
Pakaian Levin basah kuyup akibat guyuran air terjun yang menimpanya saat menyebrang masuk ke gua itu. Pakaiannya membuat langkah Levin menjadi lebih berat. Levin lalu berhenti melangkah, dia menatap tajam ke kegelapan didepan matanya, dia mengangkat pedangnya dengan tinggi dan menggunakan sihirnya untuk memancarkan sinar sehingga membuat gua itu menjadi terang.
Mata Levin membelalak terkejut saat dia melihat sesosok kepala besar berwarna merah sedang menatapnya dengan tajam di atap gua. Matanya bulat dan sedang melotot, badannya menggantung di atas, sayapnya yang hitam menutupi atap gua dan ekornya yang panjang melambai kebawah. Sosok itu adalah seekor naga.
Levin tidak bisa bergerak, matanya terpaku melihat naga yang terus melotot ke arah dirinya. Naga itu lalu turun kebawah, dia mundur kebelakang dan menundukkan kepalanya kepada Levin.
"Sang Sagmorat! Setelah sekian lamanya aku menunggu, akhirnya kau datang juga." kata seekor naga itu. Levin lalu semakin kebingungan, dia baru saja melihat seekor mahluk legenda yang seharusnya sudah punah itu berbicara kepadanya. Dia lalu bertanya kepada naga itu.
"Ka.. Kau adalah seekor naga! Da.. Dan bagaimana bisa naga bisa bicara? Bu.. Bukankah kau seharusnya sudah punah?" tanya Levin dengan gemetar, seluruh badannya lalu melemah ketika dia mendengar naga itu berbicara.
"Tenangkanlah dirimu Sagmorat. Dan turunkanlah pedangmu. Padamkanlah sihirmu. Aku tahu maksud dan tujuanmu datang kesini. Takdir membawamu kesini, aku sudah menantikannya selama ratusan tahun." kata naga itu dengan suara serak dan sedikit menggema di gua yang besar itu.
__ADS_1
Naga itu meloncat dari dinding ke dinding dengan lincah. Kakinya yang hitam dan kuat menempel seperti seekor kadal besar berduri di batang pohon, mata Levin yang terbuka lebar mengikuti pergerakan naga itu dengan rasa takut dan cemas. Naga itu lalu menyemburkan api keluar dari mulutnya ke lampu-lampu lilin yang berjajar di gua itu, sehingga membuat gua lebih terang.
Pedang yang bersinar di tangan pemuda basah kuyup itu lalu meredup. Dia kehabisan mana dan energi fisiknya terkuras oleh perasaan takut yang merayap di dalam perutnya. Matanya berbelok-belok mengamati ruangan berbatu itu, dia melihat tulang belulang bertebaran di seluruh penjuru gua, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana selain naga itu dan dirinya. Dia lalu melihat sebuah altar di tengah-tengah gua, terdapat peti yang besar yang dibalut oleh rantai yang mengunci peti altar itu, wujud peti itu terlihat seperti peti yang dia temukan saat dia di gua iblis kemarin, makam iblis bernama Japroth yang menyegel sebuah kepingan kristal pedang Calemiara.
"Benar sekali, Levin Awaru. Tempat ini adalah satu dari ketujuh makam iblis yang dikalahkan oleh dewa perang Calemia. Aku bisa mendengar pikiranmu, Sagmorat. Aku bahkan bisa mendengar aliran darahmu yang mengalir lebih cepat setiap kali jantungmu berdetak, aku juga bisa melihat masa lalumu hanya dengan mencium baumu." naga itu menghentakkan kakinya kebelakang dan mendarat di atas rantai yang membelit altar itu. Rantainya berwarna hitam pekat, saking kuatnya rantai itu menahan tubuh si naga tanpa tergoyahkan sedikitpun.
"Perkenalkan aku, tuan Sagmorat. Aku adalah anak perempuan dari Lucarith, iblis kedua yang dikalahkan oleh dewa Calemia. Benar sekali, Lucarith adalah satu-satunya iblis yang melahirkan sebuah anak, meskipun dia adalah laki-laki dan tidak mempunyai pasangan sekalipun." naga itu lalu turun dari rantai, dia terus-menerus bergerak tanpa hentinya. Dia lalu melanjutkan perkataanya.
"Namaku adalah Vaxhella, aku adalah satu-satunya anak perempuan yang dilahirkan oleh ayahku di gunung ini. Waktu dewa Calemia membunuh ayahku, dia mengutukku menjadi seekor naga, aku masih seorang bayi waktu itu. Dia membersihkan takdirku, mencabut nafsu tubuh dan menghilangkan perasanku, sehingga aku bisa terus bertahan hidup ribuan tahun tanpa kelaparan dan merasa bosan di gua kecil tempat aku lahir ini." kata naga itu sambil berbaring dilantai dan menghentak-hentakan kakinya ke atas seperti seekor kucing rumahan yang manja.
"Kau tahu, tidak semua orang yang datang ke gua ini mencari harta yang kau maksud. Sebagian dari mereka mungkin datang dengan tujuan baik. Mereka mungkin hanya datang ke sekitar sini untuk memancing ikan atau untuk berburu. Kau seharusnya tidak membunuh semua orang yang kau temui!" teriak Levin. Si naga lalu tertawa, dia meloncat ke atap gua dan menempel disana.
