
"Sekarang duduklah para Sagmorat!" teriak penyihir itu sambil duduk dikursi. Hanya ada tiga kursi diruangan itu, sehingga si pemuda Baron hanya berdiri, terlihat ekspresi senang diwajahnya.
"Tunggu dulu, kau adalah ayah kami? Maafkan aku tuan tapi kami tidak punya ayah. Kami ditelantarkan orang tua kami semenjak kami kecil, mereka membuang kami bertiga semenjak kami bayi. Orang bilang mereka adalah kriminal besar seluruh kerajaan. Mereka adalah penyihir yang membawa wabah besar ke semua penjuru Crescabes. Itulah alasan kenapa kerajaan memperbudak kami, mereka berfikir bahwa darah kriminal orang tua kami akan terus mengalir dalam tubuh anaknya." kata budak yang lebih tua, sambil menyipitkan matanya kearah sipenyihir.
"Meskipun kau adalah ayah kami, ketahuilah bahwa yang kau lakukan hanyalah membuat masalah dan melemparkan kami untuk menebusnya, kami lebih baik kembali menjadi budak dan bekerja untuk kerajaan daripada pergi bersamamu" kata budak itu dengan lancang. Kebencian terlihat dimatanya, dia menatap tajam kearah si penyihir, lalu ke arah si pemuda yang tengah diam mendengarkan ocehannya.
Si penyihir terdiam, dia melihat kearah tubuh kedua budak itu yang penuh dengan memar dan luka. Pakaian mereka terlihat sangat tidak pantas, otot-otot mereka yang sedikit menonjol melihatkan mereka adalah budak yang bekerja keras. Dia lalu menghelakan nafas.
"Aku akan memberitahu kalian kebenarannya," ucap penyihir itu, sambil tersenyum dan mengelus kepala budak yang lebih kecil, dia lalu menghela nafas.
"Aku dan ibumu adalah penyihir yang berasal dari Gmodar, kau pasti pernah mendengar legenda tentang pulau itu, bukankah kau? Pulau itu adalah sebuah pulau kecil yang terletak di laut kematian, Samohr. Legenda mengatakan bahwa pulau itu dihuni penyihir hebat bernama Akemon, penyihir yang bisa merubah batu menjadi emas. Dia adalah guruku yang memang benar dia bisa mengubah batu menjadi emas. Aku dan ibumu lahir dan hidup di pulau itu, disebuah kota kecil. Setelah Akemon meninggal, kami membuat sebuah organisasi rahasia bernama Faveroth, organisasi para pencari. Hanya para bangsawan dan penyihir terkenal saja yang menjadi anggota organisasi itu, dan sebagian dari mereka berada di pulau ini, mereka datang ke Gmodar dengan cara tertentu."
"Suatu hari para anggota dipanggil ke kuil Varan, tempat dimana kami berkumpul untuk melakukan pekerjaan kami." seketika perasaan menyesal terlihat diwajah si penyihir. Dia menundukkan kepalanya, matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergerak-gerak mencoba untuk tersenyum.
"Aku adalah penyihir besar organisasi itu, aku menciptakan sebuah ritual yang aku pikir adalah ritual yang akan membawa kemakmuran, aku menyebutnya ritual Atlantum, karena waktu itu aku akan membuka gerbang untuk pergi ke kota yang tenggelam, Atlantis. Waktu itu semua persyaratan untuk menjalani ritual sudah dipenuhi, maksudku... Belum semua. Di kuil Varan aku berdiri, tugasku adalah untuk membuka sebuah gerbang menuju ke tempat lain, Atlantis, dimana ditempat itu terdapat harta dan ilmu pengetahuan yang melimpah ruah." penyihir itu meletakkan tangannya didagu, dan mengerutkan wajahnya menandakan dia sedang menyesali perbuatannya dimasa lalu.
