
Tubuh Levin yang kecil menggantung-gantung di atas, dia memasukan kristal itu dengan tangan yang gemetar ke sakunya. Dia tidak berani untuk melihat kebawah kembali. Dia menelan ludahnya, keringat di kepalanya berjatuhan kebawah tetes demi tetes. Dia lalu merasakan sebuah paksaan di lehernya untuk menengok kebawah. Dia melakukannya dan melihat api itu semakin membesar, jeritan para troll-troll yang melengking mulai memudar.
Tenaga tangan-tangan Levin sudah diambang batas. Dia menyipitkan matanya menahan sakit karena jari jemarinya terus menekan ke sudut kayu. Dia juga merasakan panas yang membara karena amukan api yang di bahan bakari troll-troll dan kayu-kayu besar, dia terlihat seperti seekor lalat yang diikat di pemanggang daging di sebuah kamp pramuka penjaga kastil.
"Si.. Sialan! Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa melakukan sihirku dalam keadaan seperti ini, aku bahkan tidak yakin bahwa aku bisa menteleportasikan diriku untuk keluar dari tempat ini." ucap Levin dalam hatinya. Sementara api yang membara dibawahnya semakin menjadi-jadi.
"Aku tidak menyangka bahwa tempat ini adalah salah satu dari makam iblis. Maksudku, kenapa kristal itu tergantung disana... I.. Itu dia! Dan dimana makam iblis itu? Seharusnya kan ada disekitar sini! Sial Levin, apakah kau pikir kau punya waktu untuk mencari makam itu sekarang? Demi unta carilah jalan keluar!" Levin kesal, dia tidak bisa menahan pegangan itu lebih lama lagi. Tangan kanannya lalu terpeleset dan membuat tubuhnya terpelanting ke bawah.
Tubuh Levin jatuh dari ketinggian yang sangat tinggi itu, tubuh nya melayang layang seolah-olah ditarik oleh api yang sedang berdansa dibawahnya. Cahaya yang putih lalu menyelimuti tubuhnya, kepingan cahaya-cahaya itu dengan cepat menyelimuti tubuh Levin yang sedang terjatuh itu, dan mengubah seluruh tubuhnya menjadi cahaya yang sama, dan melayang dengan kecepatan yang super cepat kesuatu tempat.
Tidak dalam satu detik tubuh Levin yang terapung-apung diudara sekarang berada di sebuah tempat yang remang-remang. Mata Levin yang tadinya tertutup silau karena cahaya api sekarang berubah menjadi gelap. Dia menggetar-getarkan kepalanya dan mengayun-ngayunkan tangannya di daratan itu seolah-olah dia masih sedang terjatuh.
Levin masih melakukan hal konyol itu disana. Dia masih mengayun-ngayunkan tangannya dan dan menutup matanya, dia masih berfikir bahwa dia masih terjatuh dari ketinggian itu. Dia lalu kaget saat sebatang kayu memukul tubuhnya dan berteriak dengan kencangnya, membuat orang disisinya kaget dan memukul kepalanya dengan tongkat, orang itu adalah Ramon, ayah Levin.
"Demi belut apa yang sedang kau lakukan! Bangunlah, Sagmorat!" teriak Ramon. Sementara Levin terkaget, dia membuka matanya dan planga-plongo, tangannya masih bergetar dan jantungnya masih berdegup kencang, dia lalu menengok kanan kiri, berdiri dan lari memeluk ayahnya.
__ADS_1
"Raaamoon! Ke.. Kenapa kau baru menteporteporsi ku sekarang!" teriak Levin sambil berbicara dengan ngaco. Ramon lalu terbingung, dia tidak mengerti terhadap perkataan anaknya itu.
"Apa yang kau maksud? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? Bukankah kau seharusnya menikmati perjalanan dan petualanganmu itu?" Ramon mengkerutkan dahinya, dia lalu melanjutkan.
