
Wanita itu pergi meninggalkan Levin sendirian di gua itu. Sedangkan Levin menjadi tambah bingung dengan kehadirannya disana. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, apakah untuk pergi dari sana untuk menghindari masalah dengan teman orang yang dibunuh wanita itu atau untuk terus melanjutkan perjalanannya.
Dia lalu menatap kearah si mayat. Wajah mayat itu terlihat sangat mengerikan, terutama di tempat yang memiliki intensitas cahaya lemah seperti di makam iblis itu. Levin lalu menggeledah mayat orang itu, berharap untuk sejumlah koin untuk memberinya makan dan tempat menaung.
Dia menggeledah sakunya dan menemukan beberapa koin silver dan dua keping koin emas, cukup untuk memberinya makan selama beberapa hari. Dia juga menemukan sebuah pedang besi di ikat pinggang mayat itu, yang lalu dia membawanya dan mengacungkannya keatas.
"Aku rasa ini akan berguna bagiku. Aku bisa melindungi diriku dengan ini." ucap Levin dalam hati.
Dia lalu berjalan lebih dalam ke gua itu. Semakin dalam dia berjalan, semakin gelap tempat itu. Terdapat benda penahan lilin di setiap dinding ruangan, tapi karena tempat itu sudah lama tertinggal dan tidak terlalu diketahui banyak orang, tempat itu menjadi tempat yang terbengkalai.
Levin menghentikan langkahnya, dia tidak tahu apakah dia harus tetap berjalan menyusuri lorong yang gelap itu, atau menyerah dan kembali ke atas.
"Aku sudah datang sejauh ini, aku harus tetap berjalan, aku tidak tahu apa yang akan aku hadapi, tapi apapun itu aku harus berani. Tugasku hanya untuk mencari sebuah kristal, lalu pergi." katanya dalam hati. Yang lalu dia menerka-nerka ke arah tembok dan berjalan sambil menyentuhnya.
Setelah agak lama dia berjalan kedepan, Levin lalu menabrak sesuatu dihadapannya. Dia meraba-raba benda itu untuk mengetahui bentuknya. Dia menggeser batu berbentuk kotak diatasnya yang terasa cukup berat, benda itu seperti sebuah penutup peti. Dia lalu meraba ke dalam isi peti itu, dan menyentuh sebuah benda keras mirip ranting kayu yang lebih besar, dia percaya bahwa benda itu adalah sebuah tulang.
"Jika benda ini adalah tulang, maka kristal itu pasti berada di bagian tangannya, yang pasti terletak sedang memeluk bagian dada." pikir Levin, yang lalu dia meraba-raba bagian atas tulang itu, tetapi dia kebingungan dengan bentuk tulang itu, lebih keatas dia meraba, semakin kecil tulangnya.
"Apakah ini tulang manusia? Aku tidak mengerti kenapa bentuknya seperti ini." Levin bingung
Levin lalu memegang sesuatu yang terasa lebih dingin dari tulang. Dia lalu mencoba menarik benda itu keluar, tapi sepertinya benda itu menyangkut didalam sesuatu sehingga sulit untuk dicabut.
"Sial, aku rasa ini kristalnya. Andai saja aku bisa melihat benda ini tersangkut dalam apa." kata Levin dalam hati.
"Seharusnya tadi aku mencari dulu sebuah obor lalu kembali lagi kesini. Bodohnya aku!" lanjut Levin, sambil berusaha mencabut benda itu keluar.
__ADS_1
Levin lalu terdiam, dia mendengar suara dari dalam kepalanya, tapi suara itu sangat samar terdengar. Dia lalu melepaskan kristal itu dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Aku mendengar sesuatu! A.. Apakah itu ya?" tanyanya dalam hati. Dia lalu memegang kristal itu kembali, menggoyang-goyangkannya sambil menariknya agar benda itu cepat terlepas sehingga dia bisa membawanya keluar. Dia lalu mendengar suara itu kembali, dia memfokuskan diri untuk mendengarkan suara tersebut. Dia memegang kepalanya dengan kedua tangannya, setelah itu suara itu menghilang.
"Kristalnya! Kristal itu mencoba untuk berbicara denganku!" katanya dalam hati, yang lalu dia memegang kristal itu kembali, dan mendengar sesuatu didalam kepalanya, pada awalnya suara itu sangat tidak jelas, tapi karena dia sudah belajar bermeditasi, dia berkonsentrasi lebih keras, suaranyapun menjadi lebih jelas.
"Selamat datang, Sagmorat. Selamat datang dikuburan sederhanaku." kata suara dikepalanya.
Levin lalu mencoba untuk membalas suara tersebut, di mencoba untuk berbicara secara telepati di dalam kepalanya.
"Siapa ini? Apakah kau Calemia? Dan bagaimana kau bisa tahu bahwa aku adalah sang Sagmorat?" tanya Levin sambil agak takut.
"Aku adalah Japroth, iblis yang pernah di kalahkan oleh dewa Calemia. Dia mengubur jiwa ku disini, ketahuilah bahwa tulang yang kau raba-raba tadi bukanlah tulang-belulang manusia, melainkan tandukku yang sudah rapuh."
"Saat ini kau tidak akan bisa membawa kristal itu tanpa sebuah mantra, yang hanya diketahui dewa Calemia itu sendiri. Aku tahu takdirmu, Sagmorat, suatu hari kau akan ditugaskan untuk mengumpulkan tujuh kristal Calemiara dan hari itu sekarang sudah datang."
