
"Levin! Siapa orang itu?" Clea berbisik dengan wajah kesal sekaligus penasaran kepada Levin, yang sedang duduk disampingnya sambil mengamati peta. Di sisi bangku lain, terduduk Merasus yang sedang menatap keluar kereta menikmati pemandangan hijau yang bergerak seolah-olah memutari kereta. Mereka sedang dalam perjalan ke Crescabes menaiki sebuah kereta yang disuguhi oleh Edwin. Setelah berbincang mengenai apa yang terjadi kepada warga desa dan mengenai legenda Llemas, ketua desa itu merahasiakannya dari luar dan mendokumentasikannya secara rahasia.
Perhatian Merasus terpecah saat dia merasakan kedua orang yang masih sangat asing baginya mengalami percakapan rahasia. Dia lalu berdiri dan duduk ke bangku depannya dan mengesot mendekati Levin yang saat itu menjadi duduk ditengah. "Wah wah," ucapnya terkagum. "ternyata Masterku sudah punya pacar ya." katanya sambil memasang ekspresi sedih. "Padahal aku mau duduk bersebelahan dengannya juga."
"A.. Aku bukan pacarnya bodoh! La.. Lagipula siapa kau?" kata Clea sambil menatap Merasus aneh. Sementara Levin sedang terdiam terpatung sambil melihat peta, dia berfikir keras dan tidak memperdulikan sekelilingnya.
"Bukan pacar? Jadi kalian hanya teman ya? Wahh!" teriak Merasus sambil memeluk Levin, mengubur wajahnya di badannya. "Kalau begitu aku sangat senang! Kalau begitu dia jadi pacarku saja."
Levin mencoba mengeluarkan wajahnya dari dada Merasus yang memeluknya erat, ia meronta-ronta tidak bisa bernafas. Sementara Clea melihatnya dengan wajah merah padam.
"A.. Apa yang kau lakukan." dia mendorong Merasus. "Bi.. Biarkan dia sendirian!"
"Wah.. Kamu cemburu ya?" Merasus tersenyum licik. "Tapi sayangnya, kemarin malam setelah kami membunuh mahluk kadal itu, kami berbelok ke sebuah penginapan dan beristirahat disana berdua. Kami makan malam, mengobrol, dan skidipapap berduaan sepanjang malam sampai pagi tiba."
Supir kereta yang mengemudi tetap terpatung berpura-pura tidak mendengarkan. Wajahnya terlipat-lipat cemburu. Selama hidupnya dia tidak pernah digoda seperti itu. Percakapan itu membuat sistem urat perjombloannya meronta-ronta mengamuk. Dia menggelengkan kepalanya kecil dan berusaha mengacuhkan mereka. "Demi tengkorak belut, apakah bocah-bocah itu memang menyelamatkan kita?" ragunya dalam hati.
Levin menggelengkan kepalanya kecil tanpa memalingkan pandangannya dari peta. "Itu tidak terjadi Clea." dia lalu menggeser posisi duduknya dan merentangkan petanya kembali. "Biarkan aku sendiri sebentar anak-anak, tubuhku yang lelah tidak bisa melayani sekaligus kalian berdua dan rencana kita hari ini."
Sementara itu Clea menatapi mereka berdua sambil menarik pipinya kesal. Ekspresinya seperti terlihat pasrah, melihat tampang Merasus yang sangat cantik dan sangat menawan itu. Dia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. "A.. Apa yang kau pikirkan bodoh! Kenapa kau merasa cemburu kepada bocah tengik itu." pikirnya dalam hati.
"Aku ingin kalian diam sebentar, aku harus mencari tempat yang efektif kita datangi untuk pertama kali di Crescabes. Kepala desa itu memberikkan kita perbekalan makanan bukan? Kenapa kalian tidak makan saja." ucap Levin.
Merasus merayap kepada Levin dan memeluknya dari depan, duduk dikakinya yang menjulur kedepan dan berbaring ditubuhnya. "Kalau kau menyuruhku untuk diam, aku akan diam, Master."
__ADS_1
Kereta lalu melalui jalanan yang berbatu dan membuat seluruh isi kereta bergetar. Merasus yang sedang duduk di kaki Levin terguncang-guncang keatas kebawah bergetar, kereta itu lalu menubruk sebuah batu yang lebih besar dan menguncang mereka lebih keras.
"Ah!" Merasus mengerang dengan nada aneh. Clea semakin mengamuk. Sementara Levin mencoba melepaskan tubuh Merasus yang sedang bergetar-getar di pahanya, dan membuat mereka semakin terlihat aneh.
"Berhenti disini supir!" teriak Clea sambil berdiri. "Aku akan turun disini, terimakasih." supir itu menarik kudanya dengan tali, kereta itupun berhenti, Clea lalu meloncat ketanah.
"Tu.. Tunggu, kau mau kemana?" tanya Levin sambil berusaha menyingkirkan Merasus, sementara dia tidak memperdulikannya dan terus memeluk Levin. "Ayolah Mera, menyingkir!"
"Baik, tuan!" dia menyingkir.
Levin turun dari kereta dan berjalan di tanah yang sedikit basah becek mengikuti langkah Clea. Clea tetap berjalan dengan langkah panjang sambil mengeker busur panahnya. Levin berlari kearahnya dengan cepat. "Kau kenapa Clea?"