__ADS_1
"Baik ataupun jahat, semua orang yang melihatku harus dimusnahkan, itulah salah satu perintah dewa Calemia kepadaku. Kau tahu, aku bisa mencium dan mengetahui niat jahat semua orang yang ada disini, percayalah bahwa mereka semua hanya orang-orang yang mempunyai niat jahat, tidak ada yang harus kau khawatirkan dari mereka. Sebelumnya, ada sekelompok orang-orang yang ingin memburuku di gua ini. Aku bisa merasakan rasa penasaran mereka dikejauhan, orang-orang itu membawa pedang dan panah yang berbahaya bagi binatang lain, tentu saja mainan-mainan rongsokan itu tidak akan mampu untuk melukaiku. Mereka lalu masuk kedalam gua ini dan berusaha menyalakan sebuah obor, tidak ada yang meihatku karena gelap waktu itu, tentu saja mata indahku ini bisa melihat dalam kegelapan. Aku lalu membantu mereka yang sedang kesusahan itu dengan mengeluarkan api dimulutku, mereka hangus terbakar dan berubah menjadi tulang belulang dengan seketika. Mereka seharusnya mengucapkan terimakasih kepadaku karena sudah membantu mereka menyalakan obor itu." kata si naga sambil tertawa dengan suara serak. Sedangkan Levin mengepalkan tangannya dengan kesal.
"Seorang ayah dari korban yang telah kau bunuh sedang menunggunya diluar. Dia berfikir bahwa anaknya masih hidup dan disekap digua ini. Apa kau tidak kasian kepadanya?" kata Levin dengan nada kesal. Naga itu lalu turun dari atap dan mendekati Levin.
"Lalu kemana dia sekarang? Apakah seorang ayah yang mencintai anaknya akan mengirimkan seorang anak kecil untuk menyelamatkannya? Apakah rasa takut mengalahkan rasa cintanya? Jika begitu, maka rasa cintanya tidaklah sekuat yang kau bayangkan. Ketahuilah, Sagmorat, jika seseorang mencintai satu sama lain dengan tulus, tidak ada perasaan lain yang dapat menghentikan dan memisahkan mereka, meskipun rasa takut yang membara sekalipun. Seorang ayah yang berada diluar hanya mencintai anaknya dengan paksaan alam, semua binatang memang takut untuk kehilangan anaknya, itu hanya sebuah insting. Perasaan cinta yang sesungguhnya tidak terikat oleh hukum alam, perasaan itu tumbuh di kedalaman hati yang paling dalam dan seorang dewa pun tidak akan mampu untuk menghentikannya. Lalu kenapa kau harus peduli? Jika dia memang mencintainya, maka dia akan kehilangan akalnya dan masuk kesini untuk menyelamatkannya, dia tidak akan takut untuk kehilangan nyawanya, karena dia tahu bahwa dia akan mati saat orang yang dicintainya mati." si naga lalu berbalik badan, dia meloncat ke arah dinding yang terdapat sebuah celah dan memasukan kepalanya kedalam. Dia membawa sebuah pedang didalamnya dan melemparkannya ke lantai ke arah Levin.
"Berikanlah pedang anaknya ini kepadanya. Akan kesulitan bagiku untuk mencari tulang belulangnya disini, maka dari itu berikanlah pedang-pedang milik para pemburu ini dan usir dia dari sini. Aku tahu bahwa dia memang sudah melihat ekorku saat aku membunuh beruang yang meresahkan para warga itu, tapi katakanlah kepadanya bahwa ular besar yang membunuh anak-anaknya sudah terbunuh, dan berikanlah tulang ini kepadanya sebagai bukti." kata naga itu sambil memberikan sebuah tulang besar yang aneh yang dia simpan di ekornya. Levin bingung, dia terdiam sejenak meresapi perkataan naga itu, dia lalu membawa tulang itu dan mengamatinya, dia kebingungan karena dia tidak pernah melihat tulang seperti ini sebelumnya, dia lalu bertanya kepada naga itu.
"Tulang apa ini? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Aku pernah melihat tulang beruang tapi yang seperti ini aku belum pernah sama sekali." kata Levin sambil membolak-balikan tulang itu.
"Itu adalah tulang naga, anak muda. Mereka adalah peliharaan para iblis jutaan tahun yang lalu. Berikanlah tulang itu kepada mereka, dan bilang bahwa pedang anaknya tertancap di kepalanya dan terdapat bekas terbakar disekitar tulang belulang ular itu, sehingga dia tidak akan curiga kenapa ular itu sudah mati dan menjadi tulang belulang." kata naga itu. Wajah Levin bingung tidak terkira, dia masih mempunyai ribuan pertanyaan dikepalanya, dia hanya mengangguk dan mengemasi pedang pedang itu dan membawanya, naga itu membantu menaruh tulang itu di atas pedang-pedang yang sedang Levin bawa.
__ADS_1
"Kembalilah kesini jika kau berhasil mengusir mereka dari sini, Sagmorat. Kita mempunyai sebuah takdir untuk dibicarakan." kata naga itu sambil menundukan kepalanya dan tersenyum kepada Levin. Levin lalu menudukan kepalanya kembali dan pergi ke celah air terjun itu.
- End of Chapter :)