"Kami melakukan ritual pertama kami dan gagal, kami hanya dapat membuat sebuah gerbang kecil ditembok, dan saat itulah kengerian muncul. Kengerian yang tidak bisa aku lupakan seumur hidupku. Sebuah cairan keluar dari gerbang kecil itu, seketika semua orang dikuil itu terdiam dan memperhatikan cairan itu. Cairan itu lalu bergerak dan membentuk sebuah wajah yang mengerikan, wajah itu hanya memiliki satu mata dan memiliki energi yang sangat kuat. Aku adalah satu-satunya penyihir disana yang tidak melihat kearah mata itu dengan waktu yang lama, karena hanya akulah yang mengetahui bahwa gerbang itu tidak terbuka sepenuhnya karena..." penyihir itu lalu berhenti, dan menghela nafas yang panjang.
"Pemilik benda sakral itu ada disana. Ya, aku menciptakan ritual itu untuk mendapatkan sebuah benda paling berharga di alam semesta ini, Eye of Horus, yang terkubur di kota atlantis yang sudah hancur dan menghilang. Aku tidak mengetahui bahwa penghuni kota itu masih hidup, terutama Adacia, ratu atlantis. Mereka ternyata dikutuk oleh para dewa untuk menghuni kota tersebut dengan penuh penderitaan sampai dunia ini hancur. Saat itu aku yakin bahwa wajah yang keluar dari lubang itu adalah Adacia, dan mata Horus itu berada tepat diwajahnya. Aku melihat mata itu dengan sekejap, dan merasakan kehancuran akan datang didalamnya. Aku lalu berteriak kepada semua peserta ritual yang ada disana, tapi mata mereka terpaku pada sosok wajah itu, sehingga mereka tidak bisa mendengarkan perkataanku. Aku melihat tubuh-tubuh mereka diselimuti oleh roh-roh hitam, termasuk istriku, Samarande. Hanya akulah yang berhasil keluar dari kuil itu, dan melarikan diri dengan perahu kecil ke kerajaan terdekat, Crescabes." suasana lalu menjadi hening, kebencian yang ada di wajah si budak lalu memudar, dia terlihat sedih sekaligus ragu-ragu terhadap apa yang dikatakan si penyihir.
"Pem... Pembual! Ceritamu tentang pulau itu bukan apa-apa melainkan sebuah cerita pengantar tidur, cerita pulau itu dibuat hanya untuk mencegah anak-anak mendekati laut Samohr. Jika pulau itu memang ada, lalu kenapa tidak ada yang pernah melihat pulau itu? Kenapa tidak ada yang pernah kesana sekarang? Kau bilang kau pergi ke Crescabes hanya dengan perahu kecil, itu menunjukkan bahwa pulau itu tidak jauh dari pelabuhan." kata budak itu dengan nada tinggi.
"Pulau itu terletak di laut Samohr, anakku. Tidak ada nelayan yang pergi kesana. Hanya bajak laut dan perompak saja yang pergi kesana. Lagipula, pulau itu terletak diantara gunung Arson, gunung berbahaya yang mengeluarkan udara panas. Banyak orang yang pergi ke situ dan tidak pernah kembali lagi. Untuk pergi kepulau itu kau harus mengetahui sebuah jalan rahasia, yang hanya segelintir orang saja yang tahu. Maka dari itu pulau itu sangat terhindar dari dunia luar."
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi pada ibu? Apakah dia masih hidup?" tanya budak yang kecil, wajahnya melihatkan bahwa dia sedang berharap. Dia tidak pernah memandang penyihir itu dengan kebencian, wajahnya yang kecil lugu mencerminkan kepribadian yang lembut, meskipun dia dibesarkan dilingkungan yang keras.
"Ibumu, dan orang-orang dikuil itu sudah mati. Jiwa mereka digantikan oleh entitas-entitas terkutuk penghuni Atlantis. Mereka adalah Lost Souls, jiwa mereka adalah jiwa terkutuk, hanya kehancuran dunialah yang akan membebaskan mereka dari kutukan. Pemimpin mereka, Adacia, menggunakan mata Horus untuk mengontrol tubuh ibumu dan yang lainnya. Beberapa bangsawan terkenal dipulau ini sekarang adalah Lost Souls, mereka dikontrol oleh para entitas itu untuk menghancurkan dunia. Itulah kenapa mereka membenciku, mereka menuduhku sebagai kriminal karena hanya akulah yang mengetahui rahasia bahwa para raja dan bangsawan telah mati dan jiwa mereka digantikan oleh entitas-entitas itu."