"Yah, aku menteleportasikanmu sekarang kesini karena kau telah mendapatkan tiga dari tujuh keping kristal itu, aku harus memberitahumu sesuatu jadi aku menteleportasikanmu sekarang." kata Ramon sambil mengamati Levin yang dari tadi menempel memeluk dirinya. Levin sebenarnya sedikit kesal, karena seharusnya Ramon menteleportasikan dirinya saat dia berhasil menempelkan kristal ketiga itu waktu dia masih bergantungan di tangga di gua mengerikan tadi. Tapi sekarang dia merasa lebih lega dan bersyukur, karena dia masih hidup dan bisa melanjutkan perjalanannya.
Levin melepaskan pelukannya, dia melihat kanan kiri mengamati tempat itu yang remang-remang. Hanya terdapat sebercak cahaya lilin di tempat itu, yaitu yang tergantung diatas sebuah pintu batu yang mungkin mengarah keluar.
Kaki Levin yang agak licin menginjak lantai batu disana, semua tembok dan benda disana adalah batu, kecuali sebuah meja besar yang sedang diduduki Ramon yang terbuat dari kayu. Mungkin tempat itu adalah tempat yang diceritakan Ramon yang terletak di gunung Dormin.
"Jadi, tuan penyihir yang bijak, apa yang harus aku ketahui setelah aku mendapatkan ketiga kristal itu? Dan kenapa harus tiga kristal?" tanya Levin dengan nada interogatif sambil menghapus air matanya. Ramon tersenyum.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, bahwa kristal-kristal itu hanya terdapat di pulau Cadmuk saja. Aku juga sudah menandai tempat dimana kristal-kristal itu berada di peta yang aku berikan kepadamu. Terdapat empat kerajaan besar di pulau Cadmuk sendiri, yaitu Lestina, kerajaan besar yang terletak di selatan, tidak ada satupun kristal yang terletak disana, sehingga kau tidak harus jauh-jauh pergi kesana. Yang kedua adalah Crescabes, seperti yang kau tahu, kerajaan itu terletak di utara, ada tiga keping kristal disana. Yang ketiga adalah New Vamor, kerajaan itu terletak di tengah-tengah pulau, hanya terdapat satu kristal disana, kerajaan itu adalah tempat tujuanmu selanjutnya. Dan yang terakhir Livermore, terdapat tiga buah kristal disana, tentu saja yang sedang kau pegang sekarang." Ramon lalu berdiri, dia mengacungkan tongkatnya dan menyalakan lilin-lilin lain yang berada di tempat itu dengan sihir apinya. Dia lalu menyandar di tembok.
"Aku bisa merasakan kekuatan kristal itu. Kristal-kristal itu memiliki energi yang berbeda, energi di setiap keping kristal itu sangatlah kuat, itulah kenapa aku bisa menemukan letak-letak mereka. Kau tahu, aku mempunyai kekuatan ESP yang lebih kuat dari penyihir-penyihir lain di benua ini, sehingga hanya akulah yang dapat melacak kristal-kristal itu. Para penyihir di organisasi The Faveroth juga sebenarnya mengincar kristal-kristal itu, mereka menghabiskan puluhan tahun meneliti letak kristal-kristal itu. Mereka menyusuri dan menjelajah ratusan makam-makam yang terletak di benua ini, mereka juga menelusuri banyak gua dan tempat berbahaya lainnya, tapi hasilnya nihil. Lalu, kenapa aku memanggilmu kesini sekarang? Yah, aku rasa kau sudah bisa menebaknya. Aku hanya ingin memberitahumu hal tadi dan menteleportasikanmu ke tujuanmu selanjutnya agar lebih cepat." jelas Ramon sambil menguap, sepertinya energi fisiknya terkuras saat dia menteleportasikan Levin. Levin lalu angkat bicara.
__ADS_1
"Aku mempunyai seorang teman yang aku tinggalkan disana Ramon. Kakinya terluka sehingga dia tidak bisa berjalan kemana-mana, dia juga tidak mempunyai senjata dan membawa banyak uang bersamanya. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi kepadanya, bisakah kau membantuku menteleportasikan tubuhnya ke tempat ini?" pinta Levin, dia duduk di meja itu sambil memeluk dirinya dengan kedua tangannya karena dingin. Ramon menggelengkan kepalanya.
