
Levin berjalan melalui jalan setapak itu ke arah rumah yang ditunjuk oleh Clea. Setelah mereka cukup dekat dengan rumah itu, mereka melihat bahwa ternyata cukup banyak perumahan disekitar itu. Mata Levin berbelok kekiri berfikir, dia merasa bahwa dia tidak melihat adanya sebuah desa lain dipeta yang dilihatnya tadi.
"Aku tidak ingat ada sebuah desa lain dipeta. Apakah desa ini aman?" ragu Levin, Clea yang sedang digendong olehnya memegang pundak Levin dengan lemas, dia menghindari kontak fisik berlebihan dengan Levin. Dia lalu berbicara.
"Ha? Memangnya menurutmu semua desa harus tercantum dipeta? Tentu saja hanya desa-desa besar yang akan tercantum dipeta, desa terpencil dan kecil seperti ini mana ada." jelas Clea. Levin menghentakkan kakinya berhenti, dia melihat sebuah kerumunan disuatu rumah disana. Dia lalu membawa Clea kesana dengan langkah yang agak dipercepat. Levin lalu menyapa salah satu dari banyaknya orang dikerumunan.
"Permisi tuan, apa yang sedang terjadi disini?" tanya Levin. Orang itu menengok, wajahnya terlihat pucat, orang itu terlihat seperti seorang petani tua yang kelelahan. Dia lalu melihat keatas bawah mengamati Levin dan Clea, dia tidak mengekspektasikan adanya seorang pendatang ke desa kecil itu.
"Aku takut aku tidak bisa menceritakannya kepadamu, pendatang. Lagipula ini bukan tempat untuk dua pasang anak kecil berhidung belang untuk bermain, pergilah dari sini atau kalian akan celaka." kata orang yang terlihat seperti petani itu. Dia lalu mengacungkan tangannya dan membuka mulutnya mencoba untuk menahan Levin, seolah-olah dia berubah pikiran.
"Tapi tunggu, aku rasa kau bisa menanyakan pertanyaanmu itu kepada ketua kami disini, dia sendiri berkata untuk tidak menceritakan kejadian ini kepada siapapun diluar kampung. Pergilah kerumah di bagian kiri tengah, terdapat gambar ayam dipintu rumah itu, mungkin kau akan menemukan apa yang kau cari disana, mungkin kau juga bisa membantu kami dalam permasalahan ini, sekarang pergilah, sebelum orang lain disini menyadari keberadaan pendatang dan mengusirmu dengan cara yang tidak menyenangkan." kata pertani itu sambil mengayun-ngayunkan tangannya mengusir Levin, sementara mata Levin terpaku kepada suara manusia yang menggeram di balik kerumunan itu, dia tidak bisa melihat kesana karena kerumunan itu cukup tebal dan orang-orang disana menghalangi Levin untuk melihat lebih jelas.
Levin berjalan pergi dari situ. Clea berusaha untuk melepaskan dirinya dari pangkuan Levin, tapi Levin menolaknya, katanya mereka sudah hampir sampai dan dia akan menurunkannya saat sampai dirumah ketua yang dibicarakan petani tadi.
Levin menengok kearah kiri, terlihat sebuah rumah kayu yang lebih besar dari rumah yang lainnya. Rumah itu lebih tertata rapih dan bertingkat. Terdapat sebuah simbol ayam dipintu itu, mungkin sebuah simbolisme untuk rumah peternak atau semacamnya. Levin melangkah menaiki tangga kecil dan berjalan kearah pintu, terdapat sebuah besi bulat yang tertempel disana, benda itu berfungsi sebagai sebuah pengetuk pintu. Dia menurunkan Clea, dan mengetuk pintu itu.
__ADS_1
"Permisi." teriak kecil Levin sambil menubrukan besi bulat itu kepintu dengan pelan dua kali. Seseorang didalam lalu berteriak.
"Siapa disana? Jangan masuk sampai kalian menyingkirkan orang penyakitan itu!" teriak serak seorang laki-laki didalam rumah itu, Levin lalu membalasnya.
"Aku adalah seorang pendatang tuan, aku kesini untuk mengobrolkan tentang sesuatu." balas Levin berteriak. Terdengar suara sepatu yang terbanting di lantai kayu didalam rumah itu, orang yang berada didalam lalu melangkah ke arah pintu dan membukannya.
Orang itu terlihat jangkung dan kurus, kumisnya yang putih kehitaman menggambarkan umurnya yang cukup tua, dia memakai topi Coif hitam dan pakaian yang terbuat dari kulit serigala tebal, posturnya tegak dan dadanya busung kedepan, terlihat seperti seseorang yang terhormat. Orang itu lalu memiringkan kepalanya melihat dua pemuda di hadapannya.
"Apa? Dua orang anak kecil? Astaga... Jadi, apa sebenarnya tujuan kalian kesini anak-anak muda? Apakah kalian tersesat? Jika begitu temuilah Dexter di rumah ujung dekat tugu, dia akan mencarikan kalian jalan kerumah kalian." kata orang itu, dia lalu membuang nafasnya dan menutup pintu itu kembali, namun Levin menahannya.
