan berfikir bahwa kita sekarang adalah teman, bodoh! Kau tetap saja bocah begok yang tidak aku kenal." kata wanita itu sambil wajah malu berpura-pura. Levin lalu mengangguk.


"Baik, betina yang cerewet." katanya sambil mengelus-ngelus kepala Clea, dan pergi keluar.

__ADS_1


- End of Chapter :)


__ADS_2