
"Jadi," ucap Ramon sambil berdiri bertumpu di tongkatnya kepada dua orang anak muda dihadapannya yang sedang duduk dimeja berjauhan. Dia baru saja selesai menceritakan kisah Levin, The Faveroth, dan situasi yang sedang dihadapi oleh benua ini kepada Clea. Ramon lalu melanjutkan.
"Apakah kau akan pergi bersama-sama di tugas yang berbahaya ini? Atau, kau ingin hidup bebas seperti orang lain diluar sana, wanita muda?" tanya Ramon kepada Clea. Dia terdiam sejenak, wajahnya terlihat seperti orang yang sedang berfikir. Dia menghela nafas dan mengedipkan matanya dengan cepat.
"Yah, aku tidak punya pilihan lain selain mengikutinya mencari kristal-kristal itu. Orang lembek seperti anakmu ini tentu butuh bimbingan dari orang yang berpengalaman sepertiku ya kan? Tenang saja, aku akan menjaganya dan membawa kepingan-kepingan kristal itu kepadamu. Jadi sekarang kau tidak usah khawatir." kata Clea sambil tersenyum licik. Sementara Levin hanya menatapinya dengan kesal.
"Belagu sekali si betina ini. Isi kepalanya apa sih?" ucapnya dalam hati kesal. Levin lalu mengamati wanita itu, mulutnya yang cemberut dan matanya yang sipit menatapi tubuh wanita itu yang ramping memakai rompi. Dia lalu berdiri dengan terkejut ketika dia ingat kepada sesuatu.
"Ma.. Mana kantung emas yang aku berikan kepadamu? Saku-sakumu terlihat kecil, jangan bilang..." tanya Levin, yang lalu terpotong oleh Clea yang berdiri dengan terkejut sama sepertinya.
"A.. Astaga! Kantung itu aku simpan di belakang bantal di kedai! Kantung itu terlalu besar untuk dimasukkan ke saku di balik rompiku, jadi aku menyembunyikannya disana. I.. Ini bukan salah ku ya... Kau menteleportasikanku kesini tanpa sepengetahuanku." kata Clea sambil mengacung-ngacungkan tangannya kedepan kepada Levin yang sedang memegangi kepalanya menyesal.
"Apa boleh buat," kata Ramon memegangi pundak kedua pemuda itu. "Kalian pergilah, itu hanyalah besi-besi kuning yang kolot, aku bisa membuat yang lebih besar dari itu jika aku mempunyai mana. Sekarang, lanjutkanlah perjalanan kalian. Sayangnya aku tidak bisa menemani kalian karena dunia luar terlalu bahaya bagiku. Semoga Hartlova menerangi jalan kalian." kata Ramon, dia membungkukan badannya kepada kedua pemuda dihadapannya. Levin berdiri dan membungkukkan badannya kembali.
"Ini bukanlah terakhir kalinya kita saling bertatapan, orang tua. Aku akan kembali setelah aku mendapatkan kristal-kristal itu." kata Levin, dia tersenyum dan berjalan dengan Clea keluar.
Waktu itu matahari menggantung di atas langit. Persiapan mereka untuk pergi sangat memakan waktu, mereka berburu dan sarapan sebelum mereka pergi, mereka juga mengobrol dan bercerita pagi tadi.
__ADS_1
Levin berada di bawah tebing itu dan meloncat kecil kererumputan disana. Dia melihat ke atas ke arah Clea yang tidak terlalu jauh dari posisinya, dia mengulurkan tangannya, namun Clea mengerutkan wajahnya dan menampar kecil tangan Levin.
"Jangan pikir bahwa aku itu wanita yang lemah, bocah kecil. Jauhkanlah tanganmu dariku." kata Clea sambil meloncat kebawah, mereka lalu berjalan. Levin mengangkat alisnya.
"Oh ya? Kalau begitu lalu kenapa bandit-bandit kemarin lusa bisa menangkap orang yang kuat sepertimu, Ogreson?" Levin tertawa. Sementara Clea mencoba untuk menyelanya.
"Me.. Mereka menyerangku secara beramai-ramai bodoh! Sebenarnya aku bisa saja mengalahkan mereka semua. Tapi waktu itu kakiku terkilir sehingga aku sedikit kesusahan melawan banyaknya bandit di sekitarku." teriak Clea, dia memajukan bibirnya kedepan dan menoleh ke arah lain, tanda saat dia berbohong.
