
Kepala desa Edwin sedang terbaring disebuah ranjang, dipinggirnya terdapat ranjang-ranjang lain yang ditempati orang-orang yang penting didesa itu, termasuk Levin yang pingsan karena kehabisan tenaganya.
Edwin terduduk diranjangnya menatap ke arah Clea yang kakinya sedang dibaluti perban oleh si pengobat. "Kau dan temanmu telah menyelamatkan kami dari monster itu. Kami memang pernah meragukan kalian karena kalian terlihat seperti seorang anak kecil biasa sebelumnya, tapi ternyata salah satu dari kalian adalah seorang penyihir. Kami dengan senang hati akan membantu perjalanan kalian dan memberi apa yang kami punya. Tapi pertama terimalah keramah-tamahan kami, tolong beristirahatlah disini sampai kalian sembuh." ucap Edwin kepada Clea, dia tetap terduduk diranjangnya agar terlihat lebih formal dan sopan, meskipun kepalanya sakit berdenyut-denyut.
"Terima kasih banyak. Dengan senang hati kami menerima keramahan dan jasa kalian. Mungkin sekarang anda juga harus beristirahat tuan kepala desa. Kita akan membicarakan hal ini kembali besok pagi." ucap Clea sambil tersenyum, dia lalu berdiri dan berjalan dirangkul ke ranjangnya oleh si pengobat. Dia merasa tubuhnya sangat lemas dan lelah, sepertinya semua orang yang baru sadar dari penyakit misterius itu mengalami kelelahan dan pusing.
Kepala desa itu lalu bersiul kecil memanggil sesuatu, setelah itu seekor kucing hitam yang gemuk datang kearahnya, kucing itu adalah binatang peliharaannya. Kucing hitam berbulu lebat itu lalu melompat ke atas ranjang, si kepala desa itu mengelus-ngelus kepalanya dan memberinya secarik kertas yang dia sudah tulis sebelumnya. Kucing itu membawa kertas itu dimulutnya dan pergi tanpa isyarat apapun, seolah-olah dia sudah tahu maksud majikannya.
"Sebaiknya kau juga istirahat Kanta, tubuhmu terlihat kacau sekali. Istirahatlah disini malam ini, jangan malu untuk tidur di ruang sakit meskipun kau adalah seorang pengobat." ucap kepala desa itu kepada si pengobat yang matanya petet karena lelah. "Sepertinya semua orang didesa sedang beristirahat sekarang, bahkan para penjaga. Aku mengirimkan surat ke desa Dertre untuk mengirim bala bantuan dan penjaga, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi sekarang." lanjutnya.
"Tapi bagaimana jika mahluk itu kembali? Bukannya pemuda-pemuda itu berkata bahwa dia belum mati dan melarikan diri ke hutan?" tanya pengobat itu.
Kepala desa itu menatap ke arah Levin. "Aku rasa jika masih ada para pemuda ini bersama kita, kita akan aman untuk sementara. Tapi berharaplah dia tidak kembali malam ini, dan juga para Hartloviant dan prajurit melindungi kita."
Pengobat itu diam sejenak, dia melihat ke arah perapian yang sedang membakar kayu dan menimbulkan suara kayu-kayu yang terbakar. Tapi dibalik itu ruangan itu sangat hening dan menenangkan, terdapat bunga Lavender yang bau harumnya membuat orang-orang mengantuk. Pengobat itu lalu mengangguk. "Aku rasa kau benar. Cemas disaat-saat seperti ini tidak akan membantu apapun. Aku harus beristirahat dan mulai mengobati lagi besok."
Setelah beberapa jam, pengobat dan semua penduduk di desa itu tertidur dengan lelap. Terdengar suara langkah kaki dan obrolan orang diluar, mereka adalah para penjaga dari desa lain yang dipanggil oleh Edwin untuk menjaga desa itu. Terdapat juga orang-orang suci bernama Hartloviant, mereka adalah pendeta sebuah kultus yang mengultuskan Hartlova, mereka percaya bahwa hanya Hartlova-lah yang hanya perlu disembah, dan ketiga dewa-dewa lain adalah rendahannya sehingga tidak perlu disembah. Meskipun begitu beberapa kultus lain tetap menyembah dewa-dewa lain itu untuk menghargai mereka, perpecahan-pun terjadi dan kultus itu menjadi terbagi dua, yaitu Hartloviant dan Philhart, sebuah kultus yang menyembah empat dewa sekaligus.