"Meninggalkanmu bersama wanita itu, aku hanya takut mengganggu kalian." katanya dengan cepat sambil berjalan.
"Apa? Tentu saja tidak! Kau sangat berguna bagiku kau tahu kan? Nyawaku terselamatkan beberapa kali karenamu!"
"Lagipula," ucap Levin dengan pelan. "Kemana kau akan pergi?"
Clea terdiam, dia mengerutkan wajahnya pedih. "Kau benar," katanya dengan lirih. "Aku tidak mempunyai rumah untuk kembali. Tapi itu urusanku."
"Ayolah," Levin memegang pundaknya. "Aku juga tidak mempunyai rumah untuk kembali. Aku tidak yakin gua di atas gunung itu adalah rumah, meskipun ada ayahku disana. Tapi jika kau berfikir begitu, maka tempat itu adalah rumahmu juga, dan ayahku adalah ayahmu juga."
Mata Clea berkaca-kaca hampir menangis. Nafasnya menggelombang menahan-nahan, tapi ujungnya air mata tetap terjatuh ke pipinya, diapun menangis pelan. Tangannya bolak-balik mengusap air mata dan ingusnya. Setelah keluarganya hancur dia tidak pernah merasakan kebebasan sama sekali, dia diperjual belikan dan diperbudak selama ini. Dia tidak pernah berfikir untuk kembali ke kampung rumahnya, karena semua itu sudah hancur menjadi debu. Dia juga tidak mempunyai kerabat ataupun saudara untuk kembali, dia tahu bahwa dia akan menjadi seseorang yang independen dan penyendiri saat dia bebas. Atau lebih tepatnya kalau dia bebas.
__ADS_1
Namun sekarang berubah, sejak kedatangan Levin dalam hidupnya dia menyadari bahwa dia masih mempunyai keterikatan terhadap sesama manusia. Dia merasakan aman, perasaan yang dia punya saat dia berada dikeluarganya. Dia merasa hangat, karena kepedulian yang diberikan kepadanya seperti perasaan yang diberikan kepadanya di masa lampau. Sekarang dia menyadari peran penting Levin di kehidupannya, hanya Levin lah alasan dirinya masih hidup, hanya karena Levinlah dia bisa bernafas sampai saat ini.
"Mera, kemana kereta itu pergi?" tanya Levin, wajahnya bingung panik setelah melihat kebelakang dan menyadari bahwa keretanya hilang.
"Kau bilang kita akan berjalan kan? Jadi aku menyuruhnya pergi."
Wajah Levin berubah menjadi panik. "Apa? Tapi persediaan makanan kita masih disana!" teriak Levin kepanikan, "kau sudah berlebihan Mera, aku tidak percaya kau melakukan itu."
"Apa? Tapi kau sendiri yang berkata kalau kita akan jalan kaki... Ma.. Maksudku, Clea..."
Mereka terdiam sejenak. Clea masih menangis dan mengusap-ngusap air matanya, menunggu Levin untuk menenangkannya. Tapi Levin sendiri sekarang menjadi sedih. Perlengkapan dan persiapan perjalanan yang cukup lengkap untuk satu kelompok petualang penuh menghilang dengan sekejap mata.
Merasus menunduk sedih merasa bersalah, membuat tiga orang itu terlihat seperti satu keluarga yang sedang kesusahan ditengah jalan. Suasana disana muram seperti asap cerobong pandai besi, dihiasi dengan langit gelap yang terlihat mendung.
"A.. Aku minta maaf master." ucap Merasus dengan lemas, "aku akan menggantinya nanti, jika aku mampu."
"Sudahlah, semuanya sudah hilang. Sekarang kita akan berjalan ke Cresca. Menurut peta, kita sekarang sudah dekat dengan Dreydan. Setelah sampai disana, kita akan beristirahat dan pergi ke tujuan keesokan harinya."
Levin mengelus kepala Clea, "dan kau, Clea," katanya sambil mengusap air mata wanita itu, "kita tidak boleh berpisah. Untuk sekarang dan seterusnya kau adalah keluargaku, dan kau akan tinggal dimana aku tinggal."
"Bagaimana denganku?" potong Merasus, "jika Clea adalah keluargamu, kalau begitu dia adalah adik perempuanmu kan? Nah, karena adik dan kakak tidak boleh menikah, bagimana kalau kita menikah master? Sehingga aku juga akan tinggal bersamamu."
"Ti.. Tidak boleh!" teriak Clea, "kau hanya budaknya, budak adalah budak. Levin adalah budakku jadi kau adalah budakku juga." ucap Clea sambil memasang wajah judes.
__ADS_1
"Lagipula," lanjut Clea. Meskipun kau cantik bukan berarti Levin akan memilihmu sebagai pacarnya. Kecantikkan memang menjadi magnet terkuat dari segi percintaan, tapi orang yang memilih orang cantik untuk dijadikan landasan sebagai pasangan ideal adalah orang bodoh, dia melupakan bagian terpentingnya, yaitu kasih sayang dan pengertiannya. Levin bukan orang bodoh, aku yakin itu, maka dari itu aku yakin dia akan berfikir dua kali untuk memilihmu."
- End of Chapter :)