Petualangan Si Pembawa Cahaya

Petualangan Si Pembawa Cahaya
CH.5 - Wanita Dalam Gelap


__ADS_3

Haripun mulai cerah. Cahaya matahari yang terang menyinari wajah Baron yang sedang tertidur dikursi. Terdengar suara ayam berkokok diluar pondok, dan suara burung pun sudah mulai berkicau. Terdengar suara langkah kaki yang dihentakan kepada kayu di halaman pondok. Baron lalu membuka matanya, menggosoknya dan melihat ke arah kamar Ally, seorang wanita yang diramalkan sebagai pasangannya oleh si penyihir, Ramon Awaru.


Ramon yang berada diluarpun mengetuk pintu tiga kali dengan agak keras. Baron yang sudah menyadari kehadiran Ramon lalu berdiri dari kursi, dia meregangkan tubuhnya dengan sesaat dan berjalan kearah pintu untuk membukanya.


"Mana Levin? Panggil dia sekarang!" kata Ramon dengan nada agak tinggi.


"Aku rasa dia berada di kamarnya. Ada apa Ramon? Kenapa terburu-buru?" tanya Baron. Levin dan yang lainnya lalu keluar dari kamar, mendengar teriakan Ramon.


"Ada apa?" tanya Levin saat keluar dari pintu, sedangkan Ally terlihat kebingungan dengan sosok orang tua dihadapannya, dia hanya terdiam.


"Kau harus pergi sekarang Sagmorat. Karena jika tidak segalanya akan selesai, ritual dalam ramalan Akemon akan gagal dan semuanya akan hancur." teriak Ramon dengan panik.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Levin, sementara Ally dan Wander hanya terdiam kebingungan.


"Seorang penjaga budak di kerajaan Crescabes mengetahui letak rumah ini dan akan menangkap kalian semua, termasuk kau Baron. Sekitar seratus tentara sedang dalam perjalanan kesini, mereka sudah sangat dekat. Aku akan menteleportasikan kalian bertiga ke gunung Dormin bersamaku. Sementara kau, Levin. Tidak ada waktu lagi untuk berfikir, pergilah dan temukan tujuh keping kristal pedang Calemiara, bawalah petanya dan pergi sekarang!" kata Ramon sambil mengucapkan mantra ke tongkatnya, yang lalu tongkat tersebut bersinar terang.


"Apa? Tu.. Tunggu dulu, Aku..." Ramon lalu mengacungkan tongkatnya yang bersinar kearah Levin. Sinar itu lalu menyelimutinya dan tubuh Levin berubah menjadi kepingan-kepingan sinar kecil yang terang, sinar tersebut lalu menghilang dengan sangat cepat.


Levin membuka matanya, dia sedang terbaring di rerumputan yang hijau dan lembut. Dia lalu bangun dan melihat kearah sekelilingnya, terdapat sebuah batu besar yang terlihat seperti gua, tercium bau aneh disana. Levin lalu berdiri, sebuah kertas lalu terjatuh dari tangannya, kertas itu adalah peta yang diberikan oleh Ramon kepadanya.


Levin lalu membawa peta itu dari tanah dan mengamatinya. Dia berfikir bahwa sekarang dia berada di salah satu titik hitam yang berada di peta tersebut, yaitu di salah satu kuburan tujuh iblis yang dikalahkan oleh dewa perang Calemia.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Bukankah terlalu bahaya bagiku untuk masuk ke makam itu tanpa perlengkapan apa-apa?" tanya Levin dalam hati.


"Aku rasa aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak tahu apa-apa tentang daerah ini. Aku harap aku bisa menemukan sesuatu didalam sana untuk dijual dan menginap disuatu tempat." Levin lalu melangkah maju kedalam gua itu. Dia menuruni tangga sambil menutup hidungnya.


"Bau apa sih ini?" katanya yang lalu suaranya bergema di gua itu.


"Si.. Siapa disana?" teriak seorang wanita di dalam gua itu. Wanita itu mengacungkan panahnya kepada Levin.


"Tu.. Tunggu! Aku bukan orang jahat!" teriak Levin panik sambil mengangkat tangannya.


"Wah wah.. Rupanya hanya seorang bocah. Apa maumu nak? Pergilah, tempat ini bukan untuk balita sepertimu!" kata wanita itu.


"Umurmu terlihat tidak berbeda jauh denganku loh. A.. Aku rasa kau lebih muda dariku, nona." kata Levin masih mengangkat tangannya.


"Ba.. Baiklah, terserah kau saja. Apa yang sedang kau lakukan disi..." terdengar suara teriakan diluar gua yang cukup keras memotong pembicaraan Levin.


"Boss! Aku menemukan jejak orang disini! Kemarilah!" teriak orang diluar gua. Wanita itu lalu panik dan menarik baju Levin.


"Sembunyi!" teriak wanita itu dengan pelan.


Mereka berdua lalu sembunyi dibelakang batu pilar dijalan masuk gua itu. Area itu adalah area yang sangat gelap dan cukup lebar bagi mereka berdua untuk bersembunyi.

__ADS_1


"Kau cari dia disini! Aku akan mencari wanita itu ditempat lain. Jika kau temukan dia, bunuh saja langsung. Dan jangan lupa untuk membawa kepalanya kepadaku ke kapal." kata salah satu orang diluar gua.


"Baik, boss!" kata salah satu dari dua orang itu. Setelah itu dia melangkah menuruni tangga gua. Dia menyelonong masuk ke kedalaman gua itu tanpa menyadari kehadiran Levin dan wanita itu dibelakangnya.


Wanita itu lalu mengeluarkan busur panah dari penyimpan anak panah di punggungnya. Dan mengacungkannya kepada orang yang baru memasuki gua tadi.


"Tunggu! Kau akan membunuh orang itu?" bisik Levin


"Diam, bodoh! Ini adalah kesempatan emasku." bisik wanita itu, yang lalu dia melepaskan anak panahnya dan mengenai punggung orang misterius itu. Dia lalu berteriak kesakitan.


Wanita itu lalu berlari ke orang itu dan mencekiknya. Darah lalu keluar dari mulutnya, wajahnya memerah karena kekurangan oksigen dan akhirnya dia menutup matanya, diapun mati.


"Bodoh, seharusnya kau tidak menggangguku tadi, aku bisa memanah kepalanya tahu!" kata wanita itu kepada Levin. Sedangkan Levin terlihat geli dengan ekspresi wanita itu yang tetap tenang meskipun sudah membunuh seseorang.


"Kau baru saja membunuh seseorang, nona. Bukankah sekarang waktunya untuk panik?" kata Levin dengan nada tinggi.


"Mereka adalah penjahat, ****. Hidup mereka tidak berarti apa-apa. Lagipula apakah ini pertama kalinya kau melihat orang terbunuh? Balita macam apakah kau?" kata wanita itu sambil memajukan bibirnya.


"A.. Astaga, betina macam apakah kau ini? Lagipula yang lebih penting sekarang adalah, apa yang harus kita lakukan dengan mayat ini?" tanya Levin


"Apa yang akan kita lakukan? Biarkan saja lah begok! Tapi jika kau ingin menidurinya silahkan saja, aku akan pergi dari sini." kata wanita itu sambil berjalan keluar dari tempat itu. Dia berhenti sebentar dan melihat ke arah Levin, dia lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan gua itu.

__ADS_1


- End of Chapter :)


__ADS_2