__ADS_1
Kata Philhart sendiri diambil pada bahasa Ynaya klasik, 'Phillum' yang berarti benua dan 'Hartlus' yang berarti dewa. Terdapat empat dewa yang dipercaya menghuni benua Ynaya atau disebut juga Ydaya itu, yaitu Hartlova, dewi cinta dan kasih sayang yang bertempatkan dilangit dan laut. Yang kedua adalah Calemia, dewa perang, jiwanya beristirahat dipatung besar yang berada di gereja buatan para pengikutnya, gereja itu bernama Solaeth. Legenda berkata bahwa dia selalu berpindah pindah dan membantu para prajurit yang berdoa kepadanya sebelum berperang. Yang ketiga adalah Kaliph, dewa Ilmu pengetahuan dan sihir, dia membuat sebuah perpustakaan besar yang tersembunyi di benua Ynaya. Tidak ada yang pernah pergi keperpustakaan itu kecuali tiga pengikut rahasianya. Yang keempat adalah Lameksa, dia adalah dewi yang mengatur takdir dan nasib semua makhluk hidup, dia tinggal di sebuah air terjun besar di Ynaya dan menyamar sebagai makhluk hidup disana. Itulah kata orang-orang.
Terdapat sepuluh ranjang diruangan itu, ranjang-ranjang itu saling bertatap-tatapan dan dijajarkan lima barisan di setiap sisinya. Tempat itu adalah sebuah ruangan khusus yang dikhususkan untuk orang-orang yang sakit di desa itu. Tempat itu betempat di sisi rumah si kepala desa dan si pengobat.
Waktu itu cukup tenang disana, hanya terdengar suara api berkobar dan bisikan orang-orang diluar. Levin yang tidur di ranjang paling pojok tidur dengan aneh. Dia membolak-balikkan badannya, keringat bercucuran didahinya dan matanya bergerak-gerak, dia sedang bermimpi buruk. Mimpi itu terlihat seperti nyata, mimpinya dimulai saat dia pingsan tadi karena kelelahan, mimpi buruk itu membuatnya ketakutan dalam tidurnya, meskipun begitu dia tidak bisa bangun. Sekarang dia sedang bermimpi tentang mahluk danau itu, Llemas, mahluk itu sedang bertelepati dengan Levin sekarang dan menyuruhnya untuk bangun, Levin harus menyelesaikan ritualnya.
Jeritan yang sangat keras lalu terdengar di kepala Levin dengan jelas, membuatnya terbangun dan terengah-engah ketakutan. Dia menengok kanan kiri untuk memastikan bahwa dia sudah bangun dari mimpinya dan mencari sumber suara jeritan itu, tapi orang-orang disekitarnya terlihat sedang tidur lelap, termasuk Clea yang sedang tidur dengan acak-acakan. "Apa itu tadi..." ucap Levin dalam hati sambil memegang kepalanya. "Llemas mencoba untuk berkomunikasi denganku lewat mimpi... Dia berkata bahwa ritual itu harus diselesaikan malam ini... Si.. Sial, tubuhku masih lemas..." Levin lalu mencoba untuk berdiri, dia menyadari bahwa armor dan barang-barangnya tidak ada, dia lalu menengok ke arah pojok tengah dinding dan melihat armor dan pedangnya disana.
Levin berdiri dan berjalan kesana, orang-orang yang sedang tidur tidak terganggu sedikitpun meski langkah Levin yang agak berisik. Levin membawa dan memakaikan armor itu, menyimpan pedang di ikat pinggangnya dan mencari barang-barangnya yang lain. "Tu.. Tunggu dulu.. Kristalku?" gumam Levin sambil menggeledah dirinya sendiri panik. "Dimana benda itu? Apa mungkin Clea... Oh, itu dia." Levin melihat kristal itu disimpan di atas meja, disana tersimpan busur dan anak panah Clea dan juga kristalnya. "Dia seharusnya tidak menyimpannya disini... Ceroboh sekali betina itu." gumamnya.
"Aku rasa tidak perlu mengajak Clea, dia pasti sangat lelah." Levin lalu mengendap-ngendap keluar, membuka pintunya dengan pelan dan melangkah keluar. Seorang penjaga yang sedang tertidur dikursi didepan pintu lalu terbangun, dia melihat Levin keluar dari ruangan itu, dia lalu berdiri dan mengacungkan pedangnya ke arah Levin.
Levin mengangkat tangannya dengan kaget. "A.. Aku Levin, aku adalah orang yang menyelamatkan desa ini. A.. Aku tidak akan menyakiti siapapun disini, jadi turunkanlah senjata kalian." kata Levin, para penjaga dan pendeta itu lalu berdatangan kesana. "Dan juga, tolong jangan teriak-teriak, orang-orang disana masih tidur, jangan ganggu mereka." lanjutnya.