"Aku takut hal itu tidak akan aku lakukan. Kau tahu, membutuhkan banyak energi sihir dan energi fisik untuk menteleportasikan seseorang. Aku bahkan lebih memilih untuk pergi berjalan kaki secara diam-diam untuk pergi kegubuk di Foragar itu daripada menteleportasikan diriku. Memang aku pernah menteleportasikan kau dan tiga orang lainnya secara bersamaan sebelumnya, tapi itu karena energi sihirku yang sudah lama tidak aku pakai dan saat itu memang hal yang sangat darurat. Kau tahu, aku memakai semua energi-energiku baru-baru ini dan butuh waktu untuk mengembalikan energi-energi itu. Aku rasa aku hanya dapat menteleportasikan satu orang saja saat ini, mungkin minggu ini, tapi kau tidak punya waktu sebanyak itu, kau harus bergegas." kata Ramon dengan matanya yang sipit karena lelah, dia mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat, dan menguap lagi.
"Kalau begitu aku akan pergi ke New Vamor jalan kaki. Letaknya memang tidak terlalu jauh kan? Lagipula, wanita itu tidak mempunyai rumah bahkan keluarga. Kau tidak ingin melihatnya membusuk di sebuah kedai minuman di antah berantah bukan?" tanya Levin, Ramon lalu mengangkat alisnya mendengar perkataan Levin yang keras kepala itu. Ramon terdiam sejenak, dia memiringkan wajahnya karena lelah.
"Kalau begitu baiklah tuan raja, terserah kau saja. Jangan salahkan aku kalau kakimu keriting akibat berjalan beratus-ratus meter dari sini ke kuil di Vamor." ucap Ramon dengan nada pelan, sementara Levin hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, matanya lalu berbelok ke kiri dan ke atas, menandakan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.
"Kau tahu, aku rasa tempat ini adalah tempat yang buruk untuk beristirahat. Kau.. Tidak tidur disini kan?" tanya Levin.
"Tentu tidak, anak muda. Terdapat satu ruangan lagi di tempat ini, mungkin tempat itu adalah ruangan tempat Akemon menulis buku-bukunya yang hebat itu. Aku menggunakannya sebagai ruangan untukku beristirahat. Untuk sementara istirahatlah disana, tidak ada penginapan di pegunungan ini, dan mungkin tidak akan pernah ada karena hanya ada hutan dan gunung saja disini. Jadi menetaplah disini selama satu malam, aku akan beristirahat disini. Dan juga, aku rasa aku akan menceritakan tentang Ally dan Wander kepadamu besok, tubuhku lemas sekali akibat teleportasi tadi." kata Ramon sambil membuat huruf rune di salah satu tembok disana, dan membuka sebuah pintu batu disana secara sihir, penyihir tua itu lalu mengayunkan tangannya kebawah sebagai isyarat bagi Levin untuk memasuki ruangan itu. Wajah Ramon terlihat sangat menyedihkan, matanya sipit dan tatapannya aneh, dia sedang menahan tidur dengan hebatnya.
"Aku rasa, kau lah yang tidur disana. Aku akan tidur di atas meja ini." kata Levin sambil menepuk meja yang sedang didudukinya, dia turun melihat kebelakang untuk mengelus-ngelus membersihkan meja itu, dia lalu melanjutkan perkataannya.
"Saat aku menjadi seorang budak, aku sering sekali tidur di tempat yang lebih menyedihkan daripada disini. Kau tahu, kami bahkan sering tidak tidur, hari-hari kami sangat keras dan melelahkan tapi para..." Levin lalu menengok ke belakang, dan mengerutkan wajahnya ketika melihat Ramon sedang tertidur lelap di ranjang diruangannya yang terang benderang akibat lentera-lentera disana. Levin menggelengkan kepalanya, sebenarnya dia agak tidak merasa nyaman dengan pakaian dan rambutnya yang basah akibat darah troll tadi. Tapi apa boleh buat, dia harus beristirahat, diapun membaringkan badannya di meja yang cukup besar yang dapat menahan seluruh tubuhnya disana, dan tertidur dengan cepat akibat tubuhnya yang kelelahan itu.
__ADS_1
"Aku harap Arnold dapat menyelamatkan Alisa dengan tepat waktu. Aku juga berharap Clea bisa tidur dengan tenang malam ini, aku..." kata Levin dalam hati sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri dan tertidur.
- End of Chapter :)