
"Awaru Levin!" teriak Ramon sambil memukulkan tongkat kayu ke kepala Levin dan menimbulkan suara 'Tokk' yang cukup keras. Levin terbangun dan mengacungkan tangannya yang terkepal ke atas.
"Bisakah kau membangunkanku dengan cara yang lebih manusiawi orang tua?" teriaknya, tangan kiri nya mengelus-ngelus kepalanya.
"Aku sudah berteriak tadi, tapi kau belum juga bangun. Sepertinya kau sangat kelelahan sampai-sampai tidur seperti kungkang yang dihipnotis tukang lotre." kata Ramon sambil tertawa.
Mata Levin lalu melihat keluar, pintu batu yang kemarin tertutup sekarang terbuka, pintu itu menempel melekat di dinding sebelahnya dan ada sebuah huruf rune bersinar diatasnya, tempat sihir ini membuatnya tidak bisa berfikir dengan logis.
Cahaya matahari subuh menyinari tempat itu. Suara jangkrik tergantikan oleh suara ayam yang berbalap membalas satu sama lain. Angin yang dingin menusuk-nusuk ke tubuh Levin yang kurus kecil, menembus bajunya yang berwarna merah akibat guyuran darah di markas para troll kemarin.
Ramon melangkah ke meja itu dan terduduk. "Jadi," katanya sambil menengok ke arah Levin yang sedang memeluk dirinya karena dingin. "Sekarang aku akan menceritakan nasib adik dan kakak perempuanmu. Wander adikmu sekarang tinggal bersama kakak perempuanmu Ally. Mereka dibawa oleh pangeran Wimara bernama Baron ke kerajaannya. Kau tahu, aku menyuruhnya untuk menculikmu di penjara budak itu karena dia adalah pasangan hidup kakakmu Ally. Aku membaca buku Akemon disini, dan menemukan buku yang mempelajari tentang sihir ramalan. Aku mempelajarinya dan meramal bahwa anakku Ally akan mempunyai jodoh anak dari raja Wimara, yaitu Baron. Aku memberitahunya takdir itu, dan memanfaatkannya untuk membawa kalian kepadaku. Tidak sulit untuk membuatnya percaya kepada ramalanku, dia mempunyai pikiran yang terbuka dan hati yang bersih. Dia juga merupakan seorang prajurit yang kuat dan lincah, pernah mengalahkan sepuluh orang dewasa dalam perang pedang saat latihan, aku tahu seluk beluk tentang orang itu. Jadi sekarang, kau tidak harus mengkhawatirkan adik dan kakakmu, karena sekarang mereka sudah ada di tangan yang benar. Fokuslah untuk menyelamatkan dunia, satu atau dua orang tidaklah terlalu penting jika dibandingkan dengan seluruh mahluk hidup diplanet ini." kata Ramon, Levin memotongnya sebelum dia akan lanjut bicara.
"Kalau begitu, sudahlah mereka hidup dengan bahagia. Mereka tidak terkekang peraturan yang jahat lagi, mereka tidak akan disiksa dan kelaparan kembali, mereka mempunyai tubuh mereka untuk mereka sendiri sekarang. Sekarang aku ikut bahagia" kata Levin sambil tersenyum menggigil. Lalu Ramon juga tersenyum, dia mengamati tubuh Levin yang bergetar kedinginan, dia lalu melihat ke pakaiannya yang terlihat sangat menyedihkan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu anakku. Tapi sepertinya kau sudah membantai banyak mahluk sehingga kau dilumuri oleh darah-darah ini. Tapi simpanlah ceritamu untuk dirimu sendiri, aku akan membawakanmu baju-baju lama Akemon." kata Ramon berjalan ke arah ruangannya. Dia kembali dan membawakan sepasang pakaian dan sebuah armor besi yang terlihat masih mengkilat tanpa ada gores atau karat sedikitpun. Levin mundur terkaget.