Si penjaga itu teryakinkan oleh perkataan Levin, dia memasukkan kembali pedangnya. "Oh begitu, jadi rupanya kau adalah si penyihir yang dikatakan oleh Edwin. Kemana kau akan pergi dimalam gelap seperti ini? Dan bukannya kau bersama temanmu?" tanya si penjaga.
Seorang Hartloviant lalu menyela. "Kembalilah keruangan itu dan beristirahatlah kembali anak muda. Kau aman disini, jika kau ingin pergi, pergilah besok pagi, sekarang jalanan pasti berbahaya dan para bandit pasti sedang berkeliaran." ucap seorang pendeta Hartloviant disana, Levin menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pergi sekarang, temanku masih disana dan aku harus pergi bersamanya. Sekarang aku harus melakukan sesuatu yang penting yang sayangnya tidak bisa aku katakan kepada kalian, aku harus menyimpan alasannya sendiri. Jadi aku minta kalian untuk mengijinkanku keluar desa, dan... meminjamkan salah satu obor kalian."
Para penjaga itu bertatapan satu sama lain dengan sesaat. "Aku tidak tahu, Edwin menyuruh kami untuk menjaga para penduduk disini, termasuk kau dan temanmu. Jika kau terluka atau hilang kami akan mendapatkan masalah. Kalau kau tetap ingin pergi, setidaknya beritahu kami alasan dan kemana kau akan pergi, atau biarkan kami mengantarmu ke tempat tujuanmu dan kembali lagi kesini dengan selamat." ucap si penjaga.
Levin menghela nafas kesal. "Ayolah teman-teman , aku akan kembali kesini dengan selamat. Katakan saja kepada kepala desa itu bahwa aku yang memaksa kalian, atau jika perlu, kita bangunkan dia sekarang dan aku akan berkata kepadanya secara langsung." ucap Levin.
Para penjaga itu bertatap-tatapan lagi, mereka masih ragu untuk mengijinkan Levin pergi. Seorang penjaga lalu membisikkan sesuatu kepada para penjaga lain, sayangnya Levin tidak bisa mendengarnya.
"Aku rasa kau boleh pergi. Kau pernah mengusir Genta dan mengobati para penduduk disini dengan sihirmu. Kami percaya kau akan kembali lagi kesini dengan selamat karena temanmu masih ada disini, jadi tolong pegang perkataanmu." ucap penjaga yang baru berdiri dari duduknya. Levin mengangkat alisnya.
"Tunggu dulu, siapa Genta? Mahluk itu namanya Genta? Darimana kalian tahu itu?" tanya Levin.
"Kau tidak tahu? Dia memang sudah berkeliaran beberapa hari yang lalu. Orang-orang sering melihat wujud manusia setengah kadal di desa ini dan desa sebelah, mereka berkata mahluk itu berjubah dan kulitnya bersisik warna hijau. Beberapa hari yang lalu seorang wanita muda yang katanya bisa melihat roh melihat mahluk itu dan berkomunikasi dengannya, mahluk itu katanya sedang berjalan menuju gua Clerrin dan wanita muda itu berpapasan dengannya. Wanita itu adalah seorang 'Sorcerer' sehingga bisa melindungi dirinya saat dia diserang oleh mahluk itu. Wanita muda itu berkata kepada warga desa untuk berhati-hati jika keluar desa terutama ke danau besar disana," orang itu menunjuk ke arah danau yang Levin kunjungi siang tadi. "Katanya mahluk itu sering pergi kesana dan dia bersembunyi di gua Clerrin, wanita muda itu juga menyebutkan namanya dan ciri-cirinya kepada warga desa, meskipun akhirnya dia tetap diketawai. Dia berkata mahluk itu akan meracuni perairan seluruh kerajaan New Vamor dan membuat sebuah wabah baru, tapi tidak ada yang mempercayainya, tapi jika kejadian di desa ini diceritakan kepada seluruh kerajaan, mereka pasti akan percaya dan panik sekarang." kata si penjaga, dia menghela nafas kecil.
Levin mengerutkan wajahnya dan mencondongkan tubuhnya kedepan dengan cepat. "Di.. Dimana letak gua itu?" tanyanya dengan nada keras. Sementara para penjaga itu menatap satu sama lain.
"Tu.. Tunggu dulu, jangan bilang kau akan pergi ke sana." ucap salah satu pendeta disana.
__ADS_1
"Aku akan pergi ke sana, dan tidak ada seorangpun yang bisa menghentikkanku. Sekarang beritahu letak gua itu dan beri aku obor, atau mahluk itu akan mengacak-ngacak seluruh kerajaan dan akhirnya benua ini."
- End of Chapter :)