
Para troll-troll itu menatapi Levin dan menghalangi jalan keluar. Levin hanya terdiam, dia mengacungkan pedangnya kedepan berjaga-jaga, sementara troll-troll di depannya menggertakan gigi mereka dan berteriak-teriak kepada Levin, sebagian dari mereka melempari kerikil ke arah Levin, tapi tidak ada yang berani menyerangnya.
Ketua troll itu berjalan ke dataran tinggi, mendekati sebuah benda besar disana yang terbuat dari besi yang agak berkarat dan memukulnya dengan pemukul kayu yang tersender disana, sehingga menimbulkan suara yang sangat keras. Suara itu menggema diseluruh penjuru gua dan membuat troll-troll itu menutup telinga mereka dan mengamuk menjadi lebih beringas.
Levin menjadi sangat panik. Dia dikerumuni oleh ratusan troll-troll yang mengamuk. Dia tahu dia tidak akan kuat melawan mereka semua seorang diri, sehingga dia hanya terdiam dan berfikir dengan keras. Sementara troll-troll itu menggulungnya dan tidak memberinya jalan keluar.
Ketua troll itu lalu berjalan kesebuah kursi besar yang merupakan sebuah singgasananya. Terdapat sebuah peti di sisi kursi itu, dia membukanya dan membawa sebuah benda besar mirip seperti armor. Benda tersebut berkilauan, cahaya lilin terpantul di besi armor itu yang terlihat sangat tebal. Ketua troll itu memakainya dengan bangga, secara perlahan dia memasukan armor itu ke tubuhnya yang besar dan mengerikan.
Suara troll yang mengerikan di gua itu terdengar sampai ke hutan yang gelap dan dingin diluar. Ketua troll itu lalu memegang sebuah pegangan di belakang singgasananya yang terbuat dari batu itu, dia menariknya keluar dengan sekuat tenaga membuat singgasana itu hancur dan membawa sebuah pedang besar yang sangat tajam dan mengkilat.
"Takdir mengatakan sesuatu kepadaku Sagmorat! Takdir mengatakan bahwa kita berdua akan bertarung dan salah satu dari kita akan mati dengan menggenaskan dan menjijikan! Takdir tidak memberitahu siapa yang akan mati, takdir tidak menuliskan siapa yang akan menanggung nasib menyedihkan itu. Tapi pedangku akan! Bersiaplah untuk melihat Hartlova Sagmorat!" teriak ketua troll itu sambil meloncat ke arah kerumunan dan menginjak troll-troll kecil dengan tubuhnya yang besar sehingga menimbulkan suara air yang terciprat.
Ketua troll itu mengangkat pedang besarnya, menariknya kebelakang dan mengayunkannya ke arah Levin. Dengan sigap dan cepat Levin menunduk sehingga pedang itu terayun melewatinya dan menebas troll-troll disekitarnya. Suara besi yang memotong daging terdengar jelas di gua yang besar membentang ke atas itu. Darah troll yang merah pekat bercucuran dan cipratannya mengenai tubuh Levin. Puluhan troll tewas akibat satu ayunan pedang mematikan itu.
Pedang yang tajam mengkilat itu menghantam lantai dan meretakannya. Levin menyadari bahwa ketua troll itu membawa pedang yang sangat berat sehingga dia membutuhkan waktu untuk mengayunkannya, hal itu membuat Levin mempunyai cukup waktu untuk memprediksi serangannya dan menghindarinya.
Troll-troll disekitarnya lalu berlarian kehadapannya, memberinya sedikit ruang untuk bertarung. Levin terdiam menunggu ayunan selanjutnya dari ketua troll itu sambil memasang kuda-kuda untuk menghindar. Ketua troll itu lalu menggerakan tanggannya sehingga membuat ayunan yang pelan di awal tapi cepat saat terayun, sayangnya Levin yang gesit sudah berjongkok sebelum pedang itu diayunkan kearahnya.
Ayunan pedang itu memotong daging-daging troll yang sedang berlarian mengisi tempat kosong bekas troll-troll yang sebelumnya tercincang. Pedang itu dengan lembut menembus kulit-kulit mereka dan menimbulkan suara seperti pisau yang tajam menguliti kulit kambing. Pedang itu sekarang menghantam tembok dan menembusnya, membuat pedang itu terselip.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka rasa amarah yang membara ternyata bisa menutup rapat kemampuan seseorang untuk berfikir. Aku rasa perasaan itu sangat bertentangan dengan logika, aku harus tetap membuatnya marah seperti ini, aku rasa kebodohannya akan menjadi senjata terkuatku saat ini." ucap Levin dalam hati. Dia lalu membawa seonggok daging troll yang tergeletak dimana-mana dan menunggu ketua troll itu melihat kearahnya, sementara troll-troll lain berlarian kearahnya di jarak yang tidak terlalu jauh.
