
Levin membuka matanya, cahaya yang terang membuatnya menyipitkan mata untuk melihat kesekitarnya. Dia terbangun, melihat kanan kiri dan terkejut melihat dirinya yang sedang berada dalam kurungan besi, di dalam hutan.
"Oh lihat, siapa yang baru saja terbangun." kata seseorang kepada Levin. Suara itu terdengar sangat familiar, mata Levin lalu celingak-celinguk kanan kiri mencari sumber suara itu, dan melihat wanita semurannya sedang dikurung bersamanya, wanita itu adalah wanita yang dia temukan di gua sebelumnya.
"Ka.. Kau... Apa yang terjadi disini? Dan kenapa aku dikurung?" tanya Levin dengan lemas.
"Kenapa kau dikurung? Ingat bandit yang aku bunuh di gua itu? Me... Mereka berfikir kita yang membunuhnya. Lagipula... membunuh atau tidak para bandit itu akan tetap menangkapmu." kata wanita itu sambil menahan kesakitan, terlihat banyak darah disekitaran badannya, dia terduduk lemas di pinggir Levin.
"Apa yang terjadi padamu? Apakah kau baik-baik saja? Kau... Kau terlihat sangat lemah." kata Levin sambil mendekati wanita itu, dan mengamati tubuhnya yang penuh luka di seluruh bagian tubuhnya. Luka-luka itu diakibatkan oleh pedang yang menggores-gores, sebagian luka itu dalam dan mengucurkan banyak darah.
"Sial, kita harus pergi dari sini dan mengobatimu." kata Levin sambil merobek celana bagian bawahnya, dan membalutkannya di paha wanita itu yang berceceran banyak darah.
"Bodoh... Kita akan mati disini. Apapun yang kau lakukan tidak akan bisa mengeluarkan kita dari kurungan ini." kata wanita itu, Levin mengabaikannya dan membaringkannya ditanah, Levin lalu berdiri dan melihat kanan kiri.
"Kemana mereka? Kemana para bandit itu? Kapan mereka kesini?" tanya Levin kepada wanita itu, wanita itu bernafas dengan sangat berat, dia mengerutkan wajahnya menahan kesakitan.
"Mana aku tahu." kata wanita itu dengan suara pelan.
Levin lalu mencari jalan keluar dari kurungan besi itu. Dia melihat ke arah pintu besi dan menghampirinya, pintu itu terkunci dengan sangat rapat, perlu kunci untuk membuka gembok itu.
"Sial, aku harus cepat keluar dari sini. Tunggu dulu, bagaimana dengan teleportasi? Apakah aku bisa melakukannya?" tanya Levin kepada dirinya sendiri. Diapun lalu mencobanya, dia berusaha untuk memfokuskan dirinya dan energinya untuk mengubahnya menjadi cahaya, tapi gagal, dia kehabisan Mana.
__ADS_1
"Sial, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan Mana ku kembali? Tidak ada waktu, aku harus bergerak cepat." Levin lalu celingak-celinguk kembali, dia mencari benda yang dapat berguna disekitarnya. Dia lalu berjalan kesana-kesini berkeliling kurungan itu. Wajahnya lalu terbelalak ketika dia melihat ketanah yang basah, yang lalu dia mencoleknya dengan jarinya, dan melihat tanah yang kental di telunjuknya.
Diapun lalu bergegas mencari sebuah batu yang agak runcing, dia sempat berkeliling di tempat itu. Sedangkan wanita itu melihat ke arah langit dengan pasrah, dia tahu dia tidak mempunyai harapan untuk terus bertahan hidup.
"Ayah, ibu, maafkan aku." kata wanita itu dalam hati, lalu memejamkan matanya, air mata lalu keluar dari matanya.
Levin akhirnya mendapatkan sebuah batu, dia mengacungkannya ke atas dengan bangga.
"Akhirnya kita bisa keluar dari sini!" teriaknya dengan senang.
Levin lalu berlari ke setiap pojok kurungan itu dan mencolek-colek tanahnya. "Ini dia!" teriaknya sambil mengacungkan batu itu keatas dengan tinggi. Dia lalu menancapkannya kedalam tanah, dan menggali tanah itu dengan cepat.
Pekerjaannya sebagai budak membuatnya ahli dalam menggali tanah itu. Meskipun hanya menggunakan batu runcing, dia menggali tanah itu dengan cepat dan lincah.
"Kau akan baik-baik saja, bertahanlah!" teriak Levin kepada wanita itu, yang lalu dia menggendongnya ke arah galian.
"Sial, aku rasa kau harus merangkak sendiri untuk dapat keluar dari lubang itu, akan sulit jika aku harus menarikmu dari luar, kecuali jika aku menggali lubang itu lebih dalam." kata Levin, terlihat ekspresi kebingunan diwajahnya.
"Bo.. Bodoh, cepatlah keluar dan tinggalkan aku! Tidak ada waktu lagi untuk menggali... Para bandit itu akan datang." kata wanita itu, dia tidak menggerakan tubuhnya sedikitpun, sepertinya dia kehilangan semua kekuatannya untuk bergerak. Levin lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku akan menggali sedikit lagi, kita berdua akan keluar dari sini atau tidak seorangpun dari kita harus keluar." kata Levin, yang lalu dia meletakkan tubuh wanita itu kepinggir dan meraih lagi batu yang dia gunakan tadi untuk menggali.
__ADS_1
Dia melanjutkan galiannya, tidak dalam dia menggali, tanah yang dia gali semakin keras dan tenaganya semakin melemah. Tapi dia tetap menggali tanah tersebut dengan tenaganya yang tersisa, sementara wanita itu melihatnya sambil terbaring lemas.
"Sial sial sial! Kenapa tanahnya semakin mengeras!" teriak Levin.
Keringat mengucur di dahinya, dia menggali tanah itu dengan sekuat tenaga dan dengan kecepatan yang sangat cepat. Tanah yang keras membuat batu itu menggores-gores telapak tangan Levin dan membuatnya berdarah.
Levin lalu melempar batu itu. Nafasnya terengah-engah, darah bercucuran dari telapak tangannya, diapun lalu bergerak ke arah si wanita dengan lemas.
"Sekarang aku bisa membawamu keluar dari sini." kata Levin sambil menggendong wanita itu mendekati galian. Levin lalu meletakkan wanita itu di dalam lubang, merangkak keluar dan menggusur wanita itu keluar dari kurungan. Tidak ada tanda-tanda kehadiran si bandit, hanya Hartlova yang tahu kemana mereka pergi dan yang sedang mereka lakukan.
Levin menggendong wanita itu dipundaknya, dan berjalan perlahan ke dalam hutan.
"Bertahan..lah, kita pasti bisa menemukan sebuah desa, kau akan diobati disana." kata Levin sambil bersusah payah melangkah.
"Ke.. Kenapa kau... Melakukan ini? Kenapa kau tidak..." kata wanita itu dengan susah payah. Sedangkan Levin tertawa kecil.
"Diamlah... Dasar betina cerewet." kata Levin dengan nada bercanda. Levin lalu menunjuk ke arah tanah didepannya.
"Lihatlah! Jalan setapak! Akhirnya kita bisa pergi dari sini." kata Levin, yang lalu dia berjalan dengan lebih cepat melalui jalanan itu.
__ADS_1
- End of Chapter :)