
Terdengar suara kereta dan botol-botol yang bertabrakan saat itu di hutan Livermore. Setelah dua puluh menit lamanya, akhirnya mereka sampai di dekat air terjun iblis itu. Kereta itupun berhenti, terdengar suara air yang mengalir di kejauhan, Don turun dan mengikat si kuda di salah satu pohon disana. Gordon dan Erand menyiapkan barang-barangnya, Gordon lalu memberikan sebuah busur kepada Don yang saat itu mempunyai tangan kosong.
"Aku rasa kau sudah mempunyai persenjataanmu Levin. Sekarang bergegaslah, kita bunuh mahluk itu dan kita bebaskan saudara kita yang sedang disekap dalam air terjun itu." kata Gordon dengan optimis. Levin lalu meloncat turun dari kereta, dia tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Gordon, dia berfikir dalam hatinya bahwa kelompok itu mungkin sekarang sudah meninggal didalam air terjun itu, tapi dia hanya mengangguk kepada Gordon.
Mereka lalu berjalan ke arah air terjun yang besar itu. Terdapat sebuah benda kayu yang besar berbentuk huruf 'n' melingkari air terjun, ditengah atasnya terdapat sebuah pisau besar yang jika tuas-tuas benda itu ditarik pisau itu akan terjun kebawah, mirip seperti guillotine tapi lebih besar dan mekanismenya lebih rumit.
"Bersiap-siaplah sahabatku. Sekarang kita akan mengetahui bentuk dari binatang jahanam ini yang telah menculik teman-teman dan keluarga kita. Kita bantai dia!" teriak Don sambil menarik kain lengan panjangnya ke atas dan melipatnya, suara air terjun yang bising membuat mereka harus mengencangkan suara mereka ketika berbicara.
"Perlu menyebrang untuk pergi ke tuas yang kanan. Don, kau bertugas di tuas yang ini. Kau Erand, tariklah tuas yang diatas memakai tali yang tergantung itu disini dekat Don, dan aku akan menyebrang lewat atas seperti kemarin." kata Gordon dengan sikap komandannya. Don dan Erand mengangguk lalu berlari ke arah tuas itu dengan hati-hati, Gordon lalu memegang pundak Levin.
"Kau, anak muda. Apapun yang akan terjadi padamu, semua orang akan mengingatmu sebagai seorang pahlawan. Tolong lakukanlah tugasmu dengan aba-abaku, apapun yang akan kau lakukan untuk memancingnya, lakukanlah!" kata Gordon, dia memeluk Levin dan pergi memutar untuk menyebrangi sungai itu. Levin mendapatkan sebuah ide saat pertama kali dia melihat air terjun itu.
__ADS_1
"Bodoh, mana mungkin aku bisa berlari menyebrangi sungai itu dengan cepat, dan mana mungkin juga aku bisa berdiri di tengah sungai yang airnya mengalir dengan deras seperti itu." kata Levin dalam hati, dia lalu menepuk-nepukan jari ke pahanya sambil menunggu Gordon di sebrang sungai.
Setelah beberapa menit lamanya, Gordon akhirnya sampai disana. Dia melambai-lambaikan tangannya kepada kedua temannya dan kepada Levin memberi petunjuk untuk segera bersiap-siap. Kedua orang itu lalu memegangi kayu yang tertancap di alat itu, sementara Erand memegangi tali yang terpasang ke pisau besar yang menggantung di atas alat itu.
Suara air terjun yang keras ternyata membuat mereka kesulitan untuk berkomunikasi, sehingga mereka hanya terdiam sepanjang waktu itu. Gordon melihat ke arah Levin dan menganggukan kepalanya, tanda dia harus memulai memancing mahluk itu keluar. Levin lalu membawa busur milik Clea yang dia gantungkan di belakang bajunya, membawa salah satu anak panah di selendang dipunggungnya, dan menegakkan dadanya.
Dia menarik nafasnya dengan sangat dalam, menyipitkan mata kanannya, dan melepaskan anak panah itu ke sebuah celah di air terjun itu sehingga masuk ke dalam gua di air terjun.
"Sial, aku rasa aku terpaksa harus memanahnya di tengah sungai, mungkin dia bisa melihatku disana. Aku berharap aku bisa lari di sungai yang deras itu tanpa terbawa hanyut." kata Levin. Dia mengangkat tangannya ke atas menandakan mereka bertiga harus menunggu. Dia lalu berjalan dengan hati-hati di sungai yang sedikit deras dan menjorok kebawah itu.
Levin lalu berhenti berjalan, dia membalikan badannya ke arah air terjun itu dengan pelan-pelan dan menarik nafasnya dalam-dalam. Dia melihat ke sebuah celah di air terjun itu yang sangat gelap, dia tidak tahu mahluk apa yang dia akan lihat itu. Dia lalu mengangkat busurnya, dan melepaskan anak panah untuk kedua kalinya di tempat itu. Tapi mahluk itu belum juga muncul.
__ADS_1
"Sial! Kenapa belum muncul juga!" kata Levin dengan kesal. Dia lalu mendapatkan ide, matanya berubah menjadi sinis menatap ke arah celah itu. Dia lalu melipatkan celananya yang basah, menarik nafas dengan panjang, berdiri dengan tegak, dan menggerak-gerakan tubuhnya dengan aneh. Dia mengangkat tangannya ke atas kebawah dan berteriak seperti orang purba.
"ULULULULULU!" teriak Levin sambil menggoyangkan tubuhnya dan mengangkat busurnya keatas. Sementara ketiga orang itu menatapnya dengan aneh, mereka menggelengkan kepala mereka.
Setelah beberapa saat, Levinpun lalu berhenti karena kelelahan. Situasi menjadi hening, suasana di air terjun itu menjadi terasa lebih tenang dan menyejukan dibanding sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda kemunculan mahluk itu.
Levin menjadi semakin kesal. Dia lalu berjalan melawan arus menuju ke arah air terjun. Ketiga orang itu terkagum-kagum dengan keberanian Levin. Dia melangkah seperti seorang tentara yang sedang berlatih melawan arus yang deras. Ketiga orang itu mengeraskan otot-otot mereka dan mengambil ancang-ancang, karena Levin sudah mendekati air terjun itu.
Levin tidak berhenti melangkah, dia berjalan terus ke air terjun itu dan masuk kedalamnya. Ketiga orang itu lalu menatap kearah satu sama lain, mereka tidak percaya bahwa Levin akan senekat itu. Levin lalu meloncat masuk. Suasanapun lalu menghening kembali diantara mereka bertiga, untuk kesekian kalinya.
- End of Chapter :)
__ADS_1