
Rantai-rantai hitam yang membalut altar itu lalu menghilang tanpa jejak saat Levin menoleh kearahnya. Levin linglung selama beberapa saat, dia menoleh kanan kiri mencari rantai itu, diapun lalu yakin bahwa rantai itu lenyap seperti apa yang terjadi pada naga bernama Vaxhella tadi.
Levin lalu menyentuh penutup peti yang terbuat dari batu, dia menggesernya secara perlahan, berharap tidak ada jebakan ataupun cahaya terang yang mengharuskan dia membalik badan dan menutup matanya. Dia lalu membuka peti itu secara keseluruhan.
Terdapat tulang belulang manusia didalamnya. Tulang itu sedang memegangi pedang didadanya. Pedang itu terlihat sangat kuat dan indah. Levin membawanya dan membolak-balikanya, matanya berbelok-belok mengamati setiap detail pedang itu dengan teliti. Pedang indah itu terbuat dari besi yang cukup aneh, besi itu sangat kuat dan tidak ada karatan sedikitpun yang menempel, terdapat sebuah ukiran kecil di besi ujung bawah pedang itu, ukiran itu bertuliskan 'Varan Fretha'.
"The Fretha! Pedang ini milik keluarga Safa Fretha! Mungkin inilah yang dimaksud dengan harta karun keluarganya yang tersembunyi itu! Mungkin ribuan emas itu hanyalah sebuah simbolisme, bahwa pedang ini sangat berharga melebihi ribuan emas, aku harus mengembalikannya kepada Safa!" teriak Levin girang dalam hatinya.
Levin lalu melihat ke arah peti itu kembali, memastikan dia tidak meninggalkan sesuatu didalam sana. Tidak ada sesuatupun yang tertinggal didalam sana kecuali tulang belulang orang bernama Varan Fretha itu, peti itu bersih tanpa ada sarang laba-laba atau serangga sedikitpun. Levin lalu menutup peti itu kembali dengan pelan-pelan, dia mundur beberapa langkah dan mengepalkan tangannya didada, lalu membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada Varan Fretha, seorang prajurit kerajaan yang telah berjasa membantai para Viking di tambang Livermore.
Pemuda itu memasukan pedang Varan ke cangkang pedang milik bandit yang di bunuh oleh Clea di makam sebelumnya. Pedang itu terlalu panjang sehingga menembus cangkang yang terbuat dari kain keras itu, Levin mengabaikannya dan berjalan pergi keluar dari gua yang bisa disebut juga sebagai 'makam pahlawan' itu.
Suara angin berdesis di telinga Levin, dia menghirup udara di hutan itu dengan wajah lega. Burung-burung masih berkicauan dengan riangnya, suhu disana menjadi semakin panas dan menyengat karena cahaya matahari. Levin melihat kelangit, dia mengamati letak matahari dan mengacungkan tangannya menunjuk ke matahari itu untuk mengetahui waktu, dia belajar teknik itu dari seorang penjaga budak yang waktu itu menyiksanya saat dia masih bekerja kepada kerajaan Crescabes.
Levin melangkah pergi dari tempat itu ke arah desa dimana dia meninggalkan teman perempuannya, Clea. Dia sedikit linglung dengan tempat itu, dia melihat kanan kiri mencari jalan setapak yang benar, karena waktu itu ada dua jalan setapak yang mengarah ke arah mata angin desa itu.
Dia sedikit yakin dengan jalan setapak yang kanan, karena kesanalah kereta pemburu itu berbelok saat dia memperhatikannya dikejauhan, tapi pikirannya masih sangat kabur sehingga dia tidak terlalu yakin.
__ADS_1
"A.. Astaga, cerobohnya aku. Aku tidak tahu kemana aku harus pergi. Tapi diam disini tidak akan memecahkan masalah, terpaksa aku harus pergi ke jalan yang kanan." ucap Levin dalam hati, dia lalu mengikuti jalan setapak itu.
Levin berjalan ke kedalaman hutan itu, matanya yang bulat berwarna hijau berbelok-belok mengamati hutan yang lebat itu. Hujan lalu turun berintik-rintik, membuat Levin berharap untuk segera menemukan seseorang atau sebuah rumah untuk bertanya arah atau meneduh.
Setelah sekian lamanya dia berjalan, dia melihat sebuah rumah kayu yang cukup besar dihadapannya. Levin melangkah ke arah sana untuk mencari pemiliknya dan menanyakan letak desa yang dia tidak ketahui namanya itu.
Seseorang lalu meloncat keluar dari arah pintu rumah itu, membuat Levin terkaget dan membalikan badannya akibat suara bantingan pintu yang sangat keras. Orang itu terlihat sangat panik, keringat membasahi keningnya, kacamatanya yang bulat tertutupi oleh rambutnya yang acak-acakan, laki-laki itu lalu terkejut dan senang saat dia menengok ke arah Levin, dia menguncang-guncangkan pundaknya.