Ketua troll itu lalu menatap ke arah Levin dengan wajah yang sangat mengerikan. Levin menarik nafas, menahannya dan mengayunkan tangannya melemparkan daging yang basah itu ke wajah si ketua troll itu.
'Plakk!' suara daging basah menimpa mulut ketua troll itu sehingga membuat gua itu menghening selama sekian detik. Levin lalu melemparkan seonggok daging untuk kedua kalinya dan mengenai mata kanan ketua troll itu. Wajah ketua troll itu lalu berubah, dia mengkerutkan wajahnya dan berteriak dengan suara yang sangat menyakiti telinga. Ketua troll itu lalu berlari ke arah Levin dan menginjak-nginjak troll lain tanpa membawa pedangnya yang tertancap di tembok gua.
Levin terkejut, dia tidak mengekspektasikan dan memprediksi bahwa ketua troll itu akan melepaskan pedangnya dan mengamuk seperti itu. Levin berlari dengan kencang menghindari amukan ketua troll itu ke dataran yang lebih tinggi menuju singgasananya. Ketua troll yang besar itu berlari mengejar Levin dan tidak menghiraukan anak buahnya yang dia tendang-tendang dan injak-injak, tapi kelincahan dan kecepatan Levin membuatnya dapat menghindari amukan troll itu dengan mudah.
Levin memanjat batu dataran tinggi itu dengan agak kesulitan, batu itu cukup tinggi dan dia kesulitan untuk meraihnya. Ketua troll itu semakin mendekat, sementara Levin tidak mempunyai waktu dan ruang untuk kabur ke arah lain, dia melihat kanan kiri karena panik. Ketua troll itu berlari melesat ke arah Levin yang berada tepat sepuluh meter di hadapannya, dia mengepalkan tangannya, mengangkatnya ke atas dan membantingkannya ke arah Levin. Tapi Levin sudah memprediksi serangan itu dan meloncat menghindarinya, sehingga serangan itu meleset dan menghantam batu dataran tinggi itu dan membuat batu itu hancur.
Levin dengan sigap merayap ke belakang punggung ketua troll itu sehingga membuatnya celingak-celinguk mencari Levin yang menghilang dari pandangannya selama sekian detik. Dengan kakinya yang kuat dan cepat Levin lalu melompat ke batu yang agak hancur itu dan memanjatnya dengan mudah. Levin melihat kanan kiri mengamati tempat itu, dia melihat ke arah sekitarnya dan menemukan sebuah tangga kayu yang mengarah ke atas gua. Matanya yang bulat mengikuti ke mana tangga itu akan membawanya. Dia lalu melihat sebuah benda tergantung yang terbuat dari kayu yang menahan lilin-lilin, mirip sebuah lampu besar istana tapi ukurannya lebih besar dan terbuat dari kayu.
Levin terus memanjat ke atas, tangan-tangannya mulai lelah dan dia bisa merasakan tubuhnya semakin berat. Gravitasi mulai menariknya ke bawah dengan lebih kuat, kayu-kayu yang menempel di dinding gua jaraknya mulai agak menjauh dan ukurannya semakin mengecil sehingga dia kesulitan untuk bergerak cepat ke atas. Dia lalu melihat kebawah untuk sesaat, untuk mengecek seberapa jauh dia sudah memanjat. Dia melihat pemandangan yang sangat mengerikan, dia melihat ketua troll itu melemparinya dengan kayu-kayu senjata para troll, lemparannya terus meleset.
Jantung Levin semakin berdegup kencang, dia tidak mempunyai pilihan lain selain memanjat terus ke atas, diapun melakukannya dan melawan rasa takut yang mengkabut dipikirannya, rasa takut itu mengkaburkan pikirannya sehingga dia kesulitan untuk berfikir.
Tangan Levin yang gemetar terayun ke atas untuk mencari kayu selanjutnya. Detak jantungnya berhenti sesaat, melihat tangannya hanya menggenggam sepotong kayu yang kecil yang hanya dapat dia tarik menggunakan jarinya. Dia mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat kayu itu, yang ternyata merupakan sebuah anak tangga yang paling kecil. Dia mengutuk para troll dibawahnya karena sudah membuat tangga terburuk di Ydaya.
Seorang troll lalu menghantam dinding tepat disebelah Levin dan menimbulkan suara air yang menjijikan dan mencipratkan darah ke wajah Levin. Tangannya lalu menjadi semakin gemetar, dia tidak bisa merasakan nafasnya, dia lalu melihat kebawah dengan gigi yang mengigil dan melihat ketua troll itu melemparkan anak buahnya ke atas, ke arah Levin.