"Maksudmu semua raja di seluruh Ynaya bukan manusia? Jika mereka menginginkan untuk menghancurkan dunia, lalu kenapa mereka tidak melakukannya dari dulu?" tanya budak yang lebih tua.
"Tidak semua raja di benua Ynaya masuk kedalam organisasi Faveroth, hanya mereka yang berada di sekitar Cadmuk saja yang mengetahui tentang pulau Gmodar. Faveroth memiliki sebelas anggota, yaitu aku, sebagai penyihir besar yang memulai semuanya. Aku membuat ritual Atlantum untuk mendapatkan sebuah artifak legendaris bernama Eye of Horus. Lalu ratu dari kerajaan Lastine, Lady Lenia, dia datang ke Gmodar untuk mendapatkan harta Atlantis, dia bersedia mendonasikan berapa pun emas yang dibutuhkan organisasi karena dia tahu dia akan mendapatkan lebih. Lalu yang ketiga, Radian. Dia bekerja di organisasi sebagai pengantar pesan, dia juga adalah orang yang memberi transportasi ke pulau Gmodar, dia orang yang tidak terlalu penting untuk organisasi ini, tapi transportasi memang diperlukan. Lalu pangeran dari kerajaan Crescabes, Prince Lomar Foras, dia tergila-gila dengan okultisme dan ilmu-ilmu esoteric, motifnya mengikuti organisasi dan melakukan ritual adalah ilmu pengetahuan. Yang kelima, adalah istriku Samarande. Dia adalah seorang alkemis yang hebat, bahkan lebih hebat dariku. Kami berdua adalah satu-satunya yang dipercaya oleh Akemon dan hanya kepadaku dan Samarande lah ilmu alkimia diajarkan. Sebelum Akemon meninggal, dia memberikan wasiat kepada istriku untuk menjaga ilmu alkimia agar diturunkan ke orang yang terpercaya saja, dia memberi pesan untuk tidak menulis buku apapun tentang alkimia. Yang keenam adalah Johan Sermon, raja dari kerajaan Livermore, kerajaannya yang miskin membuatnya menyetujui undanganku untuk membuka gerbang ke Atlantis."
"Lalu kelima sisanya adalah penyihir-penyihir terkenal di pulau Gmodar. Claya dan Cleya, kedua penyihir tua yang kembar, mereka cukup penting dalam pelaksanaan ritual. Lalu Hemoart, penyihir yang tinggal di pegunungan Arson, tidak ada yang tahu bagaimana cara dia bertahan hidup di udara yang panas membakar. Genta the Darkdancer, dia juga penting untuk ritual. Dan yang terakhir, Teana, penyihir paling muda dalam organisasi yang ahli dalam sihir keapian pyrokinesis, api adalah elemen penting yang dibutuhkan untuk ritual."
Si penyihir itu lalu berdiri, dia mengangkat tongkatnya dan berdiri bertumpu ditongkat itu. Suasana lalu kembali hening.
"Aku mempunyai pertanyaan, jika kau tidak keberatan" kata si pemuda
"Kapan kejadian itu terjadi? Dan dimana anak-anakmu waktu itu?" tanya pemuda itu, dia lalu duduk dilantai
"Benar, dimana kami waktu itu? Jika ibu meninggal sebelum kami lahir, bagaimana kami bisa ada?" tanya budak yang lebih tua
"Kalian sudah lahir sejak kami melakukan ritual itu. Bahkan sebelum aku membuat organisasi Faveroth. Kejadian itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, saat itu kau berumur tujuh tahun, Levin." kata penyihir itu sambil menunjuk budak yang lebih tua
"Dan kau, Wander, saat itu kau berumur satu tahun, kau adalah orang yang kuat sejak kecil. Dan kakak perempuanmu Ally, dia berumur delapan tahun."