"Tolong! Tolonglah kami tuan! Tidak ada orang yang bisa membantu kami sekarang selain kau, tolonglah!" pinta orang itu yang lalu dia berlutut kepada Levin.
"Ma.. Masuklah! Kau harus melihat kengerian ini dengan mata kepalamu sendiri!" kata lelaki berkacamata bulat itu sambil menuntun Levin kedalam rumah kayu itu.
Orang itu membawa Levin ke sebelah kanan rumah yang terlihat seperti sebuah ruang tamu, ruangan itu sangat acak-acakan, terdapat banyak kursi kayu yang patah dan menumpuk, pot yang terbuat dari tanah liat hancur lebur dan tanahnya bersebaran diseluruh ruangan. Orang berkacamata itu menarik-narik Levin dan menunjuk sebuah pintu coklat yang ada di ruangan itu dengan tangan gemetar. Levin lalu membuka pintu itu dan masuk kedalamnya.
Levin terkejut ketika dia melihat seorang wanita yang diikat di kasur dengan menggunakan kain putih dan membelit tubuhnya dengan kuat. Wanita itu meronta-ronta, mulutnya diikat oleh kain dan matanya mengeluarkan air. Wajahnya yang cantik memerah karena menahan sakit, rambutnya panjang berwarna kuning pirang acak-acakan, terdapat beberapa bekas merah ditangannya akibat tertekan oleh kain yang mengikatnya. Orang muda berkacamata itu lalu menunjuknya.
"To... Tolonglah dia! Aku mohon kepadamu untuk menolong pacarku itu. Di.. Dia kehilangan akalnya dengan tiba-tiba. Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya, saat aku pergi kerumahnya ini dia sudah mengamuk menghancurkan barang-barang disekitarnya." kata pemuda berkacamata itu sambil mengelapkan kain bajunya ke keningnya.
__ADS_1
"Tidak adakah orang lain yang dapat kau pinta tolong? Seorang pengobat atau sejenisnya mungkin? Karena kau tahu, aku tidak mengerti apa-apa tentang semua ini, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." kata Levin. Dia menyadari, bahwa selama perjalanan yang dia tempuh selama ini, kebingunganlah yang sering dia alami dibanding dengan rasa takut dan rasa sakit. Sementara pemuda berkacamata itu menggelengkan kepalanya.
"Terdapat sebuah desa tidak jauh dari sini. Tapi tenaga ku kalah olehnya, sehingga aku tidak bisa membawanya kesana. Aku tidak tahu kenapa dia bisa sekuat itu, saat aku mencoba untuk menghentikannya, dia mencakarku dan membantingkanku dengan mudahnya." kata pemuda itu sambil menunjukan beberapa luka cakar di tangan dan lehernya. Dia lalu melanjutkan.
"Wanita itu adalah wanita yang lembut. Di.. Dia adalah orang yang pendiam dan tidak banyak bicara. Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi kepadanya. Untung saja aku bisa menggusurnya ke kamarnya itu dan mengikatnya." lanjut pemuda itu, dia membuka kacamatanya yang bulat itu dan mengusap air mata yang keluar dengan tangannya.
"Mana keluarga wanita itu? Apakah dia tinggal disini sendiri?" tanya Levin, dia melihat wanita itu yang masih meronta-ronta diranjangnya.
"Dia hidup sendirian disini. Alisa bekerja sebagai penjual tanaman obat untuk mengusir kebosanan sehingga dia tidak pernah kekurangan dari segi finansial. Tapi... Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya sekarang. Aku... Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." kata pemuda berkacamata itu sambil memegang kepala dengan kedua tangannya dan berjongkok. Levin mengerutkan keningnya, dia sedang berfikir dengan keras.
"Tadi aku akan pergi ke desa sebelah untuk mencari seorang pengobat. Tapi.. Aku tidak yakin aku bisa meninggalkannya disini. Aku takut dia bisa melepaskan diri dan melukai dirinya sendiri lagi. Dewi Hartlova tolonglah kami!" teriak pemuda itu dengan suara yang lirih. Levin lalu mendapatkan sebuah ide.
"Kita tidak bisa berdiri disini saja dan tidak melakukan apa-apa. Kita harus cepat, kau pergilah ke desa itu dan panggil pengobat itu kesini. Aku rasa ini adalah tempat yang terpencil dan tidak ada orang lain yang bisa kita andalkan. Aku akan pergi ke tempat dia biasanya mencari tanaman itu, apakah kau tahu dimana tempatnya?" tanya Levin. Pemuda itu lalu berdiri dan memasang kacamatanya dengan sigap.
"Y.. Ya. Biasanya dia sering mencari tanaman-tanaman obat di bukit Nebu. Tapi kemarin lusa dia berkata kepadaku bahwa dia akan mencari sebuah tanaman langka dan pergi ke gunung Fer..." wajah pemuda itu lalu mengkerut, dia ingat terhadap sesuatu yang selama ini luput baginya. Sebuah tempat terlarang, penuh dengan bahaya dan mahluk mematikan, tempat itu membayang-bayangi pikirannya.
- End of Chapter :)
__ADS_1