"Tunggu! Kami tidak tersesat, kami butuh bantuanmu tuan. Teman perempuanku ini butuh pengobat, kami dalam perjalanan menuju desa Dreydan dan dia terjatuh sehingga kesulitan untuk melanjutkan perjalanannya." jelas Levin, orang berkumis putih itu lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tunggu dulu tuan, aku mendengar salah satu dari penduduk desa ini mengatakan bahwa ketua desa disini membutuhkan sebuah pertolongan. Jika aku bisa mengetahuinya, pertolongan apakah yang kalian butuhkan? Kami memang terlihat seperti anak kecil, tapi kami berpengalaman sebagai tentara bayaran dan mercenary, mungkin kami bisa membantu orang-orangmu disini, tentu saja dengan bayaran tertentu." kata Levin sambil membungkukkan badannya dan memegang pegangan pedang Varan Fretha itu layaknya seorang prajurit. Clea berusaha menyembunyikan kekagumannya, dia menatapi Levin dengan tersenyum kecil. Ketua desa itu mengangkat alisnya, dia mengamati pakaian Levin yang berbalut armor dan pedang mengkilapnya yang diselipkan di ikat pinggang kulitnya.
"Kau memang bersenjata, anak muda. Tapi aku tidak yakin kami akan membutuhkan seorang prajurit disini. Yang kami butuhkan justru seorang pengobat atau mungkin seorang ahli tanaman. Kau pergilah, tempat ini cukup berbahaya bagi kalian orang yang tidak tahu menahu soal masalah disini." ucap si ketua desa. Levin terdiam dan suasanapun menghening sesaat, ketua desa itu masih menunggu Levin untuk pergi dari hadapannya. Keheninganpun pecah saat seseorang berlari ke arah mereka, wajah orang itu melotot panik dan berteriak-teriak memanggil kepala desa disana. Dia lalu meloncati tangga itu dan menunjuk-nunjuk ke suatu tempat.
__ADS_1
"Kepala desa Edwin! Si pengobat... Dia berkata kau harus cepat mencegah para petani dan peternak untuk pergi ke danau! Dia berkata penyakit itu datang dari sana dan kita harus cepat memusnahkannya. Dia memintamu untuk segera bertindak, karena tidak lama tadi segerombolan anak kecil pergi kesana untuk memancing. Kau harus cepat menghentikan mereka!" teriak penduduk desa itu. Wajah ketua desa bernama Edwin itu lalu berubah pucat.
"Kalau begitu kau cepat peringati para penduduk desa untuk tidak pergi ke danau itu! Terdapat juga satu desa kecil lain yang dekat dengan danau itu, aku harus cepat memperingati mereka dengan Dexter. Aku rasa kau mempunyai pekerjaan anak muda, pergilah ke danau itu dan cegah anak-anak yang akan memancing disana. Danau itu terletak di arah barat dari tugu, terdapat jalan setapak kecil disana, ikuti saja jalan setapak itu dan lakukanlah dengan cepat!" teriak Edwin, dia lalu bergegas berlari mencari kusir benama Dexter itu. Si penduduk yang tadi juga melakukan hal yang sama, dia berlari dan berteriak-teriak kepada warga disana agar tidak mendekati danau yang dia maksud. Sementara Levin dan Clea terdiam sejenak.
"Kalau begitu kau tunggu disini! Kakimu masih sakit jadi beristirahatlah disini, aku akan membawa kembali anak-anak itu dan mencari tahu apa yang terjadi didanau." teriak Levin kepada Clea. Clea lalu dengan cepat meraih tangan Levin dan menghentikannya.
"Tunggu! Bawa saja anak-anak itu dan kembali! Danau itu berbahaya bukan? Kau seharusnya menjauhi tempat itu dan pergi dari sini." katanya sambil mencoba menahannya pergi dengan wajah panik.
"Aku tidak tahu, aku hanya merasa aku harus melakukan itu. Jangan khawatir, aku hanya akan menyelidikinya saja, aku tidak akan mendekati danau itu." kata Levin, dia tersenyum kepada Clea dan mencoba melepaskan tangannya, tapi Clea tetap menahannya.
"Ka.. Kalau begitu, aku juga ikut. Aku akan berlari kesana." Levin mengkerutkan wajahnya, dia merasa bahwa waktunya semakin menipis.
"Tapi kau hanya akan memperlambatku Clea. Kau tunggulah disini, aku yakin kau bisa menjaga dirimu dengan busurmu itu. Aku harus cepat ke danau itu sebelum anak-anak itu sampai kesana!" Levin berkata dengan buru-buru, sedangkan Clea terdiam sejenak, dia melihat kebawah berfikir dengan keras.
"Ti.. Tidak mau. Aku ingin ikut kesana atau tidak seorangpun dari kita yang akan pergi." ucap Clea pelan, Levin lalu teringat saat-saat mereka berdua terkurung dikurungan bandit kemarin lusa. Dia ingat bahwa dia pernah mengatakan hal yang sama kepada Clea. Levin tidak mempunyai pilihan lain, dia tidak mempunyai waktu untuk berdebat dengan wanita keras kepala didepannya. Dia lalu mengangguk terpaksa.
__ADS_1
"Ba.. Baiklah, terserah kau saja. Tapi lukamu akan menjadi lebih parah jika kau berlari mengikutiku kesana, kau harus aku gendong lagi." kata Levin, Clea lalu mengangguk dan tersenyum. Levin lalu mengangkat menggendongnya dan berlari ke arah tugu.
- End of Chapter :)