Petualangan Si Pembawa Cahaya

Petualangan Si Pembawa Cahaya
CH. 31 - Warmness on the Heart


__ADS_3

Levin teringat kepada perkataan Llemas, bahwa penyakit itu dihasilkan dari sihir, dan hanya sihirlah yang dapat mengobatinya. Levin tahu bahwa hanya dirinyalah yang dapat menyembuhkan Clea dan para penduduk desa itu, dia harus menemukan caranya sendiri.


"Sugesti... Sihir di dalam tubuh mereka akan semakin kuat jika mereka terfokus kepada rasa sakit yang muncul... Mereka harus menyakinkan diri mereka sendiri jika mereka tidak terkena penyakit apapun. Tapi dikeadaan seperti ini, apa yang harus aku lakukan? Mereka semua pingsan..." Levin mengerutkan dahinya dan menghela nafas.


"Tunggu dulu... Saat aku hampir pingsan di hutan tadi, aku merasakan sebuah perasaan hangat dan membuatku sadar kembali. Perasaan itu datang dengan sendirinya, berarti mungkinkah... Jika aku membuat mereka berperasaan seperti itu, akankah mereka sadar?" tanya Levin dalam hati, dia menggaruk kepalanya. "Tapi perasaan seperti apakah itu?"


Levin menengok ke wajah Clea yang sedang terbaring di pahanya. Dia merasakan perasaan itu kembali, perutnya terasa hangat dan pandangannya terpaku. "Apakah mungkin ini... Cinta? Ma.. Mana mungkin. Mana mungkin aku cinta ke betina cerewet ini. Tapi kalo bukan itu, lalu apa?" Levin mengacak-ngacak rambutnya kebingungan.


"Le.. Levin..." ucap Clea dengan lirih, dia membuka matanya sedikit, Levin kaget karena mengira dia masih pingsan. "Pe.. Peluklah aku..."


"A.. Apa? Kenapa?" Clea tidak menjawabnya, dia terbaring lemas dengan penuh keringat. Matanya bergetar mencoba untuk tetap terjaga.


Levin tidak mempunyai pilihan lain. Dia mengangkat tubuh Clea dan memeluknya. Pelukannya yang longgar sedikit demi sedikit menjadi semakin erat, dia bisa merasakan tubuh hangat Clea yang menempel ditubuhnya. Clea dengan lemas memggerakan tangannya dan memeluk kembali Levin, mereka berpelukan cukup lama waktu itu.


"Syukurlah, sekarang kau sembuh." ucap Levin sambil melepaskan pelukannya.


"Y.. Ya, terimakasih." tubuhnya masih lemas, dia berusaha untuk duduk, wajahnya menggambarkan sedikit ekspresi bingung. Dia lalu tersenyum hangat kepada Levin.


Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat. Wajah Clea lalu memerah dan dia memalingkan pandangannya.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau dengan pelukan penyakit ini bisa sembuh?" tanya Levin sambil berdiri dan mengeprukkan celananya.


"E... Aku.. Aku tahu dari si pengobat di desa ini.." kata Clea terpatah-patah karena gugup.

__ADS_1


"Oh ya? Lalu dimana dia? Apakah dia aman? Kita harus meminta bantuannya, kita tidak bisa mengobati semua penduduk ini sendiri."


"A.. Aku rasa dia juga terkena penyakit itu. Kita harus mengobati mereka sendiri." kata Clea sedikit gugup. "Levin bodoh... Kenapa dia gampang sekali percaya kepadaku..." terlihat ekspresi sedih sekilas dari wajah Clea.


"Lalu apakah kau punya ide untuk menyembuhkan mereka? Haruskah kita memeluk mereka satu persatu?"


"Aku rasa begitu... Jika salah satu dari mereka sembuh dia akan membantu kita, dan juga seterusnya."


"Baiklah... Kalau begitu ayo kita lakukan!" ucap Levin semangat. Dia lalu berlari ke arah salah satu dari penduduk itu dan memeluknya. Clea hanya mengamati dengan jijik. Levin memeluk orang itu dengan erat dan hangat, tapi orang itu masih tidak sadarkan diri.


"Lah... Kenapa orang ini masih pingsan?" gumam Levin. Clea berjalan mendekatinya. "Apa yang pengobat itu katakan kepadamu tentang cara pengobatan penyakit ini?" tanya Levin.


Clea menggaruk kepalanya. "E... Dia... Dia memberitahuku untuk menghangatkannya! Ya itu dia! Mungkin kita harus menyelimuti mereka dengan selimut satu persatu."


"Apa? Benarkah?"


"Kau sebenarnya tidak tahu cara mengobatinya kan? Apakah pengobat itu benar-benar memberitahumu sesuatu?"


