Petualangan Si Pembawa Cahaya

Petualangan Si Pembawa Cahaya
CH. 18 - The Children of Evil III


__ADS_3

Air terjun Ico yang besar membentang menimbulkan suara yang indah dan berisik secara bersamaan. Suara burung terdengar berkicauan membalas satu sama lain, alat kayu yang besar dan berbahaya masih terpasang dengan kokoh terguyur oleh derasnya air yang berjatuhan.


Levin membusungkan dadanya dan menarik nafas dengan dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Perasaan menyesal masih merayap diperutnya, dia menyesal dan mengutuk dirinya sendiri karena perkataan bohongnya kepada Gordon, meskipun dia tahu dia tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi kepada anaknya.


Levin menoleh ke arah air terjun itu. Dia bisa merasakan eksistensi si naga yang sedang menunggunya di dalam gua remang-remang itu. Dia lalu melangkah kembali kesana, berjalan melalui sungai yang mengalir cukup deras dan dingin membasahi celananya untuk kesekian kalinya. Dia lalu meloncat ke daratan bebatuan gua itu dan masuk kedalam. Sang naga Vaxhella menatapnya di dekat altar, matanya menyala-nyala dan mulutnya mengkerut tersenyum kepada Levin.


"Ahh, sang ksatria pemberani telah kembali. Dan lihatlah kesekelilingmu, aku bisa mencium bau energi busuk keluar dari tubuhmu yang memenuhi gua ini. Ketahuilah, Sagmorat, bahwa perasaanmu membawa karma buruk bagi mahluk sekitarmu, jadi simpanlah perasaan itu untukmu sendiri." kata naga itu menyemburkan apinya ke udara seperti orang yang sedang mengusir nyamuk.


"Aku tidak yakin aku mengusir para pemburu itu dengan benar, kau tahu, mungkin mereka bisa kembali kesini untuk mengecek dan membawa mayat-mayat itu. Aku... tidak ingin mereka menjadi korbanmu juga." kata Levin lemas. Vaxhella lalu tertawa.


"Kau, Sagmorat, adalah orang yang akan menentukan nasib mereka dimasa mendatang. Mereka sudah pasti akan kembali lagi kesini, aku bisa mencium keraguan mereka terhadap perkataanmu tentang ular itu. Tapi tentu saja, hanya takdirlah yang akan menentukan keselamatan mereka." suara serak Vaxhella membuat cairan di tubuh Levin bergetar tegang, tapi kebingungan lah yang menyelimutinya saat ini.


"Apa maksudmu aku yang menentukan nasib mereka?" tanya Levin.


"Kita terikat oleh takdir, Sagmorat. Kau ditakdirkan oleh dewi Hartlova untuk membuka segel Calemia dan membawa kepingan kristal Calemiara dari altar itu. Peti altar itu dirantai oleh rantai yang diberi perlindungan sihir oleh dewa Kaliph, dewa ilmu pengetahuan dan sihir. Kau membutuhkan kunci untuk membuka rantai itu, dan kunci itu disegel didalam tubuhku yang abadi. Hanya kau lah, sang Sagmorat, yang bisa menghancurkan tubuhku ini. Maka dari itu, jika kau berhasil menghancurkanku, maka air terjun dan gua ini akan terbebas dari terorku." kata Vaxhella. Levin lalu menghentakkan kakinya dan mundur kebelakang.

__ADS_1


"A.. Apa? Kau menyuruhku untuk membunuhmu? Ta.. Tapi kau bilang tubuhmu abadi! Bagaimana caranya bagiku untuk menghancurkanmu jika begitu?" tanya Levin dengan nada tinggi.


"Lakukanlah. Karena hanya sang Sagmoratlah yang dapat dan mengetahui cara melakukan ritual ini." kata Vaxhella sambil terduduk seperti kucing, dia lalu memperhatikan Levin.


"A.. Apa? Ritual semacam apa lagi ini? Maksudnya aku harus membunuhnya? Apakah dia akan melawan? Si.. Sial! Mana mungkin aku bisa melakukannya, mu.. Mungkin dengan alat para pemburu itu?" tanya Levin dalam hatinya. Vaxhella lalu tertawa.


"Ada apa Sagmorat? Kau pikir rongsokan para pemburu itu bisa menghancurkan tubuhku yang lebih kuat dari baja ini?" Vaxhella tertawa mengejek. Levin menatapnya dengan wajah bingung.


"Kau tidak punya perasaan, kan? Lalu kenapa kau bisa tertawa seperti itu?" tanya Levin, dia mencurigai sesuatu.