"Letak kuil Varan dan rumah kami tidak terlalu jauh. Sehingga saat aku melarikan diri dari sana, aku membawa kalian anak-anakku bersamaku. Aku memakai perahu dayung yang terletak di pesisir pantai Gmodar, perahu milik Radian, dan mengayuh perahu itu bersama kalian ke benua Ynaya. Ketahuilah bahwa para Lost Souls bukanlah entitas yang lemah, mereka mempunyai pengetahuan tentang sihir yang maju. Mereka memanfaatkan tubuh para penyihir untuk pergi dari pulau Gmodar dengan cepat, aku tidak tahu apakah mereka berteleportasi atau menghilang, yang pasti mereka tidak melewati jalan perairan. Aku merasakan kehadiran sepuluh Faveroth dikejauhan, mereka sedang menungguku di pesisir. Aku tahu bahwa mereka hanya ahli dalam sihir fisikal saja, dan tidak ada satupun dari penyihir Faveroth yang menguasai ilmu telepati, sehingga mereka hanya bisa menebak jika aku akan pergi kearah sana. Saat itu aku memeluk ketiga anakku, menciumi mereka dan berharap bahwa waktu itu bukanlah terakhir kalinya aku melihat mereka. Aku berencana untuk menghapus semua ingatan mereka, termasuk ingatan mereka terhadapku dan pulau Gmodar, karena dengan cara itulah kami bisa bertahan hidup. Aku membuat sebuah tanda dileher mereka, disertai dengan mantra sehingga aku bisa menemukan kembali mereka diwaktu yang akan datang. Aku lalu menggunakan sihirku untuk menangkap beberapa ekor ikan dan menyimpannya dikain yang ada diperahu itu, sehingga Faveroth akan berfikir bahwa anak-anakku hanyalah seorang nelayan biasa."
__ADS_1
"Setelah itu aku memeluk mereka kembali dengan erat, mataku yang penuh dengan air mata membuatku kesulitan untuk melihat wajah mereka untuk terakhir kalinya. Aku lalu menghapus ingatan anak-anakku dengan sihirku, mereka lalu tertidur pingsan setelah pikiran mereka kosong, aku hanya berharap bahwa arus akan membawa mereka ke pesisir. Setelah itu aku berencana untuk terjun kedalam air, aku tidak berfikir jika aku akan selamat dengan keadaan lelah secara fisik dan mental seperti itu, terutama dilaut Samohr. Aku hanya mengandalkan sihir alkimia ku dan berusaha untuk mengubah air menjadi emas. Awalnya aku pikir hal itu adalah hal yang mustahil karena aku hanya pernah mengubah batu menjadi emas saja. Tapi aku mencoba untuk berkonsentrasi, insting dan indraku menjadi lebih kuat saat itu, aku mengerahkan semua kekuatan sihir-ku untuk mengubah air didepan wajahku untuk menjadi emas yang bisa aku jadikan sebagai perahu untuk mencapai ke pesisir lain. Tapi kegagalanlah yang aku dapatkan, aku berhasil mengubah beberapa meter air dilaut menjadi emas yang berkilauan. Tapi ternyata emas itu terlalu berat dan tenggelam kedasar laut."
