Petualangan Si Pembawa Cahaya

Petualangan Si Pembawa Cahaya
CH.4 - Angin Putih


__ADS_3

Baron dan Ally berjalan menyusuri hutan Kalan yang gelap dan dingin. Mereka berjalan di jalan setapak menuju pondok kayu yang berada di kampung Foragar. Beberapa lampu lilin berjajaran dijalan berbatu itu, sehingga kegelapan tidak sepenuhnya menyelimuti mereka. Suara kodok dan jangkrik memecah keheningan diantara mereka berdua.


Ally menggetarkan badannya karena dingin. Tangannya memeluk badannya yang kedinginan. Melihat itu Baronpun lalu membuka jubahnya, dan meletakannya dipundak Ally.


"Kau lebih membutuhkan ini daripadaku, Ally" ucap Baron sambil tersenyum.


"Te.. Terimakasih tuan." kata Ally sambil mengangguk pelan.


"Panggil saja aku Baron. Kau bukan budak lagi sekarang dan aku bukan majikanmu. Sekarang kau adalah orang yang merdeka, Ally." kata Baron. Wajah Ally langsung berubah, seolah-olah dia melihat petir didepan wajahnya. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Baron. Diapun menatap Baron dengan tajam.


"A.. Apa maksud anda aku bebas? Maksudmu sekarang aku bisa pergi kemana saja? Dan.. Dan kemana kita pergi sekarang tuan? Apakah yang akan aku lakukan?" tanya Ally tergesa-gesa. Dia penasaran sekali dengan apa yang dikatakan Baron tadi. Baron lalu tertawa.


"Kemana kita akan pergi? Hmm... Kemana kau ingin pergi? Apakah kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Baron. Ally lalu menundukkan kepalanya.


"Aku... Aku ingin bertemu dengan kedua adikku. Mereka pasti sedang kelaparan sekarang. Mereka budak sama sepertiku. Mereka bekerja membuat pelabuhan untuk kerajaan Crescabes. Aku... Aku ingin...." dia lalu mengeluarkan air mata dan menangis. Tangannya mengusap-ngusap matanya yang terus mengeluarkan air mata. Baron lalu mengusap kepalanya.


"Apakah kau ingin memeluk mereka?" tanya Baron dengan lembut.

__ADS_1


"Tentu saja. Sudah seminggu ini aku belum bertemu dengan mereka. Andai saja..." dia berkata sambil mencoba untuk menahan tangisnya.


"Apa yang akan kau berikan agar kau bisa melihat mereka?" kata Baron, dia lalu menuntun Ally ke arah pondoknya yang terletak tepat sebelah sampingnya


"Apapun akan aku berikan, meskipun hanya untuk mel..." Baron lalu membuka pintu pondok itu. Levin dan Wander yang berada di ruang tengah lalu dengan spontan melihat ke arah pintu. Wander lalu berteriak yang terdengar sangat keras kepada kakak perempuannya. Levin yang sedang duduk menunggu gurunya Baronpun terkejut dengan kehadiran kakaknya, dia lalu terbangun dari duduknya.


"Kakaaak!" teriak Wander sambil berlari kearah Ally. Ally yang sedang mengusap-ngusap matanya lalu terkejut mendengar teriakan Wander.


"A.. Apa?" tanya Ally kebingungan. Diapun melihat kearah Baron yang sedang tersenyum jahil sambil mengacungkan kedua jarinya. Sedangkan Wander dan Levin memeluknya dengan erat.


"Kakak Ally! Sudah lama kita tidak berjumpa! Aku merindukanmu kau tahu." kata Wander sambil memeluk kaki Ally dengan erat.


"Le.. Levin, bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi disini?" tanya Ally, tangisan sedihnya sekarang sudah berhenti. Wajahnya masih merah dan kedua matanya masih basah, tergambar ekspresi kebingungan diwajahnya.


"Ceritanya panjang. Hal yang mungkin kau harus ketahui sekarang adalah, bahwa tuan yang sedang berdiri bersama kita sekarang adalah Prince Baron Florent, pangeran dari kerajaan Wimara. Dia membebaskan kita sebagai budak. Sebenarnya aku ingin memberitahumu sesuatu yang penting tentang seseorang, tapi aku yakin dia akan datang besok dan menjelaskannya sendiri. Jadi sekarang kau lebih baik beristirahat saja" kata Levin.


"Tu.. Tunggu dulu. Kau adalah seorang pangeran?" tanya Ally, sambil mengacungkan tangannya kepada Baron. Baron lalu meraih tangannya dan memegangnya.

__ADS_1


"Sebuah kenikmatan bagiku untuk bertemu denganmu, tuan putri." katanya sambil mencium tangannya.


"A... Apaaaa?" tanya Ally sambil terkejut, matanya membelalak terbuka seperti orang yang sedang melihat hantu.


"Dewi Hartlova sudah menulis takdir kita, Ally. Dan hanya sebagian orang-lah yang bisa membaca takdir itu. Aku rasa lebih baik kau menunggu besok untuk mengetahui orang yang bisa melakukan itu." Kata Baron.


"Oh iya, hanya ada dua kamar dipondok ini, kalian berdua beristirahatlah diruangan kalian. Dan Ally, kau tidurlah diruangan itu. Jangan khawatir, aku akan menjaga kalian disini." kata Baron sambil menunjuk ke arah ruangannya. Sementara Ally masih kebingungan. Perasaan senang dan malu bercampur aduk didadanya. Dia juga masih mempunyai beberapa pertanyaan di kepalanya, tapi dia hanya menuruti apa kata pemuda tampan dihadapannya, dia juga menyukai Baron.


"Baiklah, aku rasa sudah waktunya untuk tidur sekarang. Ayolah Wander, kita tinggalkan tuan pangeran dan tuan putri ini sendirian. Mungkin kita akan melihat bayi disini besok." kata Levin sambil tertawa jahil lalu pergi keruangannya, Wander mengikutinya dari belakang sambil kebingungan, dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Levin. Sementara suasana diruangan itu menjadi hening. Mereka berdua terlihat canggung dan mencoba untuk menghindari kontak mata. Baronpun lalu berkata sesuatu.


"A.. Apakah kau ingin aku antarkan? A.. Ally?" tanya Baron, sambil menggaruk lehernya.


"Ka.. Kau mau tidur dimana?" tanya Ally dengan suara lembut, wajahnya lalu memerah.


"Aku rasa... Disini juga tidak apa-apa. Sekalian aku akan menjagamu, maksudku kalian." kata Baron, dia lalu memaksakan dirinya untuk melihat ke arah Ally.


"Kalau begitu, mari aku antarkan kau ke kamarmu." kata Baron sambil mengulurkan tangannya, Ally pun dengan malu meraih tangan Baron. Dan mereka pun berjalan kekamar.

__ADS_1


- End of Chapter :)


__ADS_2