
Sore hari itu terasa sangat pendek bagi dua pemuda itu. Mereka berjalan dengan keringat membasahi kening mereka. Mereka sudah melewati rawa itu dan melihat sebuah gunung berbatu dihadapan mereka. Mereka berjalan ke arah gunung itu.
Terdapat sebuah gua yang besar dan gelap didepan mereka. Gunung dan pepohonan yang tinggi menghalangi cahaya matahari sehingga membuat tempat itu sebagai tempat yang gelap gulita. Kedua pemuda itu menengok kanan kiri. Levin melihat ke atas gua itu yang terlihat seperti daratan, tidak ada apapun disana, meskipun dia yakin tempat itu seharusnya digunakan sebagai pos penjaga para troll. Mereka berdua lalu masuk kedalam gua yang mereka percaya sebagai tempat sembunyi para troll itu.
Mereka tidak menyangka bahwa gua itu ternyata lebih terang dari pada diluar tadi. Terdapat lilin-lilin berjajar di dinding-dinding, terdapat juga kayu-kayu besar berduri bersenderan disana, mungkin kayu-kayu itu adalah senjata para troll, dan sepertinya para troll itu bukanlah mahluk yang berkepala kosong sepenuhnya.
Langkah mereka lalu terhenti ketika melihat sebuah bayangan besar datang dari sisi lain. Bayangan itu semakin mendekat semakin membesar. Lalu datanglah seorang troll, tubuhnya tinggi besar dan buncit, gigi-giginya menonjol keluar, baunya menusuk dari arah kejauhan. Troll itu melihat ke arah dua pemuda itu dengan tenang.
Levin membawa busur milik Clea di punggungnya. Dia mengambil ancang-ancang untuk memanah troll itu. Tapi troll itu tetap terdiam, dia malah membungkukkan badannya ke arah mereka berdua dan menunjuk ke arah kemana dia datang tadi.
Levin mengetahui hal itu sebagai sebuah isyarat. Dia membungkukan badannya kembali, mengembalikan busurnya ketempatnya dan tersenyum kepada troll itu. Dia lalu berbisik kepada Arnold.
"Aku rasa sesuatu yang aneh sedang terjadi disini. Kita harus berhati-hati." bisik Levin, Arnold mengangguk.
Levin dan Arnold berjalan mengikuti troll itu menyusuri lorong yang besar. Terlihat banyak troll disana melihat ke arah mereka berdua, tidak ada satupun dari mereka yang menyerang, sebagian dari mereka malah membungkukkan badannya.
Mereka lalu berada di sebuah ruangan yang besar, ruangan itu dipenuhi oleh troll yang berjajar membaris membuat sebuah jalan bagi mereka berdua. Sebagian dari para troll itu mengeluarkan sorakan yang keras, troll-troll itu lalu mengeluarkan suara secara serempak.
Lalu seorang troll yang lebih besar datang di sebuah dataran yang lebih tinggi. Lehernya dihiasi dengan kalung yang terbuat dari dedaunan dan taring-taring besar. Dia mengacungkan kedua tangannya keatas, sorakan para troll-troll itupun menjadi lebih keras. Ketua troll itu lalu menurunkan tangannya, troll-troll itupun berhenti bersorak.
"Selamat datang, Sagmorat! Selamat datang di rumah sederhana kami! Sebuah kehormatan bagi kami mahluk-mahluk hina ini untuk melihat dengan mata kepala kami sendiri, seorang dewa di rumah kami!" teriak ketua troll itu. Suara troll yang lain pun kembali gaduh, mereka berteriak layaknya sekumpulan monyet yang sedang melihat seorang manusia jatuh terpeleset. Ketua troll itu mengangkat tangannya, suara-suara itupun lalu berhenti.
__ADS_1
"Kami tahu apa yang sedang kalian cari, manusia-manusia muda. Meskipun ras kalian berkata bahwa kami para troll adalah mahluk hina yang beringas, kami dianugrahi oleh para dewa untuk menjalanlan tugas-tugas suci. Kami bahkan diberi mukjizat oleh para dewa untuk mengetahui masa lalu dan masa depan, terpujilah mereka!" teriak ketua troll itu sambung troll-troll lain. Diapun menurunkan tangannya kembali. Levin menjawab perkataannya.
