Petualangan Si Pembawa Cahaya

Petualangan Si Pembawa Cahaya
CH. 28 - The Living Shadow


__ADS_3

Levin berlari mengikuti jalan setapak kecil itu bersama Clea yang tengah digendongnya. Cahaya matahari yang cerah tertutupi oleh pohon ek yang berjajaran di hutan itu. Tubuh Clea yang kecil ringan terbanting-banting kecil ke punggung Levin. "Pe.. Peganganlah lebih erat!" teriak Levin sambil berlari terengah-engah, sedangkan Clea dengan malu merapatkan tangannya memeluk pundak Levin.


Levin lalu berhenti sejenak saat dia melihat turunan di jalan setapak itu. Nafasnya ternengah-engah lelah, dengan pelan dia menurunkan kakinya kebawah, dan berjalan dengan lambat karena kelelahan. "Sial, aku pikir aku terlambat untuk menghentikan anak-anak itu. Lagipula aku rasa aku memang sudah terlambat sejak awal." ucapnya dalam hati.


Mata Levin lalu terbuka lebar saat Clea menunjuk ke depan ke arah segerombolan anak kecil yang sedang terduduk ditanah. Levin berlari ke arah mereka. Anak-anak itu sedang mengobrol dan tertawa-tawa bercanda, mereka lalu berhenti setelah menyadari kehadiran Levin dan Clea.


"Selamat siang anak-anak." ucap Levin sambil tersenyum kepada mereka. Dia merasa senang dan lega mengetahui anak-anak itu yang ternyata belum pergi ke sungai.


Salah satu dari anak itu lalu membalas senyuman Levin. "Selamat siang tuan." balasnya, sementara anak-anak yang lain hanya terduduk bingung.


Clea lalu turun dari pangkuan Levin dan berjongkok ke arah anak kecil di depannya, dia menunjuk ke arah desa tadi. "Apakah kalian berasal dari desa sana? Kalian belum pergi ke danau kan?" tanya Clea, matanya melihat ke arah busur pancing yang berkumpul di tanah.


Anak itu menggelengkan kepalanya, dia menatap sedih ke busur-busur pancingan dipinggirnya. "Kami tidak jadi memancing," kata anak itu dengan suara lambat. "Waktu kami dalam perjalanan ke danau, kami membawa kayu-kayu pancingan itu secara bersamaan dan membuat talinya terbelit. Kami baru menyadarinya saat tadi disini, kami lalu berencana untuk pulang kembali karena tali itu sulit untuk dibetulkan." lanjutnya.


Anak kecil lain disana lalu menyelanya. "Kami akan berterimakasih kepada kalian jika kalian bisa membenarkan tali-tali yang terbelit itu. Kami sebenarnya sangat ingin pergi memancing sekarang." kata anak lain disana. Levin berjalan mendekati mereka sambil memasukan kedua tangannya ke saku.

__ADS_1


"Sayang sekali tapi kalian harus pergi ke desa sekarang dan menjauhi danau itu. Danau itu adalah danau yang berbahaya, lebih baik kalian pulang sekarang." ucap Levin, Clea mengangguk menyetujui perkataan Levin sambil tersenyum ke arah anak-anak itu, sementara mereka hanya bertatap satu sama lain.


Clea lalu berjalan mendekati seorang anak disana sambil berjongkok. "Oh iya," katanya sambil menatap ke arah mata anak kecil itu dan tersenyum. "Apakah kalian tahu masalah apa yang sedang terjadi di desa itu? Kami akan membantu jika kami bisa." tanya Clea dengan nada lembut.


Anak itu mengangguk kecil. "Ya. Tapi pak Edwin berkata untuk tidak membocorkan rahasia itu, atau kami akan terkena hukuman." ucap anak kecil itu. Salah seorang anak kecil yang terlihat paling kecil disana lalu berdiri.


"Kenapa kami tidak boleh pergi ke danau? Orang tua kami sudah mengijinkan kami untuk memancing disana, kau tidak bisa menakut-nakuti kami." kata anak kecil itu kepada Levin.


Levin mengangkat alisnya. "Aku tidak menakut-nakuti kalian, pergilah ke desa dan tanyakan hal itu kepada kepala desa disana sendiri." kata Levin.


Clea lalu menengok ke arahnya dan berdiri. "Kalau begitu sekarang kita kembali saja dan antarkan mereka ke desa, Levin. Kita tidak harus mengurusi masalah di desa itu, kita harus cepat pergi ke kapital kan?" tanya wanita berompi itu. Levin menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah jalan setapak yang mengarah ke danau.


