Petualangan Si Pembawa Cahaya

Petualangan Si Pembawa Cahaya
CH. 33 - Dancing in the Dark Night


__ADS_3

Levin berdiri di atas lantai kayu yang sedikit rapuh itu bersama orang-orang lain disekitarnya. Dia mengeraskan otot-otot tangan dan kakinya bersiap-siap untuk pergi, dia harus segera melakukan ritual itu sebelum matahari terbit.


"Tapi itu terlalu berbahaya, terutama kau masih kecil. Beristirahatlah disini dan biarkan tentara kerajaan yang menanganinya." ucap seorang Hartloviant.


"Tidak ada waktu. Semuanya akan terlambat jika kita tidak membunuhnya sebelum matahari terbit. Sekarang biarkanlah aku pergi, atau aku akan menebas kalian semua. Karena nasib semua orang di Ydaya ada di tanganku sekarang, hanya akulah yang dapat membunuh mahluk itu." ucap Levin. Para prajurit itu terdiam, mereka menatap satu sama lain.


"Kalau begitu baiklah, kami akan ikut membantumu." ucap si penjaga.


"Dan meninggalkan para penduduk didesa ini sendiri? Sepertinya ide yang buruk. Dan juga, sementara kita sedang berdebat disini mahluk itu pasti sedang melakukan sesuatu, kalian harus membuang formalitas bodoh kalian dengan segera dan biarkan aku pergi." ucap Levin, suasana menghening sesaat, seorang Hartloviant lalu memberi Levin obor yang sedang dipegangnya.


"Kalau begitu pergilah, dan jangan mengecewakan kami. Semoga Hartlova menerangi jalanmu dan memberimu kekuatan." ucap pendeta itu sambil menyentuh dada Levin dengan jempolnya, sebuah gestur pemberkatan para Hartloviant. Seorang penjaga disana lalu melangkah satu langkah.


"Aku akan mengantarmu ke gua Clerrin, akan sulit jika kita menjelaskan arahnya kepadamu." katanya.


"Baik, terimakasih banyak. Tolong jagalah orang-orang disini selama aku pergi." ucap Levin sambil tersenyum.


"Itu pasti." ucap pendeta itu.


Levin dan penjaga itu lalu berlari sambil mengacung-ngacungkan obornya ke atas. Terdengar suara besi yang saling bertabrakan dan suara langkah kaki yang cukup keras di hutan yang gelap itu. Mereka berhenti melangkah, si penjaga menengok kanan-kiri untuk sesaat, malam yang gelap mengaburkan ingatannya, dia lalu menunjuk ke suatu arah. "Kesana!." katanya, mereka lalu melanjutkan berlari.


Terdapat sebuah jurang yang tidak terlalu dalam di kiri Levin. Dengan hati-hati dia berlari melewatinya. Mata Levin terpaku kejalanan, dia lalu merasakan sebuah perasaan aneh, instingnya mencoba untuk memberitahu sebuah kejanggalan disana.


Levin berlari meninggalkan si penjaga itu beberapa langkah, meskipun begitu dia bisa merasakan si penjaga itu berlari mengikutinya. Beberapa saat kemudian Levin berhenti dan menengok kebelakang, si penjaga itu tidak ada disana. "Tu.. Tuan penjaga?" teriak Levin sambil melangkah kembali kebelakang. Levin berjalan kembali dan melangkah selama beberapa langkah, dia lalu melihat cahaya dan melihat penjaga itu sedang berlari kearahnya sambil membawa obor.


"Kemana kita harus pergi sekarang?" tanya Levin dengan agak terengah-engah.


Si penjaga itu lalu menunjuk ke arah hutan. "Kesana, kita harus menerobos jika ingin cepat." katanya.


"Oh ya? Tapi hutan itu sangat gelap, dan menjauhi jalan setapak ini sangatlah berbahaya." ucap Levin


"Akan ada jalan setapak lain didepan. Jangan jauh-jauh lagi dariku, atau kau akan tersesat."


"Ba.. Baiklah, maaf."


Levin dan penjaga itu lalu berjalan menerobos semak-semak. Dedaunan yang menggesek tangan Levin membuatnya gatal, bahkan duri-duri kecil tanaman-tanaman disana menggesek-gesek dan membuat tangannya berdarah. Levin menengok ke si penjaga yang berjalan dengan membabi buta tidak memperdulikan tanaman-tanaman yang cukup rimbun dan basah, sepertinya orang itu sudah terbiasa. Penjaga itu lalu berhenti, kakinya menginjak sesuatu.


"A.. Apa ini?" ucap si penjaga sambil berhenti dan menendang-nendang sesuatu dibawahnya. Levin mendekatinya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya.


"Lihatlah, ada seorang mayat disini. Cepat singkirkan tanaman-tanaman yang menghalangi, aku akan menariknya keluar." kata si penjaga, Levin mengangguk dan menyingkirkan batang-batang tanaman yang menutupi mayat itu, si penjaga menarik kaki dan membalikkan tubuh mayat itu di tanah yang tidak terlalu tertutupi tanaman.