"Ini adalah pakaian peninggalan Akemon. Aku tidak tahu kenapa pakaian ini masih utuh dan bagus setelah sekian lamanya ditinggal, yang aku tahu adalah bahwa pakaian ini tidak mengandung sihir sedikitpun, mungkin dibuat oleh pengrajin baju profesional khusus untuk penyihir hebat seperti Akemon." kata Ramon sambil membolak-balik pakaian itu mengamatinya. Levin memotong pembicaraannya.
"Apakah pakaian penyihir memang terlihat seperti itu? Pakaian itu lebih mirip seperti pakaian bangsawan, aku pernah melihat jenis pakaian seperti itu saat pangeran Lomar mengecek pelabuhan di Crescabes waktu itu. Kau tahu, aku akan jadi pusat perhatian jika aku memakai baju itu." komplain Levin, Ramon menggelengkan kepalanya sedih.
__ADS_1
"Tapi kau akan menjadi pusat perhatian juga jika kau keluar dengan pakaian seperti itu. Ayolah Sagmorat, jangan seperti bayi yang merengek saat orang tuanya memakaikan baju kepadanya. Lagipula baju itu akan tertutup armor ini kan? Lihatlah besi ini, Mythril! Kau tidak akan dapat menemukannya meskipun kau pergi ke ujung benua sekalipun." kata Ramon sambil mengasongkan pakaian dan Armor itu. Levin melihat kanan-kiri.
"Kau ingin aku mengganti bajuku disini sekarang? Tidak adakah tempat yang memberiku sedikit privasi?" tanya Levin, Ramon menunjuk keluar.
"Tidak ada siapa-siapa di pantai itu. Mandilah disana dan ganti bajumu. Kau tidak mempunyai banyak waktu luang sebelum tengah hari, jadi pakailah waktumu baik-baik dan kembalilah kepadaku sebelum kau pergi." kata Ramon sambil berjalan ke ruangannya, Levin menahannya.
"Tunggu! Aku ingin kau memberitahuku beberapa hal lain. Kau mengatakan bahwa tujuh kepingan kristal itu berada di makam iblis yang dikalahkan oleh dewa Calemia. Tapi aku hanya melihat sebuah makam saja, dan hanya menemui satu roh iblis dimakam itu. Dimana makam-makam yang lain? Apakah kau mengetahuinya?" tanya Levin, Ramon mengerutkan keningnya.
"Makam disini hanyalah sebuah simbolisme untuk tempat beristirahat, Levin. Makam para iblis itu adalah kristal itu sendiri, roh mereka beristirahat disana. Aku tidak tahu kenapa dewa Calemia menempatkannya di tempat-tempat yang berbeda, mungkin kau akan mengetahuinya nanti setelah kau mendapatkan kristal-kristal itu, yang jelas aku tidak tahu banyak terkait hal ini. Adakah hal lain ingin kau tanyakan?" tanya Ramon, Levin mengangguk.
"Ya, aku ingin kau menteleportasikan temanku Clea yang aku ceritakan kemarin. Dia sekarang berada di kedai minuman di sebuah desa yang aku tidak tahu namanya. Yang aku tahu hanya danau Dalas, desa itu terletak didekat sana. Kau bisa melakukannya kan?" pinta Levin, Ramon sebentar, lalu menggelengkan kepalanya.
"Akan membutuhkan waktu sebelum menemukan energinya dengan ESP ku. Apakah dia laki-laki atau perempuan?" Levin lalu menjawabnya. "Wanita." katanya, Ramon mengangkat alisnya.
"Oh ya? Kau... Menginap sekamar dengan wanita itu di sebuah kedai minuman? Sudah berani ternyata kau anak muda?" kata Ramon tersenyum jahil, Levin mengayun-ngayunkan tangannya dan menggelengkan kepalanya.
"Dasar orang tua, kerjaannya ngomongin urusan orang terus, shoo shoo! pergi sana!" kata Levin kesal, dia lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya, sementara Ramon menyengirkan giginya mengejek dan pergi keruangannya dengan busur itu, terlihat wajah-wajah licik sekilas, dia sedang memikirkan sesuatu bau ikan. Levin mengacuhkannya dan pergi keluar.