"Pandai! Pengamatan yang lihai anak muda. Tapi sayangnya aku memang tidak punya perasaan. Tawaku hanyalah sebuah simbolisme, sama seperti bahasa yang sedang aku ucapkan sekarang. Kami para iblis tidak berbicara dengan bahasamu, kami berkomunikasi dengan cara bertelepati, mengirimkan gelombang frekuensi dari pikiran ke pikiran. Tapi aku berbicara denganmu sekarang, dengan seorang manusia, sehingga aku harus bertingkah dan berkomunikasi selayaknya seorang manusia." kata Vaxhella yang sedang terduduk itu, perkataanya membuat kecurigaan Levin memudar, wajahnya yang kebingungan sekarang berubah, sebuah ilham menghantam pikirannya dan memberinya sebuah ide. Dia tersenyum puas.


Kristal itu lalu berubah menjadi terang saat Levin mengacungkannya kepada Vaxhella. Sebercak cahaya lalu keluar dari perut naga itu, sedikit demi sedikit cahaya itu membentuk sebuah simbol yang berbentuk huruf 'C', sebuah inisial untuk 'Calemia'.


Mata naga itu terpaku pada kristal yang semakin lama semakin mengeluarkan cahaya yang lebih terang itu. Tubuhnya terpatung, pikirannya menjadi kosong, sesuatu sedang terproyeksikan dari dalam kristal itu ke dalam kepalanya. Levin menyadari hal itu adalah sebuah pertanda baginya, dia lalu menjatuhkan kristalnya, membawa pedang dari cangkangnya, dan menusukannya ke perut si naga.

__ADS_1


Terdengar suara 'TAKK' menggema di seluruh penjuru gua. Suasana menjadi hening sesaat, Levin melihat ke perut naga itu yang masih utuh, dia lalu melihat ke pedang yang sedang dia pegang, pedang itu patah.


"Kristal itu! Kristal itu adalah pedang Calemiara yang digunakan untuk membunuh ketujuh iblis penguasa benua Ydaya! Kristal itu akan menjadi kehancuran bagiku!" teriak naga itu. Levin bisa merasakan maksud dari perkataan Vaxhella, hanya kristal itulah yang bisa menghancurkannya.


Dia lalu meraih kristal itu, yang kemudian kristal itu mengeluarkan cahaya disusul oleh perut Vaxhella. Levin lalu mengacungkannya ke atas, mengayunkannya kebelakang dan melemparnya ke perut Vaxhella yang menyala-nyala seakan kedua benda itu terkoneksi satu sama lain.


Naga itu lalu mengeluarkan cahaya dari seluruh tubuhnya. Ruangan gua yang remang-remang dan menakutkan sekarang terbalut cahaya yang terang benderang. Levin berbalik badan dan merapatkan tangan ke matanya. Terdengar suara mendecit dari arah naga itu selama beberapa detik, ruangan itu kembali meredup.


Mata Levin tertutup yang penuh dengan cahaya putih sekarang kembali menjadi semula. Dia menurunkan tangan dari kepalanya, membuka matanya dan membalik badannya kembali ke arah naga itu. Naga itu lenyap, meninggalkan benda-benda berkilauan di tempat dirinya terduduk tadi.


Levin berjalan mendekati benda-benda itu, meraihnya dan mengamati dua benda itu. Benda yang pertama adalah dua buah kristal yang menempel saling terhubung satu sama lain. Terdapat sebuah celah yang mengubungkan kedua benda itu, dia menarik kedua sisi kristal itu mencoba untuk mencabutnya, tapi ikatannya terlalu kuat, benda itu terpasang secara sihir. Dia lalu memasukannya ke saku dimana dia menyimpan kristal sebelumnya.


Levin lalu mengamati benda lain yang dia peroleh dari lantai dimana naga itu lenyap. Benda itu adalah sebuah kunci biasa yang hitam dan cukup berat seukurannya. Kunci itu adalah kunci rantai yang membalut peti altar itu.


"Jika aku sudah mendapatkan kristal itu ditanganku, lalu untuk apakah kunci ini? Apakah yang ada dalam peti altar itu?" tanya Levin kepada dirinya sendiri, dia lalu menghampiri dan membuka gembok rantai itu. Cahaya yang terangpun lagi-lagi keluar saat dia memasukan dan memutar kuncinya. Levin membalikan badannya kembali dan menutup matanya dengan kesal.

__ADS_1


"Astaga mataku! Ada masalah apa tempat ini dengan cahaya?" kata Levin dalam hatinya.


- End of Chapter :)


__ADS_2