"Setelah itu hanya kepanikan yang aku rasakan, aku menghabiskan semua energi fisik dan sihirku disana, dan jika aku tidak keluar dari perahu tersebut, para Faveroth akan menangkap dan membunuh-ku dan anak-anakku untuk menutup mulut dan merahasiakan apa yang terjadi pada para bangsawan dan para penyihir-penyihir terkenal. Aku lalu memutuskan untuk terjun ke air. Aku mengorbankan diriku untuk anak-anakku yang masih tertidur pingsan diatas perahu dilaut kematian. Saat itu aku berfikir bahwa hidupku akan berakhir disana, dan berdoa kepada tuhan Hartlova untuk menyelamatkan dunia dari para Faveroth yang telah dikuasai kekuatan jahat. Aku lalu terjun kedalam air dalam keadaan lemas, tubuhku terlentang mengambang diatas air, sedikit demi sedikit tubuhku tenggelam, dan kesadaranku mulai memudar. Saat itu sebuah kata terbesit dalam pikiranku, "Akemon". Akupun lalu kembali sadar, aku mencoba untuk kembali kepermukaan dan meraih tongkatku yang terombang ambing diatas air, untungnya tongkatku belum jauh terbawa arus, karena aku baru saja melepaskannya dalam genggamanku saat aku mulai tidak sadar. Aku lalu mengucapkan mantra yang diberikan oleh guruku Akemon. Sebelum dia meninggal dia memberitahuku sebuah mantra yang hanya boleh aku katakan saat aku menghadapi ajalku, atau bisa disebut aku harus mengucapkannya sebagai kata-kata terakhirku. Aku sedikit kesulitan mengucapkan mantra itu karena tubuhku terombang-ambing diatas laut, tapi aku tetap berusaha dan akhirnya berhasil mengucapkan mantra itu. Setelah itu tubuhku berubah menjadi bercahaya, mataku menjadi sangat berat dan nafasku berhenti dengan sendirinya. Aku menutup mataku dan merasakan seluruh badanku terbelah menjadi titik-titik terkecil, dan terbagi menjadi ratusan ribu bagian, yang lalu titik-titik itu bergerak dengan sangat cepat ke suatu tempat. Setelah itu ribuan titik-titik kecil tersebut kembali menjadi padat, aku bisa merasakan tubuhku kembali menjadi satu dan terbaring didalam lingkungan yang berbatu. Aku membuka mataku dan melihat diriku berada disebuah ruangan gelap. Aku memaksa diriku untuk berdiri dan melihat apa yang terjadi padaku waktu itu, aku melakukan pyrokinesis dan menghabiskan setitik energi sihir terakhirku untuk sebercak api, yang lalu aku sentuhkan kepada sebatang kayu yang aku temukan dilantai ruangan itu dan mengubahnya menjadi obor."
"Aku melihat sebuah ukiran huruf 'Rune' didinding sebelah barat, aku menyentuh huruf tersebut dan membuat batu didepan wajahku turun kebawah, ukiran tersebut adalah pembuka sebuah pintu magis yang tersembunyi. Cahayapun masuk kedalam ruangan itu, sehingga aku bisa melihat isi ruangan itu dengan jelas. Ruangan itu kosong, kecuali terdapat sebuah meja yang diatasnya terletak sebuah buku coklat yang tebal."
"Aku mendekati buku itu dan membukanya. Dibuku itu hanya terdapat satu halaman saja yang memiliki tulisan, meskipun tebal tetapi semua halamannya kosong. Hanya satu, yang paling depan saja yang memiliki tulisan."
"Beberapa kata dalam tulisan itu sulit terbaca, kertasnya yang sudah mulai lapuk membuatku berhati-hati untuk membaca. Aku lalu hidup disana, tempat itu terletak dipegunungan Dormin, mendekati kerajaan New Vamor. Aku mencoba untuk tidak menampakkan diriku kepada orang lain dan mengisolasi diriku digunung itu, aku bertahan hidup dan mencoba untuk menerjemahkan pesan yang terdapat dalam buku itu. Berbulan-bulan aku habiskan untuk menerjemahkan tulisan itu secara keseluruhan, akupun berhasil menerjemahkannya dan beginilah bunyi tulisannya,
'Aliran baru telah lahir. Aliran baru yang melepaskan kegelapan. Kegelapan itu secara perlahan menyelimuti kesadaran kesadaran mahluk duniawi. Seorang pembawa cahaya tertidur. Temukan dia. Temukan Sagmorat. Temukan dia saat Kalan si perkasa berteriak. Membantu dewa Cresca mengalahkan Vamoriet. Sang pembawa cahaya lalu bertarung. Sang Kegelapan lalu bertarung. Menentukan .'