"Perasaanmu adalah penyakit, wahai manusia. Perasaanmu membuatmu menjadi binatang, menjadi sebuah benda yang dapat mati. Jangan pernah terikat pada perasaanmu, pertajamlah kesadaranmu, maka keabadian akan menjadi dirimu."
"Ba.. Baik. Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan kristal-kristal itu?" tanya Levin
"Kau, adalah orang pertama selama ribuan tahun ini yang menginginkan kristal-kristal itu. Akan tetapi, tuan Sagmorat, hanya dewa Calemia-lah yang dapat mendapatkan mereka." kata suara misterius itu.
"*Tapi dewa Calemia tentu sudah mengetahui tentang hari ini, dan membuat sebuah pengecualian untuk sang pembawa cahaya. Dia menyuruh kami tujuh iblis untuk menjaga tujuh kristal ini dari para petualang diluar. Tentu saja kami tidak jahat, hanya raga kami sebagai iblis-lah yang membuat kami jahat, perasaan kamilah yang membawa kendali arah hidup kami waktu itu. Tapi sekarang kami terbebas dari beban itu, sekarang kami adalah jiwa yang suci yang menjalankan perintah para dewa."
"Untuk membawa tujuh kristal itu kau harus melakukan ritual khusus. Disetiap tujuh makam kau harus melakukan ritual yang berbeda-beda, dan untuk ritual pertamamu kau akan melakukannya disini*." kata Japroth.
__ADS_1
"Apa itu? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Levin.
"Kau harus membuktikan bahwa kau adalah sang Sagmorat. Kau harus melakukan apa yang orang lain tidak bisa lakukan. Dengan itu kau akan mendapatkan tujuh kristal-kristal itu. Dan ritual pertama yang harus kau lakukan adalah, keluarkanlah cahaya dari dalam dirimu. Buktikanlah bahwa kau adalah sang pembawa cahaya, dan keluarkan cahaya terang tanpa harus keluar dari tempat ini." kata suara itu.
"A.. Apa? Tapi bagaimana caranya?" tanya Levin.
"Lakukanlah, kembalilah kepadaku saat kau berhasil." kata suara itu dalam kepala Levin.
Sementara Levin kebingungan, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia lalu berdiri dengan perlahan dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya, dia mencoba mengeluarkan cahaya dalam tubuhnya seperti yang dikatakan oleh suara itu.
Beberapa menitpun berlalu, dia masih memegang kepalanya, tidak ada cahaya apapun yang keluar dari tubuhnya. "Apa yang sedang aku lakukan? Ayolah, pasti ada cara untuk melakukan itu. Tapi... Bagaimana?" tanya Levin dengan bingung, kepalanya menjadi terasa sangat berat, karena sesak dan gelapnya tempat itu.
"Ayah dan ibuku! Mereka adalah seorang penyihir, apakah mungkin garis darah berpengaruh? Apakah mungkin aku bisa melakukan sihir?" tanya Levin kepada dirinya sendiri.
Levin lalu menegapkan dadanya, bernafas dengan panjang dan melepaskannya dengan perlahan. Dia mengeluarkan pedangnya dan mengacungkannya keatas dengan tinggi, sampai menyentuh atap ruangan itu. Dia menutup matanya dan memfokuskan pikirannya.
"Visualisasikan bentuk cahaya, rasakan kehangatan zat itu dalam tubuhmu. Dan bergeraklah ke atas pedang ini!" Levin lalu merasakan sesuatu bergerak dalam tubuhnya, dia merasakan untuk pertama kalinya perasaan itu. Dia merasakan darah penyihirnya menari-nari dalam tubuhnya, dia bisa mendengar pergerakan atom-atom terkecil dalam tubuhnya dengan jelas. Cahayapun lalu bersinar di pedangnya, mata Levin yang menutup lalu terbuka dengan sendirinya, dan melihat ruangan itu terselimuti oleh cahaya yang terang, membuat ukiran-ukiran di dinding menjadi jelas dilihat.
Levin lalu melihat kearah peti dihadapannya yang terbuka dan melihat sebuah tanduk besar tergeletak di peti itu. Tanduk itu terlihat rapuh dan hancur seperti gigi yang keropos, terdapat sebuah batu kecil yang bersinar mengkilap tertancap ditanduk itu.
Levin merasakan benda lembut didalam tubuhnya memudar, dia mengetahui bahwa benda lembut tersebut adalah energi sihirnya, Mana, yang perlahan menghabis karena cahaya yang dia sedang keluarkan. Cahaya itupun meredup dan tubuh Levin menjadi agak lemas, dia lalu berlutut, dan menyentuh kristal itu kembali.
"Sudah kuduga, kau adalah sang Sagmorat si pembawa cahaya. Tidak diragukan lagi, kau-lah yang akan bertarung melawan kegelapan yang sedang menyelimuti pulau ini. Sekarang, kristal ini milikmu, kristal ini akan terlepas dari kekuatan sihir yang menahannya. Ritual terselesaikan, semoga para dewa memberkati setiap langkahmu." suara itu lalu memudar dari kepala Levin, dan menghilang.
Kristal yang sedang dipegang Levin lalu terlepas dari segelnya, cahaya bersinar keluar dari kristal itu, dan terdengar suara 'trekk', kristal itu lalu berada ditangan Levin.
__ADS_1
- End of Chapter :)