
Levin melihat wajah pemuda itu yang sedang membisu. Dia bisa membaca wajahnya yang penuh dengan ke khawatiran dan rasa cemas itu, dia mengetahui bahwa orang itu telah menyadari sesuatu, yang seharusnya dia sadari sejak awal.
"Ti.. Tidak mungkin. Demi dewa tolong katakan bahwa ini adalah bohong! A.. Alisa.. Dia berkata bahwa dia akan pergi ke Fertrance.. Te.. Tempat itu.. Ahh tidak, tolong kami Hartlova, demi dewa tolonglah..." pemuda berkacamata itu terduduk dan menangis dengan pilu. Dia melihat ke arah pacarnya yang bernama Alisa itu dengan ekspresi menyedihkan. Dia lalu pergi ke arahnya dan memegangi tangannya, dia mengelus-ngelusnya, tangan wanita itu yang keras mencoba untuk menyakar-nyakar. Levin menghampiri pemuda itu.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi kepadanya? Apakah dia bisa tertolong?" tanya Levin dengan nada pelan, dia memegangi pundak pemuda itu yang sedang menangis lirih.
"A.. Alisa. Dia berkata dia akan pergi ke Fertrance, tempat yang dipenuhi oleh mahluk-mahluk berbahaya. Di.. Dia berjanji kepadaku untuk tidak pergi terlalu dalam dan mendekati gunung disana, yang dianggap sebagai gunung yang berbahaya karena banyaknya troll dan mahluk-mahluk mengerikan lainnya. Aku.. Masih tidak mengetahui apa yang terjadi kepadanya. A.. Aku yakin dia memegang janjinya. Aku yakin dia tidak pergi ke gunung itu, karena jika dia pergi ke sana, mungkin troll sudah mencabik-cabiknya sekarang." kata pemuda berkacamata itu berusaha untuk berbicara kepada Levin.
__ADS_1
"Kau tidak punya ide apapun tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Alisa? Aku membutuhkan petunjuk, mungkinkah ada suatu tanaman tertentu yang beracun yang akan membuat seseorang kehilangan akal seperti ini?" tanya Levin dengan penuh harap. Pemuda itu lalu berdiri dengan spontan, wajahnya kembali tersirami ilham, dia menyadari sesuatu kembali.
"Itu dia! Oh bodohnya aku baru menyadarinya sekarang! Aku teringat kepada cerita Alisa kemarin, setelah dia pulang dari Fertrance. Dia membawa tanaman-tanaman yang dia cari dan menyimpannya di lantai atas. Kemarin saat matahari tenggelam kami duduk di ruang tamu untuk minum teh. Alisa bercerita kepadaku bahwa dia bertemu dengan seorang nenek di rawa saat dia kembali dari Fertrance. Alisa berkata dia pikir nenek itu adalah orang yang sedang tersesat, Alisa lalu menanyakannya kepada nenek itu. Dan nenek itu berkata bahwa dia tidaklah tersesat, nenek itu juga berkata bahwa dia tinggal di sebuah gubuk di sekitar rawa yang gelap itu. Alisa menawarkan dirinya untuk membantu nenek itu untuk mencari gubuknya. Tapi nenek itu malah menolaknya. Nenek itu berkata bahwa dia memang mencari Alisa, dia berkata bahwa Alisa harus mengembalikan barang bawaanya kembali ke Fertrance, karena jika tidak takdir memilukan akan terjadi kepadanya. A.. Aku yakin nenek itu adalah seorang penyihir! Dia telah menyihir Alisa menjadi seperti ini... Aku yakin dia melakukannya!" teriak pemuda itu sambil menarik-narik kain celananya karena kesal.
"Kalau begitu, aku akan mencari nenek itu dirawa. Aku harap kau mempunyai petunjuk tentang tempat itu, sebuah peta atau apapun. Kau tahu, aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini dan membahayakan diriku sendiri. Tapi kalian tidak mempunyai pilihan lain selain diriku. Sekarang, pergilah ke pengobat itu dan bawa dia kesini untuk mencoba mengobati Alisa." kata Levin kepada pemuda itu. Sementara pemuda itu menyipitkan matanya dan menghela nafas kecil.
"Lagipula, aku tidak mempunyai peta untuk menunjukan letak rawa itu dan kau tidak bisa menanyakannya ke orang sekitar, mereka hanya akan melarangmu dan akan sulit menemukan orang di tempat terpencil ini yang mengetahui letaknya. A.. Aku rasa tidak ada pilihan lain selain aku yang menunjukan letaknya langsung kepadamu." kata pemuda itu sambil melihat kebawah, Levin lalu berfikir sejenak, dia memikirkan tentang segala pilihan yang terbaik yang bisa dia lakukan. Diapun mengangguk setuju kepada pemuda itu.
__ADS_1
"Aku rasa, hanya itulah pilihan yang kita punya. Aku ingin kau menenangkan Alisa. Kita tidak bisa meninggalkannya disini dengan keadaan seperti ini. Aku tahu, pasti akan membutuhkan waktu untukmu untuk melakukan itu, tapi lakukanlah dengan cepat sebisamu, aku juga harus menemui orang yang penting bagiku sendiri." kata Levin sambil bergerak mendekati Alisa, dan terduduk mengencangkan kain pengikat yang mengikat wanita itu diranjang.
"A.. Aku akan berusaha semampuku. Alisa pernah mengajarkanku untuk membuat ramuan penenang dan cairan penidur. O.. Oh ya, siapa namamu, tu.. Tuan?" tanya pemuda berkacamata itu. Dia mempunyai tubuh yang lemah, kulitnya yang putih tidak belang menunjukkan bahwa dia jarang keluar rumah. Posturnya tidak terlalu tegas, dia juga sering menundukan kepalanya dan mencoba untuk menghindari kontak mata karena ketidak percayaan dirinya. Levin lalu berdiri.
"Namaku Awaru Levin, anak dari Ramon Awaru, aku adalah seorang petualang yang bertugas untuk menyelamatkan benua ini dari sebuah kutukan. Lalu siapa namamu, tuan kutu buku?" kata Levin sambil tersenyum menyentil kacamata pemuda itu.
"A.. Aku.. Namaku adalah Arnold Grenlait, tuan, senang bertemu denganmu. Aku rasa aku harus menyiapkan ramuan itu sekarang, permisi." kata pemuda bernama Arnold itu sambil melangkah pergi ke ruangan atas.
__ADS_1
- End of Chapter :)