Clea menundukkan kepala dan menghela nafas kecil. "Se.. Sebenarnya tidak. Aku tidak tahu cara mengobati mereka..." kata Clea pelan, dia menundukkan kepalanya malu.


"Oh ya? Lalu kenapa kau berbohong?" tanya Levin bingung. "Tu.. Tunggu dulu.. Jadi saat tadi kau meminta untuk dipeluk karena..." Clea berlari ke arah Levin dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya dari belakang.


"Tidaaaak! Jangan katakan itu bodoh!" teriak Clea sambil menekankan lebih keras tangannya, sementara Levin meronta-ronta tidak bisa bernafas.

__ADS_1


"Mffuaskan affuh!" teriak Levin sambil mencoba melepaskan tangan Clea dari mulutnya. Clea tidak mendengarkan Levin dan tetap membungkamnya. "Enghaaap! Mfffuaskan!" Clea lalu melepaskannya dan mundur kebelakang. Levin dengan sesak menarik nafasnya dengan cepat dan terbatuk-batuk kecil.


Levin lalu menengok ke arah Clea dibelakangnya. Clea menatap Levin sambil menundukan kepalanya, dia lalu berpaling karena malu. Suasana menghening sesaat, mereka berdua tidak ingin menatap satu sama lain karena malu.


"K.. Kau salah paham. Aku.. Aku menyuruhmu untuk memelukku karena aku rasa hal itu akan mengobatiku... kau tahu," ucap Clea pelan sambil memajukkan bibirnya. "Lebih baik kita lupakan saja hal ini dan fokus untuk menyelamatkan mereka."


"K.. Kau benar. Kita harus bergegas. Kau punya ide bagaimana caranya?"


"Mana aku tahu. Mungkin... Perasaan-perasaan tertentu. Ayahmu berkata bahwa kau adalah seorang penyihir. Sihir apa yang sebenarnya kau bisa lakukan?" tanya Clea.


"Sihir... Aku memang bisa melakukan sihir. Tapi saat ini aku hanya bisa mengeluarkan cahaya menggunakan sihirku, aku tidak yakin aku bisa mengobati mereka." ucap Levin.


"Kalau begitu kenapa tidak belajar dan mencoba? Aku mendengar bahwa pengobat disini adalah seorang pengobat profesional dan dia bahkan tidak bisa mengobati penyakit ini, kita tidak bisa mengandalkan pengobat di desa lain. Satu-satunya yang bisa mengobati mereka hanya kita." kata Clea, tubuhnya sebenarnya sangatlah lemas, dia berpura-pura kuat dihadapan Levin.


Levin mengangguk pelan. "Ya, aku rasa begitu." dia membaringkan orang yang dia pegangi ke tanah dan meletakkan tangannya ke dada orang itu. Levin lalu mengeluarkan cahaya dari tangannya dan cahaya itu menyelimuti orang itu. Setelah beberapa detik Levin memadamkannya, tidak ada yang terjadi waktu itu, orang itu masih pingsan.


"Perasaan-perasaan tertentu..." ucap Levin dalam hatinya. "Inikah yang kau maksud." Levin lalu mengeluarkan cahaya yang lebih terang dari tangannya. cahaya itu terasa hangat dan berwarna putih, dengan cepatnya cahaya itu masuk ke tubuh orang yang sedang pingsan itu. Tangan orang itu sedikit bergerak, dia membuka mulutnya terlebih dahulu sebelum matanya. Dengan terkejut dia membuka matanya sekaligus dan melihat ke arah Levin dengan takut.


"Jangan bicara, kau terlalu lemas. Beristirahatlah kau aman sekarang." ucap Levin.


Beberapa jam pun berlalu. Levin berhasil mengobati semua penduduk desa disana. Dia memaksakan dirinya untuk menggunakan kekuatan fisiknya untuk menggantinya dengan kekuatan mana. Levin hampir pingsan beberapa kali, Clea bahkan memaksa Levin untuk berhenti tapi dia tidak mendengarkannya. Setelah Levin berhasil mengobati orang terakhir, tubuhnya yang lemas ambruk ke tanah. Clea yang sudah mengetahui hal itu akan terjadi dengan cepat menahan Levin dan merangkul tubuhnya di tangannya.


"Kau terlalu memaksakan." ucap Clea dengan hangat.

__ADS_1


Levin membuka mulutnya untuk berbicara, tapi dengan cepat Clea menempelkan jari telunjuk ke mulutnya. "Beristirahatlah, kita harus pergi besok." Levin lalu menutup matanya dengan lemas dan tertidur dipangkuan Clea.


- End of Chapter :)


__ADS_2