
Levin meloncat kebawah sungai itu dengan pelan-pelan. Cipratan air terjun yang terbanting kebawah membasahi pakaiannya yang tadinya hampir kering. Ketiga orang pemburu itu sedang berkumpul dan terduduk dibawah sebuah pohon sekitar dua puluh meter dari air terjun itu.
Mereka secara bersamaan dengan spontan melihat kearah Levin saat melihatnya keluar dari air terjun. Mereka lalu berlari kearahnya, Levin dengan tenang membawa barang-barang ditangannya berjalan menuju daratan, dia lalu menyimpannya ditanah. Gordon memegangi pundak Levin dan mengguncang-guncangkannya.
"Dimana anakku? Apakah kau melihatnya? Jangan bilang dia..." teriak Gordon yang lalu terpotong saat dia menoleh ke barang bawaan Levin.
"Ja.. Jangan bilang kalau dia sudah mati... Jangan berani kau bilang..." kata Gordon sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya. Dia lalu terduduk lemas. Kedua temannya hanya tertunduk, mereka juga merasakan sedih yang mendalam. Levin lalu memegangi pundak Gordon, dan terduduk melihat ke wajahnya yang sedang menangis.
__ADS_1
"Anakmu, adalah orang yang membunuh ular raksasa itu. Dia menancapkan pedang ke kepalanya dan membakar ular raksasa itu menjadi abu, aku menemukan pedang yang bertuliskan nama Harold di tengkorak ular itu. Dia adalah orang yang sangat pemberani, sayangnya semua orang di kelompok pemburu itu meninggal, terdapat banyak sekali ular beracun di dalam gua itu, tidak ada orang yang bisa kembali keluar dari sarang ular yang paling besar itu meskipun orang terkuat sekalipun. Untung saja aku adalah seorang penyihir dan dapat menjinakkan ular-ular itu, meskipun hanya sebentar. Sekarang tempat itu menjadi berbahaya kembali." kata Levin sambil membuat sebercak cahaya keluar dari tangannya untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang penyihir. Dia lalu memberikan tulang aneh itu kepada Gordon.
"Ini adalah tulang ular yang dibunuh oleh anakmu, bawalah benda ini bersamamu dan tunjukkan tulang ini kepada ketua clanmu untuk membersihkan namamu. Dan tentu saja, untuk membuktikan keberanian anakmu." kata Levin sambil berdiri dan tersenyum kepada Erand, yang juga sedang sedih karena kehilangan adik perempuannya di gua itu.
"Sekarang pergilah, pekerjaan kita disini sudah selesai. Ingatlah, teman-teman kita yang tumbang di gua itu adalah orang-orang pemberani yang pantas untuk disebut pahlawan. Lupakan mereka, jangan pernah kembali ke gua itu, dan berdoalah kepada dewi Hartlova untuk mengistirahatkan jiwa mereka dengan tenang." kata Levin sambil tersenyum pilu, dia menatap kebawah kepada barang-barang kelompok yang tumbang itu, dia lalu menutup matanya dan membungkukkan badannya. Kedua orang disebelahnya melakukan hal yang sama, sedangkan Gordon sedang terduduk sambil mengelus-ngelus pedang anaknya.
"Biarkan dia tenang disana, Gordon. Dia akan bahagia disisi ibunya. Aku yakin dia tidak menyesal melakukan ini semua, dia telah berhasil melakukan pekerjaannya yang sangat terpuji, dia berjasa bagi semua penduduk di Livermore karena sudah membunuh ular itu." kata Erand, Don lalu menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Kita harus memberikan hasil pekerjaan kita kepusat. Aku tidak tahu apakah si Toabi itu akan berterimakasih atau malah membunuh kita karena kematian anaknya. Yang jelas, aku akan keluar dari clan itu dan bekerja sebagai petani, atau sebagai seorang pemburu independen." kata Don sambil membolak-balik pedang yang mempunyai ukiran-ukiran unik, sepertinya pedang itu milik Nara, anak Toabi.
"Aku rasa kalian harus pergi terlebih dahulu tanpaku. Kau tahu, aku mempunyai beberapa urusan didesa sebelah. Jangan khawatir, aku bisa kembali ke desa tadi sendiri kok." kata Levin sambil mengulurkan tangannya. Mereka lalu mengangguk setuju dan berjabat tangan. Erand lalu mengulurkan tangannya kepada Gordon yang sedang terduduk ditanah, dia mengangkatnya ke atas dan berjalan ke arah kereta mereka meninggalkan Levin.
"Aku tidak bermaksud untuk berbohong bahwa anaknya mati dengan sia-sia di gua itu, tapi... Aku tidak punya pilihan lain, maafkan aku." kata Levin dalam hati sambil melihat kereta itu menjauh.
- End of Chapter :)
__ADS_1