Levin dan si penjaga lalu terkejut. Si penjaga sendiri mundur kebelakang dan kepanikkan saat dia melihat wajah mayat itu, yang wujudnya sama sepertinya.


"Ti.. Tidak mungkin." ucapnya panik.


"Dia.. Adalah kau? Bagaimana mungkin?" tanya Levin.


"Sihir! Ini pasti sebuah sihir, orang itu... Bukanlah aku.."


Levin mendekati mayat itu untuk melihatnya dengan lebih jelas, dia jongkok dan mengacungkan obornya ke wajah si mayat. "Memang sangat mirip, pakaiannya juga." ucap Levin, dia meletakkan tangan kirinya ke tubuh mayat itu. "Tubuhnya masih hangat, lehernya tergorok oleh benda tajam dan hampir putus. Anehnya aku tidak bisa mendeteksi sihir di tubuhnya, seakan-akan tubuh ini memang asli."


Si penjaga mundur kebelakang dengan panik. "Ti.. Tinggalkan saja dia, kita harus kembali ke desa itu dan memberitahu orang-orang."


Levin berdiri. "Apa maksudmu? Kita sudah sampai sejauh ini, kau tahu-kan kalau mahluk itu harus segera dihabisi sebelum matahari terbit, kita harus segera menemukannya!"


"A.. Apa? Kenapa sebelum matahari terbit?" tanya si penjaga.


"Ritual, jika aku tidak membunuhnya sebelum matahari terbit ritualnya akan gagal dan semuanya akan menjadi lebih sulit." Levin melihat ke arah mayat mengerikan itu kembali. "Ceritanya panjang dan aku tidak bisa memberitahumu sekarang, yang harus kita lakukan adalah..." Levin menengok kebelakang dan hanya melihat pepohonan, si penjaga menghilang. Wajah Levin lalu mengkerut.


"Cerobohnya aku... Aku seharusnya menebas lehermu dengan pedang penjaga bodoh itu daripada menggunakan sihirku. Ternyata kau kebal sihir, harusnya aku tahu itu." ucap manusia kadal itu dengan suara yang mengerikan. Levin berdiri dengan cepat dan mengacungkan pedangnya.


"Bukan hanya ceroboh, kau juga bodoh. Kau seharusnya pergi ke desa dengan tubuh si penjaga itu dan meninggalkanku disini jika tujuanmu adalah penduduk-penduduk di desa itu." ucap Levin, dia berjalan ke pinggir sambil menatap Genta.


"Bodoh? Bah, satu-satunya orang yang bodoh adalah kau. Kau mengetahui mayat itu adalah asli dan tidak meragukanku sama sekali. Lagipula tujuanku adalah menghentikkanmu, dengan bodohnya kau memberitahuku tentang ritual itu , sekarang carilah aku sampai matahari terbit, ritualmu akan gagal dan semuanya akan lebih mudah bagiku untuk mencari Ramon, dan ramalan Akemon akan menjadi mitos!" manusia kadal itu lalu menghilang dengan sangat cepat dari pandangan Levin. Levin tidak percaya mahluk itu bisa berlari dengan kecepatan yang sangat cepat seperti itu, bahkan untuk berteleportasi saja memerlukan beberapa mikro detik.


Belum beberapa detik setelah mahluk itu menghilang, sebuah cahaya muncul di atas kepala Levin dan menimbulkan suara yang sangat keras. Mahluk kadal itu lalu terbanting ke bawah dan menembus semak-semak yang cukup lebat. Levin terkaget, dia pikir mahluk itu berlari dan sudah menghilang.


"Ka.. Kadal itu? Kadal itu tidak berlari, tapi melompat! Itulah kenapa dia bisa menghilang dengan seketika." ucap Levin dalam hati.


Levin menengok ke kirinya. Terlihat seorang wanita muda sedang mengacungkan tongkatnya ke atas. Wanita itu berpakaian serba hitam, rambutnya hitam pendek sampai leher dan sedikit keriting. Tingginya sama seperti Levin dan Clea, sepertinya umurnya sama. Wanita itu berlari ke arah Levin.


"Pergilah, dia sangat berbahaya." kata gadis itu.


"Si.. Siapa kau?" tanya Levin.

__ADS_1


"Itu tidak penting, mahluk itu sangat cepat, pergilah sebelum dia..." mahluk kadal itu dengan cepatnya berlari ke arah gadis itu sambil mengacungkan pedang si penjaga. Si gadis lalu mengacungkan tongkatnya dan mengarahkan tongkat itu kepada mahluk itu, gadis itu menunggunya dan mengeluarkan sihirnya saat mahluk itu berada tepat dihadapannya, cahaya yang sangat menyilaukan keluar dari tongkat itu dan membuat mahluk itu terpental ke pohon dan menghancurkannya, membuat pohon itu tumbang ke arah kedua pemuda itu.