Tulisan itu ditulis oleh Akemon, dia sudah meramalkan semuanya sebelum dia meninggal. Dia tahu bahwa aku akan tenggelam dan diapun memberi mantra untuk menteleportasikan tubuhku ke tempat itu. Dia bahkan sudah menulis ramalannya bahwa kerajaan Crescabes akan berperang dengan New Vamor." si penyihir lalu duduk kembali, dan memegang tangan Levin, anaknya yang lebih tua.
"Aku menghabiskan sepuluh tahun terakhir ini untuk mencari kau, Sagmorat, untuk menyelamatkan dunia ini dari bahaya Faveroth. Mereka, Faveroth mencariku ke segala penjuru Ynaya, mereka tahu bahwa kalian adalah anak-anakku, tapi karena kalian tidak tahu-menahu tentang ritual itu dan kerajaan Atlantis, mereka akhirnya hanya memperbudak dan tidak membunuh kalian. Setelah aku mendengar tentang kerajaan Crescabes berperang dengan New Vamor, dan Crescabes membangun pelabuhan di hutan Kalan, aku teringat kembali terhadap pesan Akemon. Sepertinya takdir memang mempertemukan kita sekarang, meskipun perjuanganku untuk mencari kalian sia-sia selama sepuluh tahun ini, tapi aku tetap bersyukur akhirnya kita dapat bertemu kembali." kata penyihir itu, yang lalu dia memeluk kedua budak itu dengan erat.
Penyihir itu lalu melepaskan pelukannya, dan mencium kening kedua anaknya. Si pemuda hanya melihat mereka, dia mengerutkan wajahnya. Dia tidak menyangka bahwa dia akan mendengar sebuah cerita yang begitu mengerikan, bahwa kerajaan dan dunianya sekarang berada dalam ambang kehancuran.
"Tunggu dulu Ramon. Sepuluh tahun adalah waktu yang lama, aku tidak yakin orang-orang tidak menyadari bahwa Lady Lenia dan Prince Foras adalah mahluk lain. Maksudku orang-orang pasti merasakan hal yang aneh terjadi pada mereka bukan? Lagipula, jika mereka menginginkan dunia hancur, kenapa mereka belum melakukannya? Apa yang mereka tunggu?" tanya si pemuda Baron, wajahnya yang tenang sekarang terlihat sangat serius, ketegangan terlihat di kedua bola matanya yang melihat tajam kearah si penyihir.
"Para Atlantean itu atau para Lost Souls hanya menggantikan jiwa-jiwa para bangsawan itu. Otak dan organ tubuh lainnya tetap dalam keadaan normal, hanya saja kesadarannya berbeda, sehingga ingatan, perilaku, dan kepribadian para Faveroth masih melekat dalam tubuh mereka. Atau pada intinya kelakuan dan perilaku para Faveroth bisa dibilang normal dimuka publik. Lalu kenapa mereka belum menghancurkan dunia? Karena untuk melakukannya tidaklah mudah, satu atau dua kerajaan tidak bisa menghancurkan seluruh dunia, bahkan untuk melumpuhkan benua Ynaya saja mereka butuh kekuatan yang lebih untuk melakukan itu. Sehingga, mereka mencoba untuk melakukan kembali ritual yang dulu pernah kami lakukan, dan ritual itu tak akan berhasil tanpaku, penyihir besar ritual Atlantum. Maka dari itulah mereka mengerahkan ratusan ribu prajurit setiap tahunnya untuk memburu-ku, mereka bahkan memfitahku dan memberi ribuan keping emas bagi orang yang dapat menangkapku hidup-hidup. Karena hanya akulah yang mengetahui persyaratan ritual tersebut, dan mantra untuk membuka gerbang menuju Atlantis." kata penyihir itu, dia lalu berdiri mengangkat tongkatnya dengan tinggi. Cahaya yang sangat menyilaukan keluar dari tongkat itu, cahaya itu berkumpul menjadi satu membuat bentuk sebuah benda, lalu berubahlah cahaya itu menjadi padat, menjadi kertas.
__ADS_1
- End of Chapter :)