__ADS_1
Levin mulai lemas, kepalanya berkunang-kunang dan matanya mulai kabur di ketinggian itu. Nafasnya mulai terasa berat, dia belum pernah merasa setakut ini seumur hidupnya. Dia mendengar amukan mengerikan para troll itu dibawahnya, satu persatu troll-troll itu menghantam dinding dimana Levin berada sekarang dan menggetarkan dinding itu. Levin bisa mendengar suara tulang patah dan melihat wajah troll yang terhantam hancur kedinding disebelahnya. Dia memeluk dinding itu dan memegangi kayu diatasnya seperti seekor cicak. Dia merasa bahwa hidupnya akan berakhir disini dan takdir menyedihkan yang ketua troll itu katakan akan menimpanya, dia akan mati terjatuh dari ketinggian dan tubuhnya akan remuk dengan menggenaskan.
Seorang troll yang terlempar keatas dan terbanting kebawah menimbulkan suara 'Cleeek' yang menjijikan. Namun suara itu malah memberi sebuah ilham kepada Levin, suara itu mengingatkannya kepada Clea yang sedang menunggunya di kedai minuman kemarin. Dia juga teringat kepada Arnold dan Alisa yang membuatnya memperoleh sedikit tenaga lebih dari ingatannya itu.
Levin mencoba untuk meraih kayu kecil dengan empat jarinya dan mencoba untuk memanjatnya. Dia mengerahkan tenaga dan keberaniannya disana, dia menarik dirinya keatas untuk meraih kayu lain yang lebih besar di atasnya dan berhasil melakukannya. Dia lalu memanjat dengan normal, insting bertahan hidupnya kembali membakar didalam dadanya, dia mencoba untuk meraih benda kayu yang menggantung itu.
Seorang troll yang dilemparkan ke atas lalu akhirnya mengenai Levin. Troll itu terbanting ke pinggir bawah Levin dan tangannya terhantam ke kaki Levin membuat kakinya terpeleset dan menghancurkan beberapa anak tangga kayu dibawahnya. Levin mencoba untuk mengacuhkan hal itu dan terus memanjat ke atas, dia hampir sampai ke tujuannya.
Levin kesulitan untuk berbalik badan dan menghadap ke arah lampu dibelakangnya. Dia harus melepaskan satu tangannya dan meraih lampu itu yang berada dibelakangnya, tapi rasa takut membuatnya kesulitan untuk melakukan itu. Dia memaksakan dirinya dan melepaskan tangan kirinya yang gemetar untuk meraih benda itu, tangannya terayun-ayun mencoba untuk memegang kayu itu, sementara tangannya yang satunya lagi memegang kayu dihadapannya dengan kuat. Levin akhirnya memegang benda kayu besar penahan lilin itu dengan tangan kirinya, benda kayu itu menjadi miring karena berat dan tarikan Levin.
Terdengar suara retakan batu yang menahan benda itu, mungkin kayu yang terpasang disana sudah lama sehingga benda tersebut hampir terlepas. Suara 'TAKK' yang keras lalu menggema di gua itu, benda itu terlepas dan terjatuh kebawah menghantam si ketua troll yang tepat berada dibawahnya.
Api lalu muncul dan merambat dengan cepat. Levin melihat kebawah dan melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Benda kayu itu menancap di kepala si ketua troll dan terlihat banyak darah berserakan diseluruh sudut gua. Para troll lain dibawah berlarian ketakutan, mereka menjerit-jerit karena api dari lilin itu membakar mereka. Api itu semakin membesar, darah para troll itu ternyata membuat api itu merambat, Levin pernah mendengar sebuah rumor dari para penjaga kerajaan bahwa kelemahan troll adalah api, ternyata rumor itu benar dan darah mereka lebih kuat dari minyak. Tempat itu menjadi sangat panas membakar.
Levin bisa merasakan panas itu di tubuhnya yang masih tergantung di atas. Teriakan melengking para troll yang terbakar membuat bulu kuduknya terbangun, teriakan itu lebih mengerikan daripada suara jeritan wanita yang akan dibunuh. Levin melihat kebawah dengan ngeri sampai-sampai dia melupakan bahwa dirinya harus segera keluar dari tempat itu. Sebuah benda mengkilat akibat bara api diatasnya lalu mencuri perhatiannya, benda itu tertancap di batu dimana benda kayu tadi tertempel. Levin menyadari bahwa benda itu adalah kepingan dari kristal Calemiara.
Levin tidak mempunyai ide apapun untuk menggapai kepingan kristal itu. Dia lalu pasrah dan melakukan pilihan satu-satunya yang ada dikepalanya, yaitu membawa kepingan kristal disakunya dan mengacungkannya ke atas.
Levin ingin sekali berteriak girang, ketika melihat bahwa triknya itu ternyata berhasil, kedua kristal itu mengeluarkan cahaya yang terang dan menempel dengan sendirinya. Bukan hanya itu, Levin juga ingin sekali untuk menepuk jidatnya jika dia punya tangan yang kosong, karena sekarang dia tidak tahu bagaimana caranya untuk turun dan keluar dari gua itu.
__ADS_1
- End of Chapter :)