"Kau... Berhati-hatilah. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di danau itu, tapi yang pasti itu bukanlah hal yang baik. D.. Dan jangan kau pikir aku peduli kepadamu! A.. Aku hanya... Kau tahu, tidak tahu apa yang aku harus aku lakukan jika kau tidak ada. Jadi kembalilah dengan cepat." kata Clea dengan wajah yang memerah, dia lalu melepaskan tangannya dan menariknya dengan cepat.


Levin tersenyum dan meletakkan tangannya ke pundak Clea. "Jangan khawatir, aku hanya akan menyelidiki danau itu. Setelah aku mengetahui apa yang terjadi disana, aku akan kembali ke desa dan membawa kita ke Dreydan sebelum gelap." kata Levin, dia lalu berjalan mengikuti jalan setapak itu meninggalkan Clea dan anak-anak itu.

__ADS_1


Danau itu ternyata terletak tidak terlalu jauh dari tempat dimana anak-anak itu terduduk. Setelah beberapa menit Levin berjalan, dia bisa melihat sebuah danau yang besar membentang didepan. Air danau itu terlihat berkilauan di kejauhan, tidak ada tanda-tanda adanya orang lain disana, tempat itu terasa sangat menenangkan dan sepi.


Levin melambatkan langkahnya berjaga-jaga, dia berfikir bahwa mungkin ular beracunlah yang menyebabkan masalah di desa itu. Nafasnya menjadi sedikit berat, dia bisa merasakan sedikit ketegangan didadanya, instingnya berkata untuk segera pergi dari tempat itu dan mencari tempat lain yang aman, tapi disamping itu suatu perasaan lain memaksanya untuk terus melangkah.


Mata Levin berbelok-belok mengamati daun-daun yang berserakan disana, dia khawatir ada ular yang tersembunyi disana. Kakinya terus melangkah ke depan mendekati danau itu yang tenang dan luas. Dia lalu berjongkok dan mengamati air disana, dia tidak menemukan apapun yang berbahaya.


"Kepala desa tadi mengatakan tentang orang yang penyakitan, mungkinkah karena air disini? Tapi air semacam apa yang akan membuat orang menggeram mengerikan seperti yang aku dengar tadi?" tanya Levin dalam hati. Dia tidak berani untuk memasukan tangannya ke dalam air disana, dia teringat kepada perkataan Clea untuk tidak mendekati danau itu.


Mata Levin terpaku ke air danau itu yang merefleksikan bayangannya. Levin sebenarnya hanya melamun disana, pikirannya sedang melayang-layang dan memikirkan Clea. Lamunannya lalu pecah saat matanya melihat suatu pergerakan dalam air yang keruh itu. Dia melihat sesuatu yang hitam besar mirip seperti ikan lele sedang menari-nari berenang disana. Bayangan itu semakin membesar dan panjang, sampai-sampai memenuhi danau yang luas itu.


Levin terpatung, matanya melotot ngeri terhadap pemandangan yang dilihatnya. Bayangan hitam itu sangat besar dan melilit-lilit di danau itu. Sesuatu lalu muncul di tengah danau. Terlihat mulut ikan yang sangat besar membuka dan menutup mulutnya seolah-olah sedang bernapas, mirip seperti ikan emas yang muncul dipermukaan. Benda itu lalu bergerak keatas sedikit demi sedikit, lalu terlihatlah matanya. Matanya bulat menatap terpaku ke arah Levin.


Levin dan mahluk itu saling bertatap-tatapan. Mahluk itu terlihat seperti ikan emas yang sangat besar, dia membuka tutup mulutnya dan matanya tidak bergerak sedikitpun menatap tajam ke arah Levin. Terlihat bayangannya yang sangat panjang seperti ular melilit ke bawah danau itu sehingga membuat danau itu terlihat sangat dalam.


Levin menelan ludahnya, kakinya gemetar dan dia tidak bisa bergerak. Dia mundur kebelakang pelan-pelan, matanya masih terpaku kepada ikan raksasa yang terus menatapnya dengan mengerikan. Instingnya berkata untuk lari secepatnya menjauhi tempat itu sambil berteriak ketakutan, tapi logika Levin menolaknya, dia berfikir bahwa hal itu hanya akan membuat ikan itu panik dan menyerangnya.

__ADS_1


Dia hanya berjalan secara perlahan kebelakang, mahluk itu tidak bergerak sama sekali, mahluk itu hanya menatap Levin seperti ikan yang sedang bernafas di permukaan air. Setelah sekian detiknya mereka bertatap-tatapan, ikan itu lalu memasukan kepalanya ke dalam danau dengan cepat, bayangan tubuhnya yang hitam panjang lalu masuk kedalam sungai mengikuti kepalanya. Mahluk itu lalu menghilang tanpa jejak, membuat danau itu menjadi tenang dan sepi kembali.


- End of Chapter :)


__ADS_2