"Aku meminta maaf terhadap perlakuan manusia lain terhadap orang-orangmu, yang mulia. Sebagian dari mereka memanglah salah mengerti tentang ras kalian, tapi ketahuilah, banyak manusia diluar sana yang tetap menghormati mahluk lain, termasuk ras kalian." kata Levin dengan suara yang menggema di gua itu setelah membungkukan badannya. Arnold lalu melangkah kedepan, dan berlutut.
"Aku mohon kepadamu yang mulia! Seseorang yang sangat aku cintai membutuhkan bantuanmu sekarang. Dia tidak punya waktu banyak. Dia terkena sebuah penyakit yang hanya akan dapat tersembuhkan oleh taring troll. Aku mohon dengan nyawaku, tolong berikanlah kami taring itu! Aku akan membalasnya dengan apapun... Apapun yang kalian inginkan! Meskipun itu adalah nyawaku sendiri sekalipun!" teriak Arnold sambil berlutut. Dia mempunyai hati yang sangat sensitif. Dengan mudahnya dia akan menangis ketika sesuatu yang menyedihkan terjadi. Tapi sekarang dia berbeda, rasa sakit dan takut mengembara di dadanya, tapi kekuatan dan cinta mengalahkan rasa-rasa itu, sehingga dia tetap serius dan penuh harap. Para troll itu lalu bersorak dengan suara yang lebih keras ketika melihat Arnold berlutut, tapi ketua mereka menahannya dan mengacungkan tangannya.
"Ahh, sangat menyentuh sekali. Seorang bocah yang lemah, penakut dan cengeng, sekarang bertingkah seolah-olah dia adalah seorang prajurit. Tapi kami hanya akan menerima perkataan yang jujur, kami menginginkan sesuatu sebagai gantinya. Katakanlah, pemuda. Apakah kau akan mengorbankan nyawamu untuk orang itu, seperti yang kau katakan tadi?" tanya ketua troll itu sambil tersenyum mengangkat alisnya. Arnold lalu mengangkat wajahnya, dia menatap ketua troll itu dengan tajam dan kuat.
"Nyawaku tidak terbanding dengan nyawanya. Aku bukanlah siapa-siapa melainkan orang lemah yang bahkan seharusnya tidak dilahirkan. Ya, tentu saja aku akan melakukannya. Aku akan mengorbankan nyawaku demi dirinya." kata Arnold sambil menutup matanya. Dia mencoba untuk melihat figur Alisa, dia mencoba untuk mengingat kembali senyumannya yang manis menawan di kepalanya. Dia lalu merasa lega dan tersenyum, air mata membasahi pipinya, tenggorokannya terasa sakit dan terganjal karena nafasnya yang tertahan-tahan. Ketua troll itu lalu tertawa.
"Sungguh menyedihkan, sangat menyedihkan. Tapi aku akan memberitahumu sesuatu. Sesuatu yang luput dari kepalamu. Sesuatu.... Yang akan membuat kau menelan kembali ludahmu. Kau, tidak bisa menyelamatkannya, Arnold." kata ketua troll itu sambil berjalan turun ke arah Arnold. Dia lalu melanjutkan.
Wajah Arnold berubah pucat, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ketua troll itu. Matanya membelalak terbuka, dia menggertakan giginya menahan kata-kata yang menggema dikepalanya. Dia tahu dia tidak punya waktu banyak untuk menyelamatkan Alisa, dia lalu bangun, menarik sebuah taring di kalung ketua troll itu dan lari dengan kencangnya. Troll-troll itu lalu bersorak kembali, sebagian dari mereka mengambil ancang-ancang untuk menyerang dan maju menyergap Arnold, tapi ketua troll itu mengangat tangannya sebagai sebuah isyarat untuk membiarkannya pergi. Levin mematung, dia hanya terdiam mengamati apa yang terjadi di sekitarnya.