Tempat itu terletak di atas gunung, sehingga Levin harus berusaha turun terlebih dahulu untuk pergi ke pantai. Dia melihat kebawah, tidak ada anak tangga disana, hanya terdapat sebuah turunan yang cukup curam, butuh waktu turun kebawah dengan selamat. Levin lalu memakai armor itu sementara agar tidak terlalu susah untuk turun, dia menaruh pakaiannya di pundaknya dan turun kebawah dengan hati-hati.
__ADS_1
Tangannya meraba-raba batu dipinggirannya. Kepalanya masih menyimpan trauma kepada ketinggian akibat insiden troll kemarin. Dia lalu berhasil turun kebawah dan menginjak rerumputan dengan sepatunya. Dia mengambil nafas sambil menutup matanya menghayati, tubuhnya segar kembali. Dia lalu berlarian ke depan ke arah pantai, dia membuka pakaiannya dan mencebur ke laut.
Tubuhnya bergidik kedinginan saat dia menenggelamkan dirinya dilaut yang tenang itu. Dia menggigil, giginya bertabrakan, seharusnya dia mandi di sungai daripada di laut yang dingin itu, tapi apa boleh buat, dia tidak tahu letak sungai terdekat disekitar sini.
Levin terduduk telanjang menenggelamkan dirinya dilaut yang ombaknya tidak terlalu deras itu. Matanya menatapi laut yang luas dan jauh didepannya. Dia melihat ke arah bulan yang masih terlihat di pagi itu dengan matanya yang hijau sedikit sipit.
"A.. Astaga." kata seseorang dibelakang Levin. Levin lalu terkaget dengan suara itu dan menoleh kebelakang dengan cepat. Dia melihat Clea, sedang terbaring memegangi kepalanya. Clea lalu melihat ke arah Levin yang sedang mandi di laut itu, untung saja tubuhnya tertutupi air laut. Sementara Levin berteriak kepanikan.
"Hey kau! Jangan liat! Pe.. Pergilah ke hutan itu sebentar!" teriak Levin sambil mengayun-ngayunkan kedua tangannya mengusir Clea. Clea lalu menengok ke pakaian Levin yang tergeletak, dia menyadari bahwa Levin sedang telanjang.
"Ke.. Kenapa aku bisa ada disini? Dimana aku? Kau menculikku ya? Dan.. Kenapa kau telanjang di laut sepagi ini? Jangan-jangan..." wajah Clea lalu memerah, dia mengepalkan tangannya dan celingak-celinguk mencari batu. Levin panik, dia menggoyang-goyangkan kedua tangganya kedepan.
"Ti.. Tidak! Ceritanya panjang betina, ayolah pergi dulu, nanti aku jelaskan!" teriak Levin, sementara Clea mengangkat dan melemparkan armor mythril itu ke arah Levin dengan kesal.
"Sialan kau Ramon! Kenapa kau menteleportasikannya kesini? Dasar orang tua bangka bau ikan! Terkutuklah kau orang tua durhaka!" teriak Levin kesal dalam hatinya. Dia lalu membawa armor yang dilempar Clea dan memakainya terbalik, dia memasukan kakinya ke lubang yang seharusnya dipakai untuk tangannya, sementara bawahnya bolong.
Levin tidak punya pilihan lain selain berlari ke arah pakaiannya dengan hanya tertutupi armor itu. Dia berlari seperti kepiting, kedua tangannya memegang armor itu agar tidak melorot dan kedua kakinya terlentang berayun ayun ke kanan kiri. Clea yang sedang celingak-celinguk mencari benda untuk dilempar lalu panik melihat Levin yang berlari kearahnya dengan konyol seperti itu, dia menaruh tangan-tangannya dipipi berteriak dan pergi ke arah hutan.
"Sialan, dia pikir apa yang akan aku lakukan?" kata Levin sambil terburu-buru memakai pakaiannya.
__ADS_1
- End of Chapter :)