"Awas!" teriak Levin, dia meloncat dan menarik wanita itu bersamanya, obor Levin yang tadi jatuh sekarang padam sepenuhnya, membuat tempat itu gelap gulita. Pohon yang tumbang itu jatuh jauh ke arah kanan.


"A.. Aw" ucap wanita itu kesakitan, tangan dan punggungnya tertancap batang-batang tanaman di tempat dimana dia sedang terbaring.


"Maaf, aku kira pohon itu tumbang kesini." ucap Levin.


Wanita itu lalu berdiri dan mengarahkan pandangannya ke arah Genta, tapi dia tidak ada disana. "Mahluk itu... Dimana dia?" gumam wanita itu. Levin menatapnya dengan kagum, wanita itu sangat cantik, kulitnya putih bersih dan matanya biru, dia bahkan tidak marah saat Levin membuatnya jatuh tadi.


"Jangan biarkan dia lolos, atau kita akan kehilangannya." ucap wanita itu, Levin berdiri dan mengeprukkan celananya.


"Aku rasa dia kabur. Tidak ada gunanya bagi dia untuk melawan kita. Aku tidak tahu apa tujuan dia sebenarnya tapi dia berkata dia akan bersembunyi sampai matahari terbit." ucap Levin kesal, wanita itu menengok kanan kiri, bola matanya bolak-balik mengamati hutan yang gelap itu tanpa pencahayaan apapun. Levin lalu mengacungkan pedangnya dan mengeluarkan cahaya, anehnya cahaya itu tidak menyebar ke seluruh penjuru hutan, cahaya itu lurus mengarah keatas, seolah-olah memantulkan cahaya bulan.


"A.. Apa? Kenapa cahaya ini jadi panjang seperti ini?" tanya Levin dalam hati. Cahaya pedang itu belok sedikit demi sedikit, lalu cahaya itu menabrak sesuatu, itu adalah wujud si manusia kadal Genta, dia sedang menari-nari di atas batang pohon yang besar. "Hanya ada wujud kadal itu dikepalaku. Jangan-jangan... Cahaya ini mencari musuh saat aku memikirkannya?" tanya Levin, dia meredupkan cahaya itu kembali.


"Sudah kuduga, kau juga adalah seorang Sorcerer. Kau perlu banyak latihan untuk menemukan kemampuan-kemampuan sihirmu yang lain. Aku bisa mengajarkanmu jika kau mau." kata wanita itu. "Tapi kita tidak punya waktu sekarang."


Levin mengangguk. "Sode.. Sodoker? Apa itu?" bingung Levin.


"Ya, dan sepertinya manusia kadal itu sedang melakukan sesuatu. Kita harus berhati-hati." ucap Levin.


"Tidak, dia hanya menari. Dia tidak melakukan sihir apapun, kekuatannya juga tidak bertambah." ucap wanita itu.


"Kalau begitu dia pasti menggila, mungkin karena otaknya terbentur tadi. Kita harus memikirkan sebuah strategi, kita tidak bisa menyakitinya jika dia melihat serangannya." ucap Levin, mata mereka berdua terpaku kepada mahluk kadal yang sedang menari di atas batang pohon itu. Meskipun begitu tariannya terlihat sangat indah, terutama cahaya bulan terpantul sehingga hanya menampakkan siluet mahluk itu.


"Aku tahu. Jika seranganmu terbaca olehnya tubuhnya akan mengeras. Kita harus sembunyi-sembunyi dan menyerangnya, tapi akan sulit untuk membunuhnya dengan sihir, kita harus mengandalkan pedangmu." ucap wanita itu, Levin mengangkat alisnya.


"Adakah rencana?"


Wanita itu terdiam sejenak, dia melihat ke arah bulan yang sedikit demi sedikit turun kebawah. "Kurasa pertanyaan sebenarnya adalah... Adakah waktu?" ucap wanita itu. Suara ayam berkokok lalu terdengar, seolah-olah wanita itu tahu dari awal. Levin menatapnya dengan kagum.


"Sebenarnya mahluk itu bisa berubah bentuk. Dia adalah seorang manusia yang dirasuki oleh sesuatu sehingga bentuknya seperti itu. Tapi jika dia berubah kebentuknya semula atau menjadi wujud manusia, kita akan bisa membunuhnya dengan mudah." lanjut wanita itu. Levin lalu teringat kepada si penjaga, mahluk itu pasti berubah menjadi si penjaga dan membunuhnya saat tadi dia meninggalkan si penjaga.


"Kalau begitu disanalah kelemahannya. Tapi apa rencana kita?" tanya Levin. Wanita itu lalu tersenyum ketika mendengar perkataan Levin.


"Kelemahan ya... Aku rasa aku dapat ide."

__ADS_1


- End of Chapter :)


__ADS_2