Arnold berlari keluar tanpa memperdulikan troll-troll disekitarnya. Dia menggenggam taring itu dengan erat, berlari menuju rawa yang lebat dan gelap. Ranting-ranting yang keras di rawa itu menggesek-gesek tangan Arnold sehingga membuatnya berdarah, dia tidak menghiraukannya dan tetap berlari secepat kilat.
"Alisa... Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau... melakukan hal bodoh itu untuk menyelamatkanku?" kata Arnold dalam hati.
Air mata menghalangi penglihatannya. Tapi pikirannya yang terpaku kepada Alisa membuatnya terus berlari tanpa menghiraukan apapun yang menghalanginya. Dia tercebur kedalam rawa, kakinya terkilir dan ranting menggores-gores tangannya berkali-kali. Dia terus berlari dan berharap sepenuh hati dia dapat sampai di tempat tujuannya dengan tepat waktu.
Hujan yang rintik-rintik membuat tanah disana menjadi becek. Cahaya di langit mulai meredup, matahari masih terlihat menggantung di depan wajah Arnold. Dia berlari dengan nafas yang terengah-engah dan berat.
__ADS_1
Arnold lalu keluar dari rawa itu dan berlari menuju rumah kayu dihadapannya dengan cepat. Dia membanting pintu didepannya dan terjatuh kelantai karena kakinya yang terkilir tidak kuat menahan bantingan itu.
Arnold melihat wanita itu sedang terbaring dilantai. Kain-kain putih yang mengikatnya terbuka tanpa robek sedikitpun. Tubuh wanita itu yang ramping terlihat karena keringat yang membasahi bajunya, rambutnya acak-acakan, matanya basah dan merah tertutup rapat.
Tempat itu menjadi hening sesaat, mata Arnold terpaku tidak percaya terhadap pemandangan menyedihkan yang dia lihat itu. Arnold lalu berlutut, dia menguncang-guncangkan tubuh wanita itu dengan lemas. Air mata lalu mengalir deras dipipinya, dia tidak berhenti menyebut namanya dan mengguncang-guncangkannya. Wanita itu meninggal.
Cairan hitam membasahi lantai disana, cairan itu keluar dari sebuah botol kecil yang tergeletak disisi mayat. Dia lalu melihat sebuah pena bulu dekat cairan itu, dan sebuah kertas yang memiliki bercak-bercak hitam tersiram cairan tinta. Arnold membawanya dengan tangan gemetar, dia mengangkat tangannya yang tergores-gores itu dan mengamatinya dengan matanya yang buram. Terdapat tulisan yang tertulis dengan tulisan rapi, sepertinya tulisan itu sudah ditulis sebelumnya oleh Alisa di hari sebelumnya.
'Arnold, aku tahu kau tidak akan menyukai ini. Tapi aku harus melakukannya. Ingatkah kau saat aku memintamu untuk tidak menemuiku selama satu hari penuh minggu lalu? Aku bilang kepadamu untuk melakukan itu dan kau berhasil melakukannya. Kau tidak menemuiku, tidak berbicara kepadaku dan kau tidak melihatku selama satu hari. Kau bertanya\-tanya kepadaku kenapa kau harus melakukan hal itu dengan wajahmu yang menggemaskan itu bukan? Arnold, tikus manisku, kau sudah berhasil untuk hidup tanpaku untuk sehari penuh. Sekarang, lakukanlah untuk selamanya.'
Terdapat gambar sebuah simbol hati dipinggirannya, gambar itu digambar dengan tangan yang gemetar dan dipaksakan, mungkin Alisa menambahkan tulisannya sebelum dia meninggal dengan pena dan tinta itu. Di samping gambar itu tertulis P.S dengan acak-acakan, tulisan tambahan itu berbunyi:
'Kuburlah aku dengan sepatu kecilmu yang kau hilangkan di danau waktu kita kecil. Aku ingin memelukmu selamanya disana.'
- End of Chapter :)
__ADS_1