"Oh ya? Kalau begitu kau nggak kuat dong. Orang kuat mana bisa terkilir, ya kan?" kata Levin sambil tersenyum mengejek. Clea menyipitkan matanya dan menyengirkan giginya.
"Te.. Terserah kau sajalah. Orang bodoh sepertimu mana paham. Lagipula kata siapa orang kuat gak pernah terkilir? Apa kau bodoh?" Clea menengok kanan kiri, dia lalu terdiam sesaat.
"Ya, aku rasa. Aku mempunyai peta ini, peta ini mengatakan kita sudah berada di kerajaan New Vamor sekarang, tapi titik ini menunjukan bahwa kristal itu berada di sekitar kastil Movaden, kapital dari kerajaan. Jadi kita hanya harus mencari jalan setapak dan pergi ke arah timur utara." jelas Levin sambil membolak balik peta itu. Sementara Clea hanya menggaruk kepalanya kebingungan. Dia lalu menunjuk ke depan dengan cepat.
"Oh lihat! Jalan setapak! Sekarang kemana kita akan pergi, kekiri atau kanan?" tanya Clea, Levin menyipitkan matanya.
"Kekiri, kita akan menemukan sebuah pedesaan disana. Pedesaan yang cukup besar bernama Dreydan, disana kita akan beristirahat untuk sementara." Levin memasukan peta itu kembali setelah menggulungnya. Lalu berjalan melalui jalan setapak itu.
__ADS_1
Setelah lamanya mereka berjalan, langkah Clea semakin melambat. Levin tidak menyadari hal itu dan terus melangkah kedepan meninggalkan Clea yang sedang susah payah berjalan sambil memegangi pahanya. Levin lalu menyadari hal itu saat dia tidak merasakan Clea disampingnya, dan menengok kebelakang, dan melihat Clea sedang terduduk ditanah dan berlari ke arahnya.
"Apa kau baik-baik saja? Kau mengeluarkan banyak sekali keringat, apakah kakimu masih sakit? Kalau begitu peganglah tanganku, aku akan membantumu." Levin mengulurkan tangannya, Clea lalu menampar tangannya dan berusaha berdiri.
"Bodoh, sudah kubilang jauhkan tangan baumu dariku." katanya, Levin menurutinya dan melihatnya berdiri dengan susah payah.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka. Jalan setapak itu dikelilingi oleh pohon ek yang tinggi dan sedikit rimbun. Langkah Clea yang lambat sekarang menjadi sangat lambat, kakinya gemetar dan lalu dia terjatuh. Levin berlari kearahnya kembali.
"Kau ini, sudah kubilang kau memerlukan bantuan untuk berjalan, keras kepala sih. Kau seharusnya tidak memaksakan dirimu. Kita beristirahatlah disini sementara, kita akan mencari pengobat saat kita sampai di Dreydan." kata Levin, sementara tangan Clea yang sedikit gemetar menunjuk ke arah depan.
"A.. Aku rasa desa itu sudah didepan kita. Lihatlah, mungkin kayu yang tertutupi dedaunan itu adalah sebuah rumah. Kita periksa dulu tempat itu." ucap Clea sambil menyipitkan mata kanannya menahan sakit.
"Kalau begitu kau aku gendong. Kau tidak ingin lukamu itu semakin parah kan?" Levin mengulurkan tangannya. Clea mengalihkan pandangannya sementara, wajahnya sedikit memerah malu.
"A.. Apa boleh buat. Tapi jangan salah sangka dulu, aku mengijinkanmu menyentuhku karena terpaksa, setelah ini, kau menjauhlah dariku." Clea lalu memegang tangan Levin dan Levin mengangkatnya. Dia lalu menggendong Clea.
"Blah blah, dasar betina cerewet. Kau seharusnya berterimakasih padaku karena tidak meninggalkanmu dibelakang. Lagipula siapa juga yang ingin menyentuhmu, aku juga melakukan ini karena terpaksa tahu!" kata Levin sambil berjalan ke arah rumah kayu didepannya. Clea yang sedang digendong oleh Levin tersenyum selama beberapa detik, lalu mengkerutkan wajahnya kembali saat Levin menoleh kearahnya.
__ADS